Jodoh Emily

Jodoh Emily
SIAPA GADIS ITU?


__ADS_3

Emily baru saja menyalakan layar iMac-nya dan hendak mengetikkan password, saat tiba-tiba telepon internal di ruang ilustrator berbunyi.


Segera Emily meraih gagang telepon tersebut dan mengangkatnya.


"Halo!"


"Em, ke ruanganku sekarang untuk mengambil pekerjaan!" Perintah Galen dari ujung telepon.


"Baik, Pak!" Jawab Emily cepat dan hendak meletakkan gagang telepon. Namun protes dari Galen membuat Emily batal meletakkan gagang teleponnya.


"Galen! Kenapa lupa lagi?"


"Maaf, Pak! Tapi ini jam kantor. Nggak sopan kalau nggak pakai embel-embel," Emily mencari alasan.


"Ke ruanganku saja sekarang!"


"Iya, Pak!" Emily bisa benar-benar meletakkan gagang telepon sekarang.


Dasar manajer bawel!


Sedikit malas, namun Emily tetap beranjak dari kursinya dan keluar ruangan. Gadis itu hampir menabrak Faisal yang baru saja datang.


"Mau kemana, Em? Masih pagi udah main kabur saja," cecar Faisal merasa kepo.


"Mau ke ruangan Pak Gak Selera! Kenapa? Mau titip salam?" Emily balik mencecar Faisal.


"Iya! Bilangin gaji Faisal suruh naikin!" Jawab Faisal cengengesan.


"Males! Bilang aja sendiri!" Sahut Emily yang sudah berlalu dari hadapan Faisal dan lanjut menuju ke ruangan Pak Galen menyebalkan.


Tok tok tok!


Emily mengetuk pintu demi norma kesopanan.


"Masuk!" Perintah Galen dari dalam ruangan. Emily segera masuk dan gadis itu sedikit terjejut mendapati Galen yang pagi ini mengenakan kemeja kotak-kotak yang warnanya senada dengan kemeja yang dikenakan Emily.


Lah!


Kok bisa samaan warnanya?


Emily menggaruk kepalanya karena heran.


"Tadi pagi pas mandi keramas nggak? Kenapa masih pagi udah garuk-garuk kepala begitu?" Tegur Galen menatap tidak senang karena mendapati Emily yng menggaruk kepalanya.


"Belum sempat, Pak! Biasa keramasnya yan kalau sore," jawab Emily yang ganti menggaruk tengkuknya.


Nggak boleh garuk-garuk kepala, ya garuk tengkuk saja!


Kalau boleh sebenarnya mau Emily garuk saja mukanya Pak Galen menyebalkan ini.


"Jadi cewek itu yang bersih! Bangun pagi, keramas, creambath, rambut diikat yang rapi kalau ke kantor. Atau digelung biar semakin rapi."


Emily buru-buru mengikat rambutnya yang tadi terurai.


"Pakai baju yang benar!" Galen sudah mendekat ke arah Emily dan memegang ujung kemeja kotak-kotak Emily yang memang sengaja tak Emily kancingkan. Kan di dalam sudah pakai kaus warna putih.


"Ini pakai kemeja tapi tidak dikancingkan. Maksudnya apa, coba?" Lanjut Galen lagi masih dengan cerocosan tak jelasnya.


"Jadi Bapak tadi manggil saya kesini cuma mau komentarin penampilan saya? Jadinya ada pekerjaan buat saya, nggak, sih, Pak?" Tanya Emily yang mulai kesal.

__ADS_1


"Aku belum selesai bicara! Kamu bisa diam dulu, nggak?" Galen memaksa melepaskan kemeja Emily.


Eh, eh, eh!


Ini manajer tak maho mau ngapain?


"Pak! Bapak mau ngapain?" Emily beringsut menjauh dan menjaga jarak dari Galen.


Bahaya ini!


Jangan sampai ada skandal antara Emily dan Pak Galen maho mebyebalkan ini.


"Mau melepas kemeja kami yang bikin sepet mata ini!" Jawab Galen pedas.


"Bapak jangan bersikap berlebihan begitu! Kembalikan kemeja saya, Pak!" Emily berusaha merebut kembali kemejanya yang sudah dilepas da diambil oleh Galen.


"Ikatkan saja disini sekalian! Biar jadi preman!" Galen mengikatkan lengan kemeja Emily ke pinggang Emily saat kepala Galen tak sengaja menyenggol dua gundukan kenyal milik Emily yang Galen pikir bentuknya datar. Ternyata lumayan juga ukurannya untuk tubuh Emily yang tidak gemuk.


Sialan!


Kenapa Galen malah fokus ke bagian itu!


Tapi salah Emily juga pakai kaus ketat begitu.


"Bapak apaan, sih!" Emily bersungut-sungut dan melepas kemejanya dari pinggang lalu memakainya lagi seperti semula.


"Jadi ada pekerjaan untuk saya tidak, Pak?" Tanya Emily sekali lagi yang semakin kesal.


"Ada itu di atas meja. Map warna biru," jawab Galen yang tumben tak mengambilkan pekerjaan Emily dan langsung duduk di atas kursi kerjanya.


Emily mengambil map warna biru sesuai petunjuk dari Galen dan membaca sekilas tulisan du dalam map tersebut.


"Abang!" Sapa gadis itu yang langsung bergelayut pada Galen.


"Apalagi, Kym? Aku sedang kerja! Kamu ngapain kesini? Pulang sana!" Usir Galen pada gadis tersebut.


"Nggak ah! Aku mau temani Abang disini," jawab gadis bernama Kymi itu masih sambil bergelayut pada Galen.


Kalau dilihat sekilas, gadis bernama Kymi itu sepertinya masih SMA.


Kenapa selera Galen bocah kecil begitu?


Tapi Kymi memang modis dan rapi, sih!


Tidak seperti Emily yang penampilannya macam preman.


Mungkin itu, yang membuat Galen memacari bocah.


"Kau sedang apa, Em? Kenapa masih disini?" Tegur Galen pada Emily yang masih mematung di ruangannya.


Iya juga, ya?


Kenapa Emily masih di ruangan Galen dan malah sibuk memperhatikan Galen dan pacar centilnya?


Kurang kerjaan sekali kamu, Emily!


"Ini udah mau pamit, kok, Pak!"


"Pacar Bapak bikin salah fokus," gumam Emily seraya berbalik dan hendak keluar dari ruangan Galen.

__ADS_1


"Apa yang barusan kamu bilang?" Pertanyaan Galen membuat Emily menghentikan langkahnya.


"Saya mau keluar, Pak! Mau mengerjakan ilustrasi untuk buku yang mau naik cetak," jawab Emily tegas dan sedikit emosi.


Kenapa mendadak Emily jadi emosi pada Pak Gak Selera ini?


"Bukan! Kalimat yang setelah kamu pamit keluar! Aku dengar kamu menggumamkan kalimat lain tadi." Galen memutar-mutar tangannya, dan gadis bernama Kymi tadi msih bergelayut manja pada Galen.


Membuat mata sepet saja!


"Nggak ada! Saya nggak menggumamkan apa-apa, kok! Perasaan Bapak saja mungkin!" Jawab Emily yang bibirnya sudah merengut.


"Saya permisi, Pak! Selamat pagi!" Pamit Emily sekali lagi yang langsung ngeloyor pergi dari ruangan Galen.


"Aneh!" Gumam Galen setelah Emily tak terlihat lagi.


"Minta duit buat shopping, Bang!" Kymi masih bergelayut dan merayu Galen.


"Dasar mata duitan! Uang jajan dari mama kamu masih kurang memangnya?" Tanya Galen dengan nada galak.


"Udah habislah! Minta lagi nggak dikasih. Kymi minta ke Abang saja. Abang kan banyak duit," jawab Kymi seraya nyengir kuda.


Galen mengeluarkan dompet dari saku celananya, dan baru saja akan mengambil beberapa lembar uang, saat Kymi sudah menyambar semuanya dari dompet Galen dan mengacungkannya ke udara.


"Yess! Bisa shopping. Tengkyu Abang Galen yang paling ganteng!" Kymi mencium pipi Galen yang langsung membuat Galen berdecak kesal.


"Jangan menciumku sembarangan begitu!" Gertak Galen pada Kymi.


"Lah! Dicium cewek kok geli begitu! Jangan-jangan aunty Mia benar kalau Abang itu maho," Kymi terkikik tanpa dosa.


"Jaga itu ucapan kamu! Nggak aku kasih uang jajan lagi nanti!" Ancam Galen pada Kymi.


"Diih! Tukang ngancam! Kabur ke mall dulu! Bye!" Kymi menyumpalkan uang dari Galen ke dalam tas selempangnya dan gadis itu segera ngeloyor pergi dari ruangan Galen.


Namun saat akan masuk ke dalam lift, Kymi tak sengaja bertubrukan dengan Emily yang baru kembali dari pantry.


"Hati-hati, dong, Mbak! Kalau teh panasnya kena badan saya, trus kulit saya melepuh, mbaknya mau tanggung jawab?" Omel Kymi bersungut-sungut pada Emily.


Gadis itu masuk ke dalam lift dengan cepat meninggalkan Emily yang hanya mencibir dan menggerutu dalam hati.


Nggak cowoknya, nggak ceweknya sama-sama galak dan lebay!


Cocoklah!


.


.


.


Kymi siapa sih, thor?


Di cerita "Nona Mia" yang hobi minta duit ke Nona Mia buat shopping ke mall siapa?


Nah anaknya sama ibunya sama ternyata kan😂


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.

__ADS_1


__ADS_2