
"Gendong!" Rengek Emily seraya mengulurkan kedua lengannya ke arah Galen yang baru saja membukakan pintu mobil.
Baru beberapa detik yang lalu, mobil Galen tiba di rumahnya dan Emily yang masih sedikit pucat karena wanita itu terus saja mual-mual.
"Besok nggak usah ke kantor dulu, Yang! Kamu dibilangin suka ngeyel," gerutu Galdn yang kini sudah berbalik membelakanagi Emily, lalu Emily yanag dengan sigap naik ke punggung Galen.
Jangan tanya kenapa gendongnya bukan di depan tapi malah di punggung. Emily yang minta begitu. Jadi Galen menurut saja.
Emily menyandarkan dagunya di pundak Galen.
"Nanati kamu ganti baju aja dan nggak usah mandi, ya, Yang! Bau badan kamu kalau pulang kerja itu enak banget," ucap Emily dengan nada lebay yang langsung membuat Galen berdecak.
"Lama-lama aku bakal kena penyakit kulit, Yang! Kalau kamu nggak ngijinin aku mandi sepulang kerja. Bisa nggak sih, ngidamnya jangan jorok begitu!" Omel Galen sedikit sebal.
"Jagan salahin aku, Yang! Calon anakmu ini yang rewel. Kalau aku kan sukanya juga Galen yang wangi kayak dulu. Tapi setelah hamil anak kamu ini yang nggak suka papanya bau wangi," jawab Emily yang balas mengomeli Emily.
Galen menarik nafas panjang, dan berusaha mengumpulkan nafasnya yang ngos-ngosan.
Baru juga undakan ke sepuluh. Masih harus berbelok dan mendaki sepuluh undakan lagi.
Huh!
Mungkin sebaiknya besok Galen usul pada Papi agar membuat tangga eskalator atau lift sekalian menuju ke lantai dua.
"Emily kenapa, Galen? Kok di gendong?" Tanya Mom Mia yang baru turun dari lantai dua dan sepertinya hendak menuju ke kafe di bawah.
"Mual-mual dari pagi, Mom! Udah dibilang buat resign aja, tapi ngeyel nggak mau resign," jawab Galen sedikit menggerutu.
Mom Mia tak jadi turun dan balik mengikuti anak serta meanntunya tersebut kembaki ke rumah mereka di lantai dua.
"Kenapa tidak mau resign, Emily?" Tanya Mom Mia seraya mejbantu Emily turun dari punggung Galen.
Huh!
Akhirnya sampai juga di rumah.
Galen segera menarik nafas panjanganjang berusaha mengisi paru-parunya dengan oksigen.
"Emily nggak mau jauh-jauh dari Galen, Mom. Kalau Galen di kantor dari pagi sampai sore dan Emily di rumah, kan nanti Emily kangen," jawab Emily dengan nada lebay.
Galen hanya berdecak.
Mau berkomentar, tapi Galen sendiri juga merasakan apa yang dirasakan oleh Emily. Galen masih merasa berat berjauhan dengan istri tersayangnya ini meskipun cuma dari pagi sampai sore.
Tapi sejak kapan Galen jadi bucin akut begini?
Perasaan dulu Galen tak selebay ini.
"Yaudah, kamu resign sekalian, Galen!" Saran Mom Mia pada sang putra.
"Nggak!" Jawab Galen cepat seraya mendaratkan bokongnya di atas kursi di ruang makan. Galen mendekatkan kursinya ke arah Emily dan menggenggam erat tangan istrinya tersebut.
__ADS_1
"Mom mau menyuruh Galen jadi pengangguran?" Sambung Galen lagi, masih berdecak dan sedikit merengut.
"Kan kamu bisa urus kafe yang di bawah itu. Lalu Mommy dan Papi bisa kembali ke Bali dan mengurus kafe yang ada di sana," jelas Mom Mia memberikan saran untuk Galen.
"Nanti Mommy dan Papi malah sibuk bikin adiknya Ghea kalau berduaan saja di Bali," sahut Galen sedikit terkekeh.
"Sembarangan! Mommy masih ingat umur!" Mom Mia menjewer telinga Galen. Dan suami Emily itu sontak meringis.
"Atau kamu bisa mulai belajar mengurus petusahaan pada Om Mike," tutur Mom Mia lagi kali ini nadanya terdengar penuh harap.
"Galen nggak ada passion di bidang bisnis, Mom! Bukannya sejak dulu Galen udah bilang ke Mom. Suruh Ghea aja yang belajar bisnis," sergah Galen mencari alasan.
"Bukan nggak ada, tapi kamu aja yang nggak niat belajar," timpal Mom Mia yang raut wajahnya terlihat sedikit kecewa.
"Galen pilih tetap jadi editor aja, Mom! Ketimbang jadi direktur apalah. Bikin pusing aja," jawab Galen yang tetap pada pendiriannya.
"Baiklah! Terserah!" Ucap Mom Mia seraya berlalu dari hadapan Emily dan Galen.
"Mom ke bawah dulu, menemani Papimu biar nggak merengut," pamit Mom Mia selanjutnya yang sudah berjalan menuju ke arah pintu utama.
"Gerah, Yang! Berendam, yuk!" Ajak Emily seraya bangkit berdiri dan menarik tangan Galen menuju ke kamar mereka.
"Berendam nggak pakai sabun begitu?" Tanya Galen bingung.
"Pakailah. Tapi pakai sabun aku," jawab Emily seraya terkikik.
"Sabun bayi itu masksudnya?" Tanya Galen bergumam tak percaya.
Entahlah!
Perasaan Emily jadi suka hal-hal aneh semenjak hamil.
Apa semua ibu hamil juga seperti itu?
Emily sudah menanggalkan bajunya di depan Galen tanpa malu-malu. Dan kini dada Emily yang hanya terbalut bra, terlihat semakin menggiurkan. Perasaan Galen saja, atau memang ukurannya menjadi lebih besar belakangan ini.
Sepertinya efek dari hormon kehamilan.
Tapi Galen menyukainya.
"Bra aku pada mengecil semua, Yang," keluh Emily seraya masuk ke dalam kamar mandi, lalu menanggalkan bra serta underwear-nya, sebelum masuk ke dalam bathtube.
"Bukan bra-nya yang mengecil. Tapi ininya yang semakin membesar," jawab Galen yang juga sudah ikut masuk dan duduk di belakang Emily. Posisi merek sekarang adalah, Emily berada di depan Galen seolah sedang minta pangku pada suaminya tersebut.
"Berat, nggak?" Tanya Galen yang tangannya masih aktif memainkan kedua gundukan di dada Emily.
"Dikit. Kamu mau bantuin bawa?" Tanya Emily sedikit berkelakar.
Emily menuangkan sabun bayi cair dan menggosokkannya ke tubuhnya sendiri lalu ke kaki dan tangan Galen.
"Baunya aneh," gumam Galen sedikit meringis.
__ADS_1
"Baunya enak, Sayang! Nih, aku pakein banyak-bayak biar kamu ikutan wangi kayak aku," Emily menuangkan semakin banyak sabun bayi ke tubuh Galen.
Lama-lama Galen berubah jadi bayi setelah ini.
Bayi besar yang menyusu pada Emily.
Hahahaha!
Tapi tak apalah.
Ketimbang mandi tanpa sabun seperti hari-hari kemarin.
"Ngomong-ngomong, perusahaan yang dimaksud Mom Mia tadi perusahaannya siapa, sih?" Tanya Emily yang sudah mengganti topik pembicaraan.
"Perusahaannya Mom. Tapi sekarang udah dibagi dua sama Tante Kyara. Jadi ya itu perusahaan milik Mom dan Tante Kyara. Yang ngurus Om Mike, suaminya tante Kyara," jelas Galen yang malah membuat Emily semakin bingung.
"Mom punya perusahaan?"
"Lah kan Mom dulu seorang Nona direktur. Aku belum cerita ke kamu?" Galen malah balik bertanya pada Emily yang langsung menggeleng.
"Jadi dulu itu, Mom dapat hadiah sebuah perusahaan kecil dari kakek buyut aku. Trus sama Mom dikembangin sampai jadi sebesar sekarang. Tapi setelah menikah sama Papi, Mom memilih mundur jadi Nona direktur dan melimpahkan semua pekerjaannya pada Om Mike, yang dulunya adalah asisten Mom," tutur Galen lagu berudaha menjelaskan pada Emily.
"Kok bukan Papi Bian asistennya Mom? Kan biasanya di novel-novel itu asistennya atau sekretarisnya yang jatuh cinta dan jadi suaminya si Nona direktur," pendapat Emily yang langsung membuat Galen tergelak.
"Kebanyakan baca novel, kamu!"
"Sama seperti aku, Papi juga nggak punya passion di bidang bisnis perusahaan. Papi dulunya cuma kurir makanan pas bertemu sama Mom, trus dikasih modal sama Mom buat buka kafe, dibiayain juga buat sekolah chef di Aussie," cerita Galen lagi yang langsung membuat Emily berdecak kagum.
"Wow! Mom keren ternyata. Sekarang bonusnya papi Bian jadi chef seumur hidup buat Mom," celetuk Emily yang kembali membuat Galen terkekeh kecil dan segera mendekap tubuh polos istrinya tersebut.
"Aku juga siap jadi koki buat kamu seumur hidup," bisik Galen di telinga Emily yang terdengar begitu mesra.
"Tapi aku mau belajar masak juga, Yang!" Emily mengusap-usap lengan Galen yang masih mendekapnya.
"Biar bisa masakin kamu dan anak-anak kita nanti," sambung Emily lagi yang langsung membuat bibir Galen melengkungkan sebuah senyuman.
"Nanti kita belajar memasak bersama, ya!" Ucap Galen seraya mengecup puncak kepala Emily.
Emily hanya mengangguk dan pasangan suami istri itu masih melanjutkan acara berendam mereka sembari bersenda gurau dan menyusuri lekuk tubun satu sama lain.
.
.
.
Detailnya nanti ajalah.
Masih pagi juga 😩
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.