Jodoh Emily

Jodoh Emily
HANCUR


__ADS_3

"Saya yang sudah membuat Rachel hamil, Om!"


Satu kalimat yang Sean lontarkan, membuat semua orang yang ada ruangan tersebut mematung di tempatnya.


"Sean, apa kau sedang bercanda?" butir bening sudah menggenang di sudut mata Emily dan siap meluncur kapan saja.


"Maafkan aku, Em! Tapi aku tidak sedang bercanda. Aku-" suara Sean tercekat di tenggorokan.


Sean menelan ganjalan pahit di tenggorokannya sebelum melanjutkan kalimatnya,


"Aku mabuk dan aku sudah merenggut hal berharga milik Rachel."


Sedetik kemudian, kerah baju Sean sudah ditarik Papa Steve dengan cepat dan dua buah bogem mentah melayang ke wajah Sean hingga pemuda itu jatuh terjungkal menabrak sofa.


"Dasar brengsek, kamu!" Bentak Papa Steve yang langsung murka pada Sean yang kini wajahnya lebam dan mengeluarkan darah di beberapa bagian.


Sementara Mama Eve dan Emily masih mematung di tempatnya, seakan tidak ada yang mau menghentikan amukan Papa Steve.


"Maaf, Om! Tapi Sean akan bertanggung jawab! Sean akan menikahi Rachel!" Ucap Sean penuh kesungguhan.


Sean menatap sejenak pada Emily yang wajahnya sudah bersimbah airmata.


Emily menggeleng-gelengkan kepalanya dan langsung keluar dari rumah Rachel. Tanpa pamit, tanpa berucap sepatah katapun.


"Buktikan ucapanmu, Sean!" Ucap Papa Steve tegas dan menantang Sean.


"Sekarang silahkan pergi!" Usir Papa Steve selanjutnya pada Sean yang sudah bangkit berdiri.


"Sean akan kembali kesini bersama kedua orang tua Sean, Om!" Ucap Sean sebelum akhirnya pria itu pamit dan meninggalkan rumah Rachel.


Emily sudah tak terlihat, dan tak ada juga di dalam mobil Sean.


Sean berdecak frustasi dan segera masuk ke dalam mobilnya.


"Brengsek!"


"Bodoh!"

__ADS_1


Sean tak berhenti mengumpat dan merutuki kebodohannya sendiri. Pemuda itu memukul-mukul stir mobilnya demi meluapkan kemarahan di dalam dadanya.


Sean marah!


Sean frustasi!


Sean bingung harus bagaimana.


****


Emily turun dari taksi dengan wajah yang masih penuh airmata. Sesering apapun Emily menghapus airmatanya, tetap saja, airmata sialan itu terus saja jatuh dan tak berhenti mengalir di kedua pipinya


Pintu rumah Emily terlihat terbuka. Ada mobil Abang Kyle yang terparkir di halaman rumah.


Apa?


Emily kembali menghapus airmatanya dengan kasar sebelum masuk ke dalam rumah. Namun sepertinya itu semua hanya sia-sia, karena airmata Emily malah semakin deras mengalir.


"Em, baru pulang?" Sapa Abang Kyle yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu dan menatap pada wajah sembab Emily yang masih berada di teras rumah.


Emily ingin menjawab, tapi lidah Emily benar-benar tak bisa berucap sepatah katapun. Dan airmata Emily yang justru menjawab semuanya.


Emily hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ada apa denganmu? Siapa yang sudah membuatmu menangis begini?" Tanya Abang Kyle sekali lagi menuntut jawaban dari Emily.


"Kyle, ada apa?" Tanya Ayah Satria yang akhirnya keluar dari dalam rumah setelah mendengar keributan kecil di teras rumah. Bunda Naya turut mengekor dibelakang sang suami.


"Em, kamu kenapa?" Tanya Bunda Naya yang langsung merangkul Emily dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.


Bunda Naya membimbing Emily yang sesenggukan untuk masuk ke dalam rumah. Wanita paruh baya itu mendudukkan Emily di sofa, dan menanyai Emily dengan lembut,


"Ada apa, Em?"


"Bunda!" Emily kembali menghambur ke pelukan sang bunda.


"Sean-" Emily masih sesenggukan.

__ADS_1


"Sean kenapa?" Tanya Bunda Naya yang raut wajanya terlihat khawatir.


Kyle yang tadi sudah mau pergi juga tidak jadi dan kembali lagi ke ruang tamu, demi bisa mendengarkan cerita Emily.


"Sean menghamili Rachel," terbata-bata Emily bercerita pada sang Bunda dengan suara yang lirih dan nyaris tak terdengar.


"Apa??" Teriakan itu keluar bersamaan dari Bunda Naya, Ayah Satria dan Abang Kyle tentu saja.


Kyle yang seakan gelap mata, langsung keluar dari rumah Emily, dan pergi dengan cepat mengemudikan mobilnya.


Sedangkan Ayah Satria segera mendekat ke arah Emily dan menggantikan Bunda Naya memeluk sang putri yang masih terus menangis. Tak terbayangkan bagaimana hancurnya hati Emily sekarang.


Bunda Naya mengusap punggung Emily dan terus menguatkan sang putri.


"Mungkin Sean memang bukan jodoh kamu, Emily!" Nasehat Bunda Naya lembut.


"Emily sayang Sean, Bund!" Cicit Emily yang suaranya masih terbata-bata di sela isak tangisnya.


"Bunda tahu," Bunda Naya kembali menyeka airmata di pipi sang putri.


"Kau harus membuang jauh semua rasa cintamu pada pria brengsek itu, Em!" Ucap ayah Satria tegas seraya menatap sang putri yang masih berurai airmata.


Emily menggeleng-gelengkan kepalanya.


Emily dan Sean tumbuh bersama sejak mereka masih bayi hingga kini. Sean yang sejak masih balita sudah meng-klaim Emily sebagai calon istrinya tentu saja membuat Emily tak bisa melupakan begitu saja semua kenangan manis di antara mereka.


Dan rasa cinta serta rasa sayang Emily pada Sean serta Sean pada Emily sudahbtak terhitung lagi jumlahnya. Namun seperti kata pepatah 'Manusia berencana, tapi Tuhan yang berkehendak' sepertinya itulah yang terjadi pada hubungan Sean dan Emily.


Mungkin Sean memang bukan jodoh Emily.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.


__ADS_2