
Emily buru-buru menghampiri Galen dan langsung mendapati sayuran yang tadi ia masukkan ke dalam kulkas dengan asal, kini sudah jatuh berhamburan di lantai. Bahkan labu kuning yang juga Emily sumpalkan ke dalam kulkas tadi menimpa kaki Galen hingga membuat suaminya tersebut meringis.
"Tadi kau yang menata sayuran ke dalam kulkas?" Tanya Galen sekali lagi yang langsung membuat Emily meringis penuh rasa bersalah
Alamat kena semprot dari suaminya setelah ini.
"Maaf, Sayang! Sakit, ya?" Emily buru-buru menyingkirkan labu tadi dan mengusap-usap kaki Galen.
"Ck! Kamu bawa ke atas meja dulu semuanya! Aku ajari cara menata sayuran di kulkas!" Titah Galen seraya menunjuk ke arah sayur mayur dan beberapa buah yang terhambur ke lantai.
Emily buru-buru memunguti semuanya dan mengumpulkannya ke atas meja makan. Galen sendiri sudah ikut ke meja makan membawa kotak plastik berbagai ukuran. Galen juga membawa pisau dan sebuah talenan.
"Ini sayur hijau, potong ujung batangnya, lalu alasi box yang paling besar dengan tisu dapur, masukkan sayurnya. Tutup rapat!" Galen mempraktekkan semuanya sambil menjelaskan pada Emily.
"Wortel, buncis, kacang panjang, tingggal dimasukin saja!" Galen lanjut memasukkan wortel ke kotak plastik lain yang ukurannya lebih kecil, dan menyusunnya searah. Wortel-wortel itu terlihat rapi sekarang.
"Tomat juga tinggal dimasukkan saja, kalau cabe kamu petikin dulu tangkainya, tambahkan bawang putih, biar nggak cepat busuk," Galen menunjuk ke arah cabe dan tomat yang masih terbungkus plastik.
"Nggak dicuci dulu?" Tanya Emily menyela.
"Dicucinya nanti pas mau memasak." Jawab Galen yang langsung membuat Emily manggut-manggut.
"Ayam, ikan, dan daging, jangan dimasukkan sama bungkusnya begini. Pindahkan ke kontainer juga, lalu beri irisan lemon," Galen menunjukkan sebuah lemon yang masih utuh pada Emily.
Tadi Emily memang langsung memasukkan ayam dan daging yang masih berada di pembungkus sterefoam ke dalam freezer.
"Masuknya ke freezer, kalau ikan, ayam, dan daging." Sambung Galen lagi dan Emily kembali mengangguk paham.
"Buah taruh di laci. Udah ada sekatnya, jadi kamu pisah-pisahin juga buahnya. Yang buah besar, jangan dimasukin utuh-utuh, Sayang!" Galen mencubit hidung Emily dengan gemas.
Emily hanya merengut dan lanjut menyimak penjelasan Galen.
"Buka kulkas, buah ngglundung kena kaki. Untung kakiku yang kena tadi. Kalau kaki kamu yang kena bagaimana, hayo?" Pertanyaan Galen membuat Emily tersenyum malu-malu.
"Potong jadi dua atau empat, bungkus plastik wrap, baru simpan di kulkas!" Galen memotong labu kuning dan buah melon menjadi dua bagian, lalu membungkusnya dengan cekatan menggunakan plastik wrap, dan menatanya dengan rapi di dalam kulkas.
Rak atas untuk buah, rak bawah untuk sayuran dan bahan mentah. Kulkas rapi, nggak ada drama sayur berhamburan saat kulkas di buka," Galen sudah selesai menyusun kotak kontainer yang sudah ada isinya tadi ke dalam kulkas. Dan sekarang kulkas itu terlihat sangat rapi.
Wow!
Emily sampai terpesona dengan ilmu baru yang diajarkan oleh Galen.
"Nggak jadi masak, Yang?" Tanya Emily setelah membersihkan sampah-sampah bekas menata kulkas tadi.
"Jadilah! Udah jam setengah dua belas. Cepat kupas bawang sana!" Titah Galen yang kembali membuka kulkas untuk mengambil bahan-bahan.
__ADS_1
Emily dan Galen bekerja sama menyiapkan makan siang. Emily memotong sayur dan Galen menyiapkan bumbu.
"Astaga! Wortelnya jangan kayak sendal begitu motongnya, Sayang!" Galen menunjuk ke arah wortel yang dipotong besar-besar oleh Emily.
"Belah jadi dua bagian, dan memotongnya sedikit tipis!" Galen mencontohkan pada Emily cara memotong wortel yang baik dan benar.
"Iya, iya! Ponsel kamu kayaknya bunyi, deh, Yang!" Ujar Emily yang langsung mrmbuat Emily dan Galen diam sesaat dan memastikan.
"Iya, itu ponselku bunyi. Kamu lanjutin masaknya!" Galen segera keluar dari dapur dan menuju ke kamarnya untuk mengangkat telepon.
Emily lanjut menyalakan kompor, lalu menumis bumbu yang sudah disiapkan oleh Galen. Sebisa mungkin Emily menjaga kerapian dapur selama memasak.
Semua wadah yang kotor langsung Emily satukan di bak cuci piring.
Setelah sup sayuran dan ayam tepungnya matang, Emily akan lanjut menghaluskan bahan sambal yang juga sudah ia goreng. Emily membuka semua lemari yang ada di dapur untuk mencari blender.
"Yess! Ini dia!" Emily bersorak senang saat mendapati blender yang ia cari.
Namun baru saja Emily akan memasukkan bahan sambal, Galen sudah kembali ke dapur dan menegur Emily.
"Itu mau blender apa?" Tanya Galen menyelidik.
"Sambal!" Jawab Emily seraya menunjuk sepiring bahan sambal yang sudah ia goreng.
"Ini blender buat bikin jus buah, Sayang! Nanti Ghea marah kalau blendernya kamu pakai untuk menghaluskan cabe!" Galen mencubit gemas pipi Emily.
"Iya, maaf!" Galen mengecup bibir singkat Emily.
Namun diluar dugaan, Emily malah berjinjit dan balas mengecup bibir Galen dengan agresif.
"Bentar aja!" Desah Emily di sela-sela ciuman liarnya bersama Galen.
"Iya, sebentar!" Galen terus membalas kecupan Emily, dan pasangan pengantin baru tersebut kini sibuk saling mencecap dan melupakan sambal yang belum mereka haluskan.
"Sudah, Galen!" Ucap Emily namun tanpa melepaskan tautan bibirnya pada bibir Galen.
"Sedikit lagi," gumam Galen yang tetap melancarkan aksinya mencecap dan mel*mat bibit Emily.
"Iya sedikit lagi."
"Ayo ke kamar sebentar!" Ajak Galen yang sepertinya langsung bergairah dengan ciuman panas barusan.
Pasangan pengantin baru tersebut sudah saling melepaskan tautan bibirnya.
"Masakannya belum matang! Aku juga belum cuci piring," jawab Emily sedikit meringis.
__ADS_1
"Kau benar-benar menyiksaku!" Galen menyandarkan kepalanya di pundak Emily dan istrinya tersebut hanya terkikik kecil.
"Kita masih harus ke salon setelah makan siang," ujar Emily kembali mengingatkan Galen.
"Iya, aku ingat!" Galen mendekap Emily dan memilih untuk mencium puncak kepala Emily.
"Jadi sambalnya dihalusin pakai apa?" Emily akhirnya ingat pada bahan sambal yang sempat terlantar.
"Bentar," Galen membuka lrnari dapur dan tampak mencari-cari sesuatu. Setrlah menemukannya, bergegas Galen membawanya ke hadapan Emily.
"Pakai cobek!" Ucap Galen yang langsung membuat Emily ternganga tak percaya.
"Tapi aku nggak bisa nguleg pakai cobek," cicit Emily yang langsung menbuat Galen terkekeh.
"Aku ajari," Galen menuang semua bahan sambal ke atas cobek dan kini pria itu berdiri di belakang Emily, memegang tangan Emily dan membimbingnya untuk mulai menguleg cabe pakai cobek.
"Jangan kaku, oke! Santai!" Ucap Galen yang hanya dijawab Emily denga decakan berulang.
"Begini?" Tanya Emilh untuk kesekian kalinya.
"Iya, itu udah bener. Terus lanjut sampai halus!" Galen memberikan semangat pada Emily.
"Pegel, Yang!" Keluh Emily yang kembali merengut.
"Nanti malam aku pijitin begini," tangan Galen lagi-lagi usil memijit dada Emily.
"Galen! Yang pegel tangan aku! Yang dipijit kok malah itu," gerutu Emily masih merengut.
Sedangkan Galen hanya tergelak tanpa dosa.
"Ck! Pengantin baru! Masak aja rangkul-rangkulan mesra begitu!" Sebuah suara membuat Emily dan Galen menoleh serempak.
Emily hanya meringis dan Galen langsung berdecak malas.
"Ganggu aja, sih, Ghe!"
.
.
.
Mau dicepetin tamatnya atau dibanyakin adegan nganunya?
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.