
Sean menghampiri Rachel yang masih duduk bersama Emily dan mengobrol banyak hal.
"Mau pulang jam berapa?" Tanya Sean yang kini ikut duduk di samping Rachel dan menggenggam tangan istrinya tersebut.
Sebagian besar tamu undangan sudah pamit pulang karena memang acara sudah selesai. Hanya ada beberapa tamu yang masih tinggal dan saling mengobrol.
"Mungkin sebentar lagi. Emily masih mau cerita banyak ini," jawab Rachel sedikit terkekeh.
"Enggak, kok! Aku juga udah mau pulang ini. Kalian pulang aja kalau mau pulang. Aku nggak mau mengganggu kemesraan pengantin baru," jawab Emily yang langsung bangkit dari duduknya.
"Mau cari Ayah sama Bunda dulu, trus pulang," pamit Emily pada Sean dan Rachel.
"Nggak nginep aja, Em?" Goda Sean sedikit terkekeh.
"Apa sih! Belum jadi istrinya Galen masa udah main nginep aja!" Sahut Emily bersungut-sungut.
"Ciyee panggilnya udah bukan Pak lagi," Rachel ikut-ikutan menggoda Emily.
"Bentar lagi udah jadi Sayang atau Honey itu!" Sambung Rachel lagi yang langsung membuat wajah Emily memerah.
"Kan emang nggak lagi di kantor, ngapain panggil Pak? Besok kalau di kantor juga panggil Pak Galen lagi," kilah Emily sedikit salah tingkah.
"Udah, ah! Mau pulang!" Emily akhirnya berlalu meninggalkan Sean dan Rachel yang masih duduk berdampingan.
Rachel menyuapkan potongan kue di piringnya ke dalm mulut, setelah Emily tak terlihat lagi.
"Sini aku suapi!" Sean meraih piring kue dari atas meja dan mulai menyuapkan kue tersebut ke mulut Rachel pelan-pelan.
"Kau sudah makan tadi?" Tanya Rachel sembari mengunyah kue di mulutnya.
"Sudah. Tadi makan bersama Galen dan yang lain," jawab Sean yang kini tangannya terulur dan mengusap perut Rachel.
"Udah nggak sabar pengen cepat-cepat menggendongnya," ucap Sean lagi yang masih mengusap perut Rachel sambil tersenyum.
"Sebentar lagi, Papa! Sabar, ya!" Jawab Rachel menirukan suara anak kecil yang sontak membuat Sean tergelak.
"Gemes, deh!" Sean mencubit pipi Rachel yang kini terlihat chubby. Efek kehamilan dan berat badan Rachel yanb naik pesat belakangan ini membuat pipi Rachel jadi chubby dan menggemaskan untuk dicubit.
"Pulang, yuk! Aku mau cubitin yang lain," bisik Sean pada Rachel seraya tersenyum nakal.
"Mesum!" Rachel mencubit perut Sean yang belakangan ini suka sekali menggodanya.
"Biarin! Kan aku suami kamu!" Jawab Sean seraya mendekap Rachel.
"Yaudah, ayo! Aku juga udah ngantuk. Mau tidur," jawab Rachel seraya bangkit dari duduknya. Sean membantu istrinya tersebut untuk bangkit berdiri.
Setelah sedikit berbasa-basi dan berpamitan pada keluarga Biantara, Sean dan Rachel akhirnya segera pulang menuju ke kediaman Arthur.
****
"Nanti jangan tidur dulu, ya!" Ucap Sean seraya meraih tangan Rachel yang duduk di sebelahnya, dan menggenggamnya erat. Satu tangan Sean yang lainnya kini memegang kemudi.
"Fokus pada jalanan di depanmu, Sean! Kau sedang membawa ibu hamil!" Rachel mengingatkan Sean.
"Iya, ini juga fokus, kok!" Kilah Sean yang matanya memang tetap fokus pada jalan di depannya. Namun genggaman tangan Sean pada Rachel masih saja erat, seakan Sean takut jika istrinya itu akan kabur atau menghilang mendadak dari mobilnya.
Mobil Sean sudah memasuki halaman rumah keluarga Arthur sekarang. Sean memarkirkan mobilnya dengan cepat di garasi, dan bergegas menyusul Rachel yang sudah turun terlebih dahulu dan berjalan pelan masuk ke dalam teras.
"Baru pulang, Rachel?" Sapa Abang Kyle yang masih duduk di teras dan sepertinya habis melamun.
Abang ipar Rachel itu memang kerap melamun belakangan ini, setelah sang kekasih, Valeria hilang dan belum ditemukan hingga kini.
__ADS_1
"Iya, Bang! Rachel masuk duluan, Bang!" Jawab Rachel yang masih sedikit canggung.
Abang Kyle hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Sementara Rachel langsung masuk ke dalam rumah.
Sean yang baru tiba di teras ikut-ikutan menyapa sang abang, namun Kyle tidak menjawab sapaan Sean dan hanya bersikap acuh.
Ya, begitulah!
Sean sudah move on dari Emily.
Emily juga sudah move on dari Sean.
Namun sepertinya Abang Kyle yang belum move on.
Padahal Emily juga sudah bertunangan dengan Galen dan akan menikah tak lama lagi. Tapi sikap Abang Kyle masih saja ketus pada Sean.
Eh, tapi ngomong-ngomong apa Abang Kyle tahu kalau Emily sudah bertunangan dan akan menikah tak lama lagi?
Sepertinya Abang Sean tersebut jarang ke rumah Emily belakangan ini.
Sean sudah masuk ke kamarnya dan langsung menghampiri Rachel yang seperti kesulitan membuka gaun yang istrinya kenakan tersebut.
"Biar kubantu!" Ucap Sean lembut yang langsung membantu Rachel menurunkan ritsleting gaunnya.
Sean mengecup pundak Rachel cukup lama sambil tangannya bergerilya menangkup dada Rachel yang kini terasa penuh. Meskipun masih tertutupi oleh bra, namun Sean bersemangat sekali menangkup dan meremas bagian tersebut hingga membuat Rachel mendesah kegelian.
"Aku mau ke kamar mandi sebentar, Sean!" Ucap Rachel sedikit menahan tangan Sean yang mulai merambat kemana-mana.
Tubuh Rachel juga hanya tertutupi sepasang baju dalam sekarang.
"Mau mandi? Atau hanya mencuci kaki?" Tanya Sean sddikit menggoda.
"Tapi kalau yang ini?" Sean menyusupkan tangannya ke dalam baju dalam Rachel.
"Dasar nakal!" Rachel memukul kecil tangan Sean yang malah membuat suaminya tersebut tergelak.
"Aku tunggu di sana, oke! Mumpung masih bisa," bisik Sean seraya menunjuk ke arah tempat tidur.
Rachel tak menjawab dan segera berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sebentar sebelum tidur sekaligus memakai baju tidur.
Sean sudah berbaring dan memakai selimut, saat Rachel keluar dari dalam kamar mandi.
"Kenapa memakai baju lagi, Sayang?" Protes Sean yang mendapati Rachel yang sudah memakai baju tidurnya.
"Aku ngantuk dan mau tidur." Ucap Rachel seraya menarik selimut saat wanita hamil itu mendapati Sean yang ternyata berbaring tanpa mengenakan sehelai bajupun.
Ya ampun!
"Sean!"
"Aku punya kebutuhan, Sayang!" Sean mendekat ke arah Rachel dan mulai menggoda istrinya tersebut.
"HPL-nya sudah dekat. Kalau bayinya tiba-tiba mbrojol bagaimana?" Rachel menakut-nakuti Sean.
"Malah bagus! Aku akan bisa langsung menggendongnya nanti," jawab Sean asal.
"Kau gila, Sean!"
"Ya, aku tergila-gila padamu!" Sean mengecup bibir Rachel.
"Satu kali saja, ya!" Bujuk Sean memohon.
__ADS_1
Rachel menggeleng tegas.
"Satu kali saja, Sayang! Lalu kita bisa tidur setelahnya," rayu Sean lagi yang kembali mengecup bibir Rachel.
Benar-benar membuat Rachel tak tahan untuk tak membalasnya.
"Lihat! Kau bergairah!" Sean sidah menyusupkan tangannya ke dalam baju tidur Rachel.
"Benar hanya satu kali!" Rachel mengajukan syarat.
"Iya!" Jawab Sean bersemangat yang langsung melucuti baju Rachel dengan cepat.
Sean sangat berhati-hati kali ini karena ia tak mau membuat Rachel merasa tak nyaman ataupun menyakiti calon anaknya.
"Sean, sudah!" Desah Rachel saat Sean hampir mencapai pelepasannya.
"Sedikit lagi!" Sean mempercepat pergerakannya hingga akhirnya pria itu mencapai pelepasannya.
"Aduh!" Rachel mengaduh karena merasakan perutnya yang mulai berkontraksi.
"Ada apa?" Tanya Sean bingung.
"Kau sudah selesai belum?" Rachel malah balik bertanya pada Sean.
"Sudah baru saja. Kau kenapa meringis begitu?" Tanya Sean khawatir.
"Perutku kontraksi," jawab Rachel masih meringis.
Sean meraih baju-baju Rachel dan memakaikannya dengan cepat ke tubuh sang istri.
"Kita ke rumah sakit sekarang?" Ajak Sean yang malah membuat Rachel terkekeh. Sepertinya kontraksi di perut Rachel sudah hilang.
"Tidak usah!" Rachel berlalu masuk ke kamar mandi dan Sean masih melongo bingung.
Tadi meringis-ringis, sekarang malah berjalan santai masuk ke kamar mandi
.
.
.
Kemarin ada yang nanyain mereka berdua.
Jadi aku buat hari ini partnya.
Yang nggak suka bisa di skip.
Valeria ada UP hari ini, ya!
Jangan lupa ditengok nanti jam 4 sore.
Tapi bacanya malam aja karena mengandung adegan nganu.
Oh iya disini timingnya mundur ternyata, ya!
Jadi ini sebelum Vale ditemukan. Maaf kalau membuat bingung
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.
__ADS_1