Jodoh Emily

Jodoh Emily
RESIGN, YA!


__ADS_3

Jam di ruangan ilustrator masih menunjukkan pukul sepuluh saat Emily kembali dari toilet dengan wajah merah padam.


Istri Galen itu tak berhenti mual dan muntah-muntah sejak baru tiba di kantor pagi ini.


"Em, wajah kamu pucat begitu. Kamu yakin nggak mau pulang aja?" Tanya Faisal khawatir saat melihat wajah Emily yang memerah dan pucat. Emily juga kini meletakkan kepalanya di atas meja kerja.


"Kemarin aku baik-baik aja, kok sekarang aku muntah-muntah terus, ya, Sal?" Keluh Emily dengan suara yang nyaris tak terdengar.


"Ya, mana aku tahu! Aku juga nggak pernah ngrasain jadi ibu hamil," sahut Faisal yang malah mengajak Emily berkelakar.


Emily baru saja mengangkat kepalanya, saat wanita itu kembali merasa mual.


Bergegas Emily keluar dari ruang ilustrator dan menuju ke toilet yang letaknya berseberangan dengan ruang ilustrator.


"Ck! Dasar ibu hamil keras kepala!" Gerutu Faisal seraya meraih telepon internal yang ada di dekatnya. Faisal menekan nomor ruangan Galen.


"Halo!"


"Pagi, Pak! Ini Faisal!" Ucap Faisal cepat seraya menyapa Galen.


"Iya, ada apa, Sal?"


"Emily kelihatannya kurang enak badan hari ini, Pak! Sejak pagi muntah-muntah terus," lapor Faisal pada Galen, berbarengan dengan Emily yang sudah kembali ke adalm ruang ilustrator.


"Benarkah? Aku akan kesana kalau begitu."


"Baik, Pak!" Pungkas Faisal sebelum menutup telepon pada Galen.


"Telepon dari siapa, Sal?" Tanya Emily kepo. Wanita itu menyeka wajahnya dengan tisue basah, dan make up tipisnya sudah luntur tak tahu rimbanya.


"Suami kamu!" Jawab Faisal cepat.


Tak berselang lama, pintu ruang ilustrator dibuka dari luar dan tampak Galen yang berdiri di ambang pintu mengenakan kemeja warna kremnya hari ini.


"Pagi, Yang! Ada kerjaan baru lagi?" Sapa Emily pada sang suami karena posisi meja kerja Emily yang memang berada tepat di depan pintu masuk.


Galen tak langsung menjawab pertanyaan Emily dan malah memutar kursi istrinya tersebut, menangkup wajah Emily yang memerah karena berulangkali muntah.


"Masih mual?" Tanya Galen lembut.


"Cuma dikit kok. Apa Faisal yang lapor ke kamu?" Emily balik bertanya dan bibirnya merengut.


"Kamu muntah terus sampai kepayahan begitu, ya aku lapor ke Pak Galen, Em!" Sahut Faisal tanpa menengok ke arah Emily maupun Galen.


Sengaja sebenarnya Faisal menjaga pandangannya agar jiwa jomblonya tidak meronta hebat.


Usahanya untuk pedekate pada Kymi belum membuahkan hasil. Masa iya pesan dari Faisal cuma dibaca oleh Kymi seperti koran saja.

__ADS_1


"Kenapa nggak resign aja, sih!" Tanya Faisal lagi masih tak menoleh pada Galen dan Emily.


"Ck! Bisa diam nggak, kamu!" Sentak Emily sedikit ketus.


"Udah jangan galak-galak! Nanti kalau anak kita jadi galak gimana?" ucap Galen seraya mencubit gemas hidung Emily.


"Ya berarti memang benar-benar benih dari kamu. Kan kamu juga galak, Yang!" Jawab Emily sedikit terkekeh.


Istri Galen itu kembali menutup mulutnya dengan telapak tangan dan sepertinya mual lagi.


"Awas, Yang! Aku mau muntah lagi," Galen bergeas bangkit dari kursinya dan setengah berlari menuju ke toilet.


"Sal! Tolong kamu matikan iMac Emily dan kamu rapikan mejanya, ya!" Pesan Galen pada Faisal sebelum pria itu meraih tas Emily dan menyusul sang istri menuju ke toilet.


"Siap, Pak!" Jawab Faisal sedikit berdecak.


"Kapan ya, aku bisa ngelus-elus punggung istriku yang sedang mual juga," gumam Faisal meratapi kejombloannya setelah Galen keluar dari ruang ilustrator.


Faisal membereskan meja Emily yang sebenarnya tak terlalu berantakan, sesuai titah dari Pak manajer Galendra Biantara.


****


Emily keluar dari toilet da sedikit terkejut saat mendapati Galen yang sudah berdiri di depan toilet dan menunggu Emily keluar.


"Kamu ngapain disini, Yang?" Tanya Emily yang hendak kembali ke ruang ilustrator. Namun Galen mencegah dengan cepat.


"Kerjaan aku bagaimana? Masih numpuk banyak," keluh Emily yang malah khawatir dengan pekerjaannya.


Galen merengkuh kedua pundak istrinya tersebut saat mereka berdua sudah masuk ke dalam lift.


"Kamu resign saja, ya! Nanti biar aku yang buatin surat resign-nya," bujuk Galen dengan nada lembut pada Emily.


"Nggak! Aku nggak mau!" Sergah Emily cepat.


"Aku mualnya kan nggak tiap hari, Yang! Kemarin aku baik-baik aja, kok!" Kilah Emily mencari pembenaran.


"Tapi hari ini kamu mual hebat begini. Besok belum tahu bakal mual lagi atau nggak."


Ting!


Suara lift yang menandakan kalau Galen dan Emily sudah tiba di lantai tempat ruangan Galen berada membuat Galen menjeda kalimatnya.


"Udah, pokoknya kamu resign, titik!" Lanjut Galen dengan nada tegas.


"Tapi aku masih mau kerja, Yang! Aku masih mau coret-coret di iMac," Emily merengut dengan permintaan Galen kali ini.


"Nanti kamu bisa coret-coret di rumah," bujuk Galen memberikan solusi.

__ADS_1


"Trus kalau aku kangen kamu bagaimana? Kalau kamu kerja dari pagi sampai sore, trus aku di rumah, kan aku jadi nggak bisa lihat wajah kamu seharian. Beda kalau aku tetap kerja, trus aku kangen kan tinggal ke ruangan kamu," tutur Emily yang sepertinya tak kehabisan akal untuk memberikan sederet alasan pada Galen.


Dan Galen mendadak juga jadi dilema sekarang. Karena sejujurnya, Galen juga suka kalau Emily tetap masuk ke kantor begini. Galen jadi punya kesempatan untuk curi-curi ciuman ke istrinya dengan dalih mengantar pekerjaan ke ruangan Emily.


Dasar pasangan labil.


"Aku tetap kerja, ya, Sayang! Resign-nya nanti aja kalau udah dekat-dekat HPL," rayu Emily seraya menggamit lengan Galen, berharap suaminya itu akan berubah pikiran.


"Yaudah kita bahas nanti lagi," Galen menengok jam di arlojinya.


"Kamu istirahat disini aja dulu, baring-baring di sofa juga nggak apa-apa. Aku meeting sebentar sama anak-anak marketing," pamit Galen seraya mengecup kening Emily.


"Eh, Sayang!" Panggil Emily lagi saat Galen sudah sampai di ambang pintu.


"Apalagi?"


"Pesenin susu coklat yang pakai double coklat, dong, Sayang!" Pinta Emily seraya meringis pada Galen.


"Baiklah! Mau browniesnya sekalian?" Tawar Galen pada sang istri.


"Mau! Yang topping almond ya!" Jawab Emily seraya tersenyum pada Galen.


"Oke! Nanti biar diantar sama OB kesini. Kamu istirahat saja!" Pesan Galen sekali lagi pada Emily, dan suami Emily tersebut segera keluar dari ruangannya meninggalkan Emily yang kini berbaring di sofa.


.


.


.


Galau,


Dilanjut sampai 60 ribu kata nggak ya?


Masih kurang 24 ribu kata lagi.


Kali aja levelnya naik bulan depan 😝 (ngarep)


Tapi jadi bertele-tele begini kalau masih harus nambah 24 eps lagi 😷


Bantuin mikir gaees!


Lanjut apa nggak?


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.

__ADS_1


__ADS_2