Jodoh Emily

Jodoh Emily
KAU PERCAYA SEKARANG?


__ADS_3

Jam di ruang ilustrator sudah menunjukkan pukul setengah empat sore, saat Galen masuk dan menyapa Emily.


"Kenapa belum bersiap-siap pulang?" Tanya Galen seraya menarik satu kursi dari meja Irma yang kini kosong dan duduk di samping Emily.


"Masih jam setengah empat, Pak!" Jawab Emily tanpa sedikitpun menoleh ke arah Galen. Emily sedang memberikan warna untuk gambar ilustrasinya.


"Eh. Sore, Pak Galen!" Sapa Faisal yang baru kembali dari toilet.


Teman satu ruangan Emily itu mengeluh mulas setelah tadi berdebat dengan Emily tentang Pak Galen yang sebenarnya maho atau tidak.


"Sore, Sal! Belum pulang?" Jawab Galen berbasa-basi.


"Ini baru mau pulang, Pak!" Jawab Faisal yang dengan cepat mematikan layar iMac-nya dan membereskan meja kerjanya.


"Loh, loh! Belum jam empat! Kok udah mau balik aja, Sal!" Protes Emily karena Faisal yang mengkorupsi jam kerjanya.


"Perut aku mules! Nanti lihat kamu pacaran sama Pak Galen di ruangan ini tambah mules perut aku ditambah jiwa jombloku yang meronta hebat! Ribet pokoknya!" Jawab Faisal yang langsung berhadiah lemparan klip kertas dari Emily.


"Besok ke kondangan Irma nggak jadi bareng berarti, ya! Kan kamu udah punya gandengan," Faisal menaik turunkan alisnya ke arah Emily.


"Nanti Emily pergi bersamaku, Sal!" Sahut Galen enteng.


"Siap, Pak! Desain undangannya nanti aya kabari kalau udah jadi. Saya pulang dulu, Pak Galen! Selamat sore!" Cerocos Faisal seraya berpamitan pada Galen.


Emily hanya manyun dan lanjut mengutak-atik coretannya.


"Udah matiin iMac-nya, ayo pulang!" Ajak Galen seraya merangkulkan lengannya ke pundak Emily. Kini jarak mereka berdua menjadi semakin dekat.


"Pak, boleh tanya sesuatu, nggak?" Tanya Emily tiba-tiba.


"Galen!" Galen mengingatkan.


"Pak Galen!" Emily tetap keras kepala.


"Galen!" Kali ini Galen berucap lebih tegas.


"Pak Galen!"


Galen mendekatkan wajahnya ke arah Emily dan menyatukan keningnya dengan kening Emily.


"Bapak mau ngapain?" Tanya Emily yang kaget dengan gerakan mendadak Galen tersebut.

__ADS_1


"Panggil Galen mulai sekarang!"


"Iya, Pak-"


"Eh. Iya, Ga-len," Emily sedikit tergagap.


"Ulangi!"


"Galen! Galen! Galen!" Ucap Emily berulang-ulang.


"Jangan lupa lagi mulai sekarang!" Pesan Galen yang masih menempelkan keningnya ke kening Emily.


Wajah Emily dan Galen benar-benar bersentuhan sekarang. Dan mendadak detak jantung Emily memacu dengan sangat cepat. Emily bahkan lupa bagaimana caranya bernafas.


"Kau maho bukan?" Tanya Emily tiba-tiba yang sontak membuat Galen menarik wajahnya menjauh dari Emily.


Pria itu memasang raut wajah tak senang ke arah sang tunangan.


"Jadi kau masih belum percaya?"


"Bukan begitu! Tapi Faisal dan karyawan lain di kantor ini terus membicarakan kalau kau itu seorang maho. Apa kau tidak mendengar desas-desus itu?" Sergah Emily memberi tahu Galen.


"Iya, tapi kata Faisal-"


"Faisal, Faisal terus yang kau bawa-bawa! Sebenarnya tunanganmu itu aku atau Faisal? Apa kau lebih percaya pada Faisal dan kabar burung itu ketimbang kepadaku?" Cecar Galen yang kini mulai emosi.


"Buka begitu! Tapi kata Faisal-" Emily kehilangan kata-kata sekarang.


"Tapi apa? Kau mau bukti?" Cecar Galen yang sepertinya paham dengan isi otak Emily.


"Bukti? Bukti apa maksudnya?" Emily sedikit tergagap.


"Bukti kalau aku memang pria normal dan bukan maho!" Galen kembali mendekatkan wajahnya ke arah Emily.


"Kau mau apa?" Tanya Emily lagi yang mulai beringsut mundur.


Eh, tapi Emily sedang duduk di kursi sekarang. Bagaimana Emily mau mundur.


"Kalau memang aku seorang maho, aku tidak mungkin melamarmu dan mengajakmu menikah. Aku pasti akan melamar dan menikah dengan Alvin atau pria lain sesama maho!" Tegas Galen yang wajahnya masih sangat dekat dengan Emily.


"Tapi bisa saja, kau menikahiku hanya agar kau bisa menutupi kedokmu sebagai ma-"

__ADS_1


Cup!


Galen membungkam bibir Emily dengan bibirnya, yang terang saja hal itu membuat Emily tak bisa melanjutkan kalimatnya.


Mata Emily membeliak tak percaya, merasakan lembutnya kecupan bibir Galen di bibirnya. Kecupan pria sebelum Galen tidak selembut ini.


Oh, ya ampun!


Kenapa rasanya Emily seperti ingin melayang?


Tangan Galen menekan kepala Emily, lalu pria itu memiringkan wajahnya dan memperdalam kecupannya di bibir Emily.


Bahkan kini Emily bisa merasakan lidah Galen yang menggelitik bibirnya dan memaksa untuk menyusup masuk. Emily membuka sedikit kedua bibirnya, dan disaat bersamaa, Galen langsung merangsek masuk. Mata Emily masih terpejam membayangkan adegan ciuman di film yang pernah Emily tonton.


Ya, Emily memang tak sepolos itu perihal ciuman dan adegan ranjang. Meskipun belum pernah praktek, tapi Emily sudah khatam menonton beberapa film dewasa.


Emily mulai terhanyut oleh ciuman lembut Galen. Bahkan kini kedua lengan Emily sudah melingkar di leher Galen dan Emily mulai mengimbangi setiap gerakan Galen yang begitu ahli mencium.


Kenapa suasana di ruangan ilustrator ini menjadi panas sekarang?


Apa AC-nya mati?


"Kau percaya sekarang?" Tanya Galen yang kini sudah mengakhiri ciumannya pada Emily.


Emily mematung di tempatnya dan menatap pada bibir Galen yang amat menggoda.


Kenapa bibir itu terlihat sangat menggiurkan?


Boleh Emily minta cium lagi pada manajer OCD yang menyebalkan ini?


.


.


.


Tuman!


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.

__ADS_1


__ADS_2