Jodoh Emily

Jodoh Emily
MENCURIGAKAN


__ADS_3

Galen bersiul santai dan masuk ke dalam rumahnya, saat pria itu mendapati Mom Mia dan Papi Bian yang sedang sibuk membolak-balik undangan untuk acara pembukaan kafe. Sepertinya kedua orangtua Galen itu tengah mencari-cari sesuatu.


"Darimana, sih, Bang? Dicariin juga dari tadi! Katanya mau antar Ghea ke kampus! Malah udah kabur duluan!" Cerocos Ghea bersungut-sungut pada sang abang.


"Beli bensin di depan!" Jawab Galen berbohong.


"Tumben! Biasa beli bensin juga sekalian pas berangkat." Ghea merasa sedikit heran.


"Suka-suka akulah! Tinggal numpang ke kampus saja bawel!" Gerutu Galen yang ganti bersungut-sungut pada sang adik.


"Iya kemarin itu sudah aku tulis semua nama tetangga satu kompleks! Kok sekarang yang punya Pak Satria dan Bu Naya nggak ada! Kamu buang kemana, sih, Bi!" Mom Mia sepertinya sedang mengomel pada Papi Bian.


"Aku nggak ngotak-atik undangan sejak kemarin! Kan kamu yang nulis, trus kamu taruh di situ. Aku cuma lihat sebentar. Nggak pegang apalagi ngotak-atik dan mengobrak-abrik!" Kilah Papi Bian menyangkal tuduhan sang istri.


"Tapi pagi tadi, undangannya berantakan! Udah gitu undangan yang untuk Pak Satria dan Bu Naya malah hilang! Kan mau aku antar, sekalian melihat anak gadisnya Bu Naya itu. Kali aja cocok buat Galen," cerocos Mom Mia yang langsung membuat Papi Bian berdecak.


"Perjodohan lagi!"


"Galen! Apa kau tidak bisa mencari pacar sendiri, sampai Mommy mu ini sibuk mau mencarikan jodoh untukmu!" Papi Bian bertanya pada sang putra yang masih berdebat dengan Ghea.


"Bisa, kok, Pi! Mom saja yang terlalu lebay itu!" Sahut Galen dengan nada malas.


"Undangan buat Om Satria sudah Galen antar, Mom! Nggak usah kalang kabut begitu! Undangannya nggak hilang!" Sambung Galen lagi yang sontak membuat seluruh anggota keluarga Biantara melongo.


"Oh, jadi tadi beli bensinnya ke rumah Om Satria?" Kekeh Ghea yang sepertinya langsung paham.


"Kamu ngapain pagi-pagi ke rumah orang antar undangan? Mencurigakan sekali!" Tanya Papi Bian merasa aneh.


"Ya antar undangan aja, Pi! Nggak ngapa-ngapain!" Jawab Galen santai.


"Lalu kenapa cuma milik Pak Satria yang diantar? Kenapa nggak sekalian undangan satu kompleks kamu antar?" Cecar Papi Bian semakin curiga.


"Capeklah! Antar undangan satu kompleks! Suruh Ghea itu yang antar!" Jawab Galen sebelum pria itu menghilang masuk ke dalam kamarnya.


"Bang! Jangan tidur lagi! Katanya mau antarin Ghea ke kampus!" Teriak Ghea seraya menyusul Galen ke kamar.


"Iya ini baru ambil tas! Dasar bawel!" Jawab Galen yang sudah kembali keluar dari kamarnya.


"Tadi sudah ketemu sama anaknya Pak Satria, Galen?" Tanya Mom Mia menyelidik.


"Anaknya yang jorok dan ceroboh itu maksud Mom? Sudah! Masih ceroboh dan berantakan! Masa iya ke kantor pakai baju macam preman!" Jawab Galen panjang kali lebar.


"Halah! Sok-sokan komentarin penampilan anak orang, padahal diam-diam naksir! Kalau nggak naksir ngapain pagi-pagi antar undangan kesana? Cuma satu rumah lagi! Kan mencurigakan!" Cerocos Ghea sok tahu.

__ADS_1


"Anak kecil sok tahu!"


"Buruan kalau mau ke kampus! Abang tinggal juga kamu nanti!" Sahut Galen merasa geregetan pada sang adik.


"Iya, iya! Dasar galak!"


Ghea segera berpamitan pada Mommy dan papinya sebelum menyusul Galen keluar dari rumah dan naik mobil.


Mobil Galen baru melaju beberapa meter dari rumahnya, saat Galen tak sengaja melihat mobil milik Ayahnya Emily yang terparkir di pinggir jalan. Ayah Satria terlihat sedang memeriksa ban mobil, dan Emily yang berdiri di dekat mobil sang ayah sepertinya sedang menunggu taksi.


Galen menghentikan mobilnya di dekat mobil Ayah Satria.


"Ada apa, sih, Bang? Kok berhenti?" Tanya Ghea yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya.


"Kamu tunggu bentar!" Jawab Galen yang sudah keluar dari dalam mobil dengan cepat.


Lah aneh!


Ghea hanya mengendikkan bahu dan lanjut mengutak-atik ponselnya.


"Pagi, Om! Ada masalah dengan mobilnya?" Tanya Galen berbasa-basi pada Ayah Satria.


"Bannya kempes tiba-tiba, Galen. Mana tidak bawa ban cadangan lagi! Emily keburu telat ke kantor," jawab ayah Satria mengendikkan dagunya ke arah Emily yang merengut.


"Udah!"


"Kamu bareng Galen saja sana! Kan satu kantor," saran Ayah Satria selanjutnya pada Emily yang semakin merengut.


"Kamu keberatan kalau Emily menumpang, Galen?" Ayah Satria ganti bertanya pada Galen.


"Sama sekali tidak, Om! Ayo, Emily! Ketimbang kamu telat ke kantor dan manajer kamu mengamuk nanti," ajak Galen pada Emily dengan ekspresi wajah lebay.


Lah!


Manajernya Emily kan Galen sendiri!


Dasar aneh!


"Buruan, Em! Mumpung Galen sedang baik hati memberikan kamu tumpangan. Nungguin taksi juga nggak dapat-dapat!" Perintah ayah Satria sekali lagi yang membuat Emily harus berdecak kesal berulang kali.


Para supir taksi sepertinya memang sedang berkonspirasi dan sengaja tidak lewat jalan ini, agar Emily bisa menumpang mobil silver Pak Galen.


Dasar sialan!

__ADS_1


Emily yang tak punya pilihan lain, akhirnya terpaksa menumpang mobil Galen. Beruntung ada adiknya Galen yang duduk di depan. Jadi Emily bisa duduk di belakang dan tidak perlu bersebelahan dengan manajer resek menyebalkan itu.


"Temannya Bang Galen, ya, Mas?" Tanya Ghea setelah Emily masuk ke dalam mobil Galen.


Mas katanya?


Sial!


Emily dikira cowok gara-gara Emily memasukkan rambut panjangnya ke dalam jaket sweater yang ia kenakan.


"Kalau menyapa orang itu, sambil dilihat wajahnya, Ghe! Jangan ponsel aja yang kamu lihatin!" Sahut Galen yang sudah mulai melajukan mobilnya ke arah kampus Ghea.


"Emang kenapa?" Ghea menengok ke arah belakang dan gadis itu terkejut saat mendapati kalau yang menumpang mobil sang Abang ternyata cewek.


Ghea langsung nyengir kuda ke arah Emily dan sedikit malu.


"Eh, maaf, Kak! Aku kira cowok tadi. Habisnya Kakak pakai celana jeans dan sweater cowok begitu. Ghea kan jadi gagal fokus!" Cengir Ghea pura-pura polos.


Hhhh!


Baju lagi yang dibahas!


Nggak abangnya nggak adeknya, hobi sekali mengomentari penampilan Emily.


"Iya, nggak apa-apa! Udah biasa kok dikira cowok kalau di tempat umum!" Jawab Emily sedikit berkelakar meskipun terdengar garing.


"Makanya pakai gaun atau rok! Pakai baju yang feminim. Biar nggak dikira cowok!" Timpal Galen dari kursi kemudi.


Ya, ya, ya!


Kenapa bukan kamu aja yang pakai rok, Pak Gak Selera!


Dasar laki-laki berjiwa perempuan!


Emily hanya menggerutu dalam hati.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.


__ADS_2