
Hari pernikahan Emily dan Galen sudah semakin dekat. Emily dan Galen masih bekerja seperti biasa sekalipun pernikahan mereka hanya tinggal beberapa hari lagi. Hari ini undangan pernikahan hasil desain dari Faisal sudah mulai dibagikan.
Telepon internal di ruang ilustrator berbunyi saat Emily masih sibuk dengan beberapa tema ilustrasi yang harus ia kebut sebelum cuti pernikahannya lusa.
Faisal yang mengangkat telepon karena Emily tak kunjung beranjak dari kursinya.
"Em!" Faisal melemparkan isi staples pada Emily.
"Apa, sih! Berisik!"
"Suami kamu nyariin itu! Disuruh ke ruangannya!" Kekeh Faisal yang sekarang selalu menyrbit Galen sebagai suami Emily. Padahal kan belum sah.
Semua karyawan di kantor juga sudah tahu kalau Emily adalah calon stri Galen.
Ya iyalah!
Undangan juga sudah disebar.
Tapi untunglah nggak ada lagi bisik-bisik dari para karyawan sekarang. Karena nyatanya bukan cuma Emily dan Galen yang terlibat cinlok di kantor penerbitan ini. Sudah ada beberapa juga sesama karyawan yang jadian dan sampai ke pelaminan.
Jadi cinlok di kantor ini sudah jadi hal biasa, ya!
Cuma yang luar biasa, kenapa Emily cinloknya harus sama manajer OCD yang menyebalkan itu?
"Buruan, Em! Telepon udah bunyi lagi itu!" Faisal kembali melempar isi staples ke arah Emily karena telepon internal Kembali berdering dan Emily masih dalam mode melamun di meja kerjanya.
Begitulah, Galen!
Kalau sedang memanggil Emily, namun Emily tak kunjung datang pasti akan terus-terusan menelepon dan membuat pekak telinga.
"Iya, ini juga udah mau beranjak, kok!" Cebik Emily yang akhirnya beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan ilustrator.
Emily berjalan ke ruangan Galen yang berada satu lantai di atas ruang kerja Emily. Tanpa mengetuk, Emily masuk begitu saja ke ruangan calon suaminya tersebut.
"Ada apa, sih?" Tanya Emily yang kini merengut pada Galen.
__ADS_1
"Kenapa merengut begitu?" Tanya Galen yang sudah menarik tangan Emily dan mendudukkan gadis itu di kursi kerjanya.
"Kamu gangguin aku bekerja. Lagi dikejar deadline juga!" Jawab Emily sedikit bersungut.
"Makan dulu!" Galen menyodorkan sebuah kotak makan pada Emily.
Tumben!
Biasanya kalau jam makan siang Pak Gak Selera ini selalu mengajak Emily makan di luar. Kenapa sekarang bawa-bawa bekal?
"Ayam katsu? Siapa yang memasak?" Tanya Emily penasaran.
"Kemarin katanya minta dimasakin," jawab Galen yang langsung membuat wajah Emily berubah antusias.
"Ini beneran kamu yang masak? Kapan? Kok masih hangat?" Cecar Emily seraya menggigit satu potong ayam berbalut tepung panir tersebut.
"Ck! Pakai itu sendoknya, Em! Kenapa makannya pakai tangan begitu? Belum cuci tangan juga tadi," Gerutu Galen sebal.
"Lebih enak pakai tangan. Coba, deh!" Emily menyuapkan satu potong ayam katsu yang bekas ia gigit tadi pada Galen.
"Enak sekali. Ini kapan kamu masaknya?" Tanya Emily sekali lagi karena pertanyaannya yang tadi belum dijawab oleh Galen.
"Tadi, setelah bertemu klien dan sebelum kesini," jawab Galen yang kembali mengambil potongan ayam di box makan yang ada dipangkuan Emily. Galen ikut-ikutan memegangnya dengan tangan sekarang, dan tak memakai sendok.
"Makan juga itu salad sayurnya!" Kali ini Galen memakai sendok untuk menyendok salad sayur dan menyuapkannya ks arah Emily yang menggeleng.
"Nggak mau! Sayurnya mentah!"
"Makan saja! Buka mulut!" Paksa Galen pada Emily yang masih mengatupkan kedua bibirnya.
"Aku suapi pakai mulut mau?" Tawar Galen yang sontak membuat Emily merengut.
"Mesum!"
"Yaudah cepat makan!" Perintah Galen sekali lagi dan Emily terpaksa membuka mulutnya meskipun setengah hati. Galen langsung menyumpalkan sendok berisi salad ke dalam mulut Emily.
__ADS_1
Emily sampai merem-merem mengunyah kol dan wortel mentah berbalut saus mayonaise tersebut.
"Enak, kan?" Galen tergelak melihat ekspresi wajah Emily.
"Apanya yang enak! Rasanya aneh!" Gerutu Emily sebal.
Tapi sumpah demi apapun, Emily baru kali ini melihat Galen teratwa sampai terbahak begitu. Biasanya Pak manajer OCD ini kan hanya tersenyum tipis menanggapi segala hal.
Tadinya Emily pikir mungkin Galen memang tak bisa tertawa lepas.
Eh, ternyata Emily salah. Galen bisa juga tertawa sampai terbahak begitu.
"Coba lagi saladnya!" Galen kembali menyuapkan sesendok salad pada Emily.
"Nggak mau! Aku makan ayamnya saja!" Emily sudah kembali mengambil sepotong ayam katsu dan menggigitnya dalam satu gigitan besar.
"Sedikit-sedikit makannya, Em!" Galen kembali mengingatkan Emily, dan menyeka sisa-sisa ayam yang ada di sekitar bibir Emily dengan jarinya.
"Enak?" Tanya Galen selanjutnya yang hanya membuat Emily mengangguk-angguk karena kini mulutnya penuh dengan ayam.
"Enak! Terima kasih makan siang enaknya!" Ucap Emily tulus seraya menatap ke arah Galen yang kini tersenyum ke arahnya.
"Besok gantian kamu yang masak makan siangnya, ya! Kan katanya kamu juga bisa masak," Ucap Galen selanjutnya yang langsung menbuat Emily ternganga.
"Ta-tapi-"
"Cepat cuci tangan kalau sudah selesai!" Galen sudah beranjak dari hadapan Emily meninggalkan Emily yang kembali menggigit potongan ayam terakhir di kotak makan.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.