
"Aku pria normal dan bukan Gay! Berapa kali aku harus mengatakannya kepadamu, Alvin!" Galen berteriak-teriak di telepon pada Alvin yang terus saja mengganggunya beberapa hari terakhir.
"Tak perlu menyangkal! Aku tak keberatan menjadi pasanganmu, karena kau sudah menyelamatkan nyawaku tempo hari," jawab Alvin santai.
"Kau seorang gay?" Tanya Galen tak percaya.
"Bukan! Aku pria normal sebenarnya. Tapi jika kau butuh pasangan, aku tak keberatan menjadi pasanganmu. Aku sudah belajar banyak hal tentang apa-apa yang harus kulakukan jika menjadi pasanganmu. Anggap saja aku sedang membalas budi atas pertolonganmu tempo hari."
"Kau gila! Aku pria normal dan hanya tertarik pada wanita!" Tegas Galen sekali lagi dengan nada bicaranya yang semakin galak.
Galen masih berada di ruang kerjanya di kantor penerbitan sekarang. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, dan kantor sudah sepi tentu saja. Jadi rasaya tidak masalah jika Galen berteriak-teriak seperti orang gila begini.
Beda cerita kalau Galen pulang ke rumah dan berteriak-teriak di kamarnya. Mom akan langsung curiga dan mencecar Galen dengan pertanyaan dari Sabang sampai Merauke.
Mom-nya Galen itu memang lebay sekali!
"Jadi, gadis ilustrator yang tadi bersamamu. Apa dia pacarmu?" Tanya Alvin kepo.
"Ya! Kenapa?" Jawab Galen ketus dan berdusta tentu saja.
Emily pacar Galen?
Mustahil!
Gadis itu begitu berantakan dan ceroboh!
Sama sekali bukan selera seorang Galendra Biantara.
"Sikapmu kepadanya biasa saja tak ada manis-manisnya! Kalau kalian berpacaran, bukankah seharusnya kau bersikap manis pada gadis itu?"
"Aku tak perlu menunjukkan sikap manisku pada Emily di hadapan umum! Aku bukan pria yang lebay!" Jawab Galen sok diplomatis.
"Tunjukkan saja kepadaku dan tak perlu pada khalayak ramai!" Alvin menantang Galen.
"Kau siapa memangnya?" Sergah Galen emosi.
"Aku tunggu pembuktianmu, Galen!"
"Pembuktian apa maksudmu? Dasar gila!" Galen berteriak-teriak pada ponselnya sendiri.
Alvin sudah mengakhiri panggilannya pada Galen.
Sial!
Kenapa Galen harus bertemu pemuda menyebalkan sejenis Alvin?
Semuanya karena malam sialan itu!
Flashback beberapa hari sebelumnya.
Galen yang baru pulang dari sebuah acara, menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah club malam, karena pria itu melihat bapak tua yang hendak menyeberang jalan dan sedikit kesusahan. Mungkin karena lalu lintas Sabtu malam yang cukup padat dan ramai, membuat bapak tua tersebut kesulitan menyeberang. Seharusnya memang dibangun jembatan penyeberangan di kawasan ini!
Galen segera turun dari mobilnya dan membantu bapak tua tersebut. Galen juga membawakan plastik berisi barang dagangan bapak tua itu yang terlihat masih penuh. Galen mengintip sebentar ke dalam kantong plastik warna hitam tersebut.
__ADS_1
Boneka dan mainan anak perempuan.
Tapi Galen tidak punya keponakan perempuan.
Keponakan Galen saja belum lahir malahan. Hahahaha.
Ah, tapi kasihan juga jika bapak tua ini pulang dengan membawa barang dagangan yang masih utuh. Mungkin saja dia tak punya beras atau belum makan sejak pagi.
"Pak, ini dijual?" Tanya Galen ada bapak tua tersebut.
"Iya, Nak! Tapi belum laku sejak pagi," cerita bapak tua itu sedih.
Rasa iba langsung menyeruak di hati seorang Galen.
"Yaudah, saya borong saja semuanya, Pak! Buat adik saya," Galen mengeluarkan dompet dari dalam sakunya dan mengangsurkan semua uang yang ada di dompetnya pada bapak tua tersebut. Untung Galen tadi sudah pergi ke ATM untuk mengambil uang cash.
"Terlalu banyak, Nak!" Bapak itu mearsa sungkan.
"Rezeki untuk Bapak! Jangan di tolak, ya!" Ucap Galen memaksa.
"Rumah Bapak dimana? Saya antar pulang sekalian," tawar Galen pada Bapak tua yang mungkin seusia dengan Opa Andri.
Ah, Galen jadi rindu pada sang Opa yang sudah berpulang setahun yang lalu.
"Tidak usah, Nak! Sudah dekat kok! Tinggal masuk gang!" Bapak tua itu menunjuk ke arah Gang kecil sekitar sepuluh meter dari tempat Galen berdiri.
Oh!
"Terima kasih banyak ya, Nak! Semoga lancar rezekinya," ucap Bapak tua itu memberikan doa terbaik untuk Galen.
Setelah bapak tua tadi tak terlihat lagi, Galen segera memasukkan boneka dan mainan yang tadi ia beli ke dalam mobil. Tapi plastik besar itu terlihat kotor, jadilah Galen menghamburkan isinya ke jok belakang mobilnya dan membuang bungkusnya ke tempat sampah.
Mungkin besok Galen akan menyumbangkan barang-barang ini ke panti asuhan saja. Ghea juga pasti tidak mau jika diberi mainan bocah begini. Bisa mencak-mencak adik perempuan Galen itu.
Galen lanjut masuk ke dalam mobil dan hendak lergi. Namun lagi-lagi, sebuah pemandangan yang ada di depan matanya, mengetuk hati nurani Galen dan membuat pria dua puluh empat tahun itu kembali keluar dari mobilnya.
Seorang pemuda yang mungkin seusia dengan Ghea dan terlihat mabuk, sedang kewalahan dikeroyok oleh gerombolan pemuda berpenampilan sangar.
Satu lawan lima!
Jelas tak adil!
"Hey! Hentikan!" Galen memilih untuk menempuh jalur halus saja, meskipun sebenarnya Galen juga punya ilmu beladiri yang mumpuni. Tapi Galen benar-benar sedang malas baku hantam sekarang.
"Kau siapa?" Tanya salah seorang dari mereka yang mengeroyok pemuda tanggung tadi.
"Aku saudaranya. Dan pemuda itu sedikit gila!" Galen membentuk garis miring di dahunya menggunakan jari telunjuk.
"Jadi apapun yang dia lakukan, tolong kalian maklumi saja! Dan jika dia sudah menghancurkan sesuatu, biar aku yang menggantinya," tutur Galen sesantai mungkin.
"Dia sudah membuat kekacauan dan mengganggu para pelanggan! Jadi kami akan memberinya pelajaran,"
Bugh!
__ADS_1
Seorang pria yang berpenampilan sangar tadi melayangkan tinju ke wajah pemuda tanggung yang sedikit sempoyongan tersebut.
"Hei, Bung! Biarkan aku membawanya pulang!" Galen menyibak para pria yang berkerumun tadi dan sedikit menyeret pemuda yang entah siapa itu untuk masuk ke mobilnya.
"Jangan ikut campur!" Gertak salah satu dari mereka.
"Maaf! Aku harus pergi sekarang!" Galen masuk ke mobilnya dengan cepat dan segera tancap gas. Satu orang berhasil melempar batu dan mengenai kaca belakang mobil Galen hingga kaca itu retak.
Brengsek!
Sialan!
Mungkin Galen harus berhenti menjadi orang baik mulai detik ini!
"Terima kasih-" ucap pemuda mabuk yang sepertinya hanya setengah mabuk tersebut. Dia masih bisa memasang sabuk pengaman setelah matanya melirik sebentar ke arah jok belakang mobil Galen yang penuh dengan dengan boneka dan barbie mainan.
"Merepotkan saja!" Gerutu Galen sebal.
"Dimana rumahmu-"
"Alvin!" Jawab pemuda itu lirih.
"Dimana rumahmu, Alvin?" Galen mengulangi pertanyaannya.
"Boleh aku menumpang di tempatmu saja malam ini?" Alvin kembali melirik ke tumpukan boneka dan barbie di jok belakang mobil Galen.
"Tidak!" jawab Galen tegas dan lantang.
"Katakan dimana alamatmu! Atau aku akan menurunkanmu di sini!" Ancam Galen mendelik sejenak pada Alvin sebelum kembali fokus ke jalan di depannya.
Alvin menyebutkan sebuah alamat. Galen segera memacu mobilnya ke alamat yang disebutkan Alvin dan ternyata itu adalah sebuah kost-an.
Masih anak kost ternyata!
Sok-sokan masuk club malam dan membuat kerusuhan.
Kenapa juga Galen tadi harus menolong pemuda menyebalkan ini?
Flashback off
Dan sejak kejadian malam itu, Alvin jadi sering menemui Galen ke kantornya. Entah tahu darimana pemuda itu tempat kerja Galen. Sepertinya dari stiker kecil yang tersemat di kaca mobil Galen.
Mungkin Alvin mengira kalau Galen adalah pria bengkok karena boneka-boneka yang berjejalan di mobilnya malam itu.
Ah entahlah!
Pemuda itu benar-benar menyebalkan!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.