
Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Namun Emily masih belum keluar dari kamar mandi, dan gadis itu masih sibuk membilas rambut panjangnya.
Ish!
Merepotkan saja!
Besok Emily mau memotong rambutnya menjadi pendek saja.
Kalau pagi dan sore harus keramas dan luluran seperti ini, bisa-bisa Emily akan menua di dalam kamar mandi.
"Em, masih belum selesai yang mandi? Itu Galen sudah datang menjemput kamu," tanya Bunda Naya seraya mengetuk pintu kamar mandi.
Emily keluar dari kamar mandi hanya mengenakan bathrobe dan handuk yang melilit kepalanya.
"Kamu mandi apa semedi, sih, Em? Kenapa lama sekali?" Cecar Bunda Naya sekali lagi.
"Emily kan harus luluran dan keramas, Bund! Jadi lama mandinya!" Jawab Emily mencari alasan.
Emily mengeringkan rambutnya dengan handuk meskipun sedikit malas.
"Pakai hairdryer! Kamu punya, kan?" Bunda Naya memeriksa laci di meja rias Emily untuk mencari hairdryer milik putrinya tersebut. Dan benar saja, hairdryer Emily ternyata terselip di laci paling bawah, menandakan kalau benda itu memang jarang dipakai. Atau mungkin tidak pernah dipakai?
"Keringin, Bund! Emily sedang malas!" Emily duduk di depan meja rias dan merengek manja pada sang bunda.
"Ish! Udah mau jadi istri kok ya masih manja begini. Nanti kalau tinggal di rumah mertua kamu, harus bisa keringin rambut sendiri," nasehat Bunda Naya seraya mengeringkan rambut Emily memakai hairdryer.
"Emily mau minta rumah nanti sama Pak Galen. Biar Emily nggak perlu tinggal seatap dengan Bu Mia," gumam Emily yang langsung membuat bunda Naya berdecak.
"Nggak boleh maksa! Kalau Bu Mia minta kamu tinggal di rumahnya, ya kamu harus tinggal barang sebulan atau dua bulan, biar Bu Mia juga bisa ngrasain punya menantu." Nasehat Bunda Naya pada sang putri.
"Emily boleh nggak tinggal disini setelah menikah? Emily kan putri semata wayangnya Ayah dan Bunda?" Tanya Emily menawar.
"Nggak boleh! Kamu harus ikut Galen dimanapun dia tinggal," tegas Bunda Naya.
"Kan dekat juga rumah kita sama rumah Bu Mia. Masa Emily nggak boleh nginep lagi di rumah Emily sendiri?" Protes Emily seraya merengut.
"Kalau nginep satu malam dua malam nggak masalah. Kalau tinggal disini ya, Bunda agak keberatan. Kan kamu udah jadi istrinya Galen nanti, jadi kamu ya harus selalu mengikuti Galen dimanapun ia tinggal." Tutur Bunda Naya panjang lebar memberikan pengertian pada Emily.
"Emang bunda dulu juga gitu? Tinggal di rumah mertua dulu sebelum Ayah beliin bunda rumah?" Tanya Emily kepo.
"Ayah kamu yatim piatu, jadi Ayah dan Bunda ya langsung menempati rumah ini setelah menikah. Ini kan rumah hasil kerja keras Ayah kamu," jawab Bunda yang langsung membuat Emily manggut-manggut.
"Udah selesai. Cepat ganti baju dan rambutnya diikat yang rapi. Galen udah nungguin itu sejak tadi!" Titah Bunda Naya seraya berlalu kekuar dari akmar Emily.
__ADS_1
"Emang aku peduli? Biar aja nunggu lama si Pak Gak Selera itu! Biar jamuran sekalian!" Gumam Emily seraya memilih baju dari dalam lemari.
Kalau pakai kaus dan kemeja tanpa kancing lagi, pasti Galen akan khotbah seharian. Emily mengambil satu celana jeans dan tunik saja dari dalam lemari. Emily memakai bajunya dengan cepat dan segera mengikat rambutnya. setelah memeriksa isi tas selempang miliknya, Emily segera menyampirkan tas tersebut di bahu, dan keluar dari kamar.
Benar saja, Galen memang masih mengobrol dengan Ayah di teras.
"Pagi, Ayah! Emily berangkat dulu!" Emilh bergelayut pada Ayah Satria dan mengecup pipi ayah kandungnya tersebut seraya berpamitan.
"Tumben wangi, Em!" Puji Ayah Satria yang sontak membuat Emily sedikit tersipu.
"Biar nggak ada yang ngomel dan ceramah!" Jawab Emily asal yang sudah setengah berlari menuju ke mobil Galen.
Galen juga ikut berpamitan pada Ayah Satria dan segera menyusul Emily masuk ke dalam mobil. Pria itu sedikit mengendus aroma tubuh Emily sesaat setelah masuk ke dalam mobil.
"Wangi! Tadi luluran dulu?" Tebak Galen sok tahu.
Emily segera mengangguk.
"Keramas juga. Biar Bapak nggak ngomel," jawab Emily tanpa menatap ke arah Galen.
"Galen! Berapa kali aku bilang jangan panggil Bapak!" Tegur Galen yang harus kembali mengingatkan Emily.
"Pak Galen!" Ucap Emily tetap keras kepala.
****
"Nanti makan siang, tunggu aku jemput ke ruangan kamu. Jangan kemana-mana!" Pesan Galen saat Emily baru saja akan turun dari dalam mobil.
"Iya, Pak! Iya!" Jawab Emily sedikit lebay.
Huh menyebalkan!
"Galen!" Tegur Galen yang kembali harus mengingatkan Emily perihal panggilan Emily kepadanya.
"Ini sudah masuk kawasan kantor, Pak! Nggak sopan dan nggak enak sama karyawan lain kalau manggilnya tanpa embel-embel," tukas Emily yang langsung ngacir begitu saja dari tempat parkir, meninggalkan Galen yang hanya berdecak.
Emily berjalan santai menuju ke ruang ilustrator, saat tepukan dari Faisal membuat jantung Emily nyaris lepas dari rongganya.
Dasar sialan!
"Kamu ada hubungan apa sama Pak Galen, Em? Kok sekarang sering pulang pergi bareng?" Tanya Faisal merasa kepo.
"Kebetulan tetanggaan di kompleks. Ditawari tumpangan saban hari, ya aku nggak nolak. Ketimbang naik taksi," jawab Emily yang masih tak mau jujur tentang statusnya yang kini sudah menjadi tunangan Galen.
__ADS_1
"Biasanya kan diantar jemput Ayah kamu?" Tanya Faisal yang madih bingung.
"Diih! Sok tahu! Belakangan ini Ayah udah jarang ngantar jemput dan aku lebih banyak naik taksi."
"Mungkin Pak Galen merasa iba, jadi dia nawarin tumpangan deh setiap hari." Jawab Emily mengarang indah.
"Besok ke nikahannya Irma jadi bareng, kan?" Tanya Faisal menagih.
Astaga!
Emily sampai lupa tentang undangan ke nikahannya Irma
Emily nggak mungkin bisa bareng Faisal karena pasti Pak Gak Selera itu bakalan nempel kayak perangko ke Emily.
Dan mungkin setelahnya, semua karyawan di kantor bakalan tahu kalau Emily adalah tunangan sekaligus calon istri Pak Galendra Biantara.
Pasti Faisal bakal ketawa sampai terkencing-kencing kalau dia tahu.
"Masih belum tahu. Nanti aja aku info kalau memang jadi bareng," jawab Emily sekenanya.
Emily dan Faisal sudah sampai di ruang ilustrator. Faisal memilih untuk segera menyalakan layar iMac-nya sedangkan Emily masih sibuk membersihkan mejanya dari sampah-sampah yang berserakan. Emily juga mengelap debu tipis yang ada di meja dan layar iMac-nya.
"Tumben, Em! Lagi kesambet, ya?" Tanya Faisal heran karena sepanjang bekerja bersama Emily, baru kali ini Faisal melihat Emily bersih-bersih dan ngelap-ngelap meja kerjanya.
"Biar nggak kena inspeksi mendadak dari Pak Gak Selera," jawab Emily yang akhirnya sudah selesai bersih-bersih.
Gadis itu lanjut meletakkan tas selempangnya di bawah meja dan mulai menyalakan layar iMac-nya. Masih ada beberapa tema ilustrasi yang harus Emily kerjakan.
.
.
.
Cover diganti sama pihak platform 😌😌
Padahal udah unguable dan kompakable.
kalo reader budiman suka cover yang mana?
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.
__ADS_1