Jodoh Emily

Jodoh Emily
MENCURIGAKAN


__ADS_3

Emily berjalan santai masuk ke gedung kantor saat mobil silver yang membuat Emily jantungan tempo hari sudah terparkir di halaman parkir, dan si empunya mobil turun.


Etdah!


Ternyata itu mobilnya Pak Galen resek!


Mobilnya bikin jantungan, orangnya bikin kesel. Udah klop banget, sih!


Emily mempercepat langkahnya masuk ke dalam kantor dan hendak menuju ke ruang ilustrator. Namun gadis itu menghentikan langkahnya sejenak saat mendengar Galen yang sedang berdebat dan berteriak pada seorang pemuda tanggung yang sepertinya anak kuliahan.


Tapi siapa?


Adiknya?


Tidak mirip sama sekali kalau dilihat dari segi manapun.


Emily sangat yakin kalau itu pasti bukan adik Galen.


Pak Galen terlihat mengeluarkan dompet dan memberikan uang pada pemuda tanggung itu, tapi ditolak mentah-mentah dan mereka berdua kembali berdebat. Seperti sepasang kekasih yang sedang ribut.


Hah?


"Pak Galen itu maho! Dia mana doyan sama cewek? Pacarnya ya pasti cowok atau pemuda tanggung."


Kalimat Irma mendadak berseliweran di kepala Emily.


Jangan-jangan pemuda tanggung itu pacarnya Pak Galen!


Ih, amit-amit!


Mereka emang cocok kayaknya.


Emily mengendik geli dan segera melanjutkan langkahnya menuju ke ruang ilustrator.


****


Emily masih berkutat dengan gambar coretannya di iMac saat telepon interkom di ruang kerjanya berbunyi. Faisal yang duduk paling dekat dengan telepon segera mengangkatnya.


"Halo!"


"Oh, ada, Pak!"


"Ke ruangan Bapak? Sekarang?"


"Baik, Pak! Saya sampaikan!"


Faisal sudah selesai berbicara entah dengan siapa dan meletakkan gagang telepon.


Pria satu-satunya di ruangan ilustrator tersebut melempar klip kertas pada Emily.

__ADS_1


"Em! Dicariin Pak Galen! Suruh ke ruangannya sekarang!" Ujar Faisal menyampaikan sebuah pesan pada Emily.


"Ke ruangannya ngapain? Kerjaan masih banyak juga!" Emily menggerutu sebal sebelum bangkit dari duduknya dengan malas.


"Mau dikasih kenaikan gaji mungkin, Em!" Celetuk Irma sedikit berkelakar.


"Aamiin!" Sahut Emily yang sudah keluar dari ruangan dan melangkahkan kakinya ke ruangan Pak Galen resek.


Emily mengetuk pintu ruangan dan tak butuh waktu lama, langsung terdengar suara dari Galen yang menyuruh Emily untuk masuk.


Dan hal pertama yang dilakukan Galen setelah Emily masuk adalah memindai penampilan gadis itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Penampilan Emily yang hari ini mengenakan celana jeans lagi dengan kaus warna putih dilapisi kemeja kotak-kotak lengan panjang warna pink dan biru yang sepertinya sengaja tidak dikancingkan bagian depannya benar-benar membuat Galen harus berdecak berulang kali.


"Apa kau tidak mendengar perintahku kemarin soal memakai rok?" Tanya Galen dengan nada dan raut wajah tidak senang.


"Saya tidak sedang kondangan, Pak! Jadi kenapa harus memakai rok?" Jawab Emily tanpa rasa segan sedikitpun.


Galen baru saja akan mengomeli Emily lagi saat tiba-tiba ponselnya yang ada di atas meja berbunyi nyaring, menandakan ada panggilan masuk.


Galen segera menekan tombol merah dan menolak panggilan lalu kembali menatap pada Emily yang sudah menjulurkan kepalanya untuk melihat nama orang yang menelepon Galen.


Kepo sekali!


Galen berdecak pada Emily yang hanya memasang raut wajah tak berdosa.


"Jangan-"


Galen menekan tombol merah sekali lagi.


Belum ada sepuluh detik dan ponsel pak manajer resek itu berdering lagi menunjukkan nama kontak yang sama.


Alvin!


Galen menggeram frustasi sebelum akhirnya mengangkat panggilan dari Alvin tersebut.


"Jangan menggangguku! Aku sedang bekerja!" Ucap Galen dengan nada galak pada seseorang bernama Alvin di seberang telepon.


Siapa memangnya Alvin?


"Tidak bisa! Aku mau ke pameran memeriksa persiapan booth. Aku akan pergi sampai sore!" Tegas Galen lagi dengan suara yang sudah meninggi. Membuat Emily semakin penasaran siapa sebenarnya Alvin itu hingga membuat Pak Galen mencak-mencak seperti cewek sedang PMS.


Galen menutup telepon dari Alvin dan menjejalkan ponselnya ke dalam saku celana dengan tergesa.


"Pekerjaanmu sudah selesai, kan?" Tanya Galen tiba-tiba pada Emily yang masih mematung.


"Belum, Pak! Masih harus finishing touch," jawab Emily sedikit tergagap.


"Yang itu deadline nya masih minggu depan, jadi finishing touchnya besok saja! Sekarang kamu ikut aku!" Perintah Galen tegas seolah tak mau dibantah.

__ADS_1


"Kita mau kemana, Pak?" Tanya Emily merasa curiga.


"Mengawasi pemasangan booth untuk pameran!" Jawab Galen masih dengan nada bicara ketus.


"Lah, saya kan bagian ilustrasi. Kenapa nggak ngajak anak marketing saja, Pak?" Protes Emily merasa sedikit janggal.


"Yang aku ajak itu kamu! Kenapa jadi kamu yang mengatur-ngatur?" Sergah Galen galak.


"Tapi pekerjaan saya masih banyak, Pak?" Emily masih pantang menyerah mencari alasan.


"Ikut aku dulu hari ini! Lalu pekerjaanmu kamu kerjakan besok!" Perintah Galen sekali lagi yang sontak membuat Emily garuk-garuk kepala.


"Cepat, Em!" Ulang Galen sekali lagi.


"Saya ambil dompet dulu, Pak!" Izin Emily yang hendak menuju ke arah ruang kerjanya.


"Tidak usah bawa dompet! Memangnya kau mau mentraktirku?" Larang Galen galak.


"Ayo!" Galen menarik tangan Emily dan sedikit menyeret gadis itu menuju ke arah lobby.


Terang saja, hal itu benar-benar menarik perhatian beberapa karyawan yang melihat adegan seret-seretan tersebut. Emily sibuk menutup wajahnya dengan satu tangan agar kejadian ini tak menjadi skandal atau rumor menyesatkan.


Dasar manajer sinting!


"Pak, saya bisa jalan sendiri!" Protes Emily yang tangannya masih dicekal oleh Galen.


Namun Galen tetap tak melepaskan tangan Emily dan terus menggeret gadis itu ke arah mobilnya.


Menyebalkan sekali!


Galen membukakan pintu mobil untuk Emily sebelum pria itu memutari mobil dan masuk ke kursi pengemudi.


Baru saja Galen akan melajukan mobilnya, tiba-tiba jendela mobil diketuk dari luar oleh pemuda tanggung yang tadi pagi berdebat dengan Galen di halaman parkir.


Siapa sebenarnya pemuda ini?


.


.


.


Ada yang ingat nggak Alvin ini siapa?


Pernah aku munculin di cerita si kembar kayaknya.


Trus hubungannya sama Galen apa thor?


Nah itu, aku bingung mau jelasin 😂

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.


__ADS_2