Jodoh Emily

Jodoh Emily
PERJUANGAN GALEN


__ADS_3

"Saya mau menikah dengan Emily, Om!" Ucap Galen to the point pada Ayah Satria yang kini menatap tak percaya ke arahnya.


Tadi tiba-tiba datang ke rumah tanpa diundang, sekarang tiba-tiba bilang mau menikah dengan Emily.


Apa putra dari Bu Mia dan Pak Bian ini sedang mabuk?


"Kau mabuk, Galen?" Tanya Ayah Satria sedikit terkekeh.


"Sama sekali tidak, Om! Saya serius dan bersungguh-sungguh," jawab Galen memasang raut wajah bersungguh-sungguh.


"Lamar Emily, bawakan dia cincin sekalian bawa kedua orang tuamu kalau begitu!" Tantang ayah Satria yang langsung membuat Galen mengangguk dengan yakin.


"Rencananya, saya akan melamar Emily saat acara pembukaan kafe nanti, Om!" Jawab Galen memaparkan rencananya pada Ayah Satria.


"Kalau Emily menolakmu?"


"Maka saya akan pergi jauh dari kehidupan Emily dan tidak akan mengganggu putri Om Satria lagi," jawab Galen penuh keyakinan.


Galen sendiri juga tidak tahu kenapa ia tiba-tiba begitu yakin kalau Emily akan menerima lamarannya. Bahkan gadis itu selalu saja bersungut-sungut saat bicara dengan Galen.


Namun ekspresi Emily saat melihat Kymi yang bergelayut mesra pada Galen, membuat tekad Galen untuk melamar Emily semakin bulat.


"Berapa lama kau mengenal Emily, Galen?" Tanya Ayah Satria tiba-tiba dengan nada menyelidik.


"Sekitar dua bulan, Om!" Jawab Galen menghitung-hitung.


"Sudah paham semua sifat Emily? Masa lalu Emily?"


"Jika maksud Om tentang hubungan Emily dan Sean yang sudah terjalin sejak kecil namun kandas begitu saja, Galen sudah tahu semuanya, Om!" Jawab Galen dengan nada yakin bersungguh-sungguh.


"Emily pernah patah hati dan bersedih hingga berhari-hari. Jadi, jika kau hanya ingin mrmbuat Emily-"


"Saya tidak akan melakukannya, Om!" Galen memotong dengan cepat.


"Saya akan membuat Emily bahagia," lanjut Galen lagi masih dengan nada yang bersungguh-sungguh.


Ayah Satria mengangguk seraya tersenyum.


"Om pegang omongan kamu."


Galen akhirnya bisa bernafas lega.


"Tapi jika kamu menyakiti Emily dan membuatnya bersedih, Om sendiri yang akan memberikanmu pelajaran!" Sambung ayah Satria menatap Galen dengan tegas seakan sedang mengancam.


Galen tak jadi bernafas lega.


Tapi Galen akan membuktikan pada Ayah Satria kalau ia akan bisa membuat Emily bahagia.


"Iya, Om! Galen berjanji akan membuat Emily bahagia."


****


Emily menatap tak percaya pada cincin berlian yang kini sudah tersemat pada jari manisnya. Gadis itu menepuk-nepuk pioinya sendiri, memastikan kalau ini hanyalah mimpi.


Ini pasti mimpi, kan?


Ini hanya mimpi, kan?

__ADS_1


"Kenapa pipinya ditepuk-tepuk begitu?" Teguran Galen membuat Emily berjenggit kaget.


"Pak, apa Bapak sedang mabuk? Kenapa tiba-tiba melamar saya dan memberikan saya cincin?" Cecar Emily sedikit berbisik pada Galen.


Emily tidak mau merusak suasana pesta ini denagn ocehan serta cerocosannya.


"Aku tidak mabuk, kok!" Jawab Galen santai.


"Dan berhenti memanggilku Pak!" Lanjut Galen ganti dengan nada tegas,


"Pak Galen!" Jawab Emily yang langsung membantah perintah Galen.


"Galen saja! Aku tunanganmu sekarang!" Galen mulai geregetan.


"Pak Galen, Pak Galen, Pak Galen! Boleh panggil Pak Gak Selera saja?" Tanya Emily yang sepertinya hobi sekali membuat Galen kesal.


Galen tiba-tiba menatap Emily dengan tajam seakan sedang marah. Dan pria itu juga sudah mencekal lengan Emily entah sejak kapan.


Hah?


Kok Emily nggak sadar, sih?


"Om, Tante, Emily ingin bicara berdua saja dengan Galen. Jadi, apa boleh Galen membawa Emily ke atas sebentar?" Emily meminta izin pada Ayah Satria dan Bunda Naya.


Hah?


Ke atas?


Ke kamar maksudnya?


Emily kan tidak pernah mengatakan kalau ia mau bicara berdua saja dengan Pak Gak Selera ini!


"Hanya sebentar, dan jangan berbuat aneh-aneh!" Pesan Ayah Satria yang langsung membuat Emily merengut.


Perasaan Ayah Satria gampang banget kasih ijin ke Galen.


Emang Galen nyogok Ayah pakai apa, sih?


Mencurigakan sekali.


"Nanti Emily akan teriak kencang kalau mau di apa-apain sama Pak Gak-" Emily menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Pak Galen maksud Emily, Yah!" Lanjut Emily mengoreksi kalimatnya sendiri.


"Iya, sana!" Aya Satria mengendikkan dagunya kd arah tangga yang menuju ke lantai dua.


Galen masih menggandeng tangan Emily dan mereka berdua naik tangga beriringan. Lantai dua kafe Analogy ternyata adalah sebuah rumah tinggal. Ada ruang keluarga, dapur yang menyatu dengan ruang makan, dan tiga buah kamar tidur.


"Ke balkon saja!" Ucap Galen yang masih menarik tangan Emily. Kali ini mereka melangkah ke arah pintu besar di sisi dapur yang ternyata mengarah ke sebuah balkon yang cukup luas.


Ada ayunan di balkon tersebut serta kursi santai.


Emily langsung naik ke ayunan rotan teesebut, dan Galen menarik satu kursi santai, lalu mendekatkannya ke arah Emily.


"Pemandangannya bagus ternyata kalau dari sini," puji Emily seraya mengedarkan pandangannya ke kiri dan kanan.


Rumah Emily memang hanya satu lantai. Jadilah, Emily tidak pernah bisa melihat pemandangan kompleks perumahan ini dengan jelas.

__ADS_1


"Suka dengan pemandangannya?" Tanya Galen yang sudah mendekatkan wajahnya ke arah Emily.


"Bapak mau ngapain? Nanti saya teriak, bapak lanhsung dapa bogem mentah dari ayah, lho!" Ancam Emily serius.


"Kenapa bukan kamu saja yang memberiku bogem mentah? Bukannya kamu juga punya ilmu bela diri?" Tanya Galen dengan seringai menggoda.


"Enggak, ah! Nanti tangan saya lecet!" Jawab Emily mencari alasan.


"Mundur! Jaga jarak! Jangan mentang-mentang bapak udah ngasih saya cincin, trus bapak bisa nyosor-nyosor begitu!" Emily mendorong wajah Galen agar menjauh, saat Emily merasakan kulit wajah Galen yang begitu lembut dan sepertinya enak sekali untuk diusap-usap


Ya ampun!


Ini Pak manajer yang tak maho pakai skincare sama rajin perawatan di salon apa, ya?


Bisa mulus gitu wajahnya.


Emily ganti memegang wajahnya sendiri sebagai perbandingan.


Lebih mulusan punya Pak Galen ternyata


Hahaha!


Emily jadi kepo, pak Galen perawatannya pakai apa?


"Yang nyosor-nyosor siapa memang? Baru aku dekati saja sudah grogi kamu!" Ujar Galen yang sontak membuat wajah Emily bersemu merah.


"Ya wajar lah, Pak! Orang masih perawan!" Sahut Emily seraya memutar bola matanya.


"Bisa berhenti manggil aku Pak?" Tanya Galen dengan nada serius.


"Nggak bisa, Pak! Udah kebiasaan ini!" Cicit Emily yang kini beringsut mundur karena Galen kembali mendekatkan wajahnya ke arah Emily.


Duh!


Manajer maho ini ternyata genit dan mesum.


"Trus nanti kalau kita nikah, lagi di kamar berduaan, masa kamu juga manggil aku Pak, Pak, gitu?"


"Kesannya jadi kayak aku itu bapak-bapak tua pedofil yang sedang malam pertama dengan bocah di bawah umur," Cecar Galen merasa geregetan pada Emily.


Malam pertama?


Emily menelan salivanya dengan susah payah membayangkan malam pertama dirinya dengan Galen.


"Emang kita mau nikah, ya, Pak?"


.


.


.


Nggak kok, Em!


Mau main dokter-dokteran


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.


__ADS_2