
Satu bulan kemudian.
"Sayang, sudah!" Ucap Emily tersengal-sengal saat Galen terus menghentak ke dalam miliknya tanpa jeda.
Ya ampun, ini bahkan sudah ronde kedua, dan Galen lama sekali bergeraknya hingga membuat Emily kewalahan dan nyaris pingsan.
Dan jangan ditanya Galen dan Emily sedang menanam benih dimana, karena netra Emily sejak tadi tak berhenti menatap ke arah pintu ruang kerja Galen berharap ada seseorang yang mengetuknya atau mencari Galen, agar suaminya ini mau berhenti.
Tapi ini sudah lewat jam kantor, dan mustahil ada karyawan lain yang mengetuk pintu ruangan Galen.
"Sayang!" Desah Emily lagi seraya menjambak rambut Galen yang semakin menggila.
"Sedikit lagi....aku hampir...."
"Aaaah!" Tubuh Galen mengejang bersamaan dengan cairan yang tumpah ruah dan memenuhi rahim Emily sekarang. Emily memejamkan matanya karena kelelahan dan karena membayangkan sesuatu di bawah sana.
Entahlah, kenapa pikiran Emily jadi melantur kemana-mana begini.
"Baiklah, sudah masuk semua," gumam Galen setelah memeriksa ke dalam milik Emily. Sudah seperti dokter obgyn saja suami Emily ini.
Dasar gila!
"Tahu darimana kalau sudah masuk semua?" Tanya Emily seraya meraih tasnya untuk mengambil tisu basah.
"Nggak ada yang tumpah, berarti kan masuk semua," ujar Galen penuh percaya diri.
"Ck! Ke toilet sana, Sayang! Jangan jorok begitu, dong!" Galen membantu Emily untuk bangkit berdiri dan mendorong istrinya tersebut masuk ke toilet yang ada di ruangannya.
Emily hanya terkikik dan segera masuk ke toilet untuk membersihkan diri.
"Yang, baju aku!" Seru Emily yang hanya terlihat kepalanya dari dalam pintu toilet.
"Pakai saja disini! Aku juga udah hafal bentuknya," jawab Galen santai yang masih enggan mengambilkan baju Emily yang kini berserakan di sofa.
"Ck! Kan tetap malu, Yang!" Keluh Emily yang akhirnya keluar dari kamar mandi hanya berbalut baju dalam.
Emily meraih baju terusannya dari aatas sofa dan segera memakainya.
"Naikin, Yang!" titah Emily seraya memunggungi Galen dan meminta suaminya itu untuk menaikkan ritsleting bajunya.
Galen tak langsung menaikkan ritsleting baju Emily dan mencium sejenak punggung putih Emily hingga meninggalkan bekas kemerahan.
"Sayang, udah!" Rengek Emily sekali lagi seraya bergerak-gerak gelisah.
"Iya ini udah! Cuma satu ciuman aja kok kamu kalang kabut," kekeh Galen yang sudah menaikkan ritsleting baju Emily.
"Nanti pulang mampir apotik, ya!" Pesan Emily pada Galen seraya membereskan isi tasnya.
"Mau beli apa? Kamu sakit?" Tanya Galen khawatir.
Pria itu sudah mendekat ke arah Emily dan meletakkan punggung tangannya di dahi Emily.
Tidak demam.
"Kata Bunda disuruh beli tes-"
"Tes-" Emily coba mengingat-ingat isi pesan Bunda siang ini
"Testpack?" Tebak Galen yang langsung membuat Emily bersorak.
"Iya, itu! Kok kamu malah tahu, Yang? Udah pernah beli, ya?" Tanya Emily kepo.
"Sembarangan! Aku kan rajin membaca, jadi tahu banyak hal," jawab Galen sedikit sombong.
"Udah telat berapa hari memangnya? Wah mau jadi Papa bentar lagi," Mata Galen sudah berbinar senang.
"Satu minggu dari tanggal perkiraan haid. Tapi belum tentu positif juga, kan, Yang!" Jawab Emily sedikit pesimis.
"Harus positif, dong! Udah nanam benih tiap malam, sampe beronde-ronde dan lembur sampai pagi. Masa iya nggak ada yang jadi," ujar Galen yang sudah merangkul Emily dan mengecup pipi istrinya tersebut dengan mesra.
"Yuk pulang!" Ajak Galen selanjutnya dan Emily hanya mengangguk.
Dua sejoli itupun meninggalkan kantor masih sambil berrangkulan.
__ADS_1
****
Galen sudah selesai mandi dan menghampiri Emily yang masih berkutat dengan ponselnya di sofa kamar.
"Gimana? Udah kamu tes, Sayang?" Tanya Galen yang sepertinya bersemangat sekali.
"Kata Bunda lebih efektif kalau ngetesnya pagi-pagi. Jadi besok aja pas bangun tidur," Emily menunjukkan chat-nya bersama Bunda Naya pada Galen.
"Besok bangunin aku kalau mau tes, ya! Aku juga mau lihat hasilnya," pesan Galen seraya merangkul dan mengecup pipi Emily.
"Ya!" Jawab Emily singkat seraya tersenyum pada sang suami.
Sedetik kemudian, hidung Emily terlihat mengendus sesuatu.
"Ini bau apaan, Yang?" Tanya Emily yang langsung mencari-cari bau yang tercium aneh di indera penciumannya.
"Bau apa memangnya?" Tanya Galen bingung.
Galen sendiri tak mencium bau appaun selain wangi sabun karena ia yang memang baru selesai mandi.
Emily lanjut mengendus aroma tubuh Galen.
"Bau kamu, Yang!" Emily langsung mendorong tubuh Galdn agar menjauh.
"Bau aku wangi gini. Habis mandi," Galen mencium aroma tubuhnya senduri dan berkata penuh percaya diri.
"Iya, wanginya bikin eneg! Sana jauh-jauh!" Emily terus mendorong Galen agar menjauh dan tidak dekat-dekat dengannya.
"Eneg bagaimana? Ini wangi sabun yang biasa aku pakai. Biasanya kamu kan suka dan nemplok-nemplok terus ke aku," tanya Galen bingung.
"Iya tapi sekarang aku eneg cium baunya," Emily menampilkan ekspresi hendak muntah.
"Kamu ganti baju sana! Sama ganti sabun dan jangan dekat-dekat aku dulu malam ini! Aku muntah-muntah nanti kalau kamu dekat-dekat," ucap Emily dengan bibur merengutnya yang khas.
Galen yang bingung sontak menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Kenapa sikap Emily jadi aneh begini?
"Hoek!" Emily langsung berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah setelah menghirup aroma parfum Galen.
"Em! Kamu kenapa?" Tanya Galen yang sudah menyusul Emily masuk ke kamar mandi.
Namun bukannya berhenti muntah-muntah, Emily malah semakin muntah hebat saat Galen mendekatinya.
"Em!" Galen mengusap punggung Emily, namun denagn cepat ditepis oleh istrinya tersebut hingga Galen terdorong mundur.
"Jauh-jauh kamu, Yang! Bau kamu bikin aku muntah-muntah!" Keluh Emily yang kembali memuntahkan isi perutnya.
"Itu kamar bisa kamu ilangin nggak baunya? Aku mau tidur di kamar Ghea kalau nggak bisa! Bisa pingsan aku nanti kalau muntah-muntah begini terus," cerocos Emily dengan nada lebay yang kembali membuat Galen garuk-garuk kepala.
"Nyemprot parfum udah kayak nyemprot apa aja! Satu kamar bau parfum semua!" Emily masih tak berhenti mengomel dan wanita itu keluar dari kamar denagn wajah memerah karena menahan mual.
"Ghe!" Emily mengetuk pintu kamar Ghea yang ada disamping kamar Galen.
Tak butuh waktu lama, dan pintu segera dibuka oleh sang empunya kamar.
"Kak Emily? Kakak kenapa pucat begini?" Tanya Ghea sedikit heboh.
Terang saja hal itu langsung memancing perhatian Mom Mia dan Papi Bian yang sedang duduk di dapur sembari mengobrol.
"Aku boleh tidur di kamarmu nggak malam ini?" Tanya Emily sedikit memohon.
"Yang! Aroma parfumnya udah hilang itu di kamar. Kamu udah bisa tidur di kamar," bujuk Galen yang sudah menyusul Emily.
"Iya tapi bau di badan kamu itu belum hilang! Sana jauh-jauh!" Emily kembali mendorong Galen agar menjauh.
"Ini kenapa pada ribut-ribut?" Tanya Papi Bian menengahi Emily yang sedang berdebat dengan Galen.
"Em, kamu sakit? Kenapa wajah kamu pucat begini?" Gantian Mom Mia yang bertanya pada Emily dengan raut waja khawatir.
"Sedikit mual, Mom! Gara-gara Galen itu nyemprotin parfum nggak pakai aturan. Satu kamar jadi bau parfum anehnya dia," keluh Emily seraya merengut.
"Nggak aneh baunya," pendapat Ghea setelah mengendus aroma parfum di tubuh Galen.
__ADS_1
"Bukannya sejak dulu parfum Bang Galen memang itu? Dan Kak Emily juga nggak pernah protes," tanya Ghea lagi masih heran.
"Iya, tapi sekarang aku nggak tahan sama baunya, Ghe! Ini aku sampai muntah-muntah," keluh Emily yang wajahnya masih merah padam menandakan kalau Emily memang serius dan tidak sedang bercanda.
"Kamu hamil, Em?" Tanya Mom Mia tiba-tiba yang langsung membuat semuanya terdiam menanti jawaban dari Emily.
"Nggak tahu, Mom. Belum jadi Emily tes, karena kata Bunda lebih efektif kalau ngetesnya pagi-pagi bangun tidur," jawab Emily menatap bergantian pada Mom Mia, Paoa Bian, Galen dan Ghea.
"Tapi udah beli alatnya?" Tanya Mom Mia lagi menatap serius pada Emily.
"Iya, sudah," jawa Emily seraya mengangguk.
"Coba dites sekarang saja! Itu udah kayak bawaan orang ngidam kamu," tukas Papi Bian memberikan usul.
"Biar Galen yang ambil alatnya," ucap Galen cepat yang langsung masuk ke kamar untuk mengambil testpack yang tadi dibeli Emily di apotek.
Setelah menerima testpack dari Galen, bergegas Emily masuk ke kamar mandi dekat dapur untuk melakukan tes. Semuanya menunggu hasilnya di meja ruang makan.
Pintu kamar mandi dibuka dari dalam, dan semua anggota keluarga Biantara langsung mengerubuti Emily. Mereka semua penasaran dengan hasilnya.
"Dua garis, Mom!" Ucap Emily menunjukkan testpack di tangannya pada semua anggota keluarga Biantara.
Ucapan syukur langsung terdengar dari semua orang yang berada di dekat Emily.
Galen langsung memeluk Emily dengan lebay sebelum tiba-tiba Emily kembali mual-mual karena aroma tubuh Galen yang aneh.
"Udah, Abang janga dekat-dekat dulu sama Kak Emily!" Ghea langsung memisahkan Galen dan Emily.
"Perbaiki dulu itu bau badan kamu, Galen! Kasihan Emily kalau mual-mual begitu gara-gara aroma tubuhmu!" Timpal Mom Mia yang ikut mengomeli Galen.
"Galen udah mandi dan wangi, Mom! Udah pakai parfum juga. Trus Galen harus bagaimana? Nggak mandi dan nggak ganti baju gitu?" Cerocos Galen menatap bingung pada semua orang yang menyalahkannya karena mual-mual yang dialami Emily.
"Bisa dicoba itu, Bang! Coba Abang jangan mandi sehari semalam, trus minta Kak Emily cium aroma tubuhnya Abang. Kali aja malah nggak mual," kekeh Ghea seraya merangkul Emily dan mengajaknya masuk ke kamar.
"Sialan kamu, Ghe! Bisa gatel-gatel aku nanti!" Gerutu Galen seraya berdecak berulang kali.
"Emily boleh tidur di kamar Ghea malam ini, Mom?" Tanya Emily meminta izin pada Mom Mia.
"Boleh, Sayang! Mom buatkan teh hangat untuk mengurangi mual, ya! Atau Emily mau yang lain?" Tawar Mom Mia pada sang menantu.
"Susu coklat hangat boleh, Mom?" Jawab Emily mengajukan pilihan lain.
"Boleh! Sebentar, ya!" Mom Mia dan Papi Bian langsungnturun ke dapur membuatkan susu coklat untuk Emily. Sedangkan Galen masih mengekori Emily yang dirangkul Ghea menuju ke kamarnya.
"Yang! Masa kamu tega biarin aku tidur sendirian malam ini?" Rengek Galen seperti bayi.
Baru kali ini Emily melihat Galen merengek seperti bayi.
"Hilangin dulu bau aneh di kamarmu itu! Nanti baru aku mau tidur di kamar lagi sama kamu," jawab Emily mengajukan syarat.
"Udah, Bang! Peluk guling sana! Sama-sama anget juga!" Ghea ikut-ikutan mengusir sang Abang.
Galen hanya berdecak dan membuang nafas dengan kasar.
Nggak dapat jatah dari Emily malam ini!
Dasar aroma parfum sialan!
.
.
.
😂😂😂
Sabar Mas Galen.
Namanya juga ngidam
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.
__ADS_1