
Emily mengekori Galen masuk ke ruangan bagian marketing masih menahan sejuta dongkol di hatinya.
"Siang, Pak Galen! Jadi bagaimana?" Sapa seorang karyawan bagian marketing.
"Ini, sudah dapat! Dia yang akan ikut menjaga stand hari ini," jawab Galen seraya mengendikkan dagunya ke arah Emily.
"Lah, Pak! Saya kan bagian ilustrasi! Sejak kapan anak ilustrasi menjaga stand pameran? Kenapa nggak sewa penjaga stand saja?" Protes Emily panjang kali lebar yang langsung membuat Galen menepuk-nepuk telinganya.
"Makanya kalau meeting itu pasang kuping dan fokus! Bukan sibuk bergosip dengan Irma dan Faisal!" Omel Pak Galen galak.
"Sekarang perusahaan memakai sistem rolling untuk menjaga stand pameran. Semua bakal kebagian giliran." Sambung Pak Galen lagi masih dengan nada galaknya.
Emily hanya mencibir dan sedikit tersindir karena dirinya yang selalu sibuk ngobrol sendiri saat meeting bersama Pak Galen dan karyawan lain. Eneg juga kali, lihatin wajah Pak Gak Selera ini. Benar-benar bikin Gak Selera mau ngapa-ngapain.
"Ini, Em! Coba dulu seragamnya!" Karyawan marketing tadi menyodorkan sebuah blouse batik dan rok yang menjadi seragam untuk penjaga stand pameran pada Emily.
"Ada yang model celana aja, nggak? Kok pakai rok, Mbak?" Tanya Emily sedikit keberatan.
"Iya seragam yang cewek memang pakai rok, Em!"
"Coba saja dan tidak usah mencari-cari alasan, Emily!" Tegur pak Galen yang kembali harus membuat Emily mengerucutkan bibirnya.
Akhirnya Emily mencoba seragam batik tersebut dan ukurannya memang pas di badan Emily.
Hahahaha!
Sebuah keberuntungan memang, Emily memiliki bentuk badan yang proporsional. Jadi kalau beli baju nggak pernah ribet soal ukuran.
"Udah pas, Mbak!" Lapor Emily pada karyawan yang tadi memberinya seragam.
"Yaudah, itu rambut kamu tinggal digelung saja dan wajah kamu aku kasih make up tipis, ya! Biar nggak pucat!" Ucap karyawan itu selanjutnya yang sontak membuat Emily melebarkan matanya.
"Aku nggak sakit, kok, Mbak! Wajah aku emangnya pucat?" Protes Emily yang menolak untuk di make up. Meskipun tipis-tipis.
"Biar segar, Emily! Kamu nanti ketemu banyak orang disana! Jadi wajah kamu biar nggak seperti orang bangun tidur begitu!" Cerocos Pak Galen yang sontak membuat Emily ingin menguncir bibir manajer maho menyebalkan tersebut.
"Ayo, sini!" Karyawan bagian marketing tadi mendandani Emily sedikit dan menggelung rambut panjang Emily.
Ya, seperti itu!
__ADS_1
Ini baru mirip dengan Emily yang Galen jumpai di pesta pernikahan Rachel kala itu.
Emily dengan wajahnya yang terlihat mungil dan imut karena rambut panjangnya yang digelung rapi, dan wajahnya berhiaskan make up tipis.
Coba setiap hari Emily ke kantor dengan penampilan seperti ini!
Pasti Galen akan berhenti mengomeli gadis ini setiap pagi.
Tapi sayangnya, mengatur penampilan karyawannya bukanlah merupakan kewenangan seorang Galen. Jadi Galen hanya bisa menahan geram setiap kali melihat penampilan Emily yang berantakan tak karuan. Apalagi kalau gadis ini mengenakan kaus dan kemeja yang tak dikancingkan itu. Galen benar-benar merasa geregetan.
Flashback off
Emily masih duduk dan memperhatikan pengunjung pameran yang berlalu-lalang di hadapannya. Gadis itu meraih secarik kertas dan pena dari atas meja lalu mulai menggoreskan coretannya, membuat sebuah karikatur wajah Sean dan Rachel yang sedang hamil.
Lah!
Ngapain Emily memikirkan mereka berdua?
Tapi Emily memang sedang kepikiran dengan Rachel yang sebentar lagi akan melahirkan. Hubungan Sean dan Rachel bagaimana, ya?
Mereka sudah akur belum?
Tapi sikap Rachel sepertinya masih dingin pada Sean. Dari cara Rachel yang selalu menyentak tangan Sean terutama saat ada Emily.
Padahal Emily tidak cemburu juga andai Sean merangkul Rachel di hadapannya. Lihat Rachel bersanding dengan Sean di pelaminan saja, Emily baik-baik saja.
Wah!
Mungkin Emily harus memperbaiki karikatur Sean dan Rachel dan menggambarnya dengan sedikit serius. Lumayan buat hadiah mereka berdua.
Emily memandangi gambarnya sendiri seraya tersenyum.
"Em!" Teguran dari Galen membuat Emily mendongakkan kepalanya dan menyembunyikan gambar karikaturnya dengan cepat.
"Apa ini!" Galen merebut dengan paksa gambar Emily, meskipun Emily enggan memberikannya.
Dasar pemaksa!
"Lagi nggak ada kerjaan, Pak! Daripada ngantuk!" Jawab Emily sekenanya.
__ADS_1
Galen mengembalikan lagi gambar Emily sebelum mulai berbicara,
"Saya harus pergi sebentar, kamu nggak apa-apa berjaga disini sendiri?" Tanya Galen dengan nada sedikit khawatir.
Tumben sekali pak manajer ini khawatir pada Emily.
Karyawan bagian marketing yang tadi berjaga bersama Emily, memang sedang pamit membeli kopi dan camilan.
"Tidak lama, kok! Paling lima belas menit," sambung Pak Galen lagi.
"Iya, nggak apa-apa, Pak! Cuma jagain stand lima belas menit mah enteng!" Jawab Emily santai.
"Jagain jodoh orang dua puluh tiga tahun saja saya jabanin, Pak!" Gumam Emily lagi menyambung kalimatnya yang tadi sebelum akhirnya gadis itu sedikit terkikik.
Kalau dipikir-pikir, kemarin-kemarin Emily pacaran sama Sean itu memang cuma jagain jodohnya Rachel, ya!
Hihihi!
Untung Emily belum di apa-apain sama Sean!
"Apa barusan kamu bilang? Kenapa kamu sering tertawa dan tersenyum sendiri belakangan ini?" Cecar Galen yang kini mengerutkan kedua alisnya merasa tak paham dengan Emily.
"Nggak ada apa-apa, kok, Pak! Katanya mau pergi, Pak? Nggak jadi?" Jawab Emily sedikit meringis.
"Ini baru mau pergi! Rapikan itu gambar kamu kalau mau diberikan pada yang punya wajah!" Pungkas Galen seraya menunjuk ke arah gambar karikatur Emily.
Lah!
Bagaimana ceritanya Pak Galen maho itu bisa tahu kalau Emily berniat memberikan gambar ini sebagai hadiah buat Rachel?
Emily hanya garuk-garuk kepala dan merasa tak mengerti.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.