Jodoh Emily

Jodoh Emily
KEMBALI KE KANTOR


__ADS_3

Galen masih memagut lembut bibir Emily dan keduanya masih berada di dalam mobil silver Galen yang sudah terparkir di depan kantor penerbitan.


"Udah, Yang! Kamu nggak pernah mau berhenti kalau lagi cium aku," protes Emily pada Galen.


"Kamu juga nggak mau berhenti!" Goda Galen seraya mengusap lembut wajah Emily yang kini bersemu merah.


"Benerin itu lipstik kamu!" Titah Galen yang langsung membuat Emily berdecak.


"Kamu sukanya bikin rusak riasan aku!" Cebik Emily yang kembali mengoleskan lipstik tipis-tipis ke bibirnya.


Nggak sia-sia juga si Ghea mengajari Emily cara memakai bedak dan lipstik. Sekarang Emily sudah bisa merias wajahnya sendiri meskipun hanya tipis-tipis.


"Udah belum?" Emily meminta pendapat Galen.


"Udah cantik!" Puji Galen seraya mengusap lembut kepala Emily.


"Ayo turun!" Ajak Galen yang sudah membuka pintu mobil. Emily ikut membuka pintu mobil dan pasangan pengantin baru tersebut masuk ke kantor bersamaan, lalu berpisah di depan lift karena ruang kerja Galen yang berada satu lantai di atas ruang kerja Emily.


Emily langsung menuju ke ruang ilustrator yang sudah sepekan tak ia sambangi karena memang Emily sedang cuti menikah. Beberapa karyawan yang berpapasan dengan Emily, menyapa istri Galen tersebut dan sedikit berbasa-basi soal pernikahan Emily dan Galen satu pekan yang lalu.


"Tumben udah datang, Sal!" Sapa Emily pada Faisal yang sudah berkutat dengan layar iMac-nya padahal masih pagi. Biasanya juga teman satu ruangan Emily itu masih sibuk godain anak-anak marketing.


"Wuiih! Pengantin baru akhirnya masuk kantor lagi. Kirain langsung resign," Faisal memutar kursinya dan memindai penampilan Emily dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Wow! Pak Galen udah sukses ngedit penampilan kamu selama seminggu, ya? Rambut baru, baju baru, muka juga baru," cerocos Faisal seraya tergelak.


"Status juga baru! Jangan lupa!" Sahut Emily menambahkan.


"Sukses belah durennya? Atau jangan-jangan Pak Galen nggak tahu caranya? Kan dia maho," tanya Faisal kepo.


"Sembarangan kamu!" Emily melempar isi staples ke arah Faisal yang malah tergelak.


"Sekarang dibelain, ya? Jadi gimana? Lembur sampai pagi atau baru sekali langsung loyo?" Tanya Faisal lagi yang kali ini ganti berhadiah lemparan pulpen dari Emily.


"Rahasia dapur orang ditanyain juga! Dasar nggak ada akhlak!" Gerutu Emily bersungut-sungut.


Emily membersihkan meja kerjanya dan layar iMac-nya menggunakan tisu yang semarang selalu ada di tasnya. Jika dulu tas Emily isinya hanya ponsel, earphone, kabel charge, dompet, dan beberapa sampah yang terselip, sekarang tas Emily isinya tisu basah dan kering, ponsel, dompet, bedak, lipstik, dan tak ada lagi sampah di dalamnya.


Ya iyalah!


Tiap pagi disidak dulu sama Galen.


"Tumben kamu pagi-pagi udah datang, Sal? Biasanya kan datang telat," Emily mengulangi pertanyaannya saat baru datang tadi karena belum dijawab oleh Faisal.

__ADS_1


"Kerjaan numpuk, gara-gara kamu cuti!" Keluh Faisal menunjuk ke arah tumpukan map di atas mejanya.


Emily hanya terkikik tanpa dosa.


"Aku juga udah lembur sebelum cuti kemarin. Jadi bukan salah aku, dong!" Kelit Emily mencari pembenaran.


"Eh, Em. Kamu tahu adiknya Pak Galen yang datang di acara pernikahan kamu kemarin, nggak?" Tanya Faisal yang matanya sudah fokus lagi ke layar iMac-nya. Sedangkan Emily baru saja menyalakan layar iMac-nya dan mengetikkan password.


"Kenapa tanya-tanya? Naksir, ya?" Tebak Emily dengan nada menggoda.


"Kepo aja. Ada kontaknya, nggak?" Tanya Faisal sekali lagi.


"Ghea bukan?" Tebak Emily lagi.


Adik Galen ya berarti Ghea.


"Bukan! Yang satunya. Kalo Ghea aku nggak tertarik, galak gitu anaknya. Yang rambutnya lurus ada poninya," ujar Faisal sedikit menjelaskan pada Emily.


"Dulu pernah lihat dia datang kesini juga beberapa kali," imbuh Faisal lagi.


"Kymi?" Tebak Emily cepat.


"Oh, namanya Kymi. Seimut orangnya ternyata," ucap Faisal lebay.


"Ada kontaknya, nggak? Minta, dong! Please!" Rayu Faisal pada Emily.


"Pedekatelah! Masa iya mau buat neror," sahut Faisal seraya berdecak.


"Masih SMA anaknya. Kamu mau jadi pedofil yang macarain anak SMA?" Ejek Emily sedikit terkekeh.


"Aku belum jadi om om kali! Masa kamu sebut aku pedofil. Jiwaku kan masih jiwa muda!" Kilah Faisal dengan nada sombong.


"Cih! Umur udah mau kepala tiga juga," Ejek Emily sekali lagi.


"Masih jauuh!" Sahut Faisal tak terima.


Emily mengeluarkan ponsel dari tasnya.


"Mana ponsel kamu? Aku salinin nomor kontaknya Kymi," Emily mengulurkan tangannya ke arah Faisal yang langsung dengan cepat mengangsurkan ponselnya ke tangan Emily.


"Terima kasih banget, Em! Nanti kalau aku beneran jadian sama Kymi, aku traktir kamu," janji Faisal dengan nada lebay.


"Traktir susu coklat tiga gelas, ya!" Sahut Emily mengajukan permintaan.

__ADS_1


"Bisa diatur!" Jawab Faisal seraya menerima ponselnya yang sudah dikembalikan oleh Emily.


"Em!" Suara Galen terdengar dari pintu ruang ilustrator.


"Eh, iya, Sayang!" Jawab Emily spontan yang langsung membuat Faisal menahan tawanya.


"Pagi, Pak Galen! Duh pagi-pagi udah apelin istrinya," sapa Faisal sedikit menggoda pada atasannya tersebut.


"Antar kerjaan," jawab Galen seraya menunjukkan map di tangannya pada Faisal.


"Ini ada kerjaan buat kamu. Baru masuk," Galen sudah membungkukkan badannya ke arah Emily dan sedikit menjelaskan pada istrinya tersebut. Namun bukan Galen namanya jika tak curi-curi kesempatan untuk mengecup tipis pipi Emily.


"Duh, tiba-tiba mules gara-gara jiwa jomblo meronta lihat pengantin baru lagi nemplok-nemplok," celetuk Faisal yang sudah bangkit dari kursinya.


"Sebentar lagi ada meeting dengan klien, Sal! Nanti kamu ke ruanganku, ya!" Pesan Galen pada Faisal yang sepertinya hendak keluar dari ruang ilustrator.


"Siap, Pak! Saya ke toilet dulu!" Pamit Faisal yang sudah ngacir pergi dan membiarkan Galen berdua saja dengan Emily di ruang ilustrator.


"Cium dikit!" Galen sudah nyosor dan mengecup bibir Emily sekilas.


"Ck! Lagi di kantor juga. Malu, Yang!" Keluh Emily yang kembali membaca pekerjaan yang tadi diberikan Galen.


"Nggak ada yang lihat. Ngapain harus malu?" Jawab Galen enteng yang kembali mengecup bibir Emily.


Dasar Galen sinting.


"Udah, sana! Katanya mau meeting? Aku mau kerjain ini," usir Emily pada sang suami.


"Satu ciuman lagi!" Galen kembali meraup bibir Emily dan mengecupnya dengan dalam dan cukup lama kali ini.


"Ish! Rusak sudah riasan aku, Yang!" Keluh Emily saat Galen sudah melepaskan tautan bibirnya pada Emily.


"Nanti makan siang ke ruangan aku, ya!" Pesan Galen seraya mengecup kening Emily.


Pria itu sudah menuju ke arah pintu dan hendak keluar.


"Iya! Masih lama juga makan siangnya baru jam sembilan udah mikirin makan siang," cerocos Emily yang mungkin tak di dengar oleh Galen karena pria itu sudah pergi dengan cepat meninggalkan ruang ilustrator.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.


__ADS_2