
Sudah sebulan terakhir Emily mengungsi ke rumah Bunda Naya dan hari ini tepat dua minggu Emily resign dari pekerjaannya sebagai ilustrator di kantor penerbitan.
Emily tak sanggup lagi naik tangga di samping kafe dan menuju ke rumah Mom Mia yang ada di lantai dua kafe, jadilah Mommy Mia dan Papi Bian menyarankan Emily untuk tinggal sementara di rumah Bunda saja sampai Emily melahirkan.
Toh jarak rumah Mom dan Bunda hanya 200 meter, jadi Mommy dan papi masih bisa mengunjungi Emily kapan saja.
Emily menarik nafas panjang sekai lagi, menahan sakitnya kontraksi yang sebenarnya sudah muncul sejak pagi. Tapi Emily hanya memberitahu Bunda dan belum memberitahu Galen. Toh kata Bunda selama sakitnya masih bisa ditahan, tak perlu buru-buru ke klinik bersalin.
"Yang!" Emily menghampiri Galen yang masih sibuk dengan laptopnya di ruang tamu rumah Bunda. Kebetulan ini hari Minggu dan Galen memang sedang libur dari pekerjaannya sebagai Pak manajer.
"Apa? Kau butuh sesuatu?" Tanya Galen seraya melepas kacamatanya, dan membantu Emily untuk duduk dengan hati-hati di sampingnya.
"Petikin kelapan muda di depan itu!" Pinta Emily seraya mengendikkan dagunya ke arah pintu depan yang terbuka.
Tidak tahu mengapa.
Tapi Emily benar-benar ingin minum kelapa muda sekarang langsung dari dalam kelapanya yang hanya dibuka bagian atasnya, lalu diberi sedotan dan payung kecil seperti di pantai-pantai itu
"Sekarang?" Tanya Galen sedikit ragu.
"Aku beliin kelapa muda yang udah siap minum aja gimana? Ada di dekat kompleks," Galen memberikan tawaran lain.
"Ish! Aku maunya kelapa yang di depan rumah itu! Nanti setelah kamu petik, kamu buka atasnya aja, trus kamu kasih sedotan dan payung kecil!" Tolak Emily seraya mengomel pada Galen.
"Nggak sekalian dikasih bunga, biar kayak di hotel-hotel itu?" Cibir Galen seraya memutar bola matanya.
"Nah, boleh itu! Kamu kasih sedotan, payung kecil, sama bunga, ya! Tapi jangan ambil bunganya Bunda, nanti bunda sedih," tutur Emily yang seketika membuat Galen ingin garuk-garuk aspal.
Kenapa juga Galen tadi memberikan ide bunga di atas kelapa pada Emily?
Sekarang Galen harus mencari bunga dimana coba?
"Cepat petik sekarang! Aku mau lihat kamu metik buah kelapa!" Perintah Emily seraya mendorong-dorong Galen agar beranjak dari duduknya.
Meskipun sambil berdecak, Galen akhirnya tetap bangit dari duduknya dan menuruti kemauan ibu hamil yang keras kepala ini!
Huh!
Semoga Galen junior cepat lahir agar penderitaan Galen dalam menghadapi ngidamnya Emily juga cepat berakhir.
Meskipun kemarin kata dokter jenis kelamin calon anak Galen dan Emily adalah perempuan, tapi Galen masih berharap kalau dokternya salah lihat atau mungkin tidak bisa membedakan itu bayi laki-laki atau perempuan.
Galen tetap yakin kalau yang ada di dalam perut semangka Emily itu adalah Galen junior dan bukan Emily junior.
Nggak kebayang kalau ternyata itu benar-benar Emily junior.
Di dalam perut saja sudah hobi salto dan gedebag gedebug kalau lagi nendang. Apa kabar nanti pas lahir?
Masa iya cewek tapi pecicilan seperti Emily?
Galen sudah selesai memasang tangga besi di bawah pohon kelapa dan Emily berdiri di teras seperti seorang mandor yang sedang mengawasi Galen yang hendak memetik kelapa.
__ADS_1
Satu per satu anak tangga Galen pijak dengan mantap. Galen memang sudah pengalaman dalam hal ini karena Emily yang sudah sering menyuruhnya memetik buah buah kelapa di halaman rumah Bunda, sampai buah kelapa yang dulunya lebat ini sekarang nyaris botak karena dipetikin terus buahnya.
"Berapa, Yang?" Tanya Galen saat sudah sampai di ujung tangga.
"Dua aja! Kasian pohonnya udah hampir botak," Jawab Emily sedikit terkekeh sebelum ibu hamil itu kembali meringis karena kontraksi yang datang kali ini lebih sakit ketimbang sebelumnya.
Galen sudah selesai memetik dua buah kelapa dan menjatuhkannya ke atas tanah. Pria itu bergegas turun saat melihat Emily yang meringis-ringis dan berpegangan pada tembok teras.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Galen mulai panik.
Emily masih meringis menahan sakit saat wanita itu merasakan ada air merembes keluar dari jalan lahirnya.
Apa?
"Sayang, kamu ngompol?" Tanya Galen yang sudah mendekat ke arah Emily dan wajahnya begitu panik.
"Itu air ketuban!" Jawab Emily bersungut.
Udah kesakitan mau lahiran, masih sempat-sempatnya wanita ini memarahi Galen.
"Cepat panggil Bunda!"
"Aduh!" Emily kembali meringis karena kontraksi yang ia rasakan semakin kuat. Wanita itu sudah bersandar di tembok dan segera meluruh duduk ke atas lantai teras, sementara Galen berlari ke dalam rumah memanggil Bunda Naya yang sedang memasak.
Tak berselang lama, Bunda Naya dan Galen sudah kembali keluar dan segera membawa Emily masuk ke mobil, lalu Galen yang masih panik segera memacu mobilnya ke klinik bersalin terdekat.
****
"Masih bukaan delapan. Tunggu bukaannya lengkap dulu, ya!" Ucap bidan yang akan membamtu persalinan Emily.
"Iya, kenapa? Sakit lagi?" Cecar Galen yang kini sudah bisa tenang dan sepertinya pria itu sudah benar-benar siap mendampingi Emily melahirkan.
"Kelapa mudanya mana?" Tanya Emily yang sontak membuat Galen melongo.
Sudah mau melahirkan masih sempat-sempatnya menanyakan kelapa muda.
"Masih di rumah! Lagian kan kamu udah mau lahiran. Masa masih mau minum kelapa muda?" Tanya Galen heran.
"Tapi aku mau minum kelapa muda sekarang yang ada anggrek dan payung kecil di atasnya!" Rengek Emily seperti bayi.
Ya ampun!
Ini ibu hamil mau lahiran juga masih saja ribet!
Galen baru saja akan keluar dari ruang bersalin, saat Mommy Mia mecegatnya di depan ruangan.
"Mau kemana kamu, Galen? Kabur?" Tuduh Mommy Mia seraya melotot ke arah Galen.
"Mau nyariin kelapa muda pakai anggrek dan payung kecil buat Emily, Mom!" Jawab Galen setelah mengusap wajahnya sendiri berulang kali.
"Udah mau lahiran masih ngidam juga?" Tanya Papi Bian sedikit menahan tawanya.
"Sebelas dua belas sama Mommy kamu waktu mau lahiran Ghea dulu. Udah bukaan delapan, malah nyari simgkong thailand," sambung Papi Bian lagi yang langsung berhadiah pukulan dari Mommy Mia.
__ADS_1
Namun pria paruh baya itu tetap saja tergelak.
Ck!
Menantu dan mertua sama saja ternyata!
"Trus kamu mau cari kemana?" Tanya Mommy Mia selanjutnya yang hanya dijawab Galen dengan endikan bahu.
Galen juga bingung mau mencari kelapa muda dengan bunga dan payung kecil dimana.
"Ck! Dasar suami nggak kreatif," komentar Papi Bian yang sudah mengeluarkan ponsel dari sakunya.
"Tinggal pesan ke hotel dan minta diantar kesini kan bisa!" Ucap Papi Bian lagi yang sudah memesankan kelapa muda seperti kemauan Emily pada sebuah hotel di dekat klinik bersalin.
"Papi memang yang terbaik!" Galen bersorak senang dan memeluk papinya sekilas sebelum kembali masuk ke dalam ruang bersalin untuk menemani Emily yang kini malah berteriak-teriak.
Kenapa lagi, Emily?
Kesurupan?
"Yang, jangan teriak-teriak!" Nasehat Galen yang tangannya langsung dusambar oleh Emily dan digenggam dengan sangat kuat, hingga mungkin tangan Galen akan patah tak lama lagi.
Ini Emily habis kesurupan hulk atau bagaimana?
Genggaman tangannya kuat sekali.
"Sakit, Yang!" Emily mulai mengomeli Galen dan tangannya yang bebas memukul-mukul Galen yang ada di sebelahnya.
Terang saja hal itu membuat Galen benar-benar kewalahan.
"Iya, kamu yang sabar!" Galen sudah bingung mau menenangkan Emily bagaimana karrna istrinya malah semakin barbar memukulinya.
Ini sebenarnya Emily mau lahiran atau mau mengajak Galen bergulat?
"Gampang aja kamu bilang sabar! Ini sakit sekali!" Emily tak berhenti mengomel dan memukuli Galen hingga akhirnya pembukaan Emily dinyatakan lengkap dan para bidan, dokter, serta perawat yang akan membantu persalinan Emily sydah bersiap-siap.
Emily masih tak melepaskan genggaman tangan Galen saat wanita itu mulai mengejan.
Galen bahkan tak bisa lagi merasakan tangannya saking kuatnya genggaman Emily. Tangan Galen sepertinya sudah mati rasa.
Emily terus mengejan dan mendorong seperti arahan dari dokter, dan pada akhurnya suara tangisan bayi langsung terdengar di ruang bersalin tersebut bersamaan dengan kalimat syukur yang meluncur dari bibir Galen.
Akhirnya sekarang Galen sudah sah menjadi seorang Papa!
.
.
.
Tamat 😋😋
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.