
Emily mendaratkan bokongnya dengan kasar ke tepi tempat tidur. Wanita itu kembali mengusap airmata yang meleleh di pipinya dengan kasar. Bibirnya masih merengut menandakan kalau ia sedang sedih atau mungkin marah pada dirinya sendiri yang tak berguna sekali menjadi menantu.
"Em," sapaan lembut dari Mom Mia bersamaan dengan pintu kamar yang dibuka dari luar, membuat Emily menoleh dan cepat-cepat menyeka airmata yang kembali menggenang di pelupuk matanya.
"Maaf, Mom!" Cicit Emily lagi saat Mom Mia sudah duduk di sebelahnya.
"Kenapa minta maaf?" Ucap Mom Mia lembut yang tangannya sudah merangkul Emily.
"Kau tahu, Emily. Mom tidak bisa memasak hingga sekarang," cerita Mom Mia tiba-tiba yang sontak membuat Emily mengernyit tak percaya.
"Mustahil."
"Benar!" Mom Mia mengangguk dengan yakin. Wanita paruh baya itu juga sedikit terkekeh.
"Mom wanita karier. Kau tahu?"
Emily menggeleng.
"Dulu Mom punya apartemen dengan dapur yang cukup luas, tapi Mom sangat jarang menyentuhnya."
"Mom tidak pernah belajar memasak?" Tanya Emily penasaran.
Mom Mia menggeleng.
"Galen dan Ghea lebih suka masakan papinya. Untuk apa Mom belajar memasak?"
"Sudah jangan sedih lagi, ya!" Mom Mia kembaki mengusap punggung Emily.
"Mungkin tadi kamu grogi saat memasak, sampai lupa memasukkan garam dan gula," imbuh Mom Mia lagi sedikit terkekeh.
"Ayo kita makan siang dulu! Atau kau mau makan di kamar lagi-"
"Mom!" Itu suara Galen yang sudah membawa sepiring makan siang untuk Emily.
Emily masih merengut dan enggan menatap pada Galen yang berdiri di ambang pintu.
"Istri tidak harus bisa memasak, ya, Emily! Jadi tidak perlu stress memikirkan soal masakan yang gagal tadi!" Mom Mia sedikit meninggikan suaranya seakan sedang memberitahu Galen.
"Tapi kalau kau tetap ingin pandai memasak, kau bisa belajar pada Papi nanti. Papi Bian itu chef!" Yang ini Mom Mia berbisik pada Emily.
Serius?
Papi Bian chef?
__ADS_1
Kok Emily baru tahu?
"Galen juga bisa ngajarin Emily, Mom!" Sahut Galen dari ujung pintu.
"Nggak usah! Nanti kau malah membuat menantu Mom menangis," Mom Mia mendelik ke arah sang putra.
"Istri udah berusaha memasak, bukannya disemangati dan dihargai malah diomeli!" Omel Mom Mia lagi pada Galen.
"Galen nggak ngomeli Emily, Galen hanya-"
"Menyalahkannya?" Sergah Mom Mia memotong kalimat Galen.
"Kok Mom jadi nyalahin Galen? Papi dan Ghea itu yang tadi komentar pedas ke masakan Emily!" Protes Galen yang merasa disudutkan oleh sang Mom.
"Papi nggak komentar apa-apa! Papi kan hanya tanya apa garam di dapur habis." Sahut Papi Bian dari arah ruang makan.
"Ghea itu-"
"Ghea cuma ngomong jujur dan nggak ada nyalahin Kak Emily! Abang itu yang jelas-jelas tadi ngomeli Kak Emily sambil bisik-bisik!" Ghea ikut-ikutan menyahut dan menyalahkan Galen.
Ck!
Galen hanya merengut dan menjadi tersangaka utama sekarang.
"Iya, nanti Galen minta maaf. Ini mau antar makan siangnya Emily dulu," jawab Galen mencari alasan sekaligus menunjukkan piring di tangannya.
"Emily," Mom Mia memanggil Emily lembut.
"Iya, Mom!" Jawab Emily yang sudah bangkit berdiri dan mendekat ke arah Mom Mia dan Galen.
"Makan dulu makan siangmu, lalu kau bisa istirahat," Mom Mia kembali menepuk lembut pundak Emily.
"Dapur belum Emily beresin, Mom!"
"Udah diberesin sama Ghea," jawab Galen yang kini sudah masuk ke kamar.
"Mom ganti baju dulu!" Mom Mia keluar dari kamar Galen dan menutup pintu.
Kini haya tinggal Emily dan Galen di dalam kamar. Emily kembali merengut dan segera meraih piring yang tadi dibawa oleh Galen. Emily duduk di sofa kamar, dan menikmati makanannya dalam diam.
"Ngambek?" Tanya Galen yang sudah duduk disamping Emily.
"Nggak kok! Cuma males ngomong aja," jawab Emily yang lanjut melahap makan siangnya.
__ADS_1
"Aaaemmm!" Gaken merebut makanan di sendok Emily yang baru saja akan Emily suapkan ke dalam mulutnya.
"Enak!" Gumam Galen di sela-sela mengunyah makanannya.
"Galen!" Emily memukuli lengan Galen karena sebal.
Sebal karena Galen merebut makanannya dan sebal karena Galen yang tadi tak membelanya di meja makan dan malah ikut memojokkannya.
"Berhenti merengut!" Galen menangkup bibir Emily dengan gemas.
"Galen!" Rengek Emily lagi yang tak lagi konsen menghabiskan makanannya.
"Cepat habiskan, lalu ganti baju. Katanya mau ke salon potong rambut," Galen mencolek hidung Emily.
"Mandi dulu! Bau asem habis masak juga. Masa iya mau langsung pergi!" Jawab Emily bersungut-sungut pada Galen.
"Masih wangi, kok!" Galen mencium aroma badannya sendiri.
"Aku yang asem! Kau kan nggak masak tadi! Cuma komentarin doang. Mana keringetan!" Emily masih bersungut-sungut.
"Aku mandiin!" Tawar Galen berbisik di telinga Emily.
"Nggak! Kamu cuci piring sana! Aku mau mandi sendiri!" Emily memberikan piringnya yang sudah kosong ke tangan Galen dan wanita itu bangkit berdiri dengan cepat. Hanya dalam hitungan detik, Emily sudah melesat masuk ke kamar mandi dan membanting pintu.
Galen hanya mengendikkan bahu dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Lah!
Kok Galen sekarang hobi garuk-garuk juga?
.
.
.
Maaf baru UP.
Ngantri vaksin massal dari pagi sampe jam segini baru nyampe rumah ðŸ˜ðŸ˜
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.
__ADS_1