
Pertama kali aku bertemu dengannya...
"Ouh, maaf! Aku tak sengaja!" Ucapnya saat itu karena ia yang tak sengaja menumpahkan minuman di tuksedo mahalku.
Ck!
Aku berdecak kesal dan tentu merasa saja sangat sebal.
Andai aku tak terpesona dengan wajah mungilnya, mungkin saat itu aku sudah mencak-mencak seperti saat orang lain tak sengaja menumpahkan minuman di baju atau celanaku.
Aku tidak suka sesuatu yang kotor!
Aku tidak suka sesuatu yanag berantakan!
Dan aku tidak suka sesuatu yang semrawut!
Aku tidak tahu ada apa dengan diriku.
Tapi aku hanya tidak suka saja.
"Gadis ceroboh," gumamku saat itu menatap sebal ke arahnya.
"Aku sudah minta maaf!" Sahutnya yang mungkin sedang membela diri.
Sikap ketusnya mendadak membuatku semakin tertarik pada gadis ceroboh yang terlihat sangat anggun dan feminim tersebut.
Aku baru berencana untuk bertanya pada Rachel tentang gadis ceroboh tersebut. Namun dewi fortuna sepertinya sedang berpihak kepadaku.
Gadis itu ternyata adalah ilustrator baru di kantor tempatku bekerja.
Dia datang ke kantor pagi itu dengan penampilan yang terbilang mengesankan. Rok hitam selutut, bluose warna peach, dan rambut yang di kuncir model ekor kuda.
Baiklah, itu kali kedua aku terpesona dengan wajah mungilnya.
Namun saat melihat map yang berusi CV yang ia bawa mendadak rasa sebal dalam diriku mencuat keluar. Kertas itu terlihat kusut dan terlipat di bagian ujungnya.
Dan bagiku itu adalah hal yang sangat menyebalkan. Jadi aku terpaksa berkomentar pedas kepadanya.
Dan di luar dugaan, dia ternyata gadis yang cuek dan kerap menjawab atau membantah setiap kali aku menegur atau berkomentar pedas kepadanya. Jadilah kami sering berdebat dan entah mengapa, aku begitu menyukai raut wajahnya saat merengut.
Jika biasanya aku menghindari berdebat dengan seseorang karena menurutku itu hanya membuang-buang waktu dan tenaga, tapi tidak dengan gadis bernama Emily Aditya itu. Aku suka sekali berdebat dengannya dan mendengar suara khasnya saat menyangkal segala teguran serta komentar pedas yang terlontar dari bibirku.
Dan sejak saat itu, aku sangat suak mencari-cari kesalahan sekecil apapun yang dilakukan oleh Emily, agar aku bisa berdebat dengannya dan mendengar suara khasnya itu, ditambah dengan raut wajahnya yang lucu saat merengut.
Oh!
Hariku terasa hampa jika aku tak berdebat dengan Emily sehari saja.
Dan sifat Emily yang keras kepala, ternyata memuluskan jalanku untuk sealu berdebat denagnnya. Ditambah pakaian khas preman yang ia kenakan setiap datang ke kantor, membuatku ingin menelanjanginya saja dan menikmati tubuhnya yang sintal.
__ADS_1
Astaga!
Otakku yang kotor!
Belakangan aku baru sadar jika aku jatuh cinta pada Emily, saat Rachel memberitahuku dan bercerita banyak tentang Emily kepadaku.
"Dia gadis yang ceroboh dan jorok. Tidak rapi dan tidak feminim," keluhku pada Rachel saat itu, dan Rachel hanya terkekeh menanggapinya.
"Bukan Emily yang banyak kekurangan, Galen! Tapi standar kebersihanmu yang terlalu tinggi." Jelas Rachel yang sontak membuatku terdiam.
"Tapi aku lihat kau selalu menatap Emily dengan penuh ketertarikan," tebak Rachel yang seakan menjadi skakmat untukku.
Sial!
Sepupuku ini memang selalu bisa membaca apa yang aku pikirkan.
Mungkin karena kami tumbuh bersama sejak dulu dan sering bertukar pikiran, jadilah Rachel lebih mdmahamiku ketimbang Mommy atau Papi.
Menyebalkan!
"Aku hanya senang berdebat dengannya. Itu saja!" Kilahku yang masih berusaha menyangkal tuduhan Rachel tentang aku yang jatuh cinta pada Emily.
"Begitu, ya?" Nada bicara Rachel sudah berubah menjadi menggoda dan aku benar-benar salah tingkah sekarang.
"Kau tidak berniat mengedit penampilan dan sikap Emily yang menurutmu banyak kekurangan itu?" Goda Rachel seakli lagi yang hanya membuatku berdecak.
"Aku hanya manajer! Dan aku tak punya hak untuk mengatur penampilan para karyawan termasuk Emily!" Dengkusku sedikit kesal dan lebih banyak geregetan.
"Jika kau sungguh-sungguh mencintai Emily, kau seharusnya bisa menerima kekurangan gadis itu, Galen!"
Aku mengernyit bingung dengan kalimat Rachel yang itu.
"Maksudku! Tak masalah jika kau menginginkan Emily yang rapi dan tidak jorok lagi. Tapi kamu tak perlu juga menuntut Emily untuk selalu tampil sempurna. Turunkan saja standar kerapian dalam hidupmu!" Tutur Rachel berusaha memberikan pengertian kepadaku.
Sebenarnya aku sedikit tertohok dengan kalimat terakhir Rachel tentabg standar kerapian dalam diriku ini. Semua orang seakan keberatan denagn sikapku yang selalu menjaga kerapian dimana saja dan kapan saja.
Apa yang salah memang dengan kerapian yang selalu aku terapkan?
"Maaf, aku tidak bisa!" Ucapku cepat yang malah membuat Rachel terkekeh.
"Kau nikahi saja Emily kalau begitu!" Saran Rachel yang langsung membuatku melebarkan kedua mataku.
"Aku bisa gila jika menikahi gadis itu sekarang! Aku harus mengedit sikap dan penampilannya dulu sebelum aku menikah ddngannya, agar kami tidak ribut masalah kebersihan dan kerapian rumah nantinya!" Paparku menanggapi ide konyol dari Rachel.
"Bukankah kau suka berdebat dengan Emily? Bukankah kau suka Emily yang suka mengomel? Jadi kenapa harus takut tentang keributan setelah kalian menikah nanti?" Kata-kata Rachel semakin membuatku tak mengerti.
"Rumah tangga yang sehat itu adalah rumah tangga yang tak pernah ada keributan," pendapatku sedikit menggaruk kepalaku yang sebenarnya tak gatal.
Tunggu!
__ADS_1
Bukankah ini kebiasaan Emily yang selalu aku komentari karena membuat mataku menjadi sepet?
Lalu kenapa aku malah menirunya sekarang?
Tapi enak juga termyata garuk-garuk kepala begini.
Pantas saja Emily suka sekali melakukan hal ini.
"Begini! Jika kau menikah dengan Emily sekarang, kau bisa sedikit membuatnya menjadi rapi, dan mungkin dengan adanya Emily disampingmu setiap hari, standar kerapian yang begitu tinggi dalam hidupmu juga bisa perlahan turun."
"Jadi intinya, kau dan Emily akan bisa saling mengimbangi!" Pungkas Rachel memaparkan pendapatnya.
Aku terdiam dan berpikir sejenak, mencoba mencerna kata-kata Rachel.
"Baiklah aku akan secepatnya menikahi Emily kalau begitu," putusku akhirnya yang entah mengapa malah membuat Rachel membelalakkan mata.
Bukankah tadi dia yang memberi saran agar aku menikah saja dengan Emily?
Kenapa sekarang malah dia yang kaget dan berekspresi lebay begitu?
Dasar aneh!
"Kau harus bertanya pada Emily dulu apa dia mau menikah denagnmu, Galen! Kau tidak bisa memaksa Emily dan melamarnya secara mendadak!" Rachel terlihat kalang kabut dan aku sudah bangkit berdiri lalu melenggang santai keluar dari rumah Rachel.
"Aku rasa tak perlu! Aku cukup datang ke rumah Emily, minta izin pada kedua orang tua Emily, lalu menikahi Emily," jawabku santai menbayangkan semuanya akan mudah.
Ayah Emily orang yang santai. Jadi pasti tak sulit menyampaikan niat baikku ini. Aku juga bukan pria brengsek yang punya riwayat menjadi seorang playboy, karena aku tak punya satupun mantan pacar selama 24 tahun ini.
Sebuah pencapaian yang luar biasa, bukan?
"Galen, kau tidak bisa memaksa Emily! Kau harus mendekatinya perlahan!" Seru Rachel yang sepertinya begitu geregetan dengan keputusan sepihakku.
Aku menghentikan langkah dan berbalik, menengok ke arah sepupuku yang sedang hamil sembilan bulan tersebut.
"Seperti kalimatmu sebelumnya yang mengatakan bahwa Emily akan berubah rapi seiring kebersamaannnya denganku setiap hari, maka aku yakin kalau cinta di hati Emily juga akan tumbuh seiring waktu dan menjadi sebesar cintaku kepadanya," ucapku dengan penuh keyakinan dan dengan senyuman yang tersungging di bibirku.
"Tunggu! Kau sungguh-sungguh jatuh cinta pada Emily?" Seru Rachel yang sontak membuatku menepuk keningku sendiri.
Sial!
Tadi aku mati-matian menyanggah tuduhan Rachel tentang aku yang jatuh cinta pada Emily dan sekarang aku malah mengakuinya secara blak-blakan!
"Anggap saja begitu! Aku pulang dulu, dan akan ku kirim undangannya jika aku melamar Emily nanti!" Pamitku akhirnya seraya melambaikan tangan, tanpa melihat ke arah Rachel yang bahkan masih bisa kudengar suara gelak tawanya.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.