
Emily masih setengah percaya, melihat rambut barunya sekarang. Wanita itu terdiam dan hampir tak berkedip melihat pantulan dirinya di cermin besar di depannya.
Tadi Galen yang memilih model rambut ini untuk Emily, dan lihatlah sekarang!
Emily nyaris tak mengenali dirinya sendiri dengan rambut sebahunya yang dipotong model bob layer dimana bagian belakang terlihat lebih tipis ketimbang bagian depan.
"Cantik!" Puji Galen yang sudah merengkuh kedua pundak Emily dari belakang.
"Ini beneran aku, Yang?" Tanya Emily yang masih setengan percaya.
Emily mengusap-usap rambut barunya yang sekarang lebih terasa ringan.
"Bukan! Ini Emily, istri aku!" Jawab Galen berkelakar.
"Ish!" Emily memukul lengan Galen yang kini merangkulnya.
"Capek, nggak?" Tanya Galen selanjutnya yang masih setia merangkul Emily dari belakang.
Lagi di salon padahal!
Malah rangkul-rangkulan seperti remaja baru kasmaran saja.
Dasar tidak tahu malu!
"Kalau capek kenapa kalau enggak kenapa? Masih sore. Jangan bilang kalau kamu mau ajak aku lem-" Galen membungkam mulut Emily karena istrinya itu yang tak bisa merendahkan volume suaranya.
"Ayo pulang! Nanti kita omongin di mobil," Ajak Galen yang sudah melepaskan rangkulannya pada Emily dan menuju ke kasir.
Emily melihat sekali lagi penampilannya di cermin, sesaat sebelum mengekori Galen keluar dari salon.
****
"Jadi pulang nggak, sih, Sayang?" Tanya Emily yang entah sudah keberapa kali.
Mobil Galen belum meninggalkan parkiran salon sejak tadi, karena Galen yang masih sibuk menciumi rambut baru Emily serta tengkuk dan leher istrinya tersebut.
"Sebentar lagi," jawab Galen yang kini sudah mengajak Emily pundah ke kursi belakang mobil.
"Ya ampun! Jangan mesum, Galen! Kita bisa pulang dulu dan melakukannya di kamar!" Protes Emily seraya menggeliat-menggeliat karena merasa geli pada Galen yang tak berhenti menciumi lehernya sejak tadi.
Bahkan kini Galen sudah menarik turun ritsleting tunik yang dikenakan Emily, dan lanjut menciumi pundak putih Emily.
"Sensasinya berbeda!" Jawab Galen sebelum kembali mengecup pundak Emily hingga meninggalkan noda kemerahan disana.
"Ini masih di parkiran, Sayang! Nanti kalau dilihat orang bagaimana?" Emily merem*s rambut Galen saat bibir suaminya itu sudah menjelajah dan mulai menaiki bukit di dada Emily.
__ADS_1
"Kacanya gelap. Nggak akan ada yang melihat," jawab Gale santai.
"Ish! Udah jangan jauh-jauh!" Emily memekik kecil karena Galen yang menghisap kuat ujung bukit kembar Emily.
"Gemes banget sama yang ini!" Gumam Galen yang terus menghisapnya sambil sesekali memainkan lidahnya.
"Sayang, udah!" Emily berusaha menarik kepala Galen agar menjauh dari dadanya yang kini sudah penuh dengan tanda merah hasil perbuatan Galen.
"Iya, udah! Muuah!" Galen ganti mengecup bibir Emily sekarang.
Dasar mesum!
"Kita pulang sekarang!" Ajak Emily tegas.
"Nggak! Kita cari lingerie dulu buat kamu! Aku mau lihat kamu pakai lingerie malam ini dengan rambut baru, kayaknya bakal terlihat seksi." Jawab Galen mengerling nakal ke arah Emily.
"Nggak usah aneh-aneh!" Emily yang sudah berpindah ke jok depan, memukul bahu Galen yang pikirannya hanya berisi hal-hal mesum sejak belah duren semalam.
Ish!
Mana udah sore!
Sebentar lagi malam.
Galen pasti akan mengajak Emily menanam benih lagi malam ini sampai besok pagi.
"Nanti kita makan malam di luar sekalian, ya!" Ucap Galen membuka obrolan, sambil menunggu lampu lalu lintas yang warnanya masih merah.
"Terserah! Aku juga udah nggak mau masak lagi di rumah kamu," jawab Emily yang nada bicaranya sudah berubah ketus.
Emily meletakkan sikunya di jendela mobil, dan membuang wajahnya keluar jendela, menatap pada langit yang sudah berubah jingga.
"Masih ngambek!" Galen mencolek hidung
Dung Emily, sebelum kembali menekan pedal gas karena lampu lalu lintas sudah berubah hijau sekarang.
"Bukan ngambek! Aku kan cuma tahu diri!" Kilah Emily mencari alasan.
"Mommy sama Papi itu kurang suka pakai maid di rumah. Itulah mengapa di rumah nggak ada maid, dan semua pekerjaan rumah dilakukan bersama-sama," tutur Galen memulai ceritanya.
"Jadi itu alasan juga kamu jadi pinter masak. Mungkin Ghea juga pinter masak. Papi Bian juga."
"Eh, tapi Papi Bian kan chef. Ya wajar pinter masak," Emily lanjut bergumam.
"Mom nggak bisa masak. Udah gitu liat pisau langsung gemeteran," timpal Galen sedikit terkekeh.
__ADS_1
"Serius? Kok aneh?" Tanya Emily bingung.
"Iya, bener! Kamu jangan coba-coba ngacungin pisau ke Mom! Bisa pingsan Mom nanti," Galen masih terkekeh.
"Keluarga kamu kok aneh, sih?" Emily garuk-garuk kepala.
"Ish! Jangan garuk-garuk kepala, Em! Tadi habis di creambath, rambut juga udah cantik, kok garuk-garuk lagi!" Gerutu Galen yang langsung menyentak tangan Emily dan menggenggamnya agar tak kembali dipakai garuk-garuk.
"Kamu juga garuk-garuk kepala tadi pas di rumah!" Protes Emily yang ingat pada Galen yang sekarang juga hobi garuk-garuk kepala.
"Iya itu penyakit menular! Makanya kamu berhenti garuk-garuk begitu, biar aku nggak ketularan!" Jawab Galen memaparkan alasan serta teori yang menurut Emily amat sangat aneh.
Masa iya garuk-garuk itu penyakit menular?
"Aku garuk-garuk lagi, biar kamu ketularan! Lagi, lagi!" Emily menggaruk kepalanya dengan lebay yang sontak membuat Galen berdecak sebal.
"Emily, berhenti!" Gertak Galen galak.
"Tetooot! Kata kunci salah! Aku garuk-garuk lagi!" Emily tidak berhenti menggoda Galen yang masih fokus mengemudi.
Galen terlihat memukul-mukul stir mobilnya karena sebal.
"Kamu benar-benar, ya, Em! Aku kasih pelajaran kamu setelah ini!" Ancam Galen yang matanya kini mendelik, namun tanpa menoleh pada Emily.
Galen mengedarkan pandangannya ke kiri dan kanan jalan, hingga tiba-tiba mobil Galen berbelok ke sebuah parkiran hotel.
Hah, mau ngapain ke hotel?
Bukannya tadi Galen bilang mau cari lingerie?
"Kita ngapain ke hotel?" Tanya Emily menatap bingung kd arah Galen.
"Memberimu hukuman dan pelajaran," jawab Galen dengan seringai menakutkan yang Emily sendiri tak tahu maksudnya apa.
Hukuman?
Hukuman apa?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.