
Emily masih fokus memberikan sentuhan akhir untuk gambar ilustrasinya, saat sebuah kepala tiba-tiba sudah muncul di dekat pundak Emily.
Ya ampun!
Ini Pak Gak Selera udah kayak hantu saja, muncul tiba-tiba tanpa salam tanpa menyapa.
Suka sekali bikin Emily jantungan.
Cocok juga kayakmya dia main film horor jadi hantu yang suka nongol mendadak itu.
"Sudah jam istirahat. Ayo makan siang ke bawah!" Ajak Galen dengan nada lembut. Mata Galen menyapu ke setiap sudut meja kerja Emily yang tumben terlihat sedikit rapi hari ini.
"Dikit lagi selesai, Pak!" Jawab Emily memeriksa sekali lagi gambar ilustrasinya.
"Faisal, gambarmu yang kemarin aku suruh perbaiki sudah jadi?" Galen ganti bertanya pada Faisal yang sudah bersiap kekuar dari ruang ilustrator.
"Sudah, Pak! Tadinya mau saya antar setelah makan siang. Eh, Pak Galen malah sudah kesini," jawab Faisal seraya menyerahlan hasil gambarnya pada Galen. Emily yang sudah selesai mengerjakan gambarnya, melihat sejenak ke kertas yang diberikan oleh Faisal kepada Galen.
Sudut kerts itu terlipat, sama persis dengan milik Emily kala itu yang langsung kena sembur dari Galen OCD. Dan sekarang Emily menunggu Galen menyembur Faisal juga karena sudut kertas yang terlipat.
"Iya, yang ini sudah bagus. Yang kemarin itu amburadul sekali," komentar Galen tanpa sedikitpun menyinggung sudut kertas yang terlipat.
Apa?
Kenapa Galen tak mempermasalahkannya?
Lipatan itu juga cukup besar untuk dilihat ketimbang punya Emily dulu.
"Langsung kamu masukkan ke buku yang akan naik cetak, ya! Nanti tanya dulu pada editor tata letaknya," Galen memberi arahan pada Faisal yang hanya mengangguk-angguk.
Emily masih merengut saat Faisal pamit keluar duluan.
"Kenapa merengut begitu?" Galen mencolek bibir Emily yang merengut.
"Gambar kamu sudah selesai, kan? Ayo ke kantin!" Ajak Galen selanjutnya yang kini membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke arah Emily yang masih duduk di atas kursi kerjanya.
"Tadi kertas yang berisi gambar Faisal terlipat bagian sudutnya, kok nggak bapak sembur si Faisal?" Emily akhirnya mengajukan protes karena merasa diperlakukan tak adil.
__ADS_1
"Masa, sih? Aku tidak lihat tadi. Kenapa kamu tidak memberitahuku!" Galen meraih dagu Emily dan semakin mendekatkan wajahnya pada wajah mungil Emily.
"Bapak mau ngapain?" Tanya Emily curiga dan sedikit beringsut mundur.
"Menurutmu aku mau ngapain?" Galen malah balik bertanya pada Emily.
"Katanya mau makan siang ke kantin, Pak! Nggak jadi?" Emily menahan Galen yang semakin memangkas jarak di antara mereka.
"Tentu saja jadi. Ayo!" Galen ganti meraih tangan Emily dan menggandeng gadis itu keluar dari ruang ilustrator.
"Pak, saya bisa jalan sendiri! Ngga usah gandengan kayak truk begini kenapa?" Protes Emily berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Galen.
Galen memang langsung melepaskan tangan Emily, namun sekarang pria itu malah ganti merangkulkan lengannya ke pundak Emily dengan mesra.
Ya ampun!
Ini apa lagi!
"Pak!" Protes Emily yang kini merengut dan terus-terusan menghalau lengan Galen.
"Apalagi? Mau aku gendong ke kantin?" Tanya Galen yang sontak membuat Emily sdmakin merengut.
"Memang kenapa? Kan kamu tunanganku!" Jawab Galen dengan nada santai.
"Tapi apa harus dipamerkan ke seluruh kantor?" Emily masih merasa tak terima.
Kini Galen dan Emily sudah sampai di kantin dan beberapa pasang mata menatap ke arah mereka sambil sedikit berbisik-bisik. Namun Emily dan Galen hanya acuh dan langsung memilih menu makanan yang disediakan oleh kantin kantor.
"Ya harus! Biar semua orang tahu sekalian," jawab Galen sedikit berbisik di telinga Emily, yang otomatis wajah Galen begitu dekat dengan leher Emily. Dan hembusan nafas Pak Gak Selera yang genit itu membuat Emily sedikit berjenggit.
Emily sudah selesai mengambil makanan, dan segera duduk di salah satu meja yang terdapat dua kursi di sisinya. Galen juga sudah menyusul Emily da duduk di depan Emily.
Emily memperhatikan isi piringnya dengan piring Galen.
Di piring Emily, nasi, lauk, dan sayur penempatannya nggak karuan dan terlihat asal taruh. Sedangkan piring Galen terlihat rapi, dengan posisi nasi di tengah piring, lalu lauk dan sayurnya terlihat mengelilingi nasi. Terlihat rapi dan apik.
"Kenapa? Mau tukaran menu?" Tanya Galen mengingat Emily yang memilih menu rendang dan Galen yang memilih menu tongseng ayam.
__ADS_1
Daging rendang Emily juga terlihat jumpalitan di atas nasinya dan sangat tidak rapi.
Halah!
Peduli amat!
Toh ujung-ujungnya juga nanti masuk ke perut semua bersama-sama.
Kenapa harus ribet ditata?
"Enggak, kok, Pak!" Emily menyeruput es tehnya, lalu hebdak mengusap sisa es teh yang ada di atas bibir dengan punggung tangan. Namun Galen mencegah dengan cepat.
"Biasakan, akau ngelap apa-apa itu pakai tisu atau sapu tangan!" Galen meraih tisu kering dan menyeka dengan perlahan sisa es teh di atas bibir Emily.
"Hehe! Kan udah kebiasaan, Pak!" Emily hanya nyengir dan lanjut memakan nasi rendangnya.
"Sedikit-sedikit saja makannya! Jangan buru-buru!" Pesan Galen saat Emily hendak menyuapkan nasi sesendok penuh ke dalam mulutnya. Segera Emily mengurangi ukuran nasi di sendoknya, dan mulai makan dengan anggun.
Ck!
Merepotkan!
"Kalau makanmu sebanyak tadi, kamu bisa tersedak, Em!" Ujar Galen yang sontak membuat Emily merengut.
"Iya, Pak! Iya!" Jawab Emily kesal.
Mungkin setelah ini Emily harus belajar table meeener dan tatacara makan ala tuan putri.
Huh, menyebalkan!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.