
Hari beranjak sore, dan Emily masih berkutat dengan ilustrasi buku Intan menyebalkan itu.
"Bukannya yang itu sudah kamu kerjakan kemarin, Em?" Tanya Faisal yag sudah bersiap akan pulang.
"Nggak tahu! Authornya minta ganti lagi. Katanya nggak sesuai lah! Nggak sreg lah! Kan nyebelin!" Jawab Emily menggerutu.
"Siapa memang authornya?" Tanya Faisal kepo.
"Intan! Yang kayak berbie itu!" Jawab Emily seraya mencibir-cibir.
"Ck! Udah biasa kalau si Intan mah! Dulu pas kamu belum masuk, yang ngerjain si Irma, dia juga minta ganti sampe lima kali. Botak itu kepalanya Irma ngurusin ilustrasinya Intan doang," cerita Faisal yang langsung membuat Emily sedikit tertarik.
"Serius?"
Faisal mengangguk dengan yakin.
"Kalau kata Irma, ya! Si Intan sengaja mengubah-ubah ilustrasinya itu biar dia bisa bolak-balik ketemu Pak Galen. Kayaknya dia naksir sama Pak Galen tapi Pak Galen-nya nggak doyan. Kan Pak Galen itu ma-" Faisal menutup mulutnya dengan telapak tangan dan tak jadi melanjutkan kalimatnya.
"Eh, kamu kan calon istrinya Pak Galen. Maaf, aku lupa," Faisal meringis tanpa dosa.
Emily hanya berdecak.
"Yang jelas kamu hati-hati saja! Jaga itu Pak Gak Selera kesayanganmu biar nggak direbut sama si berbie jahat!" Pesan Faisal pada Emily ddnga nada lebay.
"Berbie jahat siapa, Sal?" Suara Galen yang kini berdiri di ambang pintu ruang ilustrator membuat Emily dan Faisal kompak menoleh ke arah pria tersebut.
"Hehe, cuma lagi ngomongin film, Pak!" Jawab Faisal berkelit.
"Nggak pulang, Sal?" Tanya Galen lagi seraya menunjukkan arloji di tangannya pada Faisal.
Emily sendiri sudah kembali fokus ke layar iMac-nya dan malas menatap pada Galen Gak Selera.
"Iya ini udah mau pulang, Pak! Selamat sore Pak Galen!" Pamit Faisal sedikit berbasa-basi pada Galen.
Teman satu ruangan Emily itupun segera keluar meninggalkan Emily dan Galen.
"Sudah sampai mana!" Tanya Galen yang sudah mengambil posisi duduk di samping Emily seperti biasa.
Galen mengeluarkan dua gelas minuman dari kantung plastik yang tadi ia bawa. Ada juga satu loyang brownies bertabur almond yang dibawa oleh Galen.
Bisa-bisa Emily akan jadi gadis gendut yang jorok dan buruk rupa jika Galen terus menyumpalinya dengan susu coklat dan kue brownies begini.
"Minum dulu susunya!" Titah Galen seraya mengulurkan satu gelas minuman yang tadi ia bawa yang ada tulisannya Emily dan tanda love di belakangnya.
Ya ampun!
Apa maksudnya coba?
Perasaan yang kemarin-kemarin nggak ada namanya begini.
"Belum haus!" Jawab Emily dengan nada malas.
"Minum sedikit!" Perintah Galen memaksa.
Emily akhirnya menyedot susu coklatnya cukup banyak.
"Tadi bilang belum haus. Habis banyak juga minumnya," kekeh Galen sebelum menyeruput kopi di gelasnya.
"Nanggung juga minum sedikit. Sekalian banyak saja kalau minum!" Gumam Emily tanpa sedikitpun menatap ke arah Galen.
Galen melingkarkan lengannya ke pundak Emily yang sontak membuat Emily menggeliat-menggeliat tak nyaman.
"Pak, jangan genit kenapa? Saya sedang konsentrasi ini!" Gerutu Emily pada Galen sedikit kesal.
"Ck! Kenapa panggil pak lagi? Tadi siang udah bagus panggil Galen, kenapa sekarang panggil pak lagi ? Aku bukan bapakmu!" Galen mencubit gemas pipi Emily.
"Aduuuh! Auuw! Bapak apaan, sih!" Emily mendelik marah ke arah Galen dan bibirnya kini mencebik.
__ADS_1
"Galen! Aku cubit lagi nanti pipi kamu!" Ancam Galen yang sudah bersiap mencubit pipi Emily.
"Galen Gak Selera!" Sahut Emily ketus.
"Apanya yang Gak selera?" Galen mendekatkan wajahnya ke arah Emily.
"Ish! Kamu mau nemanin aku lembur atau mau gangguin pekerjaanku, sih!" Emily memukul-mukul dada Galen dengan marah demi meluapkan emosinya yang sejak siang ia tahan.
"Iya mau nemanin kamu." Galen masih berusaha menahan tangan Emily yang tak berhenti memukulinya.
"Kamu kenapa, sih! Ketus sama aku seharian ini?" Tanya Galen bingung.
"Kamu yang mulai! Tadi pas di mobil PHP in aku. Trus habis itu kamu pegang-pegangan tangan sama Intan!" Cerocos Emily seraya merengut.
"Cemburu?" Tebak Galen sedikit menahan tawanya.
"Nggak! Cuma kesel aja!" Emily bersedekap dan memalingkan wajahnya dari Galen.
"Kamu tahu nggak, kenapa aku suka sekali bikin kamu kesel?" Galen meraih dagu Emily dan memaksa gadis itu untuk menatapnya.
"Nggak tahu dan nggak mau tahu!" Jawab Emily yang berusaha menyentak tangan Galen.
"Aku paling suka, lihat kamu merengut begini!" Galen menangkup bibir Emily dengan lembut. Pria itu juga sudah mendekatkan wajahnya ke arah Emily.
"Rasanya mau langsung aku cecap!" Galen mengecup sekilas bibir Emily yang tadi masih merengut.
Emily memejamkan matanya.
Merasa tak ada penolakan, Galen lanjut menarik tubuh Emily, lalu membawanya ke pangkuan.
"Mau ngapain?" Cicit Emily yang kini sudah duduk di atas kedua paha Galen.
"Mau membayar hutang di mobil tadi," bisik Galen lembut yang langsung memiringkan kepalanya dan meraup bibir Emily.
Sesaat Emily hanya mematung dengan ciuman Galen, namun di detik selanjutnya, Emily langsung membalas ciuman Galen yang ternyata begitu menggebu-gebu.
Dua sejoli itu terus saja saling mencecap dan bertukar saliva, saat tiba-tiba Emily memekik karena tangan Galen yang rupanya sudah menyusup masuk ke dalam blouse dan meremas dada Emily. Tautan bibir Galen dan Emily sudah terlepas.
"Maaf aku kebablasan!" Cengir Galen tanpa dosa.
Sudah sejak kemarin Galen penasaran dengan milik Emily yang itu.
Wajah Emily bersemu merah dan gadis itu segera turun dari pangkuan Galen.
"Kita belum sah, Pak! Harusnya nggak ciuman kayak tadi," rengut Emily yang berusaha untuk kembali fokus ke layar iMac-nya.
Ilustrasi untuk novel Intan menyebalkan hanya tinggal finishing akhir.
"Hanya tinggal dua hari lagi," Gumam Galen seraya tersenyum tipis.
"Ya tetap saja nggak boleh!" Sergah Emily bersikeras.
"Kan kamu juga menikmatinya tadi," goda Galen pada Emily yang sontak membuat wajah gadis itu kembali memerah.
"Bapak mesum sekali ternyata!" Gerutu Emily sebal.
"Galen! Aku cium lagi kamu nanti!" Galen mencolek hidung Emily dengan gemas.
"Masih di kantor. Jadi harus sopan!" Ujar Emily berpendapat.
"Buka mulut!" Galen menyuapkan sepotong brownies ke mulut Emily.
"Kamu niat banget buat aku jadi gendut. Udah jam segini malah ngasih susu coklat sama brownies!" Gerutu Emily sebelum melahap brownies yang di suapkan oleh Galen.
"Cuma sesekali. Nggak bakal buat gendut!" Kilah Galen mencari alasan. Emily hanya mencibir.
"Warnanya agak dibikin soft saja! Kalau warnanya seterang itu, jadi tak ada bedanya dengan ilustrasi yang sebelumnya. Nanti Intan jadi punya alasan buat bolak-balik datang kesini," komentar Galen saat Emily mulai memoleskan warna pada gambar coretannya.
__ADS_1
"Bagus, dong! Biar kamu juga senang karena jadi sering-sering ketemu sama Intan itu!" Sahut Emily ketus.
"Cemburu!" Galen kembali mencolek hidung Emily.
"Nggak ada! Cuma kesel aja!" Jawab Emily bersungut-sungut.
"Nggak mau ngaku!" Galen mencolek sekali lagi hidung Emily.
Gadis itu hanya berdecak.
"Aku nggak ada perasaan apalagi hubungan apa-apa dengan Intan, Em!" Ucap Galen yang terdengar bersungguh-sungguh.
"Ada juga nggak apa-apa kok! Cewek kutilang perfect gitu kok dianggurin!" Sahut Emily masih bersungut-sungut.
"Apaan kutilang?" Galen mengernyit tak mengerti.
"Kurus tinggi langsing! Bukannya cewek yang model begitu yang jadi idaman semua pria!" Pendapat Emily ketus.
"Nggak semuanya. Aku lebih suka yang montok dan sintal kayak kamu!" Kilah Galen membantah pendapat Emily.
"Sintal apaan?" Emily balik bertanya pada Galen.
"Berisi dan mental!" Jawab Galen seraya tergelak.
"Ish! Bukannya berisi dan kenyal?" Gumam Emily seraya garuk-garuk kepala.
"Iya kenyal seperti ini," Galen meremas bokong Emily yang sontak membuat pemiliknya memekik.
"Galen! Dasar mesum!" Emily memukul-mukul lengan besar Galen karena sebal.
"Jadi ceritanya, si Intan itu mau di jodohin saja orang tuanya. Tapi Intan nggak mau dan minta aku jadi jadi pacar pura-puranya. Itulah alasan Intan bersikap genit sama aku," cerita Galen seraya merapikan rambut Emily dan menyelipkannya di belakang telinga.
"Aku sudah menolak permintaan konyol Intan itu, tapi dia terus saja merayuku. Menyebalkan, bukan?" Sambung Galen lagi sedikit berdecak.
"Sikapmu nggak tegas gitu sama Intan!" Pendapat Emily mengingat sikap Galen siang tadi pada Intan yang hanya diam saja saat Intan mengusap-usap lengannya.
Ish!
Menyebalkan.
"Aku hanya berusaha bersikap profesional. Besok lagi aku bakal bilang ke Intan kalau aku sudah punya calon istri biar dia berhenti godain aku!" Janji Galen seraya mencolek hidung Emily.
"Lama-lama aku jadi pinokio nanti kalau hidung aku kamu colekin terus begitu!" Gerutu Emily yang sontak membuat Galen tergelak.
Gambar Emily sudah jadi sekarang.
"Kamu print sekalian! Satukan dengan ilustrasi yang sebelumnya," titah Galen yang langsung membuat Emily mengangguk.
Emily memasukkan kerts ke printer dengan hati-hati, lalu menunggu benda itu mencetak gambar hasil coretannya. Setelah jadi, Emily memasukkan hasil print ke dalam map dengan hati-hati juga, memastikan semuanya rapi dan tak ada yang tertekuk.
Emily lanjut mematikan layar iMac-nya dan sedikit merapikan meja kerjanya. Galen menatap bangga pada Emily yang sudah berusaha rapi sekarang. Meja kerja Emily juga sudah tidak semrawut seperti dulu.
"Sudah selesai. Ayo pulang!" Ajak Emily seraya meraih tas selempangnya.
"Sebentar," Galen menarik tubuh Emily hingga gadis itu jatuh di pangkuannya.
"Kita selesaikan dulu yang tadi," Galen kembali mencecap bibir Emily dan mengecup dengan lembut setiap inchi dari bibir calon istrinya tersebut. Dua sejoli itu cukup lama berciuman di ruang ilustrator, sebelum akhirnya mereka keluar dan masih saling merangkul.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.
__ADS_1