Jodoh Emily

Jodoh Emily
RIBUT


__ADS_3

Emily masih tak berhenti memakan kue bolu pisang buatan Tante Eve, meskipun sekarang mobil Galen sudah elaju meninggalkan rumah Tante Eve. Galen tak berhenti memasang wajah kecut sejak adegan Emily mengusap-usap lengan Sean tadi. Apalagi pas pamit pulang, Emily juga memeluk sekilas Sean yang memberinya ucapan selamat atas kehamilan Emily.


Makin panaslah hati Galendra Biantara.


"Yang, kuenya enak, lho! Kamu nggak mau coba?" Tawar Emily sekali lagi.


"Nggak!" Jawab Galen ketus dan sedikit kekanakan.


"Kamu kenapa, sih, Yang? Kok ketus begitu?" Tanya Emily heran.


Emily mengambil satu potong bolu pisang lagi dari dalam tupperware yang dibawakan oleh Tante Eve. Meskipun tadi disana Emily sudah habis setelah loyang bolu pisang, Tante Eve masih membawakan satu loyang lagi bolu pisang untuk Emily agar ngidamnya bisa puas.


"Cobain, deh!" Emily menyuapkan bolu pisang di tangannya ke mulut Galen. Namun pria itu tetap mengatupkan bibirnya dan menolak bolu pisang yang disodorkan Emily.


"Yang, kamu kenapa, sih?" Tanya Emily sekali lagi merasa bingung.


Galen segera menepikan mobilnya, menarik rem tangan, dan mematikan mesin mobil.


"Kok berhenti disini? Ini dimana? Mau ngapain?" Cecar Emily sebelum menggigit bolu pisang di tangannya yang tadi ditolak oleh Galen dan mengunyahnya dengan mulut yang penuh.


"Bagian mana saja?" Tanya Galen menatap tajam pada Emily.


"Apanya?" Tanya Emily dengan mulut penuh bolu pisang, hingga membuat remah-remahnya sedikit berjatuhan di baju Emily.


"Kunyah dan telan dulu kue kamu baru bicara, Em!" Ucap Galen yang harus mengingatkan Emily lagi sambil merasa geregetan.


Emily segera mengunyah bolu pisang di mulutnya dengan bibir yang mencebik dan mata berkaca-kaca hampir menangis.


"Aku cuma ngingetin kamu, oke! Nggak usah baper!" Tukas Galen masih dengan raut wajah kesalnya.


Emily menelan kue bolu di mulutnya dengan susah payah. Wanita itu memasukkan sisa kue bolu di tangannya ke dalam tupperware.


"Itu udah kamu gigit, kenapa dimasukin lagi ke dalam tupperware? Harusnya kamu habisin du-"


"Huwaaaaaa!"


Galen belum selesai mengomeli Emily saat terdengar ledakan tangis lebay dari Emily yang lebih mirip anak TK sedang menangis.


"Em!" Galen meringis dan hendak membujuk Emily.


Namun bukannya reda, tangis Emily malah semakin menjadi.


"Em, jangan lebay!" Teriak Galen seraya menutup telinganya karena tangisan Emily yang semakin menggema di dalam mobil.


Perasaan Emily tidak pernah bersuara saat menangis dan paling hanya sesenggukan saja. Kenapa sejak hamil istri Galen ini jadi lebay?

__ADS_1


"Kenapa kamu ngonelin aku, Yang? Kamu udah nggak sayang sama aku? Kamu udah bosan sama aku? Kamu mau ningalin aku dan milih author cantik si Intan Intan itu?" Cerocos Emily akhirnya meluapkan semua kekesalan dalam hatinya.


Galen hanya garuk-garuk kepala mendengar Emily yang membawa-bawa nama Intan. Galen bahkan sudah lupa dengan nona author yang membuat Emily cemburu beberapa hari sebelum pernikahan Galen dan Emily waktu itu. Dan sekarang Emily malah mengingatkannya dan menyebut-nyebut nama Intan.


"Kok jadi bawa-bawa Intan, sih, Em? Ini itu nggak ada hubungannya sama Intan! Aku cuma ngingetin kamu cara dan etika ketika makan!"


"Gitu aja, kok kamu lebay sekali," tukas Galen seraya berdecak.


"Kamu itu yang lebay!" Emily memukul dada Galen meskipun Emily yakin kalau itu tak berpengaruh apa-apa karena dada Galen yang komposisinya terdiri dari otot tanpa lemak.


Mau dipukul sampai tangan Emily sakit juga paling suaminya itu hanya ketawa-ketiwi tanpa dosa.


"Kok jadi aku?" Galen menunjuk ke arah dirinya sendiri.


"Ya iya, kamu! Aku cuma nawarin kue bolu, kamunya malah ketus dan ngomelin aku! Kalau nggak mau kan tinggal bilang, 'Sayang, aku nggak mau.' Nggak usah pasang wajah ketus begitu!" Cerocos Emily panjang lebar yang membuat Galen kembali harus menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Tu! Sekarang aja udah ikutan aku garuk-garuk, masih aja ngomelin aku dan sok-sokan jadi tuan sempurna!" Sambung Emily lagi yang masih tak berhenti mengomeli Galen.


Ck!


Ujung-ujungnya tetap saja Galen yang salah.


Kaum wanita memang selalu benar.


"Baiklah, aku minta maaf!" Galen mencubit gemas pipi Emily.


Kalau bukan, udah Galen usir dari dalam mobilnya sejak tadi.


"Minta maaf yang bagus kenapa, Yang? Minta maaf kok malah nyakitin begitu!" Protes Emily lagi yang bibirnya kembali merengut.


"Iya, aku minta maaf, Emily-ku sayang!" Galen mengulangi permintaan lebaynya kali ini seraya mengecup singkat bibir Emily yang merengut.


"Pasti ada maunya!" Decak Emily yang benar-benar membuat Galen kembali merasa geregetan.


Hhhh!


Tapi mungkin sebaiknya Galen pulang dulu dan meluapkan rasa gemasnya pada Emily nanti di rumah saja.


Atau Galen ke rumah Ayah Bunda saja mumpung hari Minggu. Sepertinya rumah sedang sepi, karena tadi malam Ayah mengatakan kalau Ayah dan Bunda mau ada acara di luar.


Baiklah!


Galen membawa Emily kesana saja.


Mobil Galen sudah berbelok ke arah jalan masuk perumahan,dan melewati begitu saja rumah Mommy dan Papi yabg ada di delan kompleks.

__ADS_1


"Kita pulang kemana?" Tanya Emily sedikit curiga pada Galen.


"Ke rumah Ayah dan Bunda. Kan mumpung hari Minggu," jawab Galen dengan raut wajah penuh kemenangan.


"Kamu tahu aja kalau aku lagi kangen sama Bunda, Yang!" Emily tersenyum senang karena merasa Galen yag begitu peka.


Padahal oh padahal.....


Mobil Galen baru masuk ke halaman, saat Ayah dan Bunda keluar dari rumah mengenakan baju rapi seperti orang mau pergi kondangan.


Hah?


"Bunda mau kemana?" Tanya Emily yang bergegas turun dari mobil untuk menghampiri Bunda Naya.


"Mau kondangan ke hotel. Anaknya teman Ayah menikah," jelas Bunda Naya yang sontak membuat Emily merengut.


"Tadi malam Ayah udah ngasih tahu Galen. Kok kalian malah kesini?" Timpal Ayah Satria yang balik bertanya pada Emily.


"Emily kangen sama kamarnya, Yah! Jadi Galen antar kesini," celetuk Galen menjawab pertanyaan Ayah Satria.


Emily hendak protes, namun kalah cepat dengan Bunda yang sudah memberikan kunci rumah dan berpesan pada Emily dan Galen,


"Yaudah, kalian masuk aja! Kulkas juga udah Bunda penuhim. Nanti kalau lapaf bisa masak apa aja terserah. Ayah dan Bunda mungkin pulangnya agak malam."


"Kok lama sekali? Kan cuma kondangan?" Tanya Emily bingung.


"Kondangannya ke lebih dari satu tempat." Jawab Ayah Satria yang sontak membuat Emily kembali harus merengut.


Baru juga Emily mau gelayutan sama sang Bunda.


Eh, malah ditinggal sampai malam.


Trus Emily nanti gelayutan sama siapa?


"Ayah dan Bunda berangkat dulu!" Bunda mengulurkan tangannya ke arah Emily yang langsung dicium oleh Emily dengan takzim.


"Hati-hati, Ayah, Bunda!" Pesan Galen seraya melambaikan tangan ke arah kedua mertuanya tersebut. Mobil Ayah Satria sudah melaju meninggalkan rumah Emily.


Emily masuk duluan ke dalam rumah, sedangkan Galen segera menutup gerbang depan. Pria itu juga kembali masuk ke dalam mobil untuk mengambil kue bolu pisang yangbtadi ditinggalkan Emily di dalam mobil.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.


__ADS_2