
"Galen, turunkan aku!" Emily terus meronta dan memukul-mukul punggung Galen yang kini menggendongnya di pundak bak karung beras.
Kepala Emily posisinya terbalik dan berada di punggung Galen, sementara tangan Galen tak berhebti memukul bokong Emily.
Dasar sinting.
"Galen!" Teriak Emily sekali lagi yang secara otomatis langsung berhadiah pukulan di bokongnya dari Galen.
"Diamlah! Itu kamar kita sudah terlihat."
"Turunkan aku, Galen! Aku bukan karung beras!" Protes Emily yang kembaki meronta-ronta.
Langkah Galen terhenti saat mereka sudah tiba di depan sebuah kamar. Segera Galen membuka kunci kamar dan membawa Emily masuk ke dalam.
"Kita ngapain kesini, Galen! Di rumah saja kan bisa!" Emily masih terus memukul-mukul punggung Galen hingga akhirnya Galen mendaratkan Emily ke atas kasur empuk berlapiskan sprei warna putih.
Emily mengerjap-ngerjapkan matanya, dan langsung meraih guling, lalu memeluknya dan memejamkan mata. Bahkan Emily belum melepas sepatu kets-nya dan merem begitu saja.
"Em!" Galen sudah ikut merebahkan tubuhnya di samping Emily, dan membalik tubuh Emily yang tadi memunggunginya.
"Ngantuk, habis perawatan di salon. Aku bobok aja, ya!" Ucap Emily masih sambil memejamkan matanya.
"Kau itu sedang aku hukum. Jadi jangan tidur!" Jawab Galen galak.
"Jangan kekanakan, oke!" Sergah Emily berdecak sebal.
"Aku punya video bagus," Masih sambil berbaring, Galen merogoh ponselnya di saku dan mengetikkan password di ponselnya tersebut.
Tentu saja Emily sempat melirik dan mengingat deretan angka yang diketikkan oleh Galen.
Cih!
Ternyata tanggal lahir Emily.
Dasar lebay!
"Lihat ini!" Galen menunjukkan sebuah video pada Emily.
Video tidak senonoh yang tentu saja tidak boleh ditonton oleh anak dibawah umur. Namun karena Emily sudah cukup umur dan Emily juga sudah menikah, jadi tidak masalah jika Emily menontonnya. Toh misalnya nanti Emily mendadak ingin praktek, sudah ada Galen, suami sahnya yang bisa Emily ajak praktek kapan saja.
"Geli, ih!" Emily menutup matanya saat adegan yang kini tampak di video adalah adegan enam sembilan yang benar-benar membuat geli dan Emily tidak mau praktek kalau yang itu.
"Praktek yang itu, yuk! Kita belum mencobanya semalam," ajak Galen seraya mengerling nakal ke arah Emily.
"Nggaaaak!" Tolak Emily yang langsung berteriak.
Dasar Galen sinting!
"Gerah!" Galen sudah melepas kausnya sekarang.
Duh!
Tubuh sempurnanya Galen terpampang nyata di samoing Emily sekarang. Membuat Emily gemas mau mengusap otot bisep Galen.
Emily menelan salivanya berulang kali, saat adegan di vudeo yang ia tonton bersama Galen semakin panas.
Haruskah Emily membuka bajunya juga sekarang?
"Udah Galen! Matikan!" Emily memalingkan wajahnya ddan kembali memunggungi Galen.
__ADS_1
Namun di detik selanjutnya, Emily merutuki kebodohannya yang malah memunggungi Galen dan memberikan akses pada suaminya itu untuk bisa dengan mudah membuka ritsleting bajunya.
"Kau bergairah, Em?" Bisik Galen seraya mengusap punggung Emily yang kini sudah terbuka.
Bukan lagi mengusap memakai tangan, tapi memakai bibir dan mungkin lidah, karena Emily merasakan sensasi geli dari kecupan kecupan kecil Galen di punggungnya.
Galen melepaskan pengait bra Emily, dan kini punggung Emily benar-benar tak lagi berpenghalang.
"Ini masih sore, Galen," desah Emily saat tangan nakal Galen menyusup ke bawah bra-nya dan menangkup dua gundukan kembar Emily yang mendadak terasa sensitif sekali.
Emily langsung menggelinjang, saat Galen menyentuh puncaknya.
"Kita bisa lembur sampai pagi," bisik Galen seraya menggigit kecil kuping Emily.
Ya ampun!
Emily berbalik dan kini sudah ganti menghadap ke arah Galen. Dengan satu gerakan cepat, Galen sudah berhasil menurunkan baju yang dikenakan Emily dan tinggal menyisakan sebuah celana jeans yang menutupi bagian bawah tubuh Emily.
"Galen, aaahhh!" Emily memekik sekaligus mendesah saat Galen sudah melahap dua gundukan miliknya dengan rakus.
Mulut bermain-main di sebelah kanan dan tangan tak berhenti merem*s di bagian kiri.
Ya ampun!
"Galen pelan-pelan!" Emily menjambak rambut Galen yang terus menghisap dan mencecap dadanya dengan menggebu-gebu.
Lama-lama ujungnya bisa putus jika Galen memainkannya seperti itu!
Dasar Galen mesum.
"Galen!" Emily masih menjambak-jambak rambut Galen.
"Diam!" Tangan Galen membungkam mulut Emily yang terus menyuruhnya untuk berhenti.
Galen segera mendongakkan kepalanya dan sudah menghentikan aktivitas menghisap serta menggigitnya.
Dasar drakula!
Emily akan balas dendam setelah ini.
"Mau praktek kayak di video tadi, nggak, Sayang?" Emily merayu Galen dan mengusap dada berotot Galen yang menggiurkan.
"Adegan yang mana?" Tanya Galen seraya mengangkat sebelah alisnya.
"Yang ini," Emily turun dari atas tempat tidur, lalu menarik turun celana Galen beserta underwear-nya sekalian. Dan Emily langsung mendapati milik Galen yang sudah tegak menantang.
Ya ampun!
Bisa nyangkut di tenggorokan kalau Emily melahapnya.
Emily menelan salivanya berulang kali dan mendadak merasa ragu untuk balas dendam.
Batalkan saja, Emily!
Daripada kamu tersedak.
"Atas atau bawah?" Tanya Galen pada Emily yang masih mematung seraya menatap ke arah miliknya.
"Atas dulu baru bawah!" Jawab Emily cepat yang langsung melahap milik Galen, mengabaikan rasa ragu yang membuncah di dadanya.
__ADS_1
Hoek!
Emily hampir muntah, saat milik Galen menyodok tenggorokannya.
Tapi sudah kepalang tanggung, jadi Emily lanjutkan saja sekalian.
"Enak, Em?" Goda Galen seraya terkekeh melihat raut wajah Emily yang sudah berubah merah padam.
Dasar Galen resek!
"Ayo bergerak!" Galen memberi aba-aba pada Emily yang kini merengut srbal. Tapi tetap saja, bibir Emily tidak bisa merengut karena sedang tersumpal oleh sesuatu yang besar.
"Menyebalkan!" Gumam Emily yang langsung menggigit milik Galen dengan sekuat giginya,
"Aduuuuhh! Emily!" Jerit Galen yang kini meringis tak karuan karena aset berharganya digigit oleh Emily tanpa rasa iba sedikitpun. Tangan Galen refleks memencet hidung Emily agar istrinya itu melepaskan gigitannya.
Bisa-bisa milik Galen putus nanti sebelum sempat menanam saham pada Emily.
Emily terkikik melihat Galen yang meringis kesakitan.
"Kejam kamu, Em!" Gerutu Galen bersungut-sungut.
"Enak?" Emily memeletkan lidahnya dan mengejek Galen tanpa dosa.
Galen tak tinggal diam dan langsung meraih tubuh Emily. Tentu saja wanita itu tidak siap dan langsung terjerembab ke atas kasur.
"Gal-" Teriakan Emily langsung dibungkam Galen dengan ciuman ganasnya.
Emily benar-benar tak berkutik saat kedua tangan Galen menurunkan dengan paksa celana jeans Emily beserta underwear warna pink yang dikenakan Emily.
Kini tubuh Galen dan Emily sudah sama-sama tak tertutupi sehelai benangpun.
"Galen!" Emily kembali memekik saat Galen menyentak masuk tanpa aba-aba dan tanpa pemanasan.
Milik Emily rasanya seperti ditusuk sebuah jarum besar.
Periih!
"Sakit!" Cicit Emily yang kini merengut pada Galen yang bearda di atasnya.
"Anggap saja hukuman karena kamu sudah nakal hari ini!" Galen mendelik pada Emily sekaligus mencolek hidung istrinya tersebut.
"Dasar menyebalkan!" Emily memukul-mukul dada Galen, namun tentu saja hal itu tak mampu menghentikan Galen yang kini sudah mulai bergerak maju dan mundur dengan penuh irama.
Bibir Emily yang tadi merengut kini sudah ganti meracau tak jelas karena gerakan Galen yang semakin cepat dan membuat ketagihan.
Galen yang hampir sampai, segera memeluk erat tubuh Emily yang dipenuhi peluh. Emily dan Galen akhirnya mencapai pelepasannya bersamaan.
Terengah-engah, Emily lanjut mengeratkan dekapannya pada tubuh Galen yang masih berada di atasnya.
Emily merasa sangat lelah sekarang.
.
.
.
🙈🙈🙈🙈🙈
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.