
Emily sedang menjadi obat nyamuk untuk Irma dan Faisal yang sedang berjalan bergandengan tangan dan saling menguatkan.
Eh!
Padahal beberapa hari yang lalu Irma menolak mentah-mentah pernyataan cinta dari Faisal. Eh sekarang udah gandengan aja macam truk gandeng.
"Emily!"
Suara itu!
Sepertinya sudah cukup lama Emily tidak mendengar suara itu dan bertemu dengan si pemilik suara yang kini sedang berjalan sedikit tertatih ke arah Emily karena perutnya yang sudah membesar.
Emily yang jalannya lebih cepat dan lincah memilih untuk setengah berlari menghampiri sahabatnya tersebut.
"Hai! Bagaimana kabarmu?" Sapa Emily seraya memeluk Rachel yang terlihat sedang berjalan sendirian di dalam mall ini.
Masa iya Rachel sendirian?
Sean kemana?
"Emily!" Kali ini ganti Mom Bi yang menyapa Emily.
Oh, ternyata Rachel pergi bersama Mom Bi.
"Sore, Mom!" Sapa Emily pada wanita paruh baya tersebut.
Emily berani bersumpah kalau ia ingin berhenti memanggil Mom pada Mom Bi sekarang. Tapi lidah Emily sepertinya tidak bisa diajak bekerja sama. Dua puluh tiga tahun memanggil wanita paruh baya ini dengan panggilan Mom, membuat panggilan itu seakaan sudah terpatri di lidah Emily.
Dasar sial!
Mungkin sebaiknya Emily mencari Mom mertua baru saja agar dirinya bisa berhenti memanggil Mom Bi dengan sebutan Mom.
"Em," panggilan dari Irma membuat Emily menoleh pada teman kerjanya tersebut.
"Eh, kalian duluan aja! Bye! Selamat pacaran!" Emily melambaikan tangan dengan lebay ke arah Irma dan Faisal yang masih bergandengan mesra.
Kalau ghibah bakalan mesra juga kayaknya mereka.
"Teman kerja kamu?" Tebak Rachel yang masih berdiri di dekat Emily.
"Iya. Baru dua mingguan. Eh, udah akrab!" Jawab Emily sedikit meringis.
"Kerja dimana sekarang, Em?" Gantian Mom Bi yang bertanya.
"Di perusahaan penerbitan, Mom! Biar tersalurkan hobi corat-coret Emily," jawab Emily yang ganti tersenyum pada Mom Bi.
"Itu sih bukan hobi! Udah bakat kamu memang jadi ilustrator," puji Rachel yang langsung membuat Emily sedikit malu.
__ADS_1
"Ini sudah berapa bulan? Kapan lahiran?" Emily berbasa-basi dan mengusap perut Rachel.
"Tujuh jalan delapan," jawab Rachel seraya menggenggam tangan Emily.
Rasa bersalah masih saja memenuhi relung hati Rachel setiap kali dirinya bertemu Emily seperti ini. Meskipun Emily terlihat baik-baik saja, tapi Rachel sangat yakin kalau luka di hati Emily pasti belum pulih sepenuhnya. Dan mungkin tidak akan pernah pulih sampai kapanpun.
"Semoga lancar sampai lahiran, ya! Udah nggak sabar mau gendong bayi kamu nanti," ucap Emily seraya mengulas senyum di bibirnya.
"Tadi masih kurang apa Rachel?" Mom Bi bertanya pada Rachel yang memegang sebuah kertas catatan.
Sepertinya Mom Bi dan Rachel sedang belanja perlengakpan bayi.
"Hanya tinggal kosmetik dan perlengkapan mandi bayi, Mom!" Jawab Rachel setelah melihat catatan di tangannya.
"Ada di lantai bawah sepertinya, kosmetik bayi," celetuk Emilh memberi tahu Mom Bi dan Rachel.
"Yaudah kamu ikut sekalian, Emily! Nanti setelah ini Mom dan Rachel juga mau mampir makan. Biar kita bertiga bisa mengobrol," ajak Mom Bi seraya merangkul pundak Emily.
"Eh, tapi, Mom!" Emily mau menolak tapi dia sedang tak punya alasan.
Padahal biasanya Emily selalu punya seribu alasan terutama kalau sedang menghadapi Pak Galen resek.
Lah!
Ngapain Emily malah memikirkan Pak Gak Selera itu, sih?
Nggak penting banget!
Hush! Hush! Pergi kau, Maho!
"Udah ayo ikut, Em!" Ajak Rachel juga yag ikut-ikutan merangkul Emily.
Baiklah!
Emily bisa apa memangnya sekarang?
****
Menjelang malam, Rachel, Emily, dan Mom Bi baru saja akan keluar dari dalam mall. Saat tiba-tiba ponsel Rachel di dalam tas berdering nyaring.
"Halo!" Rachel mengangkat panggilan dan sedikit merendahkan nada suaranya.
"Kau dimana? Hari ini jadwal check up ke dokter, kan?"
"Aku masih di mall bersama Mom! Ini sudah mau pulang!" Jawab Rachel denagn raut wajah tidak nyaman.
"Aku jemput ke mall saja kalau begitu. Tunggu sebentar, jangan pulang dulu!"
__ADS_1
"Tapi-"
Tuut tuut!
Panggilan terputus.
"Siapa, Rachel?" Tanya Mom Bi pada Rachel yang wajahnya berubah masam.
"Sean, Mom! Mau jemput kesini katanya, karena Rachel ada jadwal check up ke dokter," jawab Rachel yang merasa tak enak hati pada Emily yang wajahnya masih terlihat santai.
"Oh, yaudah kalau begitu! Mom akan pulang bersama Emily," ucap Mom Bi yang wajahnya juga santai.
"Emily naik taksi saja, Mom!" Tolak Emily cepat.
Mom lagi!
Apa susahnya memanggil Aunty atau Tante?
Dasar lidah sialan!
Emily mengomel dan mennggerutu pada dirinya sendiri.
"Udah, nggak apa! Mom antar sekalian!" Ucap Mom Bi sedikit memaksa.
"Kau ke pelataran depan dulu saja, Rachel! Sambil menunggu Sean. Mom akan mengambil mobil," mereka bertiga segera berpisah dan Emily menemani Rachel menuju ke pelataran depan.
Kasihan juga kalau ibu hamil besar ini dibiarkan berjalan sendiri.
Rachel dan Emily baru saja akan menyeberang, saat ada sebuah mobil yang melaju kencang tanpa akhlak.
"Rachel, awas!" Sebuah suara yang disertai gerakan cepat mendorong tubuh Rachel dan Emily ke pinggir menghindari mobil sialan tadi.
Emily jatuh terduduk ke atas pelataran semen, dan gadis itu meringis karena bokongnya mencium lantai semen yang keras. Sementara Rachel yang sedang hamil besar tengah di dekap oleh seseorang yang mengenakan kemeja warna biru, yang melindungi ibu hamil itu dari benturan dengan lantai semen.
Ya, itu adalah Sean!
.
.
.
Scene terakhir terlalu dipaksakan kayaknya.
Maafkan kalau Emily slow update. Aku lagi kejar Valeria biar ingatannya cepat balik.
Kalau dua-duanya aku kebut nggak sanggup ternyata ðŸ˜
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.