Jodoh Emily

Jodoh Emily
GALEN RESEK!


__ADS_3

Emily sudah kembali ke ruangan Galen membawa map dengan hati-hati agar tidak ada yang terlipat atau tertekuk, atau kusut dan tidak rapi.


"Sudah?" Tanya Pak Galen lantang saat Emily baru masuk ke ruangannya.


"Sudah, Pak!" Jawab Emily seraya menyodorkan map pekerjaannya pada Galen.


Galen segera memeriksa hasil pekerjaan Emily dan kini pria itu tersenyum puas.


"Kalau begini kan rapi, enak dilihat dan nggak bikin mata sepet."


"Mukamu itu yang bikin sepet, Pak!" Emily hanya berteriak dalam hati.


"Ini kamu antar ke bagian editor dan jangan lupa untuk bertanya bagian tata letaknya!" Titah Pak Galen selanjutnya yang kembali menyodorkan map tadi pada Emily.


Begitu saja?


"Baik, Pak!" Jawab Emily yang sudah berbalik dan henjjhdak menuju pintu keluar.


Namun lagi-lagi Galen resek itu memanggil Emily dan meminta Emily kembali.


"Rambutmu belum kamu ikat, Em!" Ujar Galen yang sontak membuat Emily berdecak. Emily segera meletakkan map yang ditangannya dan mengikat rambutnya sebentar.


"Jadi cewek itu yang rapi!" Ucap Galen yang kini sedang merapikan tumpukan kertas di atas meja kerjanya. Padahal tadinya tumpukan kertas itu sudah rapi.


Aneh sekali!


"Kalau ke kantor rambut diikat! Pakai baju yang sopan dan pakai rok! Itu kenapa pakai celana jeans? Rok kamu kemana?" Cecar Galen lagi yang kali ini ganti merapikan tempat pena serta hiasan lain diatas meja kerjanya.


Emily yang melihat semua itu hanya garuk-garuk kepala dan mersa tak paham dengan pak manajer aneh ini.


"Kamu mendengarkan saya tidak, Emily?" Tegur Galen dengan suara yang sudah naik tujuh oktaf karena Emily yang terlihat bengong dan hanya menggaruk-garuk kepalanya sejak tadi.


"Eh, iya! Dengar, Pak!" Jawab Emily tergagap.


"Saya bilang apa coba?" Tanya Galen mendelik ke arah Emily seraya mendongakkan dagunya dengan songong.


"Ke kantor rambut diikat!" Jawab Emily datar.


"Lalu?"


"Lalu apa? Ini rambut saya sudah saya ikat, Pak!" Sergah Emily menunjukkan rambutnya yang memang sudah terikat.


"Bukan itu! Lanjutan rambut diikat?" Galen mulai geregetan.


"Hah? Emang ada lanjutnya, Pak?" Tanya Emily seraya garuk-garuk kepala.


Emily sepertinya sudah berada di mode melamun setelah Pak Galen mengatakan tentang rambut yang harus diikat.


"Rok kamu kemana? Kenapa memakai celana jeans ke kantor?" Tanya Pak Galen yang nada bicaranya kembali meninggi


"Besok lagi, kalau ke kantor itu pakai rok!" Sambung Galen lagi masih denagn nada suara yang meninggi.


"Irma dan Faisal juga pakai celana jeans, Pak! Kenapa saya harus pakai rok?" Protes Emily merasa tidak terima.


Lagipula, kemarin saat Emily membaca peraturan kantor juga tidak tertulis wajib memakai rok!


Kenapa manajer resek ini mengada-ada?


"Nggak usah bawa-bawa Irma dan Faisal! Kamu itu karyawan baru! Kalau aku bilang pakai rok ya kamu harus pakai rok!" Tegas Galen tak mau dibantah.


"Yaelah! Maksa banget!" Gumam Emily menggerutu sebal.

__ADS_1


"Mulai besok pakai rok, rambut digelung dan jangan berantakan!" Ucap Galen memberikan pesan tegas pada Emily.


"Nggak sekalian pakai kebaya sama sanggul, Pak?" Sahut Emily berani.


"Kau!" Galen menuding geregetan ke arah Emily.


"Saya harus ke bagian editor, Pak! Selamat pagi!" Cengir Emily seraya berlalu dari hadapan Galen dan keluar dari ruangan pak manajer resek itu.


Baru jadi manajer udah sok ngatur-ngatur!


Apa kabar kalau dia yang jadi direkturnya?


****


Emily masuk ke ruangan ilustrator masih sambil bersungut-sungut.


Telinga Emily tak sengaja mendengar Faisal dan Irma yang tengah bergosip tentang Pak Galen. Segera Emily memasang pendengaran baik-baik.


"Jadi gosip tentang Pak Galen yang maho itu benar adanya?" Tanya Faisal yang raut wajahnya berubah serius.


Teman Emily yang satu itu, pas baru kenal aja kelihatan kalem. Eh giliran bergosip sama Irma, julidnya ngalahin emak-emak kompleks.


"Katanya sih begitu. Masa iya wajah tampan, body oke, kerjaan mapan, tapi masih belum punya cewek. Kalo nggak maho apaan dong?" Jawab Irma berspekulasi.


"Emang Pak Galen itu tampan, ya? Aku lebih tampan, kok!" Jawab Faisal penuh percaya diri yang sontak membuat Irma berakting ingin muntah. Dan Emily yang refleks tergelak dengan pengakuan Faisal yang penuh percaya diri.


"Lah, Em! Kapan datang?" Sapa Irma yang ternyata tak menyadari kehadiran Emily sejak tadi.


"Baru aja. Pas Faisal ngaku kalau dia cowok tampan," jawab Emily masih tergelak.


"Aku emang tampan, kok! Kalian julid aja, sih!" Gerutu Faisal yang sudah menyalakan layar iMac-nya dan mengetikkan password.


"Tampan tapi nggak laku-laku!" Cibir Irma yang langsung membuat Emily kembali tergelak.


"Hoeek! Aku ngak mau sama kamu! Ketampananmu membuatku silau!" Kelakar Irma yang langsung mengajak Emily untuk melakukan tos.


"Jual mahal amat!" Cibir Faisal sebelum akhirnya pria itu fokus ke layar iMac-nya.


"Jangan jual mahal begitu! Nanti jatuh cinta rempong sendiri, Ir!" Ucap Emily pada Irma yang kini sudah diam dan mengendikkan dagunya ke arah punggung Emily.


Ada apa memangnya?


Emily memundurkan sedikit kursimya, saat tiba-tiba kursi Emily menabrak sesuatu.


Tunggu, apa ini?


Emily memutar tubuhnya dengan cepat dan langsung mendapati Pak Galen denagn keneja putih serta sweater hijau kotak-kotaknya sedang berdiri di belakang Emily membawa beberapa map di tangannya.


Oh, ya ampun!


"Pagi, Pak!" Sapa Emily seraya meringis.


"Kau tidak membawa sekalian pekerjaan barumu tadi, saat keluar dari ruanganku!" Galen menyodorkan map yang ia bawa kepada Emily.


"Eh, iya! Maaf, Pak!" Jawab Emily yang langsung menerima dengan cepat dua map tersebut dan membacanya sejenak.


"Bukankah sudah kubioang untuk seelalu menyimpan tas di tempat yang rapi, Em!" Tegur Galen lagi yang kini sudah meraih tas Emily dan hendak menunjukkan cara menyimoan tas yang baik dan benar.


Sayangnya, Galen memegang bagian tas yang salah, hingga akhirnya ritsleting tas yang tidak tertutup malah membuat isi tas Emily berhamburan di atas meja kerja.


Oh, ya ampun!

__ADS_1


Tisu bekas pakai, bungkus permen, charger, earphone, dompet, ponsel, dan satu benda berwarna putih berbentuk persegi meluncur bebas dari dalam tas Emily.


Benda persegi putih?


Brengsek


Sialan!


"Jadi tas kamu selain berfungsi menyimpan barang juga berfungsi sebagai tempat sampah, ya?" Galen mengernyit tak percaya pada Emily yang kini malah mendelik ke arahnya.


Sepertinya gadis itu merasa tak terima Galen mengacak-acak isi tasnya.


Sebenarnya ini memang diluar kewenangan Galen, tentang mengurusi penampilan karyawannya.


Tapi entahlah!


Sejak melihat Emily pertama kali, jiwa mengedit Galen mendadak berkobar hebat. Galen merasa banyak hal yang salah pada diri Emily, jadilah Galen ingin mengeditnya dan ternyata hal itu benar-benar sudah membuat Galen bertindak jauh diluar kewenangannya.


"Bapak tidak berhak mengacak-acak isi tas saya, sekalipun Bapak adalah atasan saya!" Ucap Emily tegas dan lantang.


Gadis itu mebereskan lagi barang-barangnya setelah membuang sampah-sampah dari dalam tas selempang berwarna abu tersebut.


"Aku tak sengaja!" Sergah Galen membela diri.


"Jika kau langsung menyimpan tasmu dengan baik dan benar, au juga pasti tidak tidak perlu membuat isinya berhamburan seperti tadi!" Sambung Galen lagi masih berusaha mencari pembenaran.


Udah jelas-jelas salah!


Masih aja mencari alasan!


Dasar Galen resek!


Emily benar-benar ingin mengumpat sekarang.


"Kerjakan pekerjaanmu, dan rapikan meja kerjamu!" Pungkas Galen akhirnya sebelum berlalu kekuar dari ruangan ilustrator.


"Dasar resek!" Umpat Emily setelah Pak Gak Selera itu tidak terlihat lagi.


"Jangan benci berlebihan, Em! Nanti jadi jatuh cita malah rempong sendiri!" Irma membalikkan kalimat Emily beverapa saat yang lalu.


"Hahahaha! Emang Pak Galen doyan sama Emily? Bukannya katamu dia maho, Ir?" Celetuk Faisal dari sudut ruangan.


Meja kerja Faisal memang berada paling ujung dan di sudut.


Udah maho, resek, bikin kesel, untung ganteng!


Jadi masih ada nilai positif yang bisa dilihat banyak orang.


Coba kalau jelek, maho, nyebelin, resek, hidup lagi!


Emily bergumam sendiri dan memutar bola matanya dengan malas sambil tak berhenti berdecak.


Amit-amit!


Siapa juga yang bakal mau jadi istrinya Pak Galen resek itu!


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.


__ADS_2