
Sean baru tiba di kawasan mall pusat kota, saat pria itu melihat Rachel dan Emily keluar beriringan dari dalam mall. Segera Sean berjalan mendekat ke arah dua wanita tersebut. Namun tanpa diduga tanpa dinyana, sebuah mobil yang sepertinya hilang kendali melaju dengan kecepatan tinggi ke arah Emily dan Rachel yang hendak menyeberang.
Sean merasa bingung harus menarik Emily atau Rachel. Otak dan gerakan Sean seakan tak sinkron hingga di detik selanjutnya, Sean merasakan nyeri pada pundak dan punggungnya karena terbentur lantai beton, lalu sebuah tubuh dengan perut yang membola, menindih Sean. Tangan Sean refleks mendekap tubuh Rachel, sebelum otaknya menyadari hal tersebut.
Mata Sean sekilas menangkap raut kekecewaan di wajah Emily, yang lalu dengan cepat di tepis oleh Emily sendiri.
Perasaan Sean saja, atau Emily memang kecewa karena Sean lebih memilih menyelamatkan Rachel ketimbang dirinya?
Sean masih mendekap tubuh Rachel dan melindungi istrinya itu dari benturan.
Sedangkan Emily segera bangkit berdiri dan menghampiri Rachel yang terlihat shock.
"Rachel, kau baik-baik, saja?" Emily membantu Rachel dan Sean untuk bangkit berdiri.
Rachel terlihat gemetar, segera Emily membimbing sahabatnya tersebut untuk duduk. Padahal Emily sendiri juga gemetaran sekarang karena mobil sialan tadi.
"Rachel!" Sean sudah menghampiri Rachel dan Emily sedikit menjauh untuk memberi ruang pada Sean.
Sesaat hati Emily merasa lega, melihat Sean yang ternyata sudah sangat peduli pada Rachel. Namun jika Emily rasakan lebih dalam lagi, kenapa ada sedikit nyeri juga di hati Emily melihat perhatian Sean pada Rachel?
"Aku baik-baik saja!" Rachel menyentak tangan Sean yang sedang memastikan keadaannya. Sesekali Rachel menoleh pada Emily yang juga sudah duduk sedikit jauh dari Rachel dan menundukkan wajahnya.
"Ada apa ini?" Mom Bi sudah datang dan ikut menghampiri Rachel yang masih duduk dan gemetaran.
"Rachel dan Emily nyaris terserempet mobil, Mom!" Lapor Sean pada Mom Bi.
"Rachel baik-baik saja, kok, Mom! Itu Emily yang tadi jatuh," Rachel menunjuk ke arah Emily yang hanya duduk diam sendiri dan menunduk.
"Em, kamu baik-baik saja?" Tanya Sean yang kini sudah ganti menghampiri Emily.
Emily mendongakkan wajahnya dan segera mengulas senyum di bibirnya.
"Ya! Aku baik-baik saja! Aku akan cari taksi dan pulang!" Emily sudah bangkit dari duduknya dan berpamitan pada Mom Bi.
"Mom antar, Em!" Paksa Mom Bi bersikeras.
"Nggak usah, Mom! Emily naik taksi saja. Itu banyak taksi di depan!" Jawab Emily seraya menunjuk ke arah pangkalan taksi di depan mall.
Setelah mencium punggung tangan Mom Bi dengan kilat, Emily lanjut berjalan ke pangkalan taksi tanpa sedikitpun menyapa Sean dan Rachel. Emily mempercepat langkahnya ke arah pangkalan taksi saat tiba-tiba mobil sedan silver sialan itu berhenti tepat di depan Emily dan membuat jantung Emily nyaris menggelinding dari rongganya.
Dasar mobil silver sialan!
Tunggu!
Ini bukan mobilnya Pak Gak Selera itu, kan?
Kaca mobil diturunkan oleh sang pengemudi.
Ya ampun!
Apa dosa Emily sampai harus bertemu Pak Galen Maho nenyebalkan ini lagi?
"Kau sedang apa berdiri di pinggir jalan seperti preman begitu?" Tegur Galen galak.
"Baru mau cari taksi! Mobil bapak ini yang bikin saya jantungan!" Emily menendang ban mobil Galen dengan geregetan.
"Masuk!" Titah Galen pada Emily.
"Nggak! Saya mau naik taksi!" Tolak Emily seraya mengangkat satu tangannya pada pengemudi taksi yang masih mangkal.
"Selamat sore, Pak Galen! Sampai jumpa hari Senin!" Pamit Emily lebay yang sudah berlalu dengan cepat meninggalkan mobil Galen dan naik ke dalam taksi.
Galen hanya mendengus sebal.
Dan merutuki dirinya sendiri.
__ADS_1
Ngapain juga Galen tadi menghampiri karyawannya yang ceroboh itu?
Flashback beberapa saat sebelumnya.
Galen baru saja mengantar Ghea Adisti Biantara, sang adik kesayangan yang katanya mau hang out bersama teman-teman lebaynya di mall.
Mobil Galen hampir mencapai pelataran utama mall saat mendadak ada sedikit keributan tepat di depan pintu utama mall. Dua orang gadis hampir terserempet mobil, namun seorang pria berhasil menyelamatkan keduanya.
"Lama banget, sih, Bang! Ghea turun disini saja!" Ucap Ghea tak sabaran.
Adik Galen ini memang bukan tipe gadis penyabar dan mudah mencak-mencak meskipun tidak sedang PMS. Entah dulu Mom Mia ngidam apa saat hamil Ghea. Kata Papa Bian mungkin karena kebanyakan makan singkong Thaliland.
Aneh sekali!
Apa memang hubungan singkong Thailand dan sifat aneh Ghea?
Untung Galen pria normal dan tidak punya sifat yang aneh seperti Ghea.
Ghea sudah turun dari mobil dan menghilang ke dalam mall. Galen memilih untuk lanjut melajukan mobilnya karena keributan juga terlihat sudah usai.
Dan saat mobil Galen melintas di pelataran utama, Galen melihat Emily, Sean, serta Rachel yang sedikit terlibat perdebatan. Galen ingin berhenti dan mencari tahu sebenarnya. Namun klakson sialan dari mobil di belakang mobilnya, nembuat Galen harus terus melajukan mobilnya.
Mobil Galen melaju perlahan meninggalkan pelataran utama mall, dan Galen bisa melihat sekilas dari spion mobilnya, Emily yang sudah meninggalkan Rachel serta Sean dan berjalan keluar dari kawasan mall.
Mungkin gadis ilustrator itu sedang patah hati dan kecewa berat.
Salah sendiri cari penyakit!
Kenapa juga masih menemui Rachel dan Sean kalau memang belum bisa move on?
Haruskah Galen membantu Emily meng-edit hatinya agar segera move on dari pria bernama Sean itu?
Hahahaha!
Ada-ada saja!
****
Emily masih membuang pandangannya keluar jendela taksi, menatap barisan gedung-gedung yang berjajar di sepanjang jalan.
Pikiran Emily kembali tertuju pada Sean dan kejadian di pelataran mall tadi.
Kenapa Emily harus kecewa?
Kenapa Emily harus marah dan sakit hati?
Sean menyelamatkan Rachel, tentu saja itu hal yang wajar. Sean mungkin sudah mulai mencintai dan menyayangi Rachel sekarang. Sean sudah menjadi suami yang baik untuk Rachel. Bukankah seharusnya Emily ikut senang.
Ayolah, Em!
Kau harus move on dari Sean!
Sampai dunia kiamat, Sean tidak akan pernah menjadi milikmu lagi!
Sean itu suami Rachel!
Terima saja!
Tak perlu lagi meratapi hubunganmu bersama Sean!
"Ish!" Emily mendengus kesal, merutuki dirinya sendiri yang tak kunjung bisa move on dari Sean.
Taksi sudah sampai di depan rumah Emily.
****
__ADS_1
Rumah sakit,
Rachel dan Sean keluar dari poli kandungan dan masih saling diam. Sejak tiba di rumah sakit, Rachel memang tak bicara sepatah katapun pada Sean. Saat di dalam ruang periksa juga Rachel hanya berbicara pada dokter yang memeriksanya.
Dan saat Sean menyampaikan pada dokter tentang insiden di pelataran mall tadi, Rachel juga hanya membisu dan sama sekali tak menimpali. Sean benar-benar tak paham dengan sikap dingin Rachel ini.
Mau sampai kapan Rachel mendiamkan Sean seperti ini?
Kesabaran Sean juga ada batasnya!
Sean dan Rachel sudah masuk ke dalam mobil dan seperti biasa, hanya ada keheningan. Rachel langsung membuang wajahnya keluar jendela dan tak sedikitpun menatap Sean.
Menyebalkan!
"Rachel!" Panggil Sean selembut mungkin pada Rachel.
"Ya!" Rachel menjawab tanpa menatap pada Sean.
Menoleh saja tidak! Apalagi menatap.
"Rachel!" Sean meraih tangan Rachel.
Segera Rachel menyentak tangan Sean dan berusaha melepaskan tangannya yang kini digenggam erat oleh Sean. Namun sia-sia. Genggaman Sean begitu kuat.
"Lepas!" Sentak Rachel galak, masih tak mau menatap Sean.
"Ada apa denganmu, Rachel?" Tanya Sean tak paham.
Namun Rachel masih membisu dan tak menjawab pertanyaan Sean.
"Rachel, aku bertanya kepadamu!" Sean kini ganti merengkuh kedua pundak Rachel.
"Berhentilah memberi perhatian kepadaku!" Jawab Rachel akhirnya dengan airmata yang sudah jatuh di kedua pipinya.
Sean mengernyit tak mengerti.
"Aku tahu, kau dan Emily masih saling mencintai! Dan sekarang kau menikahiku hanya demi menebus rasa bersalahmu karena sudah membuatku hamil. Kau bisa meninggalkanku kapanpun kau mau, Sean!"
"Kau bisa kembali pada Emily kapan saja, tak perlu menunggu bayi ini lahir!" Rachel menunjuk pada perutnya yang membola.
"Aku yang akan bicara pada Mom dan Dad! Aku tidak mau dihantui rasa bersalah seumur hidup karena sudah menghancurkan hubunganmu dengan Emily!" Rachel menangis tersedu-sedu mengungkapkan semua hal yang mengganjal di hatinya selama beberapa bulan terakhir.
"Hubungan yang mana maksudmu?" Sean menatap tak mengerti pada Rachel.
"Hubunganku dengan Emily sudah berakhir sejak aku memutuskan untuk bertanggung jawab dan menikah denganmu! Aku sudah membuang jauh semua perasaanku pada Emily, begitu juga Emily! Kami berdua hanya berteman sekarang, Rachel!" Sean mencoba memberi pengertian pada Rachel.
"Tapi dari cara Emily menatapmu, gadis itu masih menyimpan rasa cinta kepadamu! Apa kau tidak lihat saat di mall tadi, Emily begitu kecewa karena kau menyelamatkan aku dan tidak menyelamatkan Emily!" Sergah Rachel keras kepala.
"Aku juga menyelamatkan Emily tadi, karena aku yang mendorong Emily ke pinggir," Sahut Sean mencari pembenaran.
"Dan soal aku yang mendekap serta melindungimu dari benturan tadi, jujur itu adalah gerak refleks semata. Atau mungkin itu naluri alamiah karena kau sedang mengandung calon anakku?" ucap Sean yang langsung membuat Rachel terdiam.
Benarkah itu naluri alamiah seorang ayah pada calon anaknya?
.
.
.
Ni cerita alurnya gimana , konfliknya gimana?
Aku kok bingung 😂
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.