
Emily baru selesai mandi, saat wanita itu mendapati Galen yang tengah mengganti sprei tempat tidur dengan sprei yang baru. Galen cekatan sekali memasangnya. Emily saja sudah lupa kapan terakhir kali ia memasang sprei tempat tidurnya sendiri, karena biasanya yang mengganti dan memasang sprei di kamar Emily adalah Bunda.
"Sudah selesai?" Tanya Galen saat mendapati Emily yang keluar dari kamar mandi dan masih mengenakan bathrobe.
Emily mengangguk dan mendekat ke arah Galen, hendak membantu memasang sarung bantal atau mungkin sarung gulingnya.
"Pakai baju dulu sana! Mau godain aku lagi?" Kekeh Galen seraya mengambil bantal dari tangan Emily, padahal Emily juga belum selesai memakaikan sarung ke si bantal.
"Nggak ada! Kan cuma mau bantuin sebentar," ucap Emily mencari alasan.
"Nggak pernah pasang sarung bantal guling, tapi sok-sokan bantuin," Galen kembali terkekeh.
Lah, kok Galen bisa tahu?
Apa Bunda yang ngasih tahu?
Tapi Bunda kan udah janji kalau nggak bakal ember ke Galen lagi dan membuka aib Emily?
"Namanya juga usaha!" Cicit Emily antara malu dan heran.
"Usaha jadi istri yang baik, ya?" Galen yang sudah selesai memakaikan baju untuk bantal dan gulingnya, lanjut mendekati Emily dan mendekap tubuh Emily yang masih belum memakai baju.
Galen mencium aroma tubuh Emily.
"Wangi!"
"Habis mandi ya pasti wangi! Coba tadi sebelum mandi, pasti nggak mau cium," sahut Emily sedikit mencibir.
Galen hanya tertawa kecil dan tangannya mulai usil masuk ke bathrobe Emily.
"Galen, jangan!" Emily menahan tangan Galen.
"Tetoot! Kata kuncinya salah!" Bisik Galen yang tetap lanjut menyusupkan tangannya ke dalam bathrobe Emily. Galen tersenyum simpul, saat mendapati bahwa ternyata Emily tidak memakai baju dalam lagi kali ini.
"Kata kunci apa sih maksudnya?" Tanya Emily tak paham.
"Masih salah!" Galen merem*s dada Emily yang kenyal.
"Galen!" Pekik Emily saat merasakan remasan Galen yang menguat.
"Tetap salah! Aku buka, ya!" Tangan kiri Galen sudah meraih tali bathrobe Emily.
"Baru selesai mandi, masa udah mau kamu terjang lagi? Aku lapar," keluh Emily seraya memegangi perutnya. Sementara tangan kanan Galen masih iseng memainkan dada Emily.
"Kita makan dulu kalau begitu!" Putus Galen yang tanpa aba-aba sudah membuka bagian atas bathrobe Emily, dan pria itu langsung melahap gundukan kenyal milik Emily.
__ADS_1
"Galen!" Emily menjambak rambut Galen dan yang terjadi, Galdn malah semakin rakus melahap milik Emily.
Ish!
Kapan selesainya kalau begini terus sepagian?
Bisa-bisa Emily tidak akan jadi sarapan nanti.
Galen ternyata mesum sekali.
Tapi Emily juga menikmatinya.
Yaudah, pasrah saja, Em!
Galen masih khusyuk bermain-main di dada Emily, saat tiba-tiba pintu kamar menjeblak terbuka.
"Bang, hairdryer Ghea yang tadi abang pinjam udah selesai dipakai?" Tanya Ghea yang sepertinya lupa kalau itu bukan hanya kamar Galen sekarang.
Tapi juga kamar Galen dan Emily.
"Astaga!" Pekik Ghea saat matanya tak sengaja melihat Galen yang masih melahap dada Emily.
Pun dengan Emily yang langsung gelagapan dan mendorong kepala Galen agar menjauh dan segera membenarkan bathrobe-nya.
"Ghea belum lihat, kok, Bang! Suweer!" Kedua jari Ghea membentuk tanda V dan gadis itu masih merem.
"Tu! Hairdryer-nya di atas nakas! Cepat ambil dan keluar sana!" Usir Galen seraya menunjuk ke arah hairdryer milik Ghea yang tadi sempat ia pinjam dan kini tergeletak di atas nakas.
"Iya, iya! Kunci pintu makanya!" Gumam Ghea yang segera mengambil hairdryer-nya dengan cepat.
"Sarapannya udah dingin itu, Bang! Kak Emily disuruh sarapan dulu, kenapa? Biar nggak pingsan Abang ajak main kuda-kudaan terus!" Celetuk Ghea sebelum gadis itu ngeloyor pergi dan menutup pintu kamar Galen.
"Anak kecil sok tahu!" Gerutu Galen yang lanjut mengecup bibir Emily yang sedari tadi hanya diam melongo.
"Ayo sarapan!" Ucap Galen yang sudah berjalan ke arah meja, tempat Emily meletakkan sarapan yang tadi pagi dibawakan oleh Mom Mia.
Galen duduk di lantai dan menoleh ke arah Emily yang masih mematung.
"Sini, Sayang! Kok bengong begitu?"
"Aku belum pakai baju!" Jawab Emily yang sudah berhenti bengong dan sekarang menghampiri kopernya di sudut ruangan.
Emily mengambil baju secara acak dari dalam koper dan hendak ke kamar mandi untuk memakainya, saat Galen kembali memanggilnya.
"Kenapa harus ke kamar mandi? Ganti disini saja! Aku udah lihat semuanya juga!"ucap Galen sedikit terkekeh.
__ADS_1
"Tetap saja malu," Gumam Emily yang wajahnya sudah bersemu merah.
"Udah, ganti disini saja! Aku nggak lihat!" Galen menutup matanya dengan telapak tangan seperti yag gadi dilakukan oleh Ghea.
Emily hanya berdecak dan akhirnya menanggalkan bathrobe yang ia kenakan, lalu memakai bajunya dengan cepat. Kini Emily sudah memakai celana pendek di atas lutut dan sebuah kaus longgar.
Emily segera ikut duduk di lantai, di sebelah Galen yang sudah mulai menikmati sarapannya.
"Sudah dingin. Mau makan yang lain?" Tanya Galen seraya menyuapkan sesendok nasi ke mulut Emily.
"Nggak usah! Aku keburu pingsan nanti kalau harus menunggu makanan yang lain," Emily kembali membuka mulut agar Galen bisa terus menyuapinya.
"Baju kamu banyak, nggak?" Tanya Galen lagi mengendikkan dagunya ke arah koper Emily yang kini terbuka lebar.
Ya ampun!
Emily lupa menutup kembali kopernya.
Galen pasti akan mengomel.
"Nggak banyak, kok! Itu juga nggak penuh kopernya," jawab Emily seraya garuk-garuk kepala.
Duh, rasanya Emily gemas dan ingin segera berlari ke arah kopernya yang masih tergeletak di sudut kamar Galen, lalu menutupnya dengan cepat sebelum Galen mencak-mencak.
"Stop!" Galen menahan tangan Emily yang masih menggrauk kepalanya sendiri.
"Berhenti menggaruk kepala saat sedang makan. Kalau rambut kamu rontok, trus jatuh ke atas makanan bagaimana?" Tukas Galen yang langsung membuat Emily meringis.
"Maaf!"
"Makan lagi!" Galen kembali menyuapi Emily yang sepertinya sangat kelaparan.
Ya iyalah kelaparan!
Tadi pagi-pagi sudah di ajak olahraga ranjang oleh Galen.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.
__ADS_1