Jodoh Emily

Jodoh Emily
RACHEL HAMIL?


__ADS_3

"Rachel hamil dan dia tak mau mengatakan pria brengsek yang sudah menghamilinya!" Mama Eve bercerita pada Paman Bian dan Bibi Mia dengan airmata yang kembali bercucuran.


Rachel sendiri sengaja diajak keluar oleh Galen dengan alasan membeli beberapa keperluan ke supermarket dekat kompleks.


"Apa Rachel punya pacar?" Tanya Paman Bian menyelidik.


Mama Eve dan Papa Steve menggeleng bersamaan.


"Rachel benar-benar keras kepala dan tak mau mengatakan siapa ayah dari bayimya." Ujar Papa Steve yang terlihat frustasi.


"Jangan memaksanya kalau begitu!" Ucap Bibi Mia tiba-tiba yang sontak membuat semua orang menoleh ke arahnya.


"Apa? Kondisi psikis Rachel mungkin juga sedang terguncang sekarang karena kehamilan yang tak diinginkan itu. Jika kalian memaksa dan terus menekan Rachel, bukan tak mungkin gadis itu malah akan depresi!" Tutur Bibi Mia panjang lebar.


"Apa kau dulu juga tak mengatakan pada Papamu atau pada siapapun, ayah dari bayimu saat kau hamil Galen?" Tebak Paman Bian yang masih menatap pada sang istri.


"Kau pasti sudah habis dihajar oleh kakeknya Galen jika aku cerita sejak awal!" Jawab Bibi Mia seraya bersedekap sinis.


"Sudah lima tahun saja, kau masih mendapat bogem mentah dari Papa!" Sambung Bibi Mia yang malah membuat Paman Bian terkekeh.


Bibi Mia langsung memukul paha suaminya tersebut karena malah bercanda saat mereka berempat sedang bicara hal serius.


"Rachel pasti akan mengatakan siapa ayah dari bayinya saat dia sudah merasa siap, Eve! Jadi saat ini jangan memaksanya dulu!" Ujar Bibi Mia lagi memberikan nasehat bijak.


Rachel dan Galen sudah kembali.


"Kenapa semua berwajah tegang?" Tanya Galen heran.


Anak laki-laki Paman Bian dan Bibi Mia itu segera duduk di sofa di samping Papa Steve.


Sedangkan Rachel duduk di samping Mama Eve.


"Tidak ada apa-apa! Kami hanya sedang memberitahu Om dan Tantemu kalau kita sekeluarga akan pindah ke kota ini mulai besok, dan tinggal tak jauh dari sini!" Jawab Paman Bian yang wajahnya sok serius.


"Paman dan Bibi akan pindah ke kota ini?" Sergah Rachel dengan raut wajah tak percaya dan sedikit kecewa kelihatannya.


Gagal sudah rencana Rachel untuk kabur jauh dari Sean dan Emily!


****


Satu bulan kemudian,

__ADS_1


Emily mengetuk pintu rumah Rachel dan raut wajahnya terlihat cemas. Sean yang berdiri disamping Emily tak kalah cemas.


Baru beberapa saat yang lalu, Emily cerita ke Sean kalau Rachel tidak datang ke kampus seminggu terakhir. Nomor Rachel juga tiba-tiba tak bisa dihubungi. Sepertinya Rachel sengaja memblokir nomor Emily.


Tapi kenapa?


Emily mengetuk sekali lagi karena tak pintu tak kunjung dibuka dan tidak ada jawaban. Emily dan Sean saling melempar pandang.


"Emily?" Suara seorang wanita paruh baya yang baru datang dari arah halaman mengagetkan Sean dan Emily. Rupanya itu adalah Mama Eve yang sepertinya baru pulang dari pasar, jika melihat belanjaan yang ada di tangannya.


"Sore, Tante! Apa Rachel ada?" Tanya Emily to the point.


"Rachel ada di rumah bibinya," jawab Mama Eve seraya membuka kunci pintu depan, dan mempersilahkan Emily dan Sean untuk masuk.


"Ayo duduk dulu! Mau minum apa?" Tanya Mama Eve berbasa-basi.


"Tidak udah repot-repot, Tante! Kami kesini karena ingin tahu kabar Rachel. Kenapa tiba-tiba Rachel menghilang dan tidak pergi kuliah, Tante?" Jawab Emily merasa sungkan. Sedangkan Sean hanya menyimak obrolan Emily dan Mama Eve.


"Rachel cuti kuliah untuk sementara waktu," ujar Mama Eve yang tentu saja menbuat Dmily sedikit terkejut.


"Kenapa mengambil cuti mendadak, Tan? Buaknnya tinggal satu semester lagi kuliahnya?" Tanya Emily tak mengerti.


"Ada satu hal yang membuat Rachel tidak bisa melanjutkan kuliahnya untuk sementara waktu, Em!" Raut wajah Mama Eve sudah berubah sendu.


"Sebenarnya-"


Suara perbincangan dua orang yang baru datang dari arah pagar depan, membuat Mama Eve tak jadi melanjutkan kalimatnya.


Rachel tiba-tiba datang bersama Papa Steve, dengan perut yang sudah terlihat membulat. Terang saja hal itu membuat Emily dan Sean terkejut bukan kepalang.


Rachel hamil?


Rachel menghentikan langkahnya di ambang pintu saat melihat Sean dan Emily yang duduk di sofa ruang tamu dan sedang menatap ke arahnya. Ke arah perut bulat Rachel lebih tepatnya.


Cepat-cepat Rachel merapatkan cardigannya untuk menyembunyikan perutnya yang membukit.


"Rachel, kamu hamil?" Tanya Emily yang sudah dengan cepat menghampiri Rachel yang masih mematung.


"Kau sedang apa disini, Em?" Jawab Rachel sedikit ketus.


"Rachel apa ini yang membuatmu tidak datang ke kampus seminggu terakhir?" Tebak Emily menuntut jawaban dari Rachel.

__ADS_1


"Bukan urusanmu! Pergi saja dari rumahku dan ajak pergi sekalian pacarmu itu!" Jawab Rachel tanpa sedikitpun menatap ke arah Emily atau Sean.


"Rachel, jangan ketus begitu pada Emily!" Nasehat Mama Eve yang sudah mendekat ke arah Rachel yang terus saja menundukkan wajahnya.


Sementara Sean masih menatung di tempatnya, mencoba mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Rachel.


Rachel hamil?


Apa itu akibat perbuatan brengsek Sean?


"Rachel mau masuk ke kamar, Ma!" Pamit Rachel masih tak mau menatap Sean maupun Emily.


"Rachel!" Emily mengejar Rachel yang hebdak meninggalkan ruang tamu dan mencekal lengan sahabatnya tersebut.


"Lepas, Em!" Sentak Rachel dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Emily yang tak sampai hati melihat Rachel bersedih segera melepaskan cekalannya pada tangan Rachel dan membiarkan sahabatnya tersebut masuk ke kamar.


"Maaf soal sikap Rachel, Emily! Emosinya sedikit labil belakangan ini," ujar Papa Steve pada Emily yang terlihat masih bingung dengan semua yang terjadi.


"Rachel hamil dengan siapa, Om? Apa Rachel sudah menikah?" Tanya Emily menatap bergantian pada Mama Eve dan Papa Steve.


Kedua orangtua Rachel tersebut saling melempar pandang dan merasa ragu untuk menjawab pertanyaan Emily.


"Rachel tidak mau mengatakan siapa ayah dari bayinya. Rachel hanya mengatakan kalau ia tak mau menyakiti hati siapapun karrna pria brengsek yang sudah menghamilinya ternyata sudah punya calon istri," jawab Papa Steve dengan nada lirih.


Sedetik kemudian, tiba-tiba Sean sudah berlutut di kaki Papa Steve seolah minta ampun.


"Saya yang sudah membuat Rachel hamil, Om! Saya minta maaf!"


Duarrrr!


Pengakuan Sean yang kini masih berlutut pada Papa Steve benar-benar bagaiakan petir yang menyambar hati Emily di siang bolong.


Apa Sean sedang bercanda?


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.


__ADS_2