
Flashback malam sebelumnya
Emily sudah selesai mandi dan baru saja akan masuk ke ruang makan, saat gadis itu tak sengaja mencuri dengar percakapan Bunda Naya dan Ayah Satria dari ruang makan.
"Bagaiamana kalau kita carikan jodoh saja untuk Emily, Yah!" Usul Bunda Naya pada Ayah Satria yang sedang menyesap tehnya.
"Carikan jodoh bagaiamana? Emily tadi kan sudah bilang mau mencari calon suaminya sendiri."
"Iya, tapi Bunda kok khawatir kalau Emily itu belum bisa move on dari Sean dan masih berharap pada Sean," tukas bunda Naya yang kini mengambil posisi duduk di samoing sang suami.
"Emily bukan gadis seperti itu, Bund! Kalau sekarang Emily belum sepenuhnya move on dari Sean, itu hal yang wajar, karena mereka dekat sejak kecil. Tapi Ayah percaya, kalau seiring berjalannya waktu, Emily pasti akan bisa membuka hatinya untuk pria lain," tutur Ayah Satria panjang kebar berusaha berpikiran bijak.
"Lagipula, Emily itu juga masih dua puluh tiga tahun. Biarkan dia fokus dulu pada pekerjaannya sekarang, dan menikmati kariernya. Ayah rasa, menikah bukan sebuah kebutuhan mendesak untuk Emily saat ini," sambung Ayah Satria lagi yang langsung membuat bunda Naya menghela nafas.
"Apa ini ada hubungannya dengan pertemuan Bunda dan Bu Mia tadi?" Tanya Ayah Satria selanjutnya sedikit curiga.
"Tidak kok, Yah! Bunda hanya kepikiran saja dengan Emily. Takut kalau Emily jadi trauma menjalin hubungan lagi dengan pria dan enggan menikah," jawab Bunda Naya mengungkapkan kekhawatirannya.
Ayah Satria tertawa kecil.
"Emily pasti akan menikah saat dia sudah bertemu pria yang tepat dan yang baik tentu saja! Jangan khawatir berlebihan begitu!" Ayah Satria merangkul sang istri dan berkata dengan santai.
Begitulah Ayah Satria. Pikirannya selalu santai dan tidak terlalu ambil pusing denagn berbagai hal. Tapi jika ada sesuatu yang serius, Ayah Satria akan menjelma menjadi sosok yang tegas juga.
Flashback off
****
Emily masuk ke ruangan Galen, mengekori sang manajer yang sudah terlebih dahulu masuk dan merapikan mejanya, padahal sudah rapi. Emily baru ingat kalau ada istilah untuk orang sejenis Galen yang suka merapikan sesuatu yang yang sudah rapi.
Obsessive Complusive Disorder alias OCD!
Ya!
Atasan Emily ini sepertinya pengidap OCD selain dia maho dan menyebalkan.
"Rambut kamu belum kamu ikat, Em! Bukankah aku tadi sudah menyuruhmu mengikatnya sejak di parkiran?" Galen berdecak berulang-ulang dan merapikan lagi tumpukan kertas di hadapannya.
Yaelah!
Sudah rapi begitu kenapa dirapikan lagi?
__ADS_1
Kurang kerjaan atau buang-buang waktu, sih?
"Jadi bapak memanggil saya ke ruangan ini hanya meminta saya mengikat rambut?" Tanya Emily ketus.
"Tentu saja tidak! Aku punya pekerjaan untukmu!" Ujar Galen yang ikut-ikutan berucap dengan ketus.
"Pekerjaan apa?" Tanya Emily sedikit curiga.
"Nanti kamu ikut aku ke pameran setelah jam makan siang. Jangan lupa!" Pesan Galen masih dengan nada ketus.
Lah!
Pameran lagi?
Sebenarnya Emily ini anak ilustrasi atau anak marketing?
Kenapa diajak ke pameran melulu?
"Maaf, Pak! Tapi pekerjaan saya banyak. Kenapa nggak ngajak anak marketing saja?" Tolak Emily sehalus mungkin.
"Aku tidak memberimu pekerjaan hari ini. Memang pekerjaanmu apa?" Tanya Galen galak.
"Ya, kan pekerjaan yang kemarin masih belum sekesai, Pak!" Emily menggaruk kepalanya.
"Ya shampo buat rambut, Pak! Masa iya shampo kuda!" jawab Emily seraya memutar bola matanya.
"Jadi cewek itu yang bersih, Em! Keramas setiap hari, creambath kalau perlu! Jadi tidak sedikit-sedikit garuk-garuk kepala begitu! Dilihat juga nggak enak!" Cerocos Galen yang sontak membuat Emily mencibir.
Ini sebenarnya kantor penerbitan atau pusat kecantikan, sih?
Penampilan Emily perasaan dikomentarin terus sama manajer maho sialan ini!
Rasanya mau Emily edit saja isi otaknya Pak Galen maho ini!
"Iya, Pak!" Jawab Emily dengan nada sinis.
"Selesaikan pekerjaanmu yang kemarin dulu sampai makan siang! Bukankah hanya tinggal finishing akhir?" Titah Galen selanjutnya yang langsung menbuat Emily melongo.
Kok bisa tahu manajer maho ini kalau pekerjaan Emily tinggal finishing akhir?
Emily bahkan belum memberikan laporan kemarin atau hari ini.
__ADS_1
Ckckck!
Mencurigakan ini!
"Emily!" Tegur Galen yang langsung membuyarkan lamunan Emily.
"Eh, iya! Ada apa lagi, Pak?" Tanya Emily tergagap.
"Kamu ngapain disini? Bukankah tadi aku menyuruhmu untuk melanjutkan pekerjaanmu?" Galen kembali berdecak dan Emily hanya nyengir tanpa dosa.
"Iya, juga ya, Pak. Saya ngapain disini, sih?" Emily malah balik bertanya.
"Yaudah. Saya permisi dulu, Pak! Selamat pagi!" Emily baru saja berbalik saat seorang gadis modis masuk ke ruangan Galen dan memanggil Galen dengan mesra.
"Galen! Hai!" Gadis modis itu langsung bergelayut pada Galen.
"Kau sedang apa disini, Kymi? Aku sedang bekerja!" Jawab Galen bersungut-sungut pada gadis bernama Kymi tersebut
Etdah!
Siapa lagi gadis ini?
Pacarnya?
Emily hanya mengendikkan bahu dan memilih untuk lanjut keluar dari ruangan Galen.
Kemarin Alvin sekarang Kymi.
Bis*ksual mungkin, ya?
Cowok oke, cewek hayuuk!
Hhhhh! Amit-amit!
Emily kembali begidik ngeri membayangkan orientasi nganumya Pak Galen.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.