
Emily masih ternganga di depan lemari Galen, menatap pada tumpukan kemeja, lalu tumpukan kaus, tumpukan celana, dan underwear. Semuanya tersusun dengan sangat rapi dan warnanya bisa berurutan.
Ini Galen sendiri yang menyusunnya?
Atau mungkin Mommy Mia?
Atau Ghea?
Papi Bian?
Mendadak Emily ingat pada lemarinya di kamar, yang dari luar kelihatan bagus, tapi pas di buka dalamnya benar-benar tak karuan.
Kadang mencari underwear saja, Emily sedikit kesusahan karena terselip di antara baju-bajunya yang lain.
Haish!
Galen pasti mencak-mencak kalau melihat isi lemari Emily.
"Em! Kok bengong!" Teguran Galen langsung membuyarkan lamunan Emily.
"Eh, enggak! Nggak bengong, kok!" Kilah Emily cepat seraya menggaruk kepalanya.
"Cuma kagum saja dengan isi lemari kamu yang begitu-" Emily sampai kehilangan kata-kata.
"Itu yang sisi sebelah kanan, yang masih kosong buat baju-baju kamu. Muat, nggak? Kalau nggak muat nanti aku bilang ke Mom biar beli lemari lagi buat kamu," ujar Galen menjelaskan sekaligus bertanya pada Emily.
"Muat, kok! Baju aku juga nggak banyak," jawab Emily cepat.
"Tapi, Galen! Apa baju aku juga harus disusun berdasarkan warna seperti baju kamu?" Tanya Emily sedikit ragu menunjuk ke arah tumpukan kemeja Galen yang warnanya berurutan dari warna gelap menuju ke warna cerah.
Galen terkekeh geli mendengar pertanyaan konyol Emily.
"Nggak usah, Sayang! Yang penting kamu susun rapi saja. Trus kamu pisah-pisahin yang atasan, bawahan, dress, sama underwear. Biar enak nanti kalau mau mencari baju." Galen sudah mendekat ke arah Emily dan merangkul istrinya tersebut.
"Ini kan raknya ada lima, kamu susun-susun saja yang rapi. Nggak usah diurutkan juga warnanya."
"Itu kemarin aku lagi nggak ada kerjaan, makanya susun warna baju seperti itu," sambung Galen lagi yang membuat Emily sedikit merasa malu.
Lah Emily kalau nggak ada kerjaan di rumah pasti tidur.
Ini Galen malah beberes dan menata lemari.
Duh, sepertinya jiwa Galen dan Emily sedikit tertukar.
"Iya, aku paham." Jawab Emily yang kini sudah membuka kopernya.
Masih bagus kemarin Bunda membantu Emily berkemas dan sudah melipat rapi semua baju-baju Emily, jadi Emily tinggal menyusunnya ke dalam lemari.
"Kalau dress begini harus digantung, Sayang!" Galen mengambil beberapa hanger untuk menggantung dress Emily yang jumlahnya bisa dihitung pakai jari. Itupun beberapa baru saja dibelikan Bunda beberapa hari yang lalu.
"Baju kamu kok kebanyakan baju cowok, sih?" Tanya Galen heran saat melihat baju-baju Emily.
__ADS_1
"Lebih nyaman pakai baju cowok. Kan lebih longgar," jawab Emily seraya meringis.
"Lingerie ada?" Tanya Galen yang sontak membuat Emily mengerutkan kedua alisnya.
Lingerie apa sih?
"Trus alat make up kamu juga mana? Kok cuma ada pelembab wajah? Lipstik nggak ada, bedak apalagi," cerocos Galen saat membuka dompet make up Emily yang isinya memang hanya beberapa krim perawatan wajah.
Untuk make up mana Emily punya?
Biasanya juga pinjam punya Bunda.
"Kan kamu tahu sendiri, aku nggak pernah pakai make up kalau kerja," jawab Emily jujur.
"Mulai sekarang harus pakai!" Galen mencolek hidung Emily sekali lagi.
Sepertinya suami Emily ini memang niat sekali mengubah Emily menjadi pinokio.
"Tapi bukannya kemarin kamu janji, kalau kamu menerima aku apa adanya? Aku nggak bisa dandan," cicit Emily seraya menundukkan wajahnya.
"Trus kalau ke acara itu, yang dandanin kamu siapa?" Tanya Galen mengerutkan kedua alisnya.
"Bunda," jawab Emily kembali jujur.
"Yaudah, nanti belajar caranya dandan sama Ghea." Ucap Galen akhirnya memberikan solusi.
Emily jadi ingat meja rias di kamar Ghea yang hampir penuh oleh alat make up dan berbagai krim perawatan wajah. Sepertinya adik kandung Galen tersebut memang pandai merias diri.
"Harus pakai bedak sama lipstiknya?" Emily masih merasa keberatan.
"Iya harus!" Jawab Galen tegas.
"Aku boleh potong rambut?" Tanya Emily tiba-tiba meminta persetujuan Galen.
"Kenapa memang? Rambut kamu udah panjang bagus begini," Galen meraup sedikit rambut Emily lalu menghirupnya.
Wangi shampo langsung menguar, karena memang pagi tadi Emily baru saja mandi keramas.
Sepertinya Emily bakalan mandi keramas setiap pagi mulai detik ini. Galen mesumnya nggak karuan begitu!
"Capek! Tiap pagi kudu mandi keramas dan keringin rambut pakai hairdryer," tutur Emily menyampaikan keluhannya.
Galen hanya tergelak.
"Nanti aku antar ke salon!" Ucap Galen seraya merangkul pundak Emily.
Bibir Emily langsung melengkungkan sebuah senyuman lebar. Semudah ini ternyata minta izin potong rambut pada Galen. Tahu begitu sejak kemarin-kemarin Emily memotong rambutnya.
Emily sudah selesai menyusun baju-bajunya ke dalam lemari Galen. Tak sampai setengah bagian dari ruang kosong tadi yang terisi.
Ya iyalah!
__ADS_1
Emily sengaja bawa baju sedikit.
Toh rumah Bunda juga cuma 200 meter dari rumah Galen. Kalau Emily mau mengambil bajunya yang lain, tinggal lari saja ke rumah Bunda.
Hahahaha!
"Tadi Papi minta aku memasak untuk makan siang," Emily yang sudah bangkit berdiri, menggamit lengan Galen dan mulai berbicara dengan nada merayu.
"Trus?" Ekspresi wajah Galen hanya datar.
Apa kanebonya sudah kering lagi sekarang?
Haruskan Emily kembali merendamnya agar kembali basah dan lemes?
"Aku bingung, keluarga kamu sukanya makan siang pakai apa. Aku kan bisanya cuma masak tumis buncis buruk rupa sama sup sayur," ucap Emily sedikit meringis.
"Papi sudah belanja?" Tanya Galen memastikan.
"Iya, sudah! Komplit tadi, semuanya dibeli sama Papi," cerita Emily yang mulai melangkahkan kakinya mengikuti Galen yang sepertinya hendak keluar dari kamar.
Tangan Emily masih erat menggamit lengan Galen.
"Yaudah, masak aja sup sayur. Satu rumah nggak ada yang pilih-pilih makanan, kok!" Jawab Galen enteng.
"Nanti kalau rasanya nggak pas bagaimana?" Tanya Emily sedikit merengut.
"Masak ayam katsu saja, ya! Ayam katsu buatan kamu enak, Sayang!" Rayu Emily yang pura-pura modus agar Galen menggantikannya memasak.
"Masak sup sayur, sama ayam goreng tepung. Itu juga udah enak. Jangan lupa buat sambal," ujar Galen yang langsung membuat Emily mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Itu semua aku yang harus memasak?" Tanya Emily dengan raut wajah setengah percaya.
Bisa amburadul dapur instagramable-nya Mommy Mia kalau Emily memasak disana.
"Aku bantuin!" Galen mengacak rambut Emily dan segera berlau masuk ke dalam dapur.
Suami Emily itu baru membuka kulkas empat pintu yang ada di dapur saat terdengar sesuatu bergemuruh yang sepertinya berjatuhan dari dalam kulkas. Pekikan dari Galen mengiringi suara gemuruh tadi.
Astaga!
"Emily! Apa kau yang menata sayuran di kulkas?" Seru Galen yang terlihat meringis karena kakinya yang habis tertimpa sesuatu.
Mati kau, Emily!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.