
Beberapa bulan berlalu.
Wacana soal Galen yang meminta Emily resign sepertinya hanya menjadi angin lalu. Karena kini hingga kandungan Emily masuk usia tujuh bulan, istri Galen itu masih berkutat dengan iMac-nya seharian di kantor. Dan Emily terlihat menikmati pekerjaannya meskipun sedang hamil besar.
Setelah masuk trimester kedua, Emily memang tak lagi mengalami mual muntah. Bahkan istri Galen itu terlihat menikmati kehamilannya dan bisa melakukan semua hal yang ingin ia lakukan termasuk tetap bekerja sebagai ilustrator di kantor penerbitan.
Jam makan siang sudah tiba. Galen baru saja akan turun menemui Emily, saat istrinya itu sudah membuka pintu ruangannya dan langsung menghampiri Galen lalu duduk di pangkuan Galen.
"Aku baru saja akan turun," ucap Galen seraya melepas kacamatanya.
"Sayang, lihat, deh!" Emily menunjukkan sebuah foto di media sosial pada Galen. Foto seorang ibu dan anak yang sepertinya sedang bermain.
"Itu bukannya teman sekolahmu dulu yang kata kamu menikah sebelum lulus SMA itu, ya? Anaknya sudah besar," komentar Galen pada foto yang ditunjukkan oleh Emily.
"Namanya Anne," ujar Emily menjelaskan pada Galen.
"Oh, iya. Anne. Seusia sama kamu? Anaknya udah sebesar itu," komentar Galen lagi.
"Kok komentarin anaknya terus. Lihat ini dasternya Anne bagus, ya?" Emily menunjuk ke daster selutut bergambar beruang yang dikenakan oleh Anne.
"Iya, bagus. Trus kenapa?" Tanya Galen tak mengerti.
"Beliin yang kayak gitu!" Pinta Emily seraya mengerjap-ngerjapkan matanya demi merayu Galen.
"Belinya dimana memangnya? Baju hamil kamu kan udah banyak di rumah," ucap Galen seraya mengusap perut Emily yang sudah terlihat bulat. Galen juga mengecupnya dan sedikit menyapa sang calon anak.
"Iya tapi aku mau yang kayak gitu, Sayang!" Rengek Emily seraya bergelayut di leher Galen.
"Baiklah! Kamu tanya dulu ke Anne belinya dimana. Nanti pulang dari kantor kita mampir beli," tukas Galen yang akhirnya memilih untuk mengalah dan menuruti kemauan Emily.
"Belinya di toko serba 35 ribu di dekat alun-alun kota kata Anne," jawab Emily seraya tersenyum sumringah.
"Memang udah tanya?" Galen mengernyit ragu.
"Udah tadi. Nanti beliin, ya!" Rayu Emily sekali lagi seraya mengecup pipi Galen.
"Iya!" Galen mencubit gemas pipi Emily yang sekarang berubah chubby, dan memonyongkan bibirnya hendak minta cium pada Emily saat tiba-tiba pintu ruangan Galen diketuk dari luar.
"Masuk!" Titah Galen setelah menurunkan Emily dari pangkuannya. Emily sudah ganti berdiri di samping kursi kerja Galen.
"Siang, Pak! Maaf mengganggu Pak Galen dan Bu Emily yang sedang pacaran," sapa Faisal seraya cengengesan.
"Emang aku ibumu?" Sungut Emily yang tidak terima dipanggil Bu oleh Faisal.
"Kan calon ibu, buat anak-anakmu," sahut Faisal mencari pembenaran dan Emily hanya berdecak.
Faisal sudah kembali fokus pada laporannya.
__ADS_1
"Ini ilustrasi yang kemarin Bapak suruh benerin," ucap Faisal menunjukkan hasil pekerjaannya pada Galen. Emily ikut melihat hasil gambar Faisal saat ibu hamil itu mendapati lipatan cukup besar di sudut kertas yang sedang di periksa oleh Galen.
"Iya, yang ini sudah oke," komentar Galen yang langsung membuat Faisal manggut-manggut.
"Sudut kertasnya terlipat, Yang!" Ucap Emily sedikit berbisik pada Galen.
"Mana?" Galen membenarkan kacamatanya dan melihat ke sudut kertas yang ditunjuk Emily.
"Tinggal dibenerin," jawab Galen santai seraya membenarkan sudut kertas yang tadi terlipat.
Emily berdecak dan merasa tak terima.
"Suruh print ulang, Yang!"
"Nggak usah! Kenapa ribet, sih!" Sergah Galen tak paham. Sedangkan Faisal hanya melongo menyaksikan perdebatan Galen dan Emily.
"Ya dulu pas pekerjaan aku sudut kertasnya terlipat begini kamu suruh print ulang. Sekarang Faisal juga harus kamu suruh print ulang, dong! Jangan pilih kasih!" Cerocos Emily seraya bersungut-sungut.
Faisal berusaha menahan tawanya mendengar omelan Emily pada Galen.
"Baiklah!" Galen mengusap wajahnya sendiri karena seolah ia sedang menerima karma atas apa yang dulu ia perbuat pada Emily.
Padahal dulu Galen sengaja mencari-cari kesalahan Emily kan cuma modus biar Emily bolak-balik ke ruangannya.
"Faisal, kamu print ulang pekerjaan kamu! Pastikan kertasnya tidak ada yang terlipat sudutnya!" Perintah Galen pada Faisal yang langsung membuat teman satu ruangan Emily itu melebarkan matanya.
Cuma kertas sudut terlipat!
Nggak ngaruh apa-apa juga ke hasil cetak nanti.
Kenapa aneh-aneh begini?
"Iya harus!" Galen melotot pada Faisal seraya memberi kode kalau ini adalah perintah dari ibu hamil keras kepala yang tidak boleh dibantah.
Sejak kapan pula Pak Galen takut pada Emily?
Takut nggak dapat jatah mungkin, kalau membantah titah sang istri tercinta.
Faisal terkikik dalam hati.
"Cepat print ulang, lalu bawa ke bagian editor untuk bertanya tata letaknya!" Perintah Galen sekali lagi pada Faisal.
"Siap, Pak Galen. Saya permisi," pamit Faisal yang langsung keluar dari ruangan Galen dan menutup pintu.
Haish!
Masalah kecil begitu saja dibesar-besarkan sama Emily!
__ADS_1
"Yang, aku lapar," keluh Emily selanjutnya yang kembali bergelayut pada Galen.
"Mau makan di kantin bawah? Atau mau pesan makanan online saja?" Tanya Galen memberikan pilihan.
"Pesanin Chicken Steak Crispy dari Rainer's Resto! Udah lama nggak makan itu, mendadak pengen. Minumnya jus alpukat," jawab Emily pada Galen yang sudah meraih ponselnya dan mulai membuat pesanan.
"Kamu harus ikut makan Chicken Steak-nya juga!" Pesan Emily yang langsung membuat Galen mengerutkan kedua alisnya.
"Aku maunya Beef Steak. Nggak mau Chicken Steak," tukas Galen yang merasa keberatan dengan permintaan Emily.
"Yaudah pesan aja Beef Steak! Dasar suami nggak punya empati!" Gerutu Emily yang raut wajahnya sudah berubah marah. Wanita itu juga sudah melepaskan lengannya dari leher Galen.
Galen menghela nafas panjang berulang kali dan berusaha mengendalikan emosinya yang membuatnya benar-benar ingin menjambak-jambak rambutnya sendiri atau mengacak-acak meja kerjanya.
Sabar, Galen!
Hanya tinggal dua bulan lagi!
Kuatkan dirimu!
"Baiklah, Emily Sayang! Aku juga akan menesan Chicken Steak dan minum jus alpukat. Kau senang sekarang?" Ucap Galen akhirnya dengan ekspresi wajah lebay.
"Yeay!" Emily hampir melompat saat Galen dengan cepat mencegahnya.
Yassalam!
Apa wanita ini tidak ingat dengan perutnya yang sudah sebesar semangka?
Bisa-bisanya dia mau melompat kegirangan.
"Jangan pernah melompat-lompat, oke!" Pesan Galen memperingatkan Emily yang hanay mengangguk seraya tersenyum genit.
"Oke, Sayang!" Emily kembali duduk di pangkuan Galen dan bergelayut di leher suaminya tersebut.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.
DASTER BERUANG.
__ADS_1