Jodoh Emily

Jodoh Emily
TANGGUNG JAWAB


__ADS_3

Kediaman Dokter Steve.


"Kami selaku orang tua dari Sean benar-benar minta maaf atas kelakuan buruk Sean, Pak Steve!" Tutur Dad Nick sekali lagi dengan penuh kerendahan hati.


Entah sudah berapa kali Dad Nick mengucapkan kata maaf pada keluarga ini karena kelakuan brengsek Sean.


Hanya ada Papa Steve dan Mama Eve yang menemui Dad Nick sekeluarga. Rachel tidak nampak batang hidungnya sejak tadi. Entah kemana gadis malang itu.


"Sean akan bertanggung jawab, dan menikahi Rachel secepatnya," imbuh Dad Nick lagi.


"Sejujurnya kami benar-benar marah dan kecewa dengan apa yang sudah dilakukan Sean pada Rachel." Papa Steve berucap dengan geram, dan menatap pada Sean yang hanya menundukkan wajahnya sejak tadi.


"Tapi semua sudah terlanjur. Bayi di dalam kandungan Rachel juga sudah berusia enam bulan, dan dia berhak mendapatkan kasih sayang orangtua yang lengkap saaat lahir ke dunia nanti," ujar Papa Steve lagi mulai berpikir bijak. Pria paruh baya yang juga adalah seorang dokter tersebut menggenggam erat tangan sang istri.


"Kami yang akan mengatur pernikahan Rachel dan Sean, Pak Steve," ucap Dad Nick selanjutnya yang langsung membuat semua orang mengangguk. Meskipun raut sedih serta marah, masih terlihat di wajah mereka semua.


Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur.


"Tapi ingat satu hal, Sean!" Papa Steve menuding ke arah Sean yang kini sudah mengangkat wajahnya dan menatap pada Papa kandung Rachel tersebut.


"Jika sekali lagi kamu menyakiti Rachel-"


"Saya sendiri yang akan memberi anak ini pelajaran jika ia menyakiti Rachel atau melakukan hal buruk lainnya pada Rachel!" Sela Dad Nick berucap tegas dan berjanji pada Papa Steve.


"Saya peganag janji anda, Pak Nick!" Papa Steve menatap tegas pada Dad Nick yang mengangguk dengan sangat yakin.


"Lalu, dimana Rachel?" Tanya Mom Bi yang sejak tadi hanya diam.


"Mungkin sebentar lagi akan datang. Tadi Rachel sed-" Mama Eve belum menyelesaikan kalimatnya saat terdengar sapaan dari arah pintu masuk.


"Selamat malam!" Seorang pemuda yang sepertinya seusia dengan Sean yang datang sambil merangkul Rachel.


"Malam, Galen! Masuklah!" Jawab Mama Eve yang langsung menyambut kedatabgan Rachel yang diantar oleh Galen malam ini.


Rachel menyapa kedua orangtua Sean dengan sopan dan menncium punggung tangan keduanya. Begitu juga dengan Galen, sebelum pemuda itu ikut duduk di samping Papa Steve.


Rachel sudah duduk bersama Mama Eve dan Mom Bi sekarang.


Sean berulangkali menatap pada Rachel yang malam ini mengenakan baju terusan warna hitam dan sebuah cardigan warna tosca. Gadis itu hanya menundukkan wajahnya dan tak menatap siapapun sejak datang dan masuk ke rumah.


"Acara pernikahannya kita percepat saja, bagaimana? Kami yang akan mengatur semuanya."


****


Setelah melalui diskusi yang cukup panjang, akhirnya diambil keputusan bahwa pernikahan Rachel dan Sean akan dilaksanakan akhir pekan nanti. Keluarga Arthur yang akan mengatur sepenuhnya acara pernikahan Sean dan Rachel.


Rachel masuk ke kamarnya masih dengan wajah yang murung. Gadis itu mengambil ponselnya yang sengaja ia matikan dan tak ia sentuh seminggu terakhir.


Rachel menyalakan ponselnya, dan langsung ada puluhan pesan yang masuk paling banyak dari Emily.


[Kenapa tidak cerita kepadaku, tentang apa yang sudah dilakukan Sean kepadamu? Sahabat macam apa kamu, Rachel?] -Emily-


Pesan baru dikirim satu jam yang lalu.


[Maaf, Em!] -Rachel-


Tak berselang lama, balasan pesan dari Emily kembali masuk.


[Aku ingin kita bicara, berdua saja. Kau ada waktu besok?] -Emily-


[Ini bukan permintaan. Aku tidak menerima penolakan] -Emily-

__ADS_1


Rachel menghela nafas sejenak sebelum membalas pesan memaksa dari Emily.


[Baiklah! Kau kirim saja lokasinya, aku pasti datang.] -Rachel-


[Kafe B&D, jam sepuluh. Aku tidak akan pulang sampai kau datang.] -Emily-


[Aku pasti datang] -Rachel-


Tok tok!


"Rachel!" Mama Eve masuk ke kamar Rachel membawa sebuah kotak yang cukup besar. Entah berisi apa.


"Keluarga Sean membawakan ini untukmu," ucap Mama Eve yang kini sudah duduk di samping Rachel.


"Seharusnya Emily yang menerima semua itu, Ma! Seharusnya Emily yang menjadi menantu di keluarga Arthur, bukan Rachel!" Airmata Rachel kembali jatuh di kedua pipinya.


"Rachel akan menanggung rasa bersalah ini seumur hidup! Rachel sudah menyakiti hati Emily," ucap Rachel lagi semakin sesenggukan.


"Ini bukan kemauan kamu, Sayang! Dan ini juga bukan sepenuhnya salahmu," mama Eve berusaha menenangkan Rachel.


"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri seperti ini, Rachel!" Nasehat mama Eve sekali lagi.


Rachel tak menjawab dan memilih untuk menangis saja di pelukan sang Mama.


****


"Auuuw! Sakit, Mom!" Keluh Sean saat Mom Bi mengompres lebam di wajahnya.


"Mom benar-benar tak habis pikir dengan kelakuanmu, Sean!" Gerutu Mom Bi yang sepertinya masih kesal.


Wanita paruh baya itu melempar handuk kecil di tangannya dengan kasar ke dalam baskom berisi air yang dipakai untuk mengompres lebam di wajah Sean.


Terus disalahkan oleh semua orang disekitarnya benar-benar membuat Sean frustasi.


"Kompres sendiri wajahmu!" Perintah Mom Bi seraya bangkit berdiri dan kekuar dari kamar Sean.


Sean hanya berdecak dan lanjut mengompres sendiri lebam di wajahnya, sambil tak berhenti menggerutu dalam hati.


Ponsel Sean yang ada di atas nakas berbunyi.


Emily menelepon.


Tentu saja Sean terkejut. Tapi Sean harus mengangkatnya dan Sean harus minta maaf pada Emily.


"Halo, Em! Aku mint-"


"Ceritakan semuanya!" Permintaan maaf Sean langsung disela Emily dengan nada yang tegas.


"Aku mabuk." Sean memulai ceritanya dengan sedikit ragu.


"Di acara party temanmu saat aku sakit hari itu?"


"Ya! Seharusnya aku tidak datang ke acara bodoh itu karena teman-teman brengsekku malah mencekokiku dengan minuman keras disana." Cerita Sean penuh penyesalan.


"Lalu bagaimana kau bisa bertemu Rachel malam itu?"


"Mobilku menabrak trotoar di depan sebuah kafe dan aku dimaki-maki oleh orang yang hampir aku tabrak. Lalu Rachel tiba-tiba datang dan sedikit membantuku."


"Rachel ingin mengantarku ke rumah Mom dan Dad tapi aku malah minta rachel menbawaku ke apartemen. Lalu aku pikir Rachel adalah kau dan," Sean tak melanjutkan ceritanya karena pasti itu akan terdengar sangat menyakitkan untuk Emily.


"Kau pikir Rachel adalah aku dan kau memperkosanya? Jadi maksudmu malam itu, jika aku yang menemukanmu, kau akan memperkosaku juga?"

__ADS_1


"Tentu saja tidak! Bukankah kita saling mencintai, Em! Jadi-" Sean benar-benar kehilangan kata-kata sekarang.


Kenapa Sean malah jadi sebrengsek ini sekarang.


Bertahun-tahun Sean menahan diri untuk tak menyentuh Emily sebelum mereka resmi menikah, dan kalimat Sean barusan malah seakan menjadi bumerang untuk Sean sendiri.


"Jadi apa? Kau mau meniduriku sebelum kita resmi menikah begitu?" Cecar Emily yang suaranya terdengar meninggi dari seberang telepon.


"Aku mabuk, oke! Dan itu semua diluar kendaliku!" Sean berusaha membela diri.


"Itulah alasanku, menyuruhmu untuk membatasi pertemanan selama ini dan tidak berteman baik dengan sembarang orang! Tapi kau begitu keras kepala dan selalu mudah akrab dengan teman-temanmu yang tak jelas itu!"


"Ya, seharusnya aku mendengarkanmu sejak lama," jawab Sean yang kembali menyesali dan merutuki kebodohannya sendiri.


"Semuanya sudah terlanjur Sean! Hubungan diantara kita sudah berakhir sekarang."


Suara Emily terdengar sendu. Mungkin gadis itu sedang menangis sekarang.


"Kita lupakan saja semuanya. Kau harus mulai mencintai Rachel sekarang. Rachel gadis yang baik jadi jangan menyakitinya lagi," nasehat Emily pada Sean.


"Lalu bagaimana denganmu?" Sebuah pertanyaan bodoh meluncur dari bibir Sean.


Bagaimana dengan Emily?


Pasti gadis itu sedang hancur sekarang!


Apa kau masih harus menanyakannya, Sean!


"Aku sudah melupakan semua hal diantara kita!" Jawaban Emily terdengar tegas.


"Dan kau juga harus melupakannya, Sean!" Sambung Emily lagi berucap tegas pada Sean.


"Kita masih tetap berteman?" Tanya Sean penuh harap.


Cukup lama sampai akhirnya Emily memberikan jawaban singkat,


"Ya!"


"Jika kau tidak lagi menyakiti Rachel dan menerima serta mencintai gadis itu dengan sepenuh hati, kita tetap akan bisa berteman."


Benar-benar jawaban yang mengandung syarat berat.


Bagaimana Sean akan mencintai Rachel, jika dalam hatinya masih dipenuhi rasa cinta pada Emily?


"Kau akan mulai mencintai Rachel, kan, Sean?" Tanya Emily meminta kesanggupan Sean.


"Aku akan berusaha."


.


.


.


Maaf kalo minggu ini rada slow UP.


Dunyat lagi rempong. Waktu buat ngetik nggak ada.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.

__ADS_1


__ADS_2