Jodoh Emily

Jodoh Emily
PENDARAHAN?


__ADS_3

Pagi baru saja menjelang. Mentari masih menyapa dengan malu-malu di langit sebelah timur. Hanya sinar jingganya yang sedang berusaha menerangi semesta.


Emily menggeliat sekaligus meringis di atas tempat tidur. Wanita itu menyingkirkan lengan besar Galen yang membelitnya dan memegangi bagian bawah perutnya yang kini melilit-lilit tak jelas.


Rasanya seperti kalau hendak datang bulan. Tapi yang ini lebih sakit.


Benar-benar sakit hingga membuat Emily meringis.


Emily diam sejenak menikmati rasa sakitnya, saat tiba-tiba sebuah desiran yang dibarengi dengan cairan yang sepertinya meluncur di area pangkal paha Emily, membuat Emily sedikit tersentak.


Emily buru-buru menyibak selimut dan berlari ke kamar mandi, saat noda berwarna merah itu sudah mengotori underwear-nya.


Ya ampun!


Mana Emily sedang tidak di rumah sekarang.


Dan otomatis Emily juga tidak membawa roti jepang-nya.


Bagaimana ini?


Emily buru-buru membersihkan area intimnya, saat terdengar langkah Galen yang sepertinya sedang menuju ke arah kamar mandi.


"Sayang! Udah bangun?" Tanya Galen menatap heran pada Emily yang kini duduk di atas dudukan toilet, seraya menutup bagian bawah tubuhnya dengan handuk.


"Kamu kenapa?" Tanya Galen lagi seraya mengangkat sebelah alisnya.


Galen baru saja akan mendekat ke arah Emily saat netra suami Emily itu tak sengaja tertumbuk pada sebuah kain dengan noda darah yang kini teronggok di lantai dekat Emily.


"Itu darah siapa?" Tanya Galen sedikit panik.


Emily mengangkat tangan kanannya dan sedikit meringis.


"Kamu pendarahan, Sayang?" Tanya Galen panik seraya berlutut di depan Emily.


"Sebelah mana? Bagaimana bisa? Kau terkena pisau? Kau terpeleset?" Cecar Galen yang kini menggoyang-goyangkan tubuh Emily dan wajahnya begitu panik.


Emily jadi ingin tertawa sekarang.


"Aku baik-baik saja, Sayang! Aku hanya sedang datang bulan," jawab Emiky yang kembali meringis.


Galen diam sejenak dan sudah berhenti mengguncang bahu Emily.


"Apa kamu bilang?"


"Aku datang bulan," Emily mengulangi jawabannya.


"Tapi kenapa darahnya sebanyak itu?" Tanya Galen heran.


"Yakin itu bukan pendarahan?" Wajah Galen masih khawatir.


"Aku tidak sedang hamil! Bagaimana ceritanya bisa pendarahan?" Dengkus Emily yang sepertinya kesal dengan prasangka Galen.


Nikah baru tiga hari.


Belah duren baru dua malam.


Masa iya udah hamil dan pendarahan


"Ya, siapa tahu kemarin itu langsung jadi. Dua malam aku menanam benih banyak sekali di rahimmu," tukas Galen penuh percaya diri.


"Ck! Tidak secepat itu! Kau pikir tauge, yang bisa tumbuh dalam waktu dua malam?" Emily memukul bahu Galen karena kesal. Dan suaminya itu hanya terkekeh tanpa dosa.


"Pasti dulu suka tidur pas pelajaran Biologi!" Tuduh Emily seraya menuding ke arah Galen.

__ADS_1


"Nggak tidur, kok! Cuma nongkrong aja di kantin," jawab Galen membuat pengakuan.


"Dasar!" Emily kembali memukul bahu Galen.


"Tapi apa biasanya memang sebanyak itu?" Galen kembali mengendikkan dagunya ke arah underwear Emily yang masih teronggok di lantai.


"Nggak. Baru kali ini banyak begitu. Apalagi ini baru hari pertama. Mana perut aku sakit," Emily kembali memegangi perutnya bagian bawah.


"Kita ke UGD, ya!" Ajak Galen sedikit membujuk Emily.


"Nggak ah! Cuma datang bulan, ngapain ke UGD? Beliin pembalut sana!" Perintah Emily pada Galen.


"Aku?" Galen menunjuk ke arah dadanya sendiri.


"Ya, iya kamu! Masa mau nyuruh pegawai hotel. Aku kan nggak bawa pembalut!" Cerocos Emily seraya berdecak berulang.


"Yang bagaimana, sih?" Tanya Galen seraya garuk-garuk kepala.


Emily menahan tawanya melihat Galen yang garuk-garuk kepala.


Kuwalat, Pak?


Dulu hobi nyeramahin Emily, sih!


"Ya pokoknya pembalut. Kamu ambil ponsel dulu, aku kasih lihat gambarnya!" Perintah Emily pada sang suami.


Galen segera bangkit berdiri dan keluar dari kamar mandi.


Tak berselang lama, Galen sudah kembali membawa ponsel milik Emily.


Segera Emily membuka aplikasi pencarian yang sudah sesepuh itu, dan mencari gambar pembalut.


"Yang kayak gini pokoknya, Yang!" Emily menunjukkan gambar di ponselnya pada Galen.


"Beli yang bungkusnya warna apa? Ini ada banyak begini warnanya. Nanti aku bingung pas sampai disana," Cecar Galen menuntut penjelasan.


"Baiklah!" Galen kembali bangkit berdiri.


"Di minimarket dua puluh empat jam itu ada, kan?" Tanya Galen lagi memastikan.


"Iya, ada! Buruan Galen! Aku udah risih ini," gerutu Emily sedikit bersungut pada Galen.


"Iya, aku cuci muka sama gosok gigi bentar. Masa iya, keluar pakai muka bantal begini?" Galen mencuci wajahnya dengan cepat dan menggosok gigi sebentar, lalu keluar dari kamar mandi.


"Jangan lupa pakai baju, Yang!" Seru Emily mengingatkan Galen yang sejak tadi memang bertelanjang dada.


"Iya, iya! Lihat, udah pakai!" Lapor Galen menunjukkan dirinya yang sudah mengenakan kaus dan jaket serta celana jeans selutut.


"Aku belikan sebentar," pamit Galen seraya berlalu pergi.


****


Galen masuk ke dalam minimarket dua puluh empat jam yang pagi ini sepi sekali.


Ya iyalah, masih pagi-pagi buta!


Siapa juga yang mau belanja sepagi ini?


Galen langsung menuju ke rak kebutuhan wanita dan anak-anak. Baru juga masuk, Galen sudah dihadapkan dengan jejeran pembalut aneka warna.


Ya ampun!


Bedanya apa memang?

__ADS_1


Kenapa ada yang pink, hijau, hitam, ungu.


Membingungkan!


Segera Galen menghubungi Emily dan mengarahkan kamera ponselnya ke deretan pembalut di depannya.


Seumur hidup, baru kali ini Galen membeli kebutuhan wanita yang jenis ini.


Apa para suami di luaran sana juga suka membelikan pembalut untuk istrinya?


"Yang mana, Yang?" Tanya Galen to the point.


"Yang bungkus hitam yang ada tulisannya empat puluh lima centimeter itu, Yang!" Jawab Emily setelah melihat deretan pembalut yang ditunjukkan Galen.


"Emang itu ukuran apa empat puluh lima centimeter? Kok panjang sekali?" Tanya Galen bingung.


"Ya panjang pembalutnya, lah! Kamu kok kepo sekali!" Sahut Emily berdecak malas.


"Udah buruan ambil, dan cepat pulang! Aku udah risih banget ini!" Perintah Emily dengan nada galak.


Sambungan video call terputus begitu saja.


Galen berdecak dan segera pergi ke kasir membawa pembalut untuk Emily.


****


Tak sampai lima belas menit, Galen sudah tiba di dalam kamar hotel. Pria itu segera membawa benda keramat yang tadi ia beli ke kamar mandi. Dan Emily masih di posisinya semula, belum berpindah sedikitpun.


"Ini pesanan kamu!"


"Makasih, Sayang!" Emily tersenyum manis ke arah Galen. Segera Emily membuka bungkusan pembalut itu dan mulai memakainya.


Sementara Galen masih berada di kamar mandi dan merasa kepo tentang bagaimana cara memakai benda itu.


"Kamu ngapain berdiri disitu, Yang?" Tanya Emily menatap tak mengerti ke arah Galen.


"Kan aku pengen lihat kamu pakainya dimana dan bagaimana," jawab Galen sok polos.


"Ish! Kepo banget! Keluar sana!" Emily mengusir Galen seraya bersungut-sungut.


"Aku udah lihat punyamu luar dalam. Jadi ngga usah sok malu gitu!" Goda Galen yang kini terkekeh geli.


"Tapi yang ini nggak harus dilihat juga! Kan malu!" Cicit Emily yang akhirnya tetap lanjut memakai pembalutnya, meskipun Galen masih menatapnya dan mungkin suaminya itu tak berkedip sekarang.


Ish!


Dasar Galen kepo!


"Sakit nggak sih, kalau sedang kayak gitu, Sayang?" Tanya Galen pada Emily yang sudah selesai memakai pembalut. Emily meraih underwear-nya yang kotor tadi dan segera mencucinya.


"Apanya? Yang sakit biasanya perut bagian bawah. Tinggal dibawa berbaring nanti sembuh, kok!" Jawab Emily santai.


"Nggak bisa lanjut bikin Galen junior, dong," rengut Galen dengan nada kecewa


"Libur dulu, oke!" Emily menepuk punggung Galen dan segera keluar dari kamar mandi. Meninggalkan Galen yang raut wajahnya masih terlihat kecewa.


Galen yang malang!


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.


__ADS_2