
Kediaman Arthur.
Sean dan Rachel baru tiba di rumah saat hari sudah menjelang malam.
"Awas hati-hati!" Sean menuntun Rachel untuk turun dari mobil dan berjalan menuju ke arah teras. Tepat di depan pintu masuk, Sean dan Rachel berpapasan dengan abang Kyle yang masih saja marah pada Sean.
"Bang! Lama nggak kesini?" Sapa Sean berbasa-basi pada sang abang. Namun abang Kyle hanya diam dan tak menyahut.
Abang sambung Sean itu langsung berlalu begitu saja meninggalkan Sean dan Rachel dan juga meninggalkan kediaman Arthur.
Ya, ya, ya!
Sepertinya kemarahan abang Kyle memang belum reda hingga detik ini. Mungkin karena abang Kyle yang begitu menyayangi Emily, hingga ia masih merasa dendam pada Sean saat ternyata Sean harus menikah dengan Rachel dan mengkhianati Emily.
"Sudah pulang?" Sapaan dari Mom Bi membuyarkan lamunan Sean.
"Sudah, Mom!" Jawab Rachel seraya melepaskan pegangan tangan Sean di lengannya.
"Jadi bagaimana? Kandungan kamu baik-baik saja, kan, Rachel?" Tanya Mom Bi yang kini sudah merangkul Rachel dan membimbing istri Sean tersebut untuk duduk di sofa ruang tengah.
"Iya, Mom! Semuanya baik-baik saja," Jawab Rachel setelah menatap sejenak pada Sean yang ikut duduk di ruang tengah namun di sofa yang terpisah.
Rachel tidak tahu kenapa Sean terus saja menatapnya dengan aneh sejak tadi.
"Yaudah, kamu istirahat ke kamar saja, Rachel!" Titah Mom Bi selanjutnya.
"Iya, Mom!" Jawab Rachel yang hendak bangkit berdiri. Sean yang duduk tak jauh dari Rachel segera sigap membantu istrinya tersebut untuk bangkit berdiri. Sean lanjut membimbing Rachel masuk ke dalam kamar dan kali ini tak ada perlawanan dari Rachel ataupun raut wajah marah.
"Aku mau menginap di rumah Mama dan Papa," ucap Rachel meminta izin pada Sean. Meskipun istri Sean itu masih tak menatap pada Sean.
"Besok pagi aku antar sekalian aku pergi ke kantor. Kita bisa menginap sampai hari Minggu di rumah Mama dan Papa," jawab Sean yang kini sudah duduk di samping Rachel yang hanya menundukkan wajahnya.
"Aku bisa menginap sendiri di sana! Kau tak perlu repot-repot menemani-"
"Aku suamimu, Rachel!" Potong Sean berucap tegas.
"Jadi aku akan menemanimu jika memang kamu mau menginap di rumah Mama atau Papa atau dimana saja!" Lanjut Sean masih dengan nada yang tegas.
"Baiklah, terserah saja," gumam Rachel lirih sebelum beranjak bangun dari duduknya, mengambil handuk dan baju ganti lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Sean mengusap wajahnya berulang kali setelah Rachel masuk ke kamar mandi. Pria itu meraih ponselnya dan mengutak-atiknya sebentar sebelum menghubungi seseorang lewat ponselnya.
__ADS_1
"Halo, Abi! Apa kau sedang sibuk sekarang?" Sean menyapa Abi yang suranya terdengar berisik di seberang telepon.
"Aku hanya sedang menemani Keano bermain. Ada apa?"
"Suaramu tidak terlalu jelas! Bisa kau ke suatu tempat yang sepi dulu?" Sean sedikit meringis mendengar suara cempreng Keano yang ikut berteriak di telepon sang papa.
Ya ampun!
Anak Abi dan anne itu benar-benar mirip Anne yang gemar berteriak-teriak!
"Baiklah! Tunggu sebentar. Aku akan naik ke lantai atas saja!"
Tak berselang lama, suara riuh dari seberang telepon tak lagi terdengar.
"Jadi, ada masalah apa?" Tanya Abi to the point.
"Apa Anne dan Keano sedang konser di rumahmu? Kenapa berisik sekali?" Sean malah balik bertanya dan sedikit berkelakar.
Abi hanya tergelak dari ujung telepon.
"Kau akan paham nanti saat calon bayimu lahir nanti."
"Jadi bagaimana? Rachel masih bersikap dingin kepadamu?" Tebak Abi yang sepertinya sangat paham dengan persoalan hidup yang dihadapi oleh Sean Arthurian Kyler.
Selain itu, Abi bukan tipe sahabat yang ember, yang jika di curhati, malah diceritakan kemana-mana. Sangat berbanding terbalik dengan Anne yang mulutnya ember bocor dan tukang mengadu. Mungkin itu yang membuat rumah tangga Anne dan Abi awet hingga kini meskipun mereka menikah di usia belia. Mereka saling melengkapi kekurangan masing-masing.
"Dulu Anne juga benci setengah mati kepadamu. Kau pakai jurus apa sampai akhirnya Anne bisa klepek-klepek dan bucin akut begitu?" Tanya Sean penasaran.
"Jurus sabar aku rasa." Abi terdengar kembali tergelak di ujung telepon.
"Bukankah aku sudah memberimu tips dan trik kemarin? Sudah kau praktekkan?"
"Rachel tidak sejinak Anne ternyata. Kelihatannya saja kalem. Tapi keras kepalanya benar-benar membuat kesabaranku nyaris habis!" Keluh Sean yang sudah berpindah ke balkon kamar dan menatap langit malam yang hitam pekat tanpa cahaya bintang.
"Rachel masih saja menganggap kalau aku dan Emily masih saling mencintai dan kami akan kembali menjalin hubungan lagi. Bukankah itu konyol?" Tutur Sean lagi menumpahkan uneg uneg dalam hatinya.
"Kau masih menyimpan perasaan pada Emily?"
"Apa maksudmu? Aku sudah membuang jauh semuanya! Bukankah katamu aku harus fokus pada Rachel?" Sergah Sean menyangkal pertanyaan Abi yang lebih mirip sebagai sebuah tuduhan.
"Mungkin ideku sedikit konyol. Tapi bagaimana kalau kau, Rachel, dan Emily duduk bersama lalu berbicara sebagai tiga orang sahabat?"
__ADS_1
"Kau gila! Bagaimana jika ternyata Emily belum sepenuhnya move on dan gadis itu malah akan sedih," Sean merasa ragu.
"Kau masih saja khawatir pada Emily, Sean! Apa kau yakin kalau kau benar-benar sudah membuang semua perasaanmu pada Emily?"
"Aku hanya ingin berperan sebagai abang dari Emily sekarang seperti halnya Abang Kyle! Apa itu salah?"
"Toh hubunganku dengan Emily dan kisah cintaku bersama Emily juga tidak akan pernah kembali sekalipun aku berpisah dari Rachel. Semua yang pernah terjadi diantara aku dan Emily sudah selesai, Abi! Aku benar-benar ikhlas sekarang jika memang Emily akan menikah dengan pria lain dan bertemu jodohnya yang pastinya seribu kali lebih baik ketimbang diriku yang brengsek ini!" Tutur Sean panjang lebar seolah sedang membuat pengakuan pada Abi.
"Wow! Aku benar-benar takjub pada kata-katanu, Sean! Boleh aku bertepuk tangan sekarang?"
"Tidak usah lebay! Jadi apa idemu agar Rachel mau menerima kehadiranku dan tidak terus-terusan bersikap dingin kepadaku?" Tanya Sean lagi sedikit berdecak frustasi.
Sean terlalu fokus berbicara pada Abi di telepon, hingga Sean tak menyadari kehadiran seseorang di ambang pintu yang menuju ke balkon.
Seseorang yang sejak tadi menguping obrolan telepon Sean dan Abi.
"Hangatkan saja Rachel!" Jawab Abi yang kembali berkelakar.
"Abi, aku serius!" Geram Sean yang nada bicaranya sudah naik tujuh oktaf.
"Pakai saja ideku tadi. Ajak Rachel dan Emily duduk bersama lalu bicara sebagai seorang sahabat. Bukankah kau dan Emily sudah sama-sama move on?"
"Buktikan pada Rachel kalau kau memang tak lagi menyimpan perasaan apapun pada Emily!" Pungkas Abi sebelum Sean mengakhiri telepon pada sahabatnya tersebut.
Mengajak bicara Rachel dan Emily di satu tempat yang sama!
Sepertinya itu adalah sebuah ide konyol!
Sean tidak akan mengikuti saran Abi kali ini.
.
.
.
Sengaja adegannya masih Sean dan Rachel. Aku mau kelarin masalah mereka dulu sebelum nanti fokus ke Emily dan Galen.
Skip aja yang merasa eneg 😅
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.