Jodoh Emily

Jodoh Emily
ADA APA DENGAN RACHEL?


__ADS_3

"Rachel!" Mama Eve mengetuk pintu kamar Rachel sebelum mendorong pjntu kayu tersebut hingga terbuka.


Rachel sedang duduk di atas tempat tidur, memangku bantal, dan membaca buku.


"Iya, Ma! Ada apa?" Tanya Rachel yang sedikit tergagap.


"Mama mau minta pembalut kamu. Di tempat biasa, kan?" Mama Eve langsung membuka lemari kecil di bawah nakas sebelum Rachel sempat menjawab.


Lemari tersebut terlihat sesak oleh beberapa pack pembalut yang masih utuh dan seakan tak tersentuh.


Semua kebutuhan Rachel memang masih dibelikan oleh sang Mama. Dan setiap bulan, tentu saja Mama Eve selalu membelikan benda kotak persegi itu untuk sang putri. Dan sekarang, benda itu menumpuk di lemari Rachel.


Apa itu artinya Rachel memang tak lagi memakai pembalut beberapa bulan terakhir?


"Rachel dapat giveaway pembalut kemarin, Ma! Makanya stok masih penuh! Dan Rachel lupa bilang ke Mama," ujar Rachel seakan sedang mencari alasan untuk meyakinkan sang mama.


"Apa kamu sedang hamil, Rachel?" Tanya Mama Eve dengan nada selembut mungkin, meskipun hatinya terasa ingin meledak.


Rachel menggeleng dan matanya sudah berkaca-kaca. Rachel juga semakin merapatkan bantal yang menutupi perutnya seakan sedang menyembunyikan sesuatu.


"Buktikan!" Mama Eve menyodorkan sebuah alat tes kehamilan pada Rachel.


Rachel kembali menggeleng dan airmatanya sudah lolos meluncur di kedua pipinya.


"Maafkan Rachel, Ma!" Isak Rachel di antara tangisnya.


Mama Eve segera jatuh terduduk diatas tempat tidur Rachel, merasa shock dengan kebenaran yang akhirnya diungkapkan oleh Rachel.


"Sudah berapa bulan? Dan dengan siapa kau melakukannya, Rachel?" Tanya Mama Eve seraya mengguncang bahu sang putri.


Namun Rachel hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan tidak mau mengatakan siapa ayah dari bayi yang kini ia kandung.


Rachel sudah bertekad untuk tidak memberitahu siapapun ayah kandung dari bayimya. Rachel tidak mau menghancurkan hubungan Sean dan Emily. Rachel tidak mau menyakiti Emily, sahabat baiknya.


Biarlah bayi ini Rachel rawat sendiri kelak.


Rachel akan pergi ke kota lain saat melahirkan nanti. Pergi ke rumah Bibi Mia dan Paman Bian misalnya. Rachel ingin pergi sejauh-jauhnya dari hidup Sean dan Emily.


"Jawab, Rachel!" Mama Eve mulai emosi, dan airmata wanita paruh baya tersebut sudah jatuh bercucuran. Namun Rachel tetap keras kepala dan tetap tak mau buka suara.


"Jawab, Rachel!" Bentak Mama Eve mulai hilang kendali.


Rachel masih diam dan menangis.


"Eve, ada apa?" Papa Steve sudah masuk ke kamar karena mendengar sang istri yang sedang marah-marah pada Rachel.


"Rachel hamil, Steve!" Mama Eve mengadu pada sang suami seraya berurai airmata.

__ADS_1


"Dan dia tidak mau mengatakan siapa yang sudah menghamilinya!" Sambung Mama Eve lagi menunjuk-nunjuk pada Rachel yang hanya menangis dalam diam sejak tadi.


Papa Steve sebenarnya juga shock, tapi pria paruh baya itu sepertinya lebih bisa mengendalikan emosinya ketimbang sang istri.


Papa Steve membawa Mama Eve yang masih emosi keluar dari kamar Rachel.


Tak berselang lama, papa langsung Rachel tadi kembali masuk ke kamar Rachel dan segera meraup sang putri ke dalam pelukannya. Papa Steve mencoba menenangkan Rachel yang masih menangis tersedu-sedu, menghapus airmata yang menenuhi wajah anak gadisnya tersebut, dan merapikan rambut Rachel yang berserakan.


"Sudah berapa bulan?" Tanya Papa Steve lembut.


Jika dilihat dari bentuk perut Rachel kemungkinan sudah lebih dari tiga bulan.


"Li-lima bulan, Pa!" Jawab Rachel tergagap meskipun sebenarnya Rachel juga tak tahu pasti berapa usia kandungannya.


Jika merunut dari malam paling sial di hidupnya itu, ini memang sudah kima bulan sejak kejadian tersebut.


"Pria yang-" Papa Steve belum menyelesaikan kalimatnya, saat Rachel sudah mengangkat kepala dari pelukan sang Papa dan menggeleng dengan kuat.


"Dia sudah punya kekasih, Pa! Tidak! Dia sudah punya calon istri dan dia melakukannya diluar kesadaran."


"Rachel tidak akan membuang bayi ini! Tapi jangan tanya lagi siapa papa kandungnya! Rachel tidak mau menyakiti hati calon istrinya, Pa!" Pinta Rachel panjang lebar memohon pada sang papa.


"Tapi pria itu tetap harus tahu, Rachel! Dia tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya," ucap Papa Steve tegas.


Rachel tetap keras kepala dan masih menggeleng.


"Eve! Kenapa kau menangis?" Suara seorang pria dari arah ruang tamu membuat Rachel tak jadi melanjutkan kalimatnya.


"Apa sedang ada masalah? Rachel dan Steve dimana?" Disusul suara seorang wanita yang terdengar familiar.


"Paman dan bibimu sudah datang," ucap Papa Steve pada Rachel dan meghapus sisa-sisa airmata di wajah sang putri yang masih sesenggukan.


"Cuci mukamu dan ganti baju! Papa akan menemui mereka dulu!" Titah Papa Steve lembut seraya mengusap kepala Rachel.


Rachel hanya mengangguk dan segera pergi ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Sementara papa Steve keluar dari kamar Rachel untuk menyambut tamu yang datang siang ini.


"Kau apakan adikku, Steve? Kenapa dia menangis seperti itu?" Tanya seorang pria paruh baya yang terlihat lebih tua beberapa tahun dari papa Steve.


"Hai, paman Bian! Bagaimana kabarmu!" Papa Steve memeluk pria bernama Bian tersebut.


"Aku bukan pamanmu! Bisakah kau memanggilku Abang atau Bian saja agar aku tak terlihat tua?" Protes Bian merasa tak terima.


"Selamat siang, Nona Mia!" Steve ganti menyapa Mia yang merupakan istri dari Bian, kakak kandung Eve.


"Aku bukan atasanmu, Steve! Jangan menyapaku berlebihan begitu!" Mia masih merangkul Eve yang tadi sempat menangis. Namun sekarang, istri Steve itu sudah bisa mengendalikan emosinya.


"Papa memang sudah tua! Jadi tidak usah merasa sok muda!" Yang itu suara seorang pemuda yang seusia dengan Rachel.

__ADS_1


"Hai, Galen! Ada apa dengan jambangmu itu? Papamu terlihat lebih muda dan lebih tampan ketimbang dirimu," Steve lanjut menyapa dan memeluk Galen yang merupakan keponakan kesayangannya.


"Mana Rachel?" Tanya Mia mengedarkan pandangannya ke rumah Steve dan Eve yang tidak terlalu besar.


Tak berselang lama, Rachel keluar dari kamarnya dengan wajah yang sudah terlihat lebih segar dan rambut yang dicepol sembarangan.


"Siang, Paman, Bibi!" Rachel memeluk Paman Bian dan Bibi Mia bergantian. Lalu melakukan tos dan tersenyum pada Galen, sepupunya yang selalu berpenampilan rapi dan perfect.


"Perasaanku saja atau Rachel memang sedikit lebih gemuk?" Bibi Mia sedikit berkelakar.


Rachel, Mama Eve, dan Papa Steve langsung diam seketika dan senyuman juga sudah pudar dari bibir ketiganya.


"Apa ada masalah? Kenapa semuanya berwajah murung?" Tanya Paman Bian sedikit bingung karena semua anggota keluarga adiknya tersebut tiba-tiba murung.


"Sebaiknya kita semua duduk dulu! Dan dimana, Ghea? Dia tidak ikut?" Papa Steve segera buka suara dan mencairkan suasana.


"Ghea masih sibuk merayakan perpisahan dengan teman-teman sekolahnya, Om!" Jawab Galen sedikit menjelaskan.


Ghea adalah anak bungsu Bibi Mia dan Paman Bian. Gadis itu baru saja lulus SMA tahun ini.


.


.


.


Cast- nya kebanyakan kayaknya 🙈


Yang udah baca "Nona Mia" pasti paham mereka semua siapa.


Yang belum baca aku kasih gambaran sedikit biar nggak bingung.


Eve adik kandungnya Bian, menikah dengan dokter Steve trus punya anak namanya Rachel.


Bian menikah dengan nona Mia punya dua anak namanya Galen dan Ghea.


Galen seusia dengan Rachel.


Sedangkan Ghea selisih 5 tahun dari Galen dan Rachel.


Sekian semoga paham.


Ghea punya cerita sendiri juga, Thor?


Punya! Tapi rilisnya paling belakang.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.


__ADS_2