
Jam makan siang sudah berakhir. Emily dan Faisal sudah kembali ke meja kerja mereka masing-masing dan kembali berkutat dengan coretan di layar iMac masing-masing.
"Kamu pacaran sama Pak Galen, ya, Em?" Tanya Faisal membuka obrolan di antara dirinya dan Emily.
"Kalau iya kenapa kalau enggak kenapa?" Jawab Emily yang malah balik bertanya pada Faisal.
"Kalau iya aku mau minta traktir, kalau enggak, pacaran gih, biar aku bisa minta traktir," jawab Faisal seraya terkekeh.
Ck!
Emily hanya berdecak.
"Desas-desusnya udah santer, lho, Em! Banyak yang bilang kalau kamu dan Pak Galen itu pacaran. Makanya aku konfirmasi langsung ke kamu, bener apa nggak," tutur Faisal lagi yang sepertinya begitu penasaran dengan hubungan Emily dan Galen.
"Jadi sebenarnya kamu sama Pak Galen itu beneran pacaran atau cuma-"
"Cuma tunangan!" Sahut sebuah suara yang tiba-tiba sudah ada di ruang ilustrator.
Etdah!
Ini Pak Gak Selera sejak kapan berdiri di belakang Emily?
"Eh, Pak Galen! Siang, Pak!" Sapa Faisal berbasa-basi dan sedikit cari muka pada Pak Galen.
Yaelah!
Mukanya Faisal ilang juga?
"Sedang bergosip, Faisal?" Tegur Galen yang sontak membuat Emily sedikit menahan tawanya.
"Cuma lagi ngobrol sama Emily saja, kok, Pak!" Kilah Faisal membela diri sekaligus meringis.
Galen hanya berdecak sama seperti halnya Emily tadi.
Benar-benar kompak!
"Ini tema baru yang harus kamu kerjakan," Galen sudah ganti berbicara pada Emily sekaligus mengangsurkan sebuah map pada gadis tersebut.
"Deadlinenya masih dua bulan lagi. Kenapa harus dikerjakan sekarang?" Tanya Emily yang sudah membaca sekilas pekerjaan yang diberikan oleh Galen, sebelum gadis itu mendongakkan kepala dan menatap wajah Galen yang memang berdiri di sampingnya.
Udah berulang kali melihat padahal, tapi kalau dilihat dari bawah begini kok tetap beda, ya?
Aneh!
"Iya kamu cicil dulu dari sekarang, agar nanti kamu bisa enak ambil cuti menikahnya. Aku juga nyicil banyak kerjaan untuk beberapa minggu ke depan, biar kita sama-sama bisa ambil cuti nanti setelah nikah," tutur Galen yang kini sudah sedikit membungkuk, mengulurkan lengannya dan merangkul Emily, serta berucap dengan serengah berbisik.
Emily merengut.
"Emang kalo cuti nikah berapa lama?" Tanya Emily yang ikut-ikutan berbisik. Emily menolehkan kepalanya ke arah Galen, saat gadis itu mendapati wajah Galen yang ternyata sudah sangat dekat dengannya.
Astaga!
__ADS_1
Aroma maskulin tubuh Galen juga tercium dengan sangat kuat dan menusuk-nusuk hidung Emily, karena posisi Galen saat ini yang masih merangkul Emily yang sedang duduk.
"Satu minggu atau dua minggu, biar kamu puas!" Bisik Galen dengan nada nakal.
"Kita sedang di kantor, Pak! Ada Faisal!" Emily mengingatkan Galen seraya menunjuk dengan dagunya, Faisal yang terlihat berkutat dan fokus ke layar iMac-nya. Namun Emily sangat yakin, kalau sebenarnya Faisal sedang memasang kuping gajahnya sekarang dan berusaha mencuri dengar bisik-bisik antara Galen dan Emily.
"Trus apa masalahnya? Kamu kan tunangan aku!" Jawab Galen yang sepertinya sengaja membesarkan volume suaranya di kalimat terakhir.
Benar-benar membuat Emily ingin menyumpal bibir Pak Gak Selera itu dengan bibirnya.
Eh!
Faisal yang mendengar Galen mengucapkan kalau Emily adalah tunangan Galen langsung terbatuk-batuk mungkin tersedak lalat atau kumbang yang kebetulan lewat.
"Sal! kamu pinter bikin desain undangan, kan?" Galen sudah menghampiri Faisal dan menepuk punggung pria tersebut.
"Hehe, iya, Pak! Pak Galen mau buat undangan memang?" Tanya Faisal kepo.
"Ya! Tolong kamu desainkan, ya!" Jawab Galen setelah melihat ke arah Emily sebentar.
Gadis itu semakin merengut, hingga membuat Galen gemas dan ingin meraup bibir penuh Emily yang merengut.
"Undangan nikah atau undangan apa, Pak?" Tanya Faisal lagi menyelidik.
"Iya undangan nikah! Masa iya undangan sunatan!" Jawab Galen sedikit bersungut.
Emily yang tadi merengut akhirnya tak tahan untuk tidak tertawa mendengar jawaban dari Galen.
Sudah setua itu dan mau kawin sama Emily, masa iya belum disunat?
"Girang banget, sih, Em!" Cibir Faisal pada Emily.
"Bapak yang mau nikah?" Tanya Faisal lagi yang sepertinya kepo sekali.
"Iyalah! Jadi bisa, ya! Kamu desainkan undangannya," pinta Galen sekali lagi.
"Calon istrinya Bapak namanya siapa?" Tanya Faisal lagi merasa tak sabar.
"Memang kamu nggak punya kuping tadi? Kan udah aku bilang, kalau tunangan aku itu Emily! Berarti calon istriku ya Emily!" Jawab Galen tegas dan lugas.
Sebuah decakan langsung terdengar dari meja Emily. Gadis itu sudah berhenti tertawa dan kini krmbali membelakangi Galen dan Faisal, pura-pura sibuk dengan coretan di iMac-nya.
"Serius, Pak?" Faisal memasang wajah terkejut sekaligus setengah percaya. Da Emily yakin kalau teman satu ruangannya tersebut akan langsung mengejek Emily habis-habisan setelah Galen keluar nanti.
Dasar Pak Gak Selera sialan?
Kenapa juga harus minta Faisal yang desainin undangan buat pernikahan.
Padahal Emily juga bisa kalau cuma bikin desain simpel.
"Iya serius! Jangan lupa kamu kerjakan, ya! Nanti aku bayar penuh soal harganya," pesan Galen sebelum berlalu dari hadapan Faisal.
__ADS_1
"Beres, Pak!" Faisal mengacungkan kedua jempolnya dan sepertinya girang sekali karena baru saja mendapatkan asupan bahan ghibah yang baru.
Galen ganti menghampiri Emily yang masih merengut.
"Nanti pulang aku jemput ke sini lagi!" Galen melingkarkan lengannya di pundak Emily dan langsung mencium pipi Emily seolah sedang pamer ke Faisal yang kini melongo dengan mulut setengah terbuka.
Ada lalat lewat langsung keselek itu Faisal!
"Iya, ah! Kenapa cium-cium segala, sih?" Gerutu Emily sedikit berbisik pada Galen yang hanya tersenyum tipis, dan segera keluar dari ruang ilustrator.
Faisal tiba-tiba sudah mendekat ke arah Emily sekaligus membawa kursi kerjanya dan masih memasang raut wajah lebay.
"Serius kamu tunangan sama Pak maho itu, Em? Mau nikah juga?" Cecar Faisal yang langsung membuat Emily berdecak kesal.
"Pak Galen itu bukan maho! Aku kan udah pernah bilang ke kamu!" Jawab Emily bersungut-sungut pada Faisal.
"Uuuuuh, sekarang dibelain!" Faisal memasang ekspresi wajah sok imut yang malah menbuat Emily menjadi geli sendiri.
"Bukan belain! Tapi dia itu emang nggak maho! Waktu itu hanya kesalahpahaman. Dan gosip yang didengungkan Irma itu sama sekali nggak bener!" Ucap Emily tegas.
"Yakin? Udah buktiin emang? Bisa aja Pak Galen nanti nikah sama kamu cuma buat menutupi identitas aslinya."
"Seperti di novel-novel itu! Pengusaha kaya yang tiba-tiba nikahin karyawannya cuma buat nutupin statusnya yang ternyata seorang maho. Setelah menikah istrinya juga nggak pernah disentuh," tutur Faisal memaparkan teori ngawur di kepalanya.
"Heleh! Sok tahu!" Cibir Emily dengan bibir manyunnya yang khas.
"Kalau emang Pak Galen kayak cerita di novel-novel itu, ngapain tadi dia nyosor-nyosor dan cium aku? Kamu juga lihat sendiri, kan?" Sambung Emily lagi masoh bersungut-sungut pada Faisal.
Emily seolah merasa tak terima karena Faisal yang terus saja menjelek-jelekkan Galen dan menuduhnya maho.
"Iya, kan cuma cium di pipi. Semua orang juga biasa aja kalau cuma cium di pipi. Kecuali tadi Pak Galen cium kamu di bibir, nah itu baru aku percaya kalau dia memang nggak maho!" Cerocos Faisal yang kembali berpendapat sok tahu.
"Belum sah. Ngapain cium-cium bibir? Iyuuuh!" Jawab Emily denagn nada malas.
"Bibirmu masih perawan berarti, Em? Belum pernah di cium cowok?" Tanya Faisal kepo.
"Diiih! Kepo!" Jawab Emily seraya memutar kembali kursi dan kembali menghadap ke layar iMac-nya.
Emily mengusap bibirnya sendiri yang sebenarnya juga udah nggak perawan-perawan amat. Dulu pas pacaran sama Sean udah beberapa kali dicium sama Sean. Tapi ya cuma bibir nempel ke bibir. Nggak pakai acara *******, mencecap atau bertukar saliva kayak yang di film-film itu.
Duh!
Kalau Galen tahu pasti mencak-mencak.
Emily nggak usah cerita ajalah.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.