Jodoh Emily

Jodoh Emily
ADA APA?


__ADS_3

Emily hanya berdecak dan menguap sudah rasa penasarannya saat tahu siapa tamu yang dimaksud oleh Ghea tadi. Ternyata mantan pacar mahonya Galen.


"Pengantin baru auranya beda ternyata!" Goda Alvin pada Emily yang hanya mendengus dan segera duduk di samping Galen.


"Ini siapa?" Tanya Emily menunjuk ke arah Tiara yang duduk disamoing Alvin.


"Pacarnya Alvin. Udah nggak maho dia ternyata. Pacarnya cewek," bukan Alvin melainkan Galen yang menjawab pertanyaan Emily, dan Tiara serta Emily langsung tergelak bersamaan.


Berbeda dengan Alvin yang kini merengut.


"Aku nggak maho sejak dulu. Bang Galen itu yang maho! Aku kan hanya menyesuaikan," cerocos Alvin membela diri.


"Sembarangan!" Galen menoyor kepala Alvin dan sedikit kesal.


"Orang nggak maho kamu tuduh maho! Kalau aku maho, nggak mungkin aku menikah dengan Emily!" Kilah Galen membela diri.


"Buat nutupin status mungkin," cicit Alvin yang masih belum berhenti mengejek Galen.


Dan Galen kembali melayangkan sebuah toyoran di kepala Alvin.


"Dah, pergi sana! Kesini cuma mau ngejek," usir Galen pada Alvin.


"Kejam amat, Bang! Baru datang udah diusir," Alvin pura-pura memasang wajah memelas. Sementara Emily dan Tiara sudah terlibat dalam obrolan sesama wanita mereka. Entah sedang membahas apa.


"Ngeselin kamu!" Decak Galen dengan nada malas.


Alvin hanya terkekeh dan pandangannya tertuju ke arah tangga saat pemuda itu kembali mendapati Ghea yang sudah turun lagi dari tangga.


"Ghe, mau kemana?" Seru Emily yang rupanya juga melihat Ghea turun dari tangga.


"Ambil buku! Ketinggalan di mobil," jawab Ghea yang sudah dengan cepat berlalu menuju ke halaman depan kafe yang juga berfungsi sebagai tempat parkir.


"Ghea udah punya pacar, Bang?" Tanya Alvin tiba-tiba pada Galen.


"Belum! Ghea masih fokus kuliah, jadi nggak boleh pacaran dulu!" Jawab Galen menatap tegas pada Alvin.


"Yaudah biasa aja! Alvin kan cuma nanya," sahut Alvin seraya memutar bola mata.


"Kamu udah punya Tiara masih tanya-tanya Ghea kenapa? Mau selingkuh?" Tuduh Emily yang juga tak sengaja mendengar pertanyaan Alvin barusan.


"Cuma nanya, Kak! Ghea kan teman SMA Alvin. Boleh dong, Alvin kepo-kepo dikit sama Ghea," sangkal Alvin memaparkan sebuah alasan.


Tiara membisikkan sesuatu pada Alvin saat pemuda itu merangkulkan lengannya di pundak Tiara.


"Baiklah!" Alvin manggut-manggut paham.


"Ada apa?" Tanya Galen seraya mengangkat sebelah alisnya.


"Tiara ngajakin pulang, Bang!" Jawab Alvin yang sudah bangkit berdiri diikuti oleh Tiara.


"Kok buru-buru?" Tanya Emily berbasa-basi.


"Udah diusir juga tadi sama Bang Galen. Jadi kami tahu diri, Kak!" Sahut Alvin asal.

__ADS_1


Galen hanya berdecak dan Emily terkikik kecil.


"Ada urusan di tempat lain, Kak. Jadi harus pulang sekarang," jelas Tiara akhirnya pada Emily.


Alvin dan Tiara segera berpamitan pada Galen dan Emily, lalu pasangan muda-mudi itu segera menuju ke tempat parkir, saat mereka secara tak sengaja kembali berpapasan dengan Ghea yang sudah kembali seraya membawa setumpuk buku.


"Ghe," sapa Alvin namun Ghea hanya acuh dan segera berlalu dari hadapan Alvin serta Tiara. Raut bersalah langsung tampak di wajah Alvin meskipun pemuda itu langsung menepisnya dengan cepat.


"Ayo, Vin! Kita pulang!" Ajak Tiara yang langsung membuat Alvin mrngangguk dan mereka berdua segera meninggalkan kafe Analogy menaiki motor Alvin.


****


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, saat Galen masuk ke kamar menyusul Emily yang memang sudah memakai piyamanya dan bersiap tidur sejak tadi.


"Belum tidur, Sayang?" Tanya Galen sebelum pria itu menghilang ke dalam kamar mandi untuk melakukan ritual sebelum tidurnya.


"Nungguin kamu juga. Nanti ngambek kalau aku tidur duluan," jawab Emily seraya mematikan laptop Galen dan menyimpannya ke atas nakas.


Galen sudah keluar dari kamar mandi dan berganti kaus serta celana pendek rumahan. Pria itu segera naik ke atas tempat tidur dan merangkul Emily.


"Udah selesai memang?" Tanya Galen seraya meraba pangkal paha Emily, dan saat kembali menemukan sesuatu yang mengganjal disaha, Galen berdecak berulang-ulang. Sedangkan Emily hanya terkikik tanpa dosa.


"Baru tiga hari, Yang! Biasanya juga lima sampai enam hari," jelas Emily yang masih terkikik.


"Lama sekali liburnya. Kapan mau jadi Galen junior kalau libur terus begini," keluh Galen seraya membenarkan posisi bantalnya dan pria itu segera berbaring lalu menarik Emily ke dalam dekapannya.


"Nanti waktunya jadi juga jadi, Yang," jawab Emily santai.


"Hmmmm. Tidur, gih!" Titah Galen yang semakin mengeratkan dekapannya pada Emily.


"Kamu yakin nggak mau resign sekarang?" Tanya Galen memastikan. Pria itu kini sudah ganti berbaring miring dan menatap pada Emily.


"Kan kemarin kamu bilangnya aku masih boleh bekerja," cebik Emily yang bibirnya sudah merengut.


"Iya, masih boleh. Tapi nanti kalau udah hamil kamu resign, ya!" Bujuk Galen pada sang istri.


"Nanti kalau aku bosan dirumah bagaimana? Aku kerja sampai lahiran aja gimana? Nanti habis lahiran baru resign. Kan kerjanya sambil duduk juga pas di kantor," usul Emily sedikit merayu Galen.


"Kalau kecapekan bagaimana?" Tanya Galen khawatir.


"Nggak bakal capek! Kan nanti ada kamu yang anterin kerjaan aku," tangan Emily sudah terulur untuk mengusap wajah Galen.


"Ck! Maunya!" Cibir Galen yang kembali mendekap Emily.


"Daripada aku bosan di rumah trus tembok kamar kamu yang aku coret-coret," Emily melempar ancaman pada Galen.


"Malah bagus, dong! Kamu gambar itu karikatur kita berdua yang gede. Nanti aku beliin cat buat mewarnainya," ujar Galen yang malah menanggapi santai ancaman Emily.


"Capek, Yang! Lebih enak gambar di iMac," gumam Emily seraya menguap.


Galen menggenggam erat tangan Emily dan mengecupnya.


"Dapat bakat menggambar dari siapa? Bunda? Atau Ayah?" Tanya Galen kepo.

__ADS_1


"Nggak dua-duanya," jawab Emily kembali terkikik.


"Trus?"


"Ya, nggak tahu. Kata Bunda sejak kecil kan aku hobi coret-coret tembok. Trus diarahin sama Bunda buat coret-coret di atas kertas. Pas SD gambaran aku katanya udah di atas rata-rata anak SD jadi sama Bunda diikutkan kelas menggambar. Ya karena hobi, jadi aku enjoy aja pas Bunda ngarahin buat jadi ilustrator," cerita Emily yang langsung membuat Galen manggut-manggut.


"Kamu sendiri? Pinter masak tapi kok nggak jadi koki aja kayak Papi dan malah jadi editor. Nggak nyambung banget," komentar Emily yang langsung membuat Galen tergelak.


"Nggak ketemu kamu nanti kalau aku nggak jadi editor dan memilih jadi koki," Galen mencolek gemas hidung Emily.


"Lagian, aku itu nggak pinter-pinter banget kok masak di dapur. Dulu belajar masak juga karena kepepet, kost di luar kota dan jauh dari Mommy dan Papi. Jadi ya harus bisa masak sendiri, biar nggak kebanyakan jajan," tutur Galen yang mulai bercerita pada Emily.


"Kost dimana memangnya dulu?" Tanya Emily kepo.


"Di kota ini. Sendirian. Mommy, Papi sama Ghea di Bali," jelas Galen lagi.


"Kan ada tante Eve dan Om Steve. Kenapa nggak tinggal sama mereka aja?" Tanya Emily penasaran.


"Nggak ah. Nggak enak ngrepotin. Jauh juga dari kampus," ujar Galen memaparkan alasannya.


"Jadi sebelumnya kamu tinggal di Bali?" Tanya Emily lagi masih bingung.


"Iya, setelah Ghea lahir kami sekeluarga pindah ke Bali, karena Papi mengurus cabang kafe yang disana. Trus aku lulus SMA kembali kesini sendiri buat kuliah. Eh, pas Ghea lulus SMA Papi sama Mommy malah ikut pindah kesini juga dan buka cabang baru lagi disini."


"Keren, ya! Punya berapa cabang kafe sekarang?" Tanya Emily kepo.


"Cuma yang disini dan yang di Bali," jawab Galen seraya menarik selimut dan merapatkannya ke tubuh Emily dan tubuhnya sendiri.


"Tidur! udah malam," titah Galen seraya mengecup bibir Emily.


"Udah, Yang! Nanti kamu kebablasan, aku lagi ada tamu juga," ucap Emily di sela-sela kecupannya bersama Galen. Padahal Emily juga tam mau berhenti sekarang dan terus membalas kecupan bibir Galen.


"Kan ada tangan sama bibir kamu, kalau pengen," jawab Galen santai.


"Apa sih, maksudnya? Emang bisa tuntas pakai tangan dan bibir aja?" Tanya Emily yang mendadak jadi penasaran.


"Bisa kayaknya. Mau coba?" Galen mengerling nakal pada Emily.


"Nggak ah! Nanti aku gigit kamu mencak-mencak," jawab Emily seraya terkekeh.


"Ya jangan digigit lah! Barbar kamu!" Galen berdecak dan kembali mencolek hidung Emily.


"Udah, tidur!" Galen kembali mempererat dekapannya pada Emily yang sudah mulai memejamkan matanya.


Tak butuh waktu lama, Galen dan Emily sudah sama-sama terlelap.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.


__ADS_2