
"Selamat, bayinya perempuan," ucap Dokter seraya menunjukkan bayi merah mungil yang masih menangis kencang yang baru saja keluar dari rahim Emily.
Bayi itu kini diletakkan di atas dada Emily untuk Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
"Cantik!" Gumam Galen yang langsung merasa jatuh cinta pada bayi mungil tersebut.
Galen mengusap-usap pipi gembil bayi mungil itu dan Emily yang tiba-tiba berurai airmata bahagia karena akhirnya Emily sudah menjadi seorang mama sekarang.
"Kenapa menangis? Masih sakit?" Tanya Galen dengan nada lembut pada Emily.
Namun Emily hanya menggeleng.
"Aku sedang menangis bahagia!" Jawab Emily lirih nyarus tanpa suara namun Galen masih bisa mendengarnya dan Galen segera menyeka airmata Emily lalu mencium kening istrinya tersebut.
"Terima kasih untuk semuanya, Sayang!" Bisik Galen pada Emily yang langsung membuat bibir Emily melengkungkan sebuah senyuman.
"Kelapa muda aku mana, Yang?" Tanya Emily tiba-tiba yang seolah menghancurkan momen bahagia ini.
Masih ingat dengan ngidamnya ternyata.
Galen kira sudah lupa.
"Nanti dibawain sama Papi," jawab Galen sedikit malas.
Dan benar saja, tak berselang lama, Mommy Mia sudah masuk membawa kelapa muda ala hotel pesanan Emily.
Emily langsung menyeruput air kelapa muda tersebut dan terlihat bahagia sekali.
Dasar Emily!
****
"Milea aja, Yang? Emily Galen, jadi Milea," ucap Emily yang masih berdebat dengan Galen soal pemberian nama tengah bayi Aileen.
Keduanya memang sepakat memakai akronim Emily dan Galen sebagai nama tengah untuk bayi Aileen. Tapi sepertinya mereka lupa memutuskan akronim mana yang akan mereka pakai.
"Bagusan Miga lah, Yang! Lebih nyambung ke Emily Galen. Kalau Milea ya kurang nyambung. A nya a siapa maksudnya?" Gerutu Galen yang juga tetap keras kepala.
"Alvin mungkin," celetuk Emily yang langsung membuat Galen berdecak tak percaya.
__ADS_1
"Kenapa bawa-bawa nama Alvin? Dia kan nggak ikut membuat," protes Galen seraya bersungut-sungut.
"Baiklah! Kita pakai nama Miga! Kau senang sekarang?" Ucap Emily akhirnya yang memilih untuk menuruti kemauan Galen keras kepala.
Tapi dari dulu suami Emily ini memang keras kepala dan selalu tidak mau dibantah.
Untung Emily sayang.
"Berarti jadi Aileen Miga Biantara. Begitu, ya?" Tanya Galen yang matanya sudah berbinar bahagia.
"Iya, begitu, Papa Galen!" Jawab Emily dengan ekspresi wajah lebay.
Tangis Aileen kembali terdengar dan Galen segera mengangkat bayi mungil itu dari dalam box, lalu memberikannya pada Emily agar disusui.
"Jangan kaku begitu tangannya!" Komentar Galen bpada Emily karena istrinya itu masih saja kaku dan tegang saat harus memangku Aileen.
Ini memang belum ada dua puluh jam sejak Emily melahirkan, tapi seharusnya Emily sudah bisa menyesuaikan diri.
Lagipula, sebelumnya Galen sudah meminta Emily berlatih memangku dan menggendong bayi memakai boneka. Namun Emily tetap saja kaku seperti pengibar bendera yang sedang membawa bendera pusaka saja.
"Iya, aku sedang berusaha ini, Yang! Jangan komentar terus bisa nggak, sih?" Gerutu Emily sebal sekaligus merengut.
"Udah jangan merengut begitu! Aku bantu benerin posisi Aileen," Galen memberi bantal di bawah tubuh bayi Aileen agar Emily lebih mudah menyusui.
"Itu kenapa meringis-ringis?" Tanya Galen bingung.
"Sakit! Kayak kalau lagi kamu gigit itu," keluh Emily seraya menunjuk ke dadanya.
"Lah. Aileen kan belum punya gigi. Gimana ceritanya Aileen bisa menggigit?" Gumam Galen sedikit heran.
Galen terus memperhatikan Aileen yang sedang khusyuk menyusu, saat Emily melihat suaminya itu menelan salivanya berulang kali.
"Kamu kenapa, Yang? Haus juga?" Tanya Emily sedikit mengejek Galen.
"Aku minum yang sebelah boleh, nggak?" Tanya Galen to the point.
"Nggak! Nanti kalau airnya habis trus Aileen masih haus bagaimana?" Tolak Emily seraya bersungut-sungut.
"Icipin sedikit aja. Nggak bakal aku habisin. Ya! Ya! Ya!" Bujuk Galen bersikeras.
__ADS_1
"Ish! Enggak ya enggak! Jangan aneh-aneh, Yang!" Emily tetap kekeh menolak.
Galen terkekeh dan lanjut mengusap pipi Aileen yang masih asyik menyusu pada Emily.
"Enak, ya, Sayang? Papa juga suka, kok," ujar Galen yang langsung berhadiah pukulan dari Emily.
"Jangan mulai!"
"Mulai apa. Aku kan bicara jujur," sahut Galen seolah tanpa dosa.
Ish!
Dasar Galen mesum!
****
"Kok cantik? Ikut siapa sih, kamu?" Komentar Sean yang datang menjenguk bayi Aileen bersama Rachel dan Allegra.
"Ikut mamanya lah! Masa ikut bibinya!" Sahut Emily sebelum kembali mengunyah kue bolu pisang yang dibawakan oleh Rachel.
Menyusui ternyata membuat cepat lapar.
"Alle minta adik cantik juga ke Mama dan Papa!" Ucap Galen pada Alle yang kini ada di pangkuannya.
"Alle masih terlalu kecil, Galen! Jangan ngomporin, ih!" Sungut Rachel sedikit mendelik pada Galen.
"Nanti malam langsung on proses. Jadi bentar lagi Alle juga akan punya adik cantik seperti Aileen," celetuk Sean seraya merangkul pundak Rachel.
"Ish!" Rachel berdecak tak percaya.
"Aku bantu doa saja biar langsung jadi!" Timpal Emily seraya terkekeh.
Galen dan yang lainnya ikut terkekeh dan hanya Rachel yang merengut.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.