Jodoh Emily

Jodoh Emily
APA INI MIMPI?


__ADS_3

Emily masih melamun dan berpikir tentang apa yang akan dilakukan Galen malam ini. Mustahil cincin yang dibeli Galrn siang tadi, akan digunakan untuk melamar Emily.


Tapi gadis centil rok mini itu adalah sepupu Galen, jadi tak mungkin juga Galen akan melamarnya. Atau mungkin ada gadis lain yang merupakan calon istri Galen di ruangan ini, namun Emily tidak tahu.


Tapi kenapa Mom Mia menyuruh Galen minta izin pada kedua orangtua Emily, kalau memang yang mau dilamar Galen adalah gadis lain?


Dan sekarang, Galen sedang berbisik-bisik dengan ayah Satria sambil sesekali mereka tertawa berdua.


Astaga!


Pak maho yang juga OCD itu tak mungkin akan melamar Emily dan menjadikan Emily istri, kan?


Sikapnya saja sekaku kanebo kering pada Emily dan nggak ada romantis-romantisnya!


Masa iya, tiba-tiba dia mau melamar Emily dan menjadikan Emily istri?


"Em!"


"Emily!" Bunda Naya berulang kali menepuk pundak sang putri kaeena putrinya itu terlihat melamun dan tak menjawab teguran Bunda Naya.


"Emily!" Panggil Bunda Naya lebih keras yang kai ini sukses menyentak lamunan sang putri.


"Eh, iya, Bund! Ada apa? Kita sudah boleh pulang?" Jawab Emily dengan nada tergagap-gagap.


"Acara belum dimulai masa iya mau pulang, Em," kekeh Ayah Satria yang sudah ikut menghampiri Bunda Naya dan Emily.


Sepertinya ayah kandung Emily itu sudah selesai bicara denagn Galen yang sekarang malah nggak kelihatan batang hidungnya.


Hah?


Hilang kemana manajer Gak Selera yang menyebalkan itu?


Ealah!


Bodoamat!


Kenapa juga Emily harus nyariin dia.


Syukur-syukur hilang nggak usah kembali lagi, biar bayangan kejadian yang terus menari-nari di kepala Emily tak perlu menjadi kenyataan.


Amit-amit!


Emily juga ogah dilamar oleh Pak Gak Selera itu meskipun dia ganteng.


Meskipun tubuhnya tinggi tegap dan sepertinya nyaman untuk dipeluk.


Etdah!


Emily mikirin apa, sih?


Lampu ruangan tiba-tiba mati semua. Terang saja, hal itu membuat semua tamu undangan termasuk Emily menjadi kaget.


"Bu Mia lupa belum bayar tagihan listrik ya, Bund?" Celetuk Emily yang langsung berhadiah pukulan kecil di tangannya dari sang bunda.

__ADS_1


Emily hanya nyengir tanpa dosa, membayangkan keluarga Pak Gak Selera itu yang lupa membayar tagihan listrik atau mungkin lupa membeli pulsa listrik.


Emily masih berpikir tentang Bu Mia dan tagihan listriknya, saat tiba-tiba tangan Emily terasa ditarik oleh seseorang, dan mulutnya dibekap oleh sebuah tangan besar.


Emily sangat yakin kalau yanag membekapnya ini pasti seorang pria karena ukuran tangannya yang sebesar milik Pak Galen. Dan aroma parfum yang menguar dari balik punggung Emily juga adalah aroma maskulin pria yang mirip juga dengan aroma yang selalu Emily cium saat berdekatan dengan Pak Gak Selera itu.


Jadi, apa ini Galen?


Emily meronta dan mencoba melepaskan dirinya dari bekapan serta cekalan si pria bertubuh kekar sialan ini!


Namun ilmu beladiri yang Emily miliki sepertinya hanya sia-sia. Emily pakai jurus ala wanita saja apa, ya?


Menggigit, mencakar, lalu menendang pangkal paha bagian tengah dari pria ini. Menginjaknya kalau perlu biar gepeng sekalian.


Deretan lampu berwarna merah muda tiba-tiba menyala mengelilingi Emily, saat Emily masih berkutat dengan pikirannya sendiri.


Apa ini?


"Selamat malam bapak dan ibu semua!"


Itu suara Pak Galen!


Emily bisa melihatnya di keremangan kalau atasan Emily itu sedang berdiri tak jauh dari Emily dan memegang microphone.


"Terima kasih atas kehadiran anda semua di acara pembukaan kafe Analogy milik Papi dan Mommy tercinta saya,"


"Dan di malam yang istimewa ini, saya ingin sekalian menyampaikan niat baik saya untuk melamar seorang gadis yang malam ini berdiri di tengah-tengah kita semua." Galen berjalan mendekat ke arah Emily.


Tidak!


Ini hanya mimpi!


Emily akan langsung menolaknya!


Baiklah, Emily tolak saja, agar Galen malu seumur hidup!


Lalu setelahnya tidak akan ada pria yang aan melamarmu dan menjadikan kamu istri, Emily!


Bodoh!


Emily bingung!


Kenapa Galen berlutut di depan Emily sekarang?


Bangun kau, Pak Maho!


Bangun, Pak Gak Selera menyebalkan!


Kau sedang apa berlutut begitu!


Aku bukan ratumu!


Emily hanya mampu berteriak-teriak dalam hati karena sekarang lidah Emily terasa kelu dan kakinya benar-benar membeku.

__ADS_1


Tatapan mata Emily sudah menatap ke arah netra Galen yang kini juga sedang menatapnya dengan penuh kesungguhan.


"Emily Aditya, maukah kau menikah denganku?"


Sebuah pertanyaan yang terdiri dari satu kalimat dan enam buah kata, tiba-tiba mampu membuat dunia Emily menjadi jungkir balik.


Sejak dulu Emily memang menunggu ada pria yang akan berlutut di depannya dan menyodorkan sdbuah cincin lalu melontarkan pertanyaan itu dengan nada mesra dan bersungguh-sungguh.


Namun Emily tak pernah membayangkan jika yang akan melakukan ini adalah Galendra Biantara. Atasan resek yang kerap membuat Emily kesal dan emosi. Atasan resek yang hidupnya terlalu perfeksionis dan begitu berseberangan dengan Emily.


Apa ini hanya mimpi?


Atau ini hanya ilusi.


Emily masih menatap ke arah netra Galen yang sedang menyodorkan cincin kepadanya.


"Kita menikah, ya!" Ucap Galen sekali lagi yang semakin membuat Emily mematung.


Dan di detik selanjutnya, jiwa dan pikiran Emily seperti berubah ke mode autopilot karena mendadak, kepala Emily mengangguk dengan sendirinya padahal Emily bermaksud untuk menggeleng.


Kenapa Emily malah jadi mengangguk-angguk, sih?


Emily bingung.


Galen segera meraih tangan Emily dan menyematkan cincin berlian yang tadi ia sodorkan ke jari manis Emily.


Cincin yang sama dengan yang Emily pilih siang tadi di toko perhiasan.


"Emang bapak mau beli cincin buat siapa?"


"Untuk calon istri lah!"


"Kalau calon istri yang aku bawa ke toko, nggak bakal jadi kejutan!"


Tepuk tangan dari para tamu undangan menyentak lamunan Emily yang masih tampak lingkung dengan semua kejadian aneh ini. Mom Mia juga tiba-tiba sudah memeluk Emily dengan hangat. Lalu Bunda Naya dan Ayah Satria yang tersenyum bahagia dan ikut-ikutan memeluk Emily.


Emily menatap ke arah Galen yang berdiri agak jauh darinya dan kini sedang tersenyum aneh ke arah Emily. Sikap pria itu juga sudah kembali seperti semula.


Seperti kanebo kering.


Kaku dan menjemukan!


Masa iya, calon istrinya Pak Gak Selera yang maho, kaku, dan menyebalkan itu adalah Emily?


Demi dewa dewi kahyangan, bolehkan Emily kabur dari tempat ini sekarang?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.


__ADS_2