Jodoh Emily

Jodoh Emily
PEKERJAAN BARU


__ADS_3

Satu bulan berlalu,


Emily menatap pada gedung tinggi di hadapannya.


"Benar, ini alamatnya?" Tanya ayah Satria memastikan sekali lagi.


Hari ini adalah hari pertama Emily bekerja di sebuah kantor penerbitan dan percetakan.


"Iya, sudah benar, Ayah!" Jawab Emily setelah melihat ulang alamat kantor di ponselnya.


Emily menarik turun rok sepannya karena sedikit risih. Emily jarang memakai rok begini saat masih kuliah. Dan karena ini hari pertamanya bekerja di sini, jadi Emily harus berpenampilan sesopan mungkin.


"Yaudah, kamu masuk sana! Nanti kalau ada apa-apa langsung hubungi Ayah, ya!" Ayah Satria mencium kening Emily, dan Emily segera mencium punggung tangan ayah kandungnya tersebut.


"Siap, Ayah! Bye!" Emily melambaikan tangannya ke arah mobil Ayah Satria, sebelum mobil itu melaju pergi meninggalkan Emily dan gedung tinggi di belakangnya.


Emily baru akan melangkah masuk ke arah lobby, saat suara klakson mobil membuat Emily terlonjak kaget.


Astaga!


Untung Emily tidak punya penyakit jantung.


Emily menoleh sebentar pada mobil berwarna silver tersebut sebelum menepi dan memberikan jalan. Pengemudi mobil sombong itu bahkan tak terlihat wajahnya sedikitpun karena semua kaca mobilnya tertutup rapat.


Emily memilih untuk langsung masuk ke lobby dan mengabaikan pengemudi mobil yang menbuatnya jantungan tadi. Setelah bertanya pada resepsionis, Emily langsung diarahkan untuk naik ke lantai lima gedung dan bertemu langsung dengan manajer penerbitan dan percetakan


Emily segera naik lift menuju ke lantai lima. Namun saat tiba di depan ruangan sang manajer,intu masih tertutup. Dan ruangan juga kosong saat Emily mengintip dari kaca yang ada di bagian pintu.


Mungkin Pak manajernya belum datang. Jadi Emily akan menunggu saja. Namun sebuah suara kembali membuat jantung Emily nyaris menggelinding dari rongganya.


"Sedang apa mengintip-ngintip begitu? Mau maling?"


Emily seperti pernah mendengar suara itu.


Tapi dimana?


Emily menoleh untuk melihat pemilik suara yang terasa familiar, dan saat mendapati wajah menyebalkan itu, Emily benar-benar harus menggerutu berulang kali di dalam hati.


"Kau! Gadis ceroboh! Sedang apa disini?" Tanya pria itu galak.


"Aku bukan gadis ceroboh!" Bantah Emily cepat.


"Lalu sedang apa disini? Awas, minggir!" Pria itu mengendikkan dagunya ke arah pintu ruangan manajer, dan menyuruh Emily untuk menyingkir.


Mau apa dia ke ruangan Pak manajer?


Tidak mungkin dia Pak manajer yang harus Emily temui, kan?


Pria itu sudah masuk ke ruangan manajer dan meletakkan dengan hati-hati gelas kopi yang tadi ia bawa.

__ADS_1


"Hei, Nona! Kau sedang apa mematung di depan ruanganku begitu?" Tegur pria itu lagi pada Emily yang terlihat melamun.


"Saya mau bertemu Pak manajer," jawab Emily sedikit ragu.


Pria itu diam sejenak masih sambil menatap ke arah Emily yang tetap mematung di tempatnya.


"Kau anak baru di bagian ilustrasi?" Tanya pria itu dengan raut wajah tak percaya.


"Katanya begitu," Emily menggaruk kepalanya sendiri yang sebenarnya tak gatal.


"Masuklah kesini kalau begitu!" Perintah pria tadi dengan raut wajah yang sulit di jelaskan. Antara geregetan dan entah apa namanya.


Emily segera masuk dan menutup pintu, lalu duduk di kursi di depan meja pak manajer yang sepertinya masih muda tersebut.


Aneh sekali!


Kenapa manajernya masih muda begitu?


Seperti anak kuliahan yang baru lulus kemarin sore.


"Anda manajer di bagian penerbitan?" Tanya Emily sedikit ragu.


"Iya! Apa ada masalah!" Tanya pria itu mendelik ke arah Emily.


"Tidak ada!" Jawab Emily cepat seraya memainkan jarinya di tumpukan kertas yang ada di atas meja kerja pak manajer sombong tersebut.


"Halo, Irma! Cepat ke ruanganku sekarang!" Suara pak manajer sombong yang rupanya sedang bicara di interkom dengan seseorang bernama Irma tersebut membuat Emily mengangkat wajahnya dan sedikit mencebikkan bibir.


Apa maksudnya?


Dia mau minta duit pada Emily?


"CV kamu mana? Jangan hanya dikekepi begitu!" Gertak pak manajer mengendikkan dagunya pada map yang masih di peluk oleh Emily di dekapannya.


Oh!


Cepat-cepat Emily memberikan map yang sedikit kusut di dekapannya pada pria di hadapannya tersebut.


Ck!


Pria itu berdecak.


"Kusut, tidak rapi, tidak urut, kertasnya terlipat," komentar manajer tersebut yang langsung membuat Emily mengerutkan kedua alisnya.


Apa masalahnya memang?


Kan masih bisa dibaca dengan jelas!


"Tapi gambar-gambar kamu memang lumayan. Hanya saja, aku tidak suka dengan kertas yang terlipat dan tidak rapi seperti ini," pria dihadapan Emily tersebut menunjuk ke arah kertas berisi gambar ilustrasi hasil coretan Emily yang memang terlipat di bagian pojok atasnya.

__ADS_1


Hanya terlipat sedikit!


Sedikit!


Dan kenapa pak manajer lebay ini harus mempermasalahkannya?


"Besok lagi, kalau kau sudah bekerja disini, aku mau kau itu selalu rapi terutama saat menyerahkan pekerjaanmu ke atas mejaku! Jangan sampai kertasnya terlipat atau mapnya kusut begini! Paham?" Cecar pria itu lagi yang sontak membuat Emily garuk-garuk kepala.


"Iya, Pak! Saya paham!" Jawab Emily yang ikut-ikutan meringis lebay.


Tok tok tok!


"Maaf, Pak Galendra! Anda memanggil saya?" Seorang wanita yang terlihat lebih tua beberapa tahun dari Yumi masuk ke ruangan dan menyapa pak Galendra.


Oh, jadi nama manajer resek ini Galendra.


Beda tipislah sama nggak selera.


Iya, omongan pedasnya bikin nggak selera makan.


Udah keburu kenyang duluan dengan omelannya.


Emily menahan tawanya karena pemikiran otaknya yang sedikit melantur.


"Kau kenapa tertawa-tawa sendiri begitu? Apa ada yang lucu?" Tegur Pak Galendra dengan nada galak dan menatap tajam pada Emily.


"Nggak ada, kok, Pak!" Jawab Emily cepat yang langsung mengatupkan bibirnya.


"Ini ilustrator baru yang akan bergabung denganmu dan Faisal di kantor ini." Galen memperkenalkan Emily pada wanita bernama Irma yang tadi baru masuk ke ruangannya.


"Hai, aku Irma!"


"Emily!"


Irma dan Emily saling berkenalan dan menyebutkan nama masing-masing.


"Dia mulai bekerja hari ini. Jadi tolong kau bawa dia ke meja kerjanya, dan menjelaskan tentang pekerjaan serta apa-apa saja yang perlu dan tidak perlu dia lakukan selama di kantor," tutur Galen panjang lebar memberi tugas pada Irma.


"Baik, Pak! Saya akan menjelaskan semuanya pada Emily nanti." Jawab Irma seraya mengangguk paham.


"Ayo, Emily!" Irma menarik lengan Emily dan mengajaknya keluar dari ruangan Galen.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.


__ADS_2