
Emily sudah menyalakan televisi dan sedang duduk santai di atas sofa, saat Galen menyusul masuk ke dalam rumah.
"Masih mau makan bolu pisangnya, Em?" Tanya Galen seraya menunjukkan kotak tupperware di tangannya pada Emily.
"Enggak, Yang! Aku udah kenyang," jawab Emily tanpa menatap pada Galen dan tetap sibuk mengganti saluran acara di televisi.
Galen akhirnya membawa bolu pisang Emily ke ruang makan dan meletakkannya di atas meja. Pria itu kembali menghampiri Emily dan duduk di samping istrinya tersebut
"Tadi kamu ngomel-ngomel di mobil kenapa, sih, Yang?" Tanya Emily seraya menyandarkan kepalanya di pundak Galen.
"Lagi sebel sama seseorang," jawab Galen dengan nada malas.
"Sama aku?" Emily sudah mengangkat kepalanya dari pundak Galen dan kini duduk bersila di atas sofa menghadap ke arah Galen.
"Bukan!" Galen mencolek hidung Emily.
"Sama mantan pacar kamu itu," sambung Galen lagi yang kembali berdecak malas.
"Sean?"
"Aku kan nggak ngapa-ngapain sama Sean, Sayang! Tadi pelukan juga cuma sebentar dan sekilas. Kok kamu lebay gitu cemburunya," Emily sedikit terkikik sekaligus menepuk-nepuk pipi Galen.
"Iya sekarang nggak ngapa-ngapain. Tapi dulu?" Galen merengut pada Emily.
"Dulu pas kalian masih pacaran kamu udah diapain aja sama Sean?" Tanya Galen sedikit bersungut.
"Mana pacarannya lama sekali. Pasti udah diapa-apain sama Sean!" Tuduh Galen merasa curiga.
"Di apa-apain apanya? Aku kan masih perawan waktu belah duren kemarin. Kamu lihat sendiri aku sampe meringis-ringis pas kamu tusuk!" Jawab Emily tak kalah bersungut.
"Yang lain? Masih perawan juga?" Cecar Galen masih curiga.
"Yang ini masih perawan, baru kamu yang pegang sama hisap-hisap," Emily menunjuk ke arah dadanya.
"Yang ini?" Galen menunjuk ke arah bibir Emily yang sedikit merengut.
"Ya namanya orang pacaran wajar dong, Yang! Kissing kissing dikit," jawab Emily yang akhirnya mengaku dan jujur.
__ADS_1
"Kayak kamu nggak pernah pacaran aja!" Seloroh Emily sekali lagi sedikit mencibir pada Galen.
"Emang nggak pernah! Satu-satunya wanita yang pernah aku cium itu ya cuma kamu!" Ucap Galen dengan nada tegas dan bersungguh-sungguh.
Galen segera mengecup bibir Emily berulang kali.
"Yang, kamu ngapain, sih?" Tanya Emily yang sedikit gelagapan dengan ciuman bertubi-tubi dari Galen.
"Menghilangkan bekas bibir Sean dari bibir kamu!" Galen kembali menciumi bibir Emily dengan gila.
"Ish! Bekas bibir kamu itu yang banyak. Ciuman sama Sean juga bisa dihitung pakai jari. Kamu itu yang udah nyosor sejak kita belum resmi menikah," sergah Emily sebelum bibirnya dibungkam oleh bibir Galen.
Emily sudah diam dan menikmati pagutan bibir Galen.
Hanya ada suara televisi yang memecah kebisuan di ruang tengah rumah kedua orang tua Emily tersebut.
"Panas, Yang!" Gumam Emily setelah tautan bibirnya dan bibir Galen terlepas.
"Lepas saja!" Ucap Galen seraya meraba-raba punggung Emily mencari-cari ritsleting baju Emily.
"Nggak masuk kamar aja? Nanti kalau ada yang lihat bagaimana?" Tanya Emily seraya mengusap-usap dada Galen yang masih tertutupi kaus warna abu-abu.
Galrn sudah selesai melepas baju Emily, saat istri Galen itu tiba-tiba sedikit mengangkat bokongnya dan mendorong Galen hingga pria itu jatuh telentang di atas sofa. Emily menindih tubuh Galen dan kembali mengecup bibir Galen, kali ini dengan gerakan lembut dan menikmati.
"Lanjutin yang semalam?" Tanya Galen seraya memainkan dada Emily yang masih tertutup bra. Namun Emilh hanya menggeleng.
"Kata Bunda nggak boleh sering-sering. Nanti sakit disini," jekas Emily menunjuk ke bagian bawah perutnya.
"Yaudah, pakai bibir kamu aja. Aku pengen lagi soalnya," tawar Galen memberikan alternatif.
"Nanti kalau aku gigit kayak dulu itu gimana?" Tanya Emily sedikit meringis.
"Ya jangan digigit! Di kulum kayak kalau lagi makan permen itu," ujar Galen yang sudah ganti mencolek gemas hiding Emily.
"Sudah lumayan mancung ini hidung kamu, aku tarik-tarik tiap hari," kekeh Galen lagi yang malah membuat Emily merengut.
"Yang ada aku jadi kayak pinokio lama-lama, Yang! Hidungku memanjang ke depan gara-gara kamu colekin dan kamu tarik-tarik begitu!" Gerutu Emily yang sontak membuat Galen terkekeh geli.
__ADS_1
"Kamu capek nggak hari ini? Jalan-jalan, yuk!" Ajak Galen yang mendadak merasa jenuh bearda di rumah.
"Jalan-jalan kemana?" Tanya Emily yang sudah ganti menyandarkan kepalanya di dada bidang Galen. Lengan Galen mendekap erat tubuh Emily agar mereka tetap saling menempel.
"Ke mana gitu. Ada pameran buku kayaknya. Kita bisa melihat-lihat kali aja ada buku bagus yang bisa dibeli," usul Galen yang langsung membuat Emily berdecak.
Dasar kutu buku!
"Mata aku agak burem juga belakangan ini. Mungkin bisa mampir ke optik buat beli kacamata," sambung Galen lagi.
"Kebanyakan kamu pakai melihat sesuatu yang tidak senonoh. Makanya burem!" Celetuk Emily yang langsung membuat Galen berdecak.
"Lihat ini sama ini maksudnya?" Galen menunjuk ke dada dan pangkal paha Emily.
"Kan punya istri sendiri, jadi nggak ada yang salah dong, mau dilihatin sehari semalam juga," kelit Galen mencari pembenaran.
"Iya, iya! Tapi aku ngantuk, Yang! Perginya nanti agak sorean aja gimana? Aku mau tidur dulu," ucap Emily yang kini sudah menguap. Wanita itu semakin merapatkan tubuhnya ke dalam dekapan Galen.
"Yaudah, kamu tidur dulu saja. Nanti aku bangungin kalau matahari udah ngak terlalu terik," jawab Galen seraya mengecup puncak kepala Emily dan mengusap-usap punggung Emily.
Galen merapatkan dekapannya pada Emily dan tak butuh waktu lama, istri Galen tersebut sudah terlelap dalam tidur siangnya.
Galen hanya tersenyum tipis menatap pada wajah Emily saat tidur. Tangan Galen mengusap perut Emily yang belum banyak perubahan meskipun kandungan Emily sudah masuk bulan ketiga.
"Sehat-sehat di dalam perut Mama, Galen junior! Kita bertemu enam bulan lagi," gumam Galen yang akhirnya ikut memejamkan matanya dan tidur berama Emily.
.
.
.
Kok aku bosan nulisnya.
Kalian yang baca bosan juga nggak?
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.