
"Makasih, Pak! Udah nemenin lembur dan diantar sampai rumah juga," ucap Emily seraya melepaskan sabuk pengamannya.
Mobil Galen sudah sampai di depan rumah Emily dan jarum jam di arloji Emily sudah menunjukkan hampir pukul delapan malam.
Tapi masih bagus tadi Galen menemani Emily di kantor. Misalnya Emily harus lembur sendirian kan horor.
"Galen!" Ucap Galen yang sepertinya sudah merasa risih dipanggil Pak oleh Emily.
"Pak Galen!" Emily tetap keras kepala.
"Galen Galen Galen!"
"Pak Galen, Pak Galen, Pak Galen!"
"Trus bablas jadi Pak Gak Selera, ya?" Sahut Galen yang sontak membuat Emily tergelak.
"Bukan saya yang ngomong, lho, Pak!"
"Galen! Apa susahnya memanggil Galen gitu aja! Nggak usah pakai embel-embel Pak! Aku bukan bapakmu!" Cerocos Galen sedikit emosi.
"Oh, saya nggak mau kuwalat, Pak! Masa iya manggil orang tua nggak pakai embel-embel," ujar Emily mencari alasan.
"Memangnya kau pikir umurku berapa? Umur kita itu sama! Jadi panggil saja Galen mulai sekarang!" Tegas Galen seraya menatap tajam pada Emily.
"Pak Galen!" Jawab Emily yang sepertinya senang sekali membuat pria di hadapannya tersebut menjadi emosi.
Galen yang merasa geregetan mendekatkan wajahnya ke arah Emily yang kini beringsut mundur tapi menabrak pintu mobil.
Etdah!
Ini manajer maho mau ngapain?
"Panggil Galen mulai detik ini!" Perintah Galen yang wajahnya berjarak sangat dekat dengan Emily.
"I-iya, Galen!" Ucap Emily akhirnya sedikit terbata.
"Gadis pintar!" Puji Galen seraya mengacak rambut Emily yang sesaat membuat Emily mengerjap-ngerjap tak percaya.
Manajer maho menyebalkan ini tadi tidak mencium Emily, kan?
Hanya mengacak puncak kepala Emily, kan?
Trus kenapa sekarang jantung Emily malah meloncat-loncat nggak jelas begini?
__ADS_1
"Mau turun atau mau ikut aku pulang?" Teguran Galen menyentak lamunan Emily.
"Mau turunlah, Pak! Belum jadi istrinya Bapak masa iya mau ikut pulang!"
"Eh!" Emily menutup bibir sialannya dengan telapak tangan karena keceplosan.
Siapa memang yang mau menjadi istri Galendra menyebalkan ini?
"Udah siap kawin memang? Kok ngebet mau jadi istri?" Goda Galen saat Emily membuka pintu mobil.
"Nikah, Pak! Nikah! Anak gadis orang main dikawin aja! Nikah dulu baru kawin!" Jawab Emily bersungut-sungut.
"Yaudah, besok aku nikahin kamu, ya!" Celetuk Galen tiba-tiba yang langsung membuat Emily mematung.
"Candaan bapak nggak lucu! Udah ah, saya permisi, Pak! Selamat malam! Hati-hati pulangnya!" Pesan Emily sebelum menutup kembali pintu mobil Galen dan masuk ke halaman rumahnya.
Galen masih mengamati Emily hingga gadis itu masuk ke teras dan menghilang ke dalam rumahnya.
Galen hanya mengulas senyum tipis, sebelum melajukan mobil ke rumahnya yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah Emily.
****
"Baru pulang, Em?" Sapa Bunda Naya saat Emily baru saja masuk ke rumah.
"Mandi dulu sana! Jangan jorok, Emily!" Nasehat Bunda Naya pada sang putri.
"Bentar! Emily tarik nafas panjang dulu, Bund!" Emily menarik nafas panjang berulang kali demi menormalkan irama jantungnya yang berdetak cepat karena ajakan nikah dari Pak Galen menyebalkan tadi.
Ish!
Cuma candaan juga, ngapain Emily harus memikirkannya berlebihan begitu?
"Oh, ya! Besok kamu ikut datang ke acara openingnya Kafe Analogy, ya! Tadi Bu Mia minta Bunda ngajak kamu. Bunda juga udah siapin gaun buat kamu pakai nanti," cerocos Bunda panjang kali lebar yang langsung membuat Emily berdecak.
"Pakai celana jeans saja boleh, nggak, Bund? Ribet pakai gaun!" Usul Emily yang langsung membuat Bunda Naya mencubit gemas hidung Emily.
"Kamu itu, ya! Sukanya nawar-nawar begitu! Belajar pakai gaun, biar feminim sedikit! Kamu itu perempuan, Emily!" Ujar Bunda Naya merasa geregetan.
"Yang bilang Emily cowok siapa memangnya?" Timpal Emily yang malah berkelakar.
"Udah! Pokoknya kamu pakai gaunnya besok, trus ikut Ayah dan Bunda ke acara di rumah Bu Mia!" Perintah Bunda Naya sekali lagi.
"Iya, iya!" Emily menyandarkan kepalanya di lengan sofa dan merogoh ponselnya dari dalam tas.
__ADS_1
"Mandi dulu, Emily! Kenapa malah mau baring-baring di sini?" Tegur Bunda Naya yang memaksa Emily untuk kembali bangun.
"Emily ngantuk, Bund! Mandinya besok aja boleh, nggak? Sekalian berangkat ke kantor," tawar Emily bermalas-malasan.
"Jorok! Anak perawan kok kayak gitu! Nanti kalau jodoh kamu kabur bagaimana?" Cecar bunda Naya yang sudah memaksa Emily untuk bangkit dari sofa dan menyeret putrinya itu ke dalam kamar untuk mandi.
"Kabur ya tinggal dikejar, Bund! Tanya google maps kalau perlu, biar cepet ketemu!" Jawab Emily cengengesan.
"Udah mandi sana! Keramas, luluran, biar wangi!" Bunda Naya menutup pintu kamar Emily setelah anak gadisnya tersebut masuk ke dalam kamar.
"Yee! Bunda lama-lama kayak Pak Galen nyebelin itu!" Gumam Emily seraya melepas bajunya dan melemparkannya secara serampangan ke setiap sudut kamar, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Anjuran sang Bunda agar Emily luluran, rupanya diabaikan begitu saja oleh Emily dan gadis itu memilih mandi bebek saja karena hari sudah malam dan Emily sudah ngantuk.
Emily baru selesai memakai piyamanya saat bunda masuk ke kamar dan mendapati kamar sang putri yang seperti kapal pecah.
"Ya ampun, Emily! Berapa kali bunda harus ngingetin kamu!"
"Kalau lepas baju itu di dalam kamar mandi sekalian. Baju taruh di keranjang baju kotor yang ada di dalam kamar mandi! Dimasukkan yang rapi!"
"Ini kamar anak perawan kok bentuknya kayak kandang ayam! Baju, celana, kaos kaki, terlempar dimana-mana!" Bunda Naya mengomel panjang sembari memunguti satu persatu baju Emily yang tersebar di seantero kamar. Sementara Emily hanya cuek dan segera menyumpal telinganya dengan earphone.
Bunda Naya mengambil pengharum ruangan dan menyemprot setiap sudut kamar Emily yang baunya nggak karuan tersebut.
"Uhuuk! Uhuuuk!"
"Bunda! Emily baru tidur kenapa disemprot sembarangan, sih!" Protes Emily yang kini merengut.
"Biar virus kemalasan dalam dirimu itu hilang! Kamu anak gadis kok joroknya nggak karuan begitu! Dulu Bunda pas seusia kamu itu, kost-an Bunda rapi, bersih, dan wangi!" Cerocos Bunda Naya sekali lagi yang sepertinya sangat kesal pada Emily.
"Kan ada Bunda! Kenapa Emily harus repot-repot rapiin kamar?" Jawab Emily enteng.
"Benar-benar kamu, ya! Selalu menjawab kalau dibilangin!" Omel Bunda Naya lagi yang sudah keluar dari kamar Emily.
Emily hanya mengendikkan bahu dan lanjut memainkan ponselnya. Saatnya mengistirahatkan otak.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.