Jodoh Emily

Jodoh Emily
DADDY-ABLE


__ADS_3

"Em!" Tegur Galen seraya mengibaskan tangannya di depan wajah Emily yang terlihat melamun.


"Eh, iya, Pak! Ada apa?" tanya Emily tergagap.


"Kenapa melamun? Kau sudah percaya kalau aku bukan maho sekarang?" tanya Galen sekali lagi pada Emily.


"I-iya, Pak saya percaya, kok!" Jawab Emily yang kembali tergagap.


"Panggil Pak lagi!" Galen menggerutu kesal.


"Galen! Galen! Galen! Apa susahnya memanggil Galen?" Cerocos Galen yang langsung membuat Emily nyengir.


"Udah kebiasaan. Anggap aja panggilan kesayangaan buat kamu."


"Eh!" Emily membungkam mulutnya sendiri karena malah menyebut kata kesayangan pada Galen.


Emang Galen udah jadi kesayangannya Emily, ya?


Diih!


Auto geer pasti Pak Gak Selera menyebalkan ini.


"Panggil sayang aja bagaiamana?" Galen memberikan usul yang sontak membuat Emily menggeleng dengan cepat.


"Udah banyak yang pakai kalau panggil sayang. Aku panggil Pak Gak Selera aja gimana?" Usul Emily yang langsung membuat Galen berdecak.


"Emang mukaku bikin kamu nggak selera ngapain?" Tanya Galen bersungut-sungut.


"Bukan muka kamu. Tapi sifat OCD kamu itu yang bikin aku illfeel!" Jawab Emily jujur.


"OCD?" Galen mengernyit tak paham.


"Obsessive Complusive Disorder." Jelas Emily.


"Iya aku tahu kepanjangannya. Tapi aku itu nggak OCD! Kenapa tuduhan kamu mengada-ada begitu?" Ucap Galen tegas seraya menatap tajam pada Emily yang kini terdiam.


"Iya, aku minta maaf," cicit Emily yang dengan cepat memalingkan wajahnya dan segera mematikan layar iMac-nya. Gadis itu juga membereskan sedikit meja kerjanya, dan meraih tas selempang yang ada di bawah meja.


"Jadi nganter aku pulang, nggak?" Tanya Emily selanjutnya seraya menyampirkan tas selempang ke pundak.


"Jadi! Sudah diperiksa itu barang-barang kamu? Barangkali ada yang ketinggalan," jawab Galen mengendikkan dagunya ke arah tas Emily.


Emily segera memeriksa kembali tas selempangnya saat gadis itu tak mendapati ponselnya di dalam tas.


Dimana ponsel Emily?


Emily membuka laci meja kerjanya satu persatu, dan menemukan ponselnya di salah satu laci.


"Biasakan kalau mau pulang atau pergi itu, isi tas di periksa dulu, biar nggak ada yang ketinggalan!" Nasehat Galen pada Emily.


"Iya!"


"Ayo pulang!" Ajak Emily yang keluar duluan dari ruang ilustrator meninggalkan Galen.


Galen menyusul langkah Emily dengan cepat dan segera meraih tangan gadis itu lalu menggenggamnya dengan erat.


"Aku bisa jalan sendiri, Galen!" Bisik Emily yang berusaha melepaskan grnggaman tangan Galen.


"Udah diam!" Gertak Galen yang malah semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Emily.


Emily hanya bisa mendesah pasrah dan tak berontak lagi.


Nikmati saja, Emily!


Nikmati!


****


Setelah berjibaku dengan aspal dan kemacetan kota metropolitan, mobil Galrn masuk ke halaman parkir sebuah babyshop.

__ADS_1


Hah?


Serius?


Kenapa Galen ngajak Emily ke babyshop?


"Kita ngapain ke babyshop, Galen?" tanya Emily bingung.


"Beli hadiah buat anaknya Rachel dan Sean," jawab Galen seraya melepaskan sabuk pengaman.


Emily ikut melepaskan sabuk pengamannya sendiri.


"Emang udah lahir?" Tanya Emily bingung.


"Udah tadi pagi. Emang nggak ada yang ngabarin kamu?" Galen balik bertanya dan Emily langsung menggeleng dengan yakin.


"Yaudah, yang penting sekarang udah tahu. Ayo masuk cari hadiah, lalu kita jenguk ke rumah sakit!" Ajak Galen seraya keluar dari mobil.


Emily menyusul turun dan seperti biasa, Galen langsung menggandeng tangan Emily.


Ish!


Abaikan saja!


Nanti juga capek sendiri.


"Bayinya cewek apa cowok?" Tanya Emily yang masih memilih-milih kado yang sekiranya pantas dan berguna untuk bayi Rachel.


Tapi pasti Mom Bi juga sudah membelikan semuanya lengkap. Mereka kan orang tajir.


"Cowok," jawab Galen singkat.


"Yang ini saja!" Emily menunjuk ke sebuah ayunan bayi otomatis.


"Beli dua. Satu untuk anak kita nanti," ucap Galen berseloroh.


"Ish! Dibikin aja belum, udah mau dibeliin ayunan aja!" Sahut Emily bersungut-sungut.


"Pamali!" Ucap Emily tegas.


"Pamali udah dikekepi itu sama Bumali," sahut Galen yang ternyata bisa juga diajak berkelakar.


Asyik juga ternyata Galen menyebalkan ini.


Asal jangan keluar aja sifat OCD-nya.


Galen memanggil pramuniaga toko dan meminta ayunan yang dipilih oleh Emily tadi untuk dibungkus sebagai kado.


Setelah menunggu sekitar dua puluh menit, kado untuk bayi Rachel dan Sean akhirnya siap. Emily dan Galen segera meninggalkan toko dan menuju ke rumah sakit.


****


"Sore!" Sapa Galen dan Emily hampir bersamaan saat mereka berdua masuk ke ruang perawatan Rachel.


"Sore juga! Wah, ada calon pengantin," jawab Sean yang langsung menggoda Galen dan Emily.


"Jadi ini calon suaminya Emily?" Tanya Dad Nick setelah Galen dan Emily bergantian mencium punggung tangannya.


"Iya, Om! Saya Galendra," jawab Galen memperkenalkan dirinya pada Dad Nick dan Mom Bi.


"Keponakannya Bu Eve, ya?" Mom Bi ikut-ikutan bertanya.


"Iya, benar. Sepupunya Rachel," jawab Galen lagi seraya tersenyum ramah.


"Tante Eve dan Om Steve tidak disini?" Galen kembali berbasa-basi.


Ya ya ya!


Paling pinter basa-basi memang tunangan Emily ini.

__ADS_1


"Baru saja pulang tadi, karena udah disini sejak semalam," jelas Sean menjawab pertanyaan Galen.


"Jam berapa ke rumah sakit dan bayinya lahir?" Tanya Emily pada Rachel yang masih terbaring di atas tempat tidur pasien.


"Jam dua pagi berangkat kesini. Trus bayinya lahir tadi pagi jam delapan," tutur Rachel menjelaskan pada Emily.


"Mau gendong?" Tawar Sean pada Emily yang langsung beringsut mundur.


"Hehe, belum berani," jawab Emily seraya meringis.


Berbeda dengan Galen yang baru selesai memakai handsanitizer dan langsung meminta izin Sean untuk menggendong bayi mungil tersebut


Etdah!


Itu manajer OCD berani sekali.


Kalau bayinya ngglundung bagaimana?


Namun kekhawatiran Emily segera terbang tertiup angin, saat melihat Galen yang begitu cekatan menggendong bayi. Sepertinya pengalaman sekali.


"Wah, wah! Udah pinter gitu gendong bayinya. Udah luwes!" Puji Mom Bi pada Galen yang hanya tersenyum dan menimang-nimang bayi Sean dan Rachel.


"Nanti habis nikah langsung bikin bayi sendiri, Em! Galen udah cocok ini jadi seorang daddy," timpal Sean yang kini sudah duduk di tepi ranjang Rachel dan merangkul istrinya tersebut.


"Aamiin!" Sahut Galen yang langsung mengaminkan ucapan Sean. Sedangkan Emily hanya menundukkan wajahnya dan mendadak menjadi tersipu malu.


"Namanya siapa?" Tanya Emily akhirnya yang memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan.


"Allegra Arthurian Kyler," jawab Rachel yang langsung membuat Emily mengangguk.


Allegra.


Mirip dikit sama Galendra.


Emily membatin dan kembali menatap ke arah Galen yang begitu daddy-able menggendong dan menimang Alle.


Sesempurna itu calon suamimu, Em!


Kenapa masih saja kamu cari-cari keburukannya?


Ponsel Emily berbunyi. Ada telepon dari Bunda Naya.


"Halo, Bund!" Sambut Emily setelah menggeser tombol hijau.


"Em, kamu pulang jam berapa? Rachel sudah lahiran dan ini Ayah sama Bunda mau menjenguk ke rumah sakit. Tapi nungguin kamu kok nggak pulang-pulang."


"Ini Emily sudah di rumah sakit menjenguk Rachel, Bund!" Jawab Emily santai menanggapi cerocosan panjang lebar dari sang bunda.


"Apa? Pergi bersama siapa?"


"Galen. Siapa lagi memangnya? Kan Galen supir pribadi Emily sekarang," ujar Emily yang sedikit berbisik di kalimat terakhirnya.


"Benar-benar kamu, ya! Kenapa nggak ngabarin Bunda? Kan Bunda bisa berangkat sejak tadi kalau kamu ngabarin."


"Hehe, maaf, Bund! Emily lupa." Emily hanya nyengir tanpa dosa.


"Yaudah, Bunda sama Ayah berangkat sekarang!" Pungkas Bunda Naya sebelum menutup teleponnya pada Emily.


.


.


.


Habis nikah langsung lembur bikin Galen Junior, ya, Em!


Jangan udahan kalo belum jadi 😂


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.


__ADS_2