Jodoh Emily

Jodoh Emily
MAHO?


__ADS_3

Tuk tuk!


Kaca jendela mobil Galen diketuk oleh seorang pemuda tanggung yang Emily tebak bernama Alvin yang membuat Galen mencak-mencak tak karuan sejak tadi.


Ada hubungan apa sebenarnya antara Galen dan Alvin ini?


Kenapa pemuda ini terus mengejar-ngejar Galen?


Aneh sekali!


"Ada apa lagi?" Tanya Galen galak setelah pria itu menurunkan kaca jendela mobilnya.


"Mau kemana?" Tanya Alvin memasang wajah serius.


"Memeriksa pemasangan booth untuk pameran besok! Bukankah aku tadi sudah mengatakannya?" Jawab Galen masih galak.


Alvin mengangguk paham.


"Itu siapa?" Alvin menunjuk ke arah Emily dengan dagunya.


Sekilas, Emily bisa melihat Alvin yang mengusap-usap lengan Galen yang sedang bertumpu pada jendela mobil.


"Pak Galen itu Maho! Maho! Maho!"


Kalimat Irma kembali berkelebat di otak Emily, membuat Emily begidik ngeri.


"Aku cuma karyawan bagian ilustrasi disini!" Jawab Emily cepat sebelum Galen buka suara.


Emily benar-benar tak mau mencari perkara. Karena sejauh yang Emily tahu, kaum sejenis Alvin dan Galen ini pasti posesif terhadap pasangan mereka. Dan mereka tidak akan segan-segan menganiaya orang-orang yang mereka anggap sebagai perusak hubungan atau perebut pacar sesama maho mereka.


Astaga!


Kenapa Emily bisa terjebak di situasi rumit begini?


Emily tidak mau menjadi korban pembunuhan yang mayatnya dimutilasi menjadi tujuh belas bagian hanya karena dituduh merebut Galen dari Alvin.


Karena sumpah demi apapun, Emily juga tak pernah menaruh perasaan apapun pada Galen resek ini!


Ayah! Tolong Emily!


"Sudah kubilang untuk berhenti mengganggu hidupku dan fokus saja pada kuliahmu!" Gertak Galen yang sepertinya benar-benar kesal pada Alvin.


"Aku sedang libur kuliah hari ini dan hanya ingin mengobrol denganmu. Tapi kau menolak makan siang bersamaku, dan malah mau pergi bersama gadis itu," ujar Alvin yang raut wajahnya terlihat kecewa.


"Kau bisa bicara apapun kepadaku lewat telepon! Tidak perlu mengejar atau menggangguku seperti ini! Aku bukan istrimu!" Sergah Galen bersungut-sungut.


"Kau menolak teleponku berkali-kali," wajah Alvin masih terlihat murung.


"Itu karena aku sedang sibuk bekerja! Telepon saja saat malam jika ingin bicara hal penting! Tapi berhenti menggangguku dan jadi penguntit sinting seperti ini!" Cecar Galen memperingatkan Alvin sekali lagi.


"Baiklah! Nanti malam aku akan meneleponmu! Bye!" Alvin melambaikan tangan ke arah Galen, sebelum pemuda itu berlalu pergi meninggalkan mobil Galen.


Sesaat suasana di dalam mobil menjadi hening.


Emily menggaruk tengkuknya sendiri yang tak gatal karena masih merasa sedikit aneh dengan percakapan Galen dan Alvin barusan.


Mereka benar-benar mirip pasangan kekasih yang berjanji untuk saling menelepon dan mengobrol malam ini.

__ADS_1


Oh, ya ampun!


Manajer resek ini ternyata bukan seorang pria normal!


Amit-amit!


Amit-amit!


Emily komat-kamit sendiri.


Tangannya merasa gatal ingin mengirim pesan pada Irma atau Faisal dan bercerita tentang kesialannya hari ini karena terjebak satu mobil bersama manajer maho yang menyebalkan. Namun sayang, ponsel Emily ada di dalam tas, dan tadi Galen tidak mengizinkan Emily mengambil tasnya.


Menyebalkan memang!


"Kau suka kopi, Em?" Tanya Galen memecah keheningan di dalam mobil.


"Suka, Pak! Apalagi kalau gratisan," jawab Emily sebelum menutup mulutnya sendiri dengan cepat.


Ah, sudah terlambat!


Galen pasti sudah mendengarnya.


Karena sekarang, pria itu terlihat berdecak berulang kali.


Yaelah!


Siapa coba yang nggak senang dikasih sesuatu yang gratisan?


Galen membelokkan mobilnya masuk ke sebuah coffeeshop.


"Nggak jadi meninjau pemasangan booth buat pameran, Pak?" Tanya Emily saat Galen sudah membuka pintu mobil dan hendak turun.


Lah!


Kalau melihat penampilan Emily membuatnya pusing, kenapa dia mengajak Emily naik mobilnya?


Dasar maho sinting nggak jelas!


"Buruan turun, Em!" Perintah Galen galak yang sudah berjalan duluan masuk ke dalam coffeeshop.


Emily membuka sabuk pengaman dan keluar dari mobil masih sambil menggerutu. Gadis itu segera ikut masuk ke dalam coffeeshop dan mengedarkan pandangannya sejenak mencari-cari keberadaan Galen yang entah nyasar dimana.


Di pojokan ternyata!


Emily langsung duduk di kursi yang ada di depan Galen dan membaca menu yang ada di buku menu.


"Pesan apa?" Tanya Galen pada Emily.


"Idem aja, Pak! Kan bapak yang traktir," jawab Emily sedikit meringis.


Emily suka ngopi?


Tak terlalu sebenarnya. Paling juga cuma kopi sachet.


Bunda suka mengomel kalau Emily minum kopi. Pasti disuruh minum susu saja atau jus buah.


Jadilah saat melihat nama-nama kopi dari daftar menu, Emily malah bingung sendiri.

__ADS_1


"Hazelnut latte, mau?" Tanya Galen meminta pendapat Emily.


"Boleh, Pak!" Jawab Emily seraya mengangguk-angguk meskipun sebenarnya ia tak mengerti. Tapi kalau dilihat dari gambarnya di buku menu, sepertinya menggiurkan.


Galen sudah selesai menyebutkan pesanannya dan kini suasana di antara Galen dan Emily kembali canggung.


"Kau temannya Rachel atau Sean?" Tanya Galen tiba-tiba yang langsung membuat Emily mendongakkan kepalanya.


Mendengar seseorang menyebut nama Sean masih saja membuat hati Emily bergejolak. Emily sudah mencoba menghapus nama Sean dari dalam hatinya, tapi ternyata tak semudah menghapus kerutan di wajah memakai aplikasi photoshop.


"Saya teman mereka berdua, Pak!" Jawab Emily jujur yang langsung membuat Galen menautkan kedua alisnya.


"Apa kau calon istrinya Sean yang dimaksud oleh Rachel waktu itu?" Tanya Galen lagi mencoba menerka-nerka.


Emily sontak tertawa sumbang.


"Bapak sok tahu!"


"Bapak sendiri siapanya Rachel? Kok waktu itu ada di acara nikahannya Rachel?" Emily ganti bertanya pada Galen dan sedikit menginterogasi.


"Menurut kamu? Aku siapanya Rachel?" Galen malah balik bertanya pada Emily.


Lah!


Mana Emily tahu?


Orang ditanya malah balik nanya!


Dasar maho nggak jelas!


"Mantan pacarnya Rachel mungkin," jawab Emily asal yang sontak membuat Galen mendengus tak percaya.


"Aku sepupunya Rachel!" Ucap Galen tegas memberi info pada Emily.


Oh, baru sepupu!


Belum sepinggang, sebahu, atau seleher!


Eh, belagunya nggak karuan!


Emily hanya bergumam dalam hati.


"Iya, saya kan cuma nebak, Pak! Nggak usah sewot gitu juga!" Ujar Emily sedikit bergumam dibagian akhir kalimat.


Kopi pesanan Emily dan Galen akhirnya datang.


Galen menikmati kopinya dalam diam. Dan Emily juga memilih untuk diam saja, karena berdebat dengan Pak manajer maho ini benar-benar menguras pikiran dan tenaga.


.


.


.


Ceritanya ngelantur kayaknya😕


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.


__ADS_2