Jodoh Emily

Jodoh Emily
LEBAY!


__ADS_3

Galen dan Emily memutuskan untuk check out dari hotel lebih cepat, karena mereka juga tak bisa berbuat apa-apa lagi setelah tamu tak diundang datang menghampiri Emily.


Bibir Galen terus saja merengut sepankang sarapan pagi, seperti bocah yang kehilangan mainannya.


Ck!


Lebay sekali.


Galen dan Emily baru dampai di lobby saat meeeka berpapasan dengan sepasang suami istri yang tiba-tiba menyapa mereka.


"Galen! Kau sedang bulan madu disini?" Pria paruh baya itu langsung memeluk Galen, sedangkan wanita yang bersamanya, memeluk Emily dengan sedikit lebay.


Emily benar-benar tidak tahu mereka siapa. Sepertinya pernah bertemu sekali saat acara pernikahan kemarin, namun Emily tak bisa ingat mereka siapa.


"Om dan Tante sedang apa disini? Mau berbuoan madu dan membuat adik untuk Kymi?" Bukannya mdnjawab pertanyaan sang Om, Galen malah balik menggoda oasangan paruh baya tersebut.


"Sembarangan kamu! Ini mau menghadiri acara di ballroom," jelas wanita yang tadi memeluk Emily tersebut.


"Oh, ya, Em! Kamu masih ingat sama Om Mike dan Tante Kyara, kan?" Galen sudah merangkul Emily sekarang dan mengenalkan pasabgan paruh baya tadi pada Emily.


"Om rasa istrimu tidak ingat, Galen," pendapat Om Mike sedikit terkekeh.


"Mereka orang tuanya Kymi. Gadis rok mini yang membuatmu cemburu buta sampai tidak bisa bekerja dengan benar," jelas Galen sedikit berbisik pada Emily.


Istri Galen itu sontak melebarkan kedua matanya dan tangannya refleks mencubit perut Galen.


"Siapa yang cemburu? Dasar geer!"


"Nanti kapan-kapan, kamu ajak Emily main ke rumah, ya, Galen! Biar semakin akrab," pedan Tante Kyara seraya meraih tangan Emily dan tersenyum ramah.


"Iya, Tan! Kalau ada waktu luang nanti Galen mampir ke rumah," jawab Galen santai.


"Kami pergi dulu kalau begitu. Kalian tidak lanjut bulan madunya? Atau mau pindah hotel?" Kekeh Om Mike seraya menggandeng istrinya dan berlalu dari hadapan Galen dan Emily.


"Mau pindah hotel bagaimana, Om? Pintu masuknya aja lagi kena palang merah," gumam Galen sedikit berdecak.


Namun sepertinya gumaman Galen cukup keras untuk bisa didengar oleh Emily.


"Ya bagus! Biar bisa libur dulu yang bercocok tanam. Bisa lumpuh aku nanti kalau kamu ajak lembur sampai pagi setiap hari," ujar Emily yang langsung membuat Galen mencibir.


"Kamu juga menikmati dan ketagihan aja, sok-sokan jual mahal!"


"Galen, hentikan! Kita sedang diluar!" Emily menahan bibir Galen yang sudah nyosor ke arahnya.


Ck!

__ADS_1


Dasar tuan OCD mesum!


Main nyosor aja nggak lihat tempat.


Galen dan Emily kini sudah tiba di tempat parkir hotel. Pasangan suami istri tersebut langsung masuk ke dalam mobil silver milik Galen yang dulu sering Emily maki-maki.


Eh, sekarang Emily malah menaikinya hampir setiap hari.


Yang punya juga hobi menaiki Emily setiap malam.


Ish!


Mikirin apa, sih?


"Jadi sebenarnya, kamu itu punya berapa Om dan Tante?" Tanya Emily membuka obrolan bersamaan dengan mobil Galen yang sudah melaju meninggalkan hotel.


"Dua."


"Kalau tante Eve dan Om Steve itu kan adik kandungnya Papi. Nah, kalau Tante Kyara dan Om Mike tadi adiknya Mom," ujar Galen menjelaskan silsilah keluarganya pada Emily.


"Jadi sepupu kamu dua-duanya cewek, trus adik kamu juga cewek. Luar biasa!" Decak Emily sedikit terkekeh.


"Eh, Kymi punya saudara laki-laki nggak, sih?" Imbuh Emily lagi sedikit bertanya.


"Nggak! Anak tunggal juga dia kayak Rachel," jawab Galen sambil tetap fokus ke jalan di hadapannya.


"Tuaan Ghea. Kymi masih SMA," jawab Galen menjelaskan. Emily hanya manggut-manggut.


Mobil berhenti di lampu merah bersamaan dengan ponsel Galen yang berbunyi. Emily membantu meletakkan ponsel Galen di telinga sang suami.


Galen berbicara pada seseorang di telepon dan raut wajahnya terlihat serius. Setelah sekesai menelepon, Galen berdecak berulang-ulang.


"Ada apa?" Tanya Emily penasaran.


"Disuruh nemuin klien. Baru cuti padahal," gerutu Galen sedikit kesal.


"Ke kantor?"


"Nggak, di luar kantor!" Galen mengusap kepala Emily.


"Aku antar kamu pulang dulu."


Mobil Galen sudah sampai di rumah.


"Langsung pergi?" Tanya Emily seraya melepas sabuk pengamannya.

__ADS_1


"Aku nggak lama," Galen kembali mengusap kepala Emily dan mengecup kening istrinya tersebut.


"Nanti telepon saja kalau kau rindu," pesan Galen saat Emily sudah membuka pintu mobil dan keluar dari mobil suaminya tersebut.


"Dasar lebay!" Jawab Emily yang sudah kembali menutup pintu mobil Galen.


"Bye, Sayang!" Pamit Galen seraya melambaikan tangan pada Emily.


Emily balas melambaikan tangan ke arah mobil Galen yang sudah melaju pergi.


Emily lanjut masuk ke rumah Galen dan menaiki tangga yang ada di samping kafe yang masih tutup. Biasanya kafe memang buka saat jam makan siang.


Emily baru saja masuk ke rumah Galen yang ada di lantai dua kafe, saat wanita itu mebdapati Papi Biam yang sedang berkutat di dapur dan sedikit bersenda gurau bersama Mom Mia. Kedua orang tua Galen tersebut terlihat mesra dan seperti remaja yang sedang kasmaran. Membuat siapapun yang melihatnya jadi ingin ikut tersenyum.


"Em, sudah pulang?" Sapa Mom Mia setelah menyadari kehadiarn Emily.


"Iya, Mom. Baru sampai."


"Rambutnya baru! Kelihatan jadi lebih segar dan seperti ABG," timpal Papi Bian sedikit melempar pujian pada Emily.


"Galen yang nyuruh kamu potong rambut? Trus dimana anak ituu sekarang?" Cecar Mom Mia yang sudah mendekat ke arah Emily dan merangkul meanntinya tersebut, mengajakya masuk ke dapur.


"Emily sendiri yang minta, Mom. Galen yang pilihin modelnya," jaeab Emily sedikit menjelaskan.


"Papi masak apa?" Tanya Emily selanjutnya menengok ke arah Papi Bian yang masih berkutat dengan beberapa bahan mentah di depannya. Dan Mom Mia yang sejak tadi sepertinya hanya menjadi penonton saja.


"Soto ayam. Kau pernah memasaknya?" Papa Bian balik bertanya pada Emily yang langsung menggeleng.


"Tapi Bunda sering memasak soto juga di rumah," ujar Emily sedikit bercerita.


"Mau Papi ajari cara memasaknya?" Tawar Papi Bian memasang senyuman hangat ke arah Emily.


"Apa tidak merepotkan?" Emily mendadak merasa ragu.


"Tentu saja tidak! Pakai celemeknya!" Mom Mia membantu Emily mengenakan celemek memasak.


"Silahkan memasak berdua, dan Mom akan pergi berendam," pamit Mom Mia seraya meninggalkan Emily di dapur bersama Papi Bian.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.


__ADS_2