
"Em! Jangan melamun! Gabung kesini!" Panggilan dari Mom Mia langsung membuat Emily tersadar dari lamunannya. Bergegas gadis itu menuju ke meja makan dan ikut duduk bersama keluarga Biantara.
Galen yang tadinya sudah duduk, kembali bangkit berdiri agar bisa mebarikan kursi untuk Emily.
Romantis juga!
Apa karena ada Mom Mia dan Papi Bian?
"Ambil sendiri mau pakai lauk yang mana," ucap Mom Mia seraya mengambilkan nasi untuk Emily.
"Tante yang memasak semuanya? Pasti lezat, ya?" Tanya Emily sedikit berbasa-basi pada Mom Mia.
Namun basa-basi dari Emily malah dijawab oleh gelak tawa dari Ghea.
Ada apa?
Apa Emily salah ucap?
"Mom mana bisa memasak, Kak!" Ucap Ghea yang masih menahan gelak tawanya.
"Di rumah yang memasak itu Papi," sambung Ghea lagi yang langsung membuat Emily meringis.
Ternyata Mom Mia sebelas dua belas dengan Mom Bi yang juga tak bisa memasak. Berarti Emily tidak harus bisa memasak juga nantinya.
"Mau yang memasak Mom mau yang memasak Papi, sama saja! Yang penting semuanya bisa makan," jawab Mom Mia cuek.
"Kau bisa memasak, Emily?" Tanya Papi Bian yang sontak membuat Emilyyang sedang mengunyah makanannya sedikit tersedak.
"Pelan-pelan!" Galen menepuk punggung Emily dan menyodorkan segelas air minum pada gadis tersebut.
"Sudah dibilang kalau makan itu sedikit-sedikit! Yang elegant! Ngeyel!" Omel Galen setengan berbisik pada Emily.
Perasaan Emily tadi makannya juga cuma sedikit-sedikit.
Emily tersedak kan karena pertanyaan dari Papi Bian.
"Memasak apa, Om?" jawab Emily tergagap yang malah balik bertanya pada Papi Bian.
"Menu makanan untuk sehari-hari," Papi Bian melempar tatapan tajam pada Emily.
"Kalau cuma sup atau tumis-tumisan, Emily bisa, Om. Tapi kalau yang rumit Emily belum bisa," jawab Emily sedikit meringis.
"Ck! Emily itu calon menantumu! Bukan calon chef! Jadi mau bisa masak mau tidak ya biar saja tidak usah di besar-besarkan!" Cerocos Mom Mia membela Emily.
"Ya kan aku cuma memastikan. Biar nanti setelah menikah, Galen tetap bisa makan. Kalau istrinya tak bisa masak, Galen makan apa coba?" Balas Papi Bian yang kini malah berdebat dengan Mom Mia.
"Suruh saja Galen memasak sendiri! Dia kan pintar memasak sepertimu!" Jawab Mom Mia enteng.
Emily tersedak untuk kedua kalinya.
Galen pintar memasak?
Kok Emily baru tahu?
Ini Mom Mia sedang bercanda atau Pak manajer OCD yang menyebalkan ini benar-benar pandai memasak?
"Udahlah, Mom, Pi! Nggak usah berdebat begitu!" Galen melerai perdebatan kedua orang tuanya.
"Mommy dan Papi masih saja seperti kucing dan tikus di depan Kak Emily! Nggak malu!" Timpal Ghea yang ikut-ikutan mengomentari perdebatan Mommy dan Papinya.
"Bukan Mom yang mulai!" Kilah Mom Mia membela diri.
"Lagian di jaman modern ini, wanita itu tidak harus bisa memasak atau turun ke dapur. Orang jualan makanan nggak akan laku jika semua orang bisa dan pintar memasak!"
"Istri nggak bisa memasak, ya tinggal beli di luar! Kenapa juga hidup harus dibuat repot!" Cerocos Mom Mia panjang lebar seolah sedang membela barisan kaum wanita.
Ada benarnya juga, sih menurut Emily.
__ADS_1
"Pemikiran wanita metropolitan dan mantan Nona direktur!" Gumam Papi Bian sedikit terkekeh.
Suasana di meja makan sudah sedikit santai sekarang.
"Nona direktur yang kaya dan punya banyak uang, Pi! Kalau bisa memesan dan membeli makanan di luar, untuk apa buang-buang waktu memasak di dapur?" Galen ikut-ikutan menyindir Mom Mia.
"Contoh kaum pria yang sirik dengan kemerdekaan kaum wanita!" Mom Mia menuding bergantian ke arah Papi Bian dan juga Galen.
Emily dan Ghea terkekeh bersamaan.
"Ingat, ya, Em! Mom tidak pernah menuntutmu untuk bisa memasak di dapur! Jadi omongan chef Bian yang menyebalkan itu tidak perlu kamu pikirkan!" Tutur Mom Mia mengingatkan Emily.
"Iya, Mom!"
"Eh, Tante maksudnya," Emily mengoreksi panggilannya pada Mom Mia.
Belum resmi jadi mama mertua, udah main panggil Mom saja.
Tapi akhirnya Emily akan mendapatkan Mom mertua baru sekarang. Jadi Emily busa berhenti memanggil Aunty Bi dengan sebutan Mom.
"Panggil Mom juga nggak masalah, kok! Sebentar lagi sudah jadi Mommy kamu juga," gumam Galen yang duduk di samping Emily.
Emily sudah menghabiskan makanannya. Gadis itu hendak menyeka sisa makanan di bibirnya denagn punggung tangan, namun seperti biasa sikap tanggap Galen langsung naik dua ratus kali lipat dan Galen mencegahnya dengan cepat.
"Pakai tisu!" Ucap Galen dengan nada sedikit galak.
Emily hanya meringis dan segera menyeka sisa makanan di sudut bibirnya memakai tisu.
"Maaf, kebiasaan!"
****
Acara makan malam sudah selesai.
Emily baru saja akan berpamitan pulang, saat ponselnya di dalam tas tiba-tiba berbunyi.
"Halo, Bund-"
"Kau dimana, Emily? Kenapa belum sampai di rumah?" Teriakan Bunda langsung terdengar dari di seberang telepon sebelum Emily selesai mengucapkan salam.
"Masih di rumah Mom Mia, Bund! Tadi Galen yang malsa ngajak kesini buat malan malam bersama," Jawab Emily sedikit kesal.
Emily merengut dan menatap pada Galen yang duduk tak jauh darinya.
Sementara Mom Mia dan Papi Bian sudah turun lagi ke kafe di bawah.
"Oh! Bunda kira kelayapan kemana."
"Ini juga sudah mau pulang, kok! Nungguin Galen mengantar saja," ucap Emily lagi yang malah disambut kekehan dari Bunda Naya.
"Cuma dekat, dua ratus meter, tapi minta diantar? Manja sekali kamu, Em!"
"Bukan Emily yang minta diantar, tapi-"
Tuut tuut
Panggilan terputus begitu saja sebelum kalimat Emily selesai.
"Jadi pulang tidak?" Tanya Galen setelah Emily menyimpan ponselnya.
"Iya jadi! Siapa juga yang mau nginep," jawab Emily ketus.
"Yaudah! Ayo!" Ajak Galen yang sudah bangkit dari duduknya.
Emily mengekori Galen turun dari tangga dan berpamitan sebentar pada Mom Mia dan Papi Bian yang ada di kafe.
"Jalan kaki saja! Kan cuma dekat," ucap Galen pada Emily yang sudah berdiri di dekat mobil silver sialan milik Galen.
__ADS_1
Ealah!
Nggak bilang sejak tadi!
Dasar menyebalkan!
Emily segera menyusul Galen yang sudah berjalan duluan ke arah rumahnya. Kini Emily dan Galen berjalan bersisian menyusuri jalan kompleks yang lengang.
"Kamu beneran bisa masak?" Tanya Emily membuka obrolan.
Emily benar-benar penasaran dengan pernyataan Mom Mia tadi soal Galen yang katanya pandai memasak.
"Kenapa? Nggak percaya? Mau aku masakin?" Cecar Galen dengan nada galak khasnya.
Nggak ada romantisnya sama sekali!
Dasar!
"Selalu saja ketus kalau ngomong! Aku itu tunangan kamu atau musuh mpkamu sebenarnya?" Ucap Emily bersungut-sungut pada Galen.
"Kamu sendiri juga selalu bersungut-sungut begitu kalau ngomong ke aku! Sekarang komentarin cara ngomong aku!" Sahut Galen yang langsung membuat Emily mencibir.
Emily menggosok-gosokkan tangannya karena hawa dingin malam ini begitu menusuk kulit. Efek gaun Ghea yang nggak ada lengannya ini juga sepertinya.
Rumah Emily sudah terlihat pagarnya.
Sedikit lagi sampai.
Emily akan segera menanggalkan gaun menyebalkan ini dan menggantinya dengan piyama lengan panjang agar hangat.
"Dingin?" Galen sudah memakaikan jaketnya pada Emily dan merangkul gadis itu.
Kenapa Emily bisa tak tahu kalau Galen memakai jaket sejak tadi?
"Sudah hampir sampai," gumam Emily sedikit tergagap karena merasa grogi di rangkul mesra begini oleh Galen.
Emily dan Galen sudah berbelok masuk ke halaman rumah Emily.
"Terima kasih sudah nganterin pulang," ucap Emily pada Galen saat mereka sudah tiba di teras. Emily hendak mekepas jaket Galen, namun Galen mencegahnya.
"Simpan saja!"
"Langsung masuk, gosok gigi, cuci tangan dan kaki, trus tidur!" Pesan Galen sebelum pria itu berbalik dan meninggalkan rumah Emily.
Emily masih menatap pada punggung Galen yang semakin menjauh dan merapatkan jaket Galen yang membalut tubuhnya.
Aroma khas Galen masih sangat melekat di jaket ini.
Bolehkah Emily memeluknya malam ini dan tidak usah mencucinya?
.
.
.
Uhuuk!
Othor keselek ritsleting jaket 😂😂
Baru ingat kalau Papi Bian lulusan sekolah Chef di Aussie.
Pantesan pinter masak 😂
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.
__ADS_1