
Rumah Rachel.
Mom Mia sedang duduk di ruang tamu rumah Rachel bersama Papi Bian dan Mama Eve. Tiga orang tua tersebut sepertinya sedang bicara hal serius mengenai Galen.
"Perjodohan itu hal konyol, Mia! Galen pasti bisa mencari cakon istrinya sendiri dan tak perlu kita jodoh-jodohkan seperti bujang lapuk yang tak laku," cerocos Papi Bian yang keberatan dengan rencana Mom Mia yang ingin menjodohkan Galen entah dengan siapa.
Calonnya saja belum ada.
Tapi istrinya ini ngebet sekali ingin menjodohkan Galen.
"Tapi rumor yang beredar di kantor Galen itu benar-benar meresahkan, Bi! Galen seorang maho! Yang benar saja! Anakmu itu sebenarnya normal atau tidak?" Cecar Mom Mia yang kini bersedekap kesal.
"Itu kan hanya rumor! Untuk apa dibesar-besarkan? Galen itu pria normal! Aku percaya dan berani menjaminnya," jawab Papi Bian santai.
"Tapi Galen tidak pernah punya pacar sejak dulu. Bukankah itu mencurigakan! Kalau dipikir-pikir, Galen itu wajahnya tampan, penampilan juga oke, masa iya dari dulu nggak laku-laku," Cerocos Mom Mia yang sontak membuat Mama Eve terkekeh.
"Ya, mungkin Galen penganut anti pacaran, Kak! Maunya ketemu gadis yang cocok langsung nikah seperti Abang Bian dulu," timpal Mama Eve yang masih terkekeh.
"Nah! Dengarkan itu kata-kata Eve! Tidak pernah punya pacar bukan berarti nggak laku!" Sahut Papi Bian yang tetap santai dan duduk seraya menyilangkan kakinya.
"Lagipula, memangnya kamu mau menjodohkan Galen dengan siapa? Sudah punya calon apa?" Sambung Papi Bian lagi mencecar sang istri dengan nada meremehkan.
"Ya nanti bisa dicari dulu, calon untuk Galen," jawab Mom Mia masih keras kepala.
"Kamu saja dulu saat dijodohkan kabur dan sibuk mencari pacar bayaran! Sekarang sok-sokan mau menjodohkan anakmu!" Cibir Papi Bian yang sontak membuat Mama Eve tertawa renyah.
"Pacar bayarannya udah sah menjadi suami sekarang," timpal Mama Eve yang langsung membuat Mom Mia tersipu malu.
"Siapa yang mau dijodohkan, Paman?" Tanya Rachel yang tiba-tiba sudah muncul dari arah kamarnya.
Ibu hamil itu segera mengambil tempat duduk di samping Mama Eve.
"Lho! Kamu disini, Rachel?" Tanya Mom Mia dengan ekspresi wajah kaget.
"Rachel datang tadi pagi, katanya mau menginap sampai hari Minggu," Jelas Mama Eve pada sang kakak ipar.
"Sendirian?"
"Enggak, kok, Paman! Sean juga ikut menginap. Tapi sekarang kan masih kerja dan belum pulang," gantian Rachel yang menjelaskan pada sang paman.
"Jadi, tadi yang mau dijodohkan siapa? Galen?" Tanya Rachel sekali lagi karena pertanyaan yang tadi belum ada yang menjawab.
"Baru rencana, sih! Mungkin kamu punya teman yang masih single, Rachel?" Mom Mia sedikit terkekeh.
"Teman Rachel nggak banyak, Bibi! Kebanyakan juga udah punya pasangan, kecuali Emily sepertinya." Rachel membungkam mulutnya sendiri dengan cepat, saat ia keceplosan menyebut nama Emily.
Emily pasti masih trauma menjalin sebuah hubungan, kenapa Rachel malah mengusulkan pada Bibi Mia?
"Emi, siapa tadi?" Mom Mia mengerutkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Emily, sahabat baik Rachel, Bibi. Tapi sepertinya Emily belum ada niatan menikah dalam waktu dekat. Jadi kita lupakan saja!" Ujar Rachel cepat.
Sesaat suasana hening sejenak.
"Wah, sedang kumpul-kumpul, ya? Ramai sekali!" Sean yang baru pulang kerja segera menyapa semua orang yang ada di ruang tamu rumah Rachel.
"Baru pulang, Sean? Tuan direktur sepertinya sibuk sekali," tanya Paman Bian pada Sean. Entah bercanda entah menyindir.
"Sedang banyak pekerjaan, Paman!" Jawab Sean masih sedikit canggung.
"Sebaiknya kita pulang, karena hari sudah sore!" Mom Mia mengatasi kecanggungan di ruang tamu tersebut dan menggamit lengan sang suami.
"Baiklah! Kita mampir ke kafe sebentar karena aku ada sedikit urusan," jawab Papi Bian yang ikut bangkit berdiri.
Pasangan suami istri paruh baya tersebut segera berpamitan pada Mama Eve, Rachel dan Sean.
****
Emily berulang kali melihat arloji di tangannya sambil tak berhenti menggerutu dalam hati merasa jenuh berada di stand pameran ini. Pak Galen Gak Selera itu sepertinya memang sudah gila. Tadi pagi bilangnya cuma mau ajak Emily ke pameran, eh ternyata Emily disuruh pakai seragam penjaga stand dan ikut menjaga stand pameran.
Sejak kapan coba, anak ilustrasi menjadi penjaga stand pameran?
Itu Pak manajer maho lama-lama ngawurnya bikin jengkel!
Flashback beberapa jam sebelumnya,
Duh!
Lama-lama Emily benar-benar akan mati muda kena serangan jantung kalau Pak Galen ini munculnya seperti hantu-hantu di film horor itu.
Mendadak dan mengejutkan!
"Emily, kenapa masih disini? Kamu tidak ingat tugas kamu siang ini?" Cecar Pak Galen dengan nada galaknya seperti biasa.
"Ingat, kok, Pak! Tapi saya kira kan nggak jadi," Cengir Emily mencari alasan.
Mata Emily melebar melihat gumpalan tisue di atas mejanya yang lupa ia masukkan ke tempat sampah dibawah meja.
Sial!
Mana petugas inspeksi mendadak sedang berdiri disamping meja kerja Emily lagi
Cepat-cepat tangan Emily meraih dua gumpalan tisu itu dan menjejalkannya ke dalam tas selempangnya.
"Apa itu? Sejak kapan tas kamu berfungsi sebagai tempat sampah?" Tegir Galen yang langsung membuat Emily berdecak tak karuan.
"Eh, iya, salah masukin, Pak!" Emily mengeluarkan gumpalan tisue tadi dari dalam tas yang nyatanya tidak hanya ada gumpalan tisue di tas Emily, karena ada bungkus permen juga yang lupa Emily buang tempo hari, ada struk belanja, ada bungkus roti.
Hah?
__ADS_1
Kapan Emily makan roti dan lupa buang bungkus?
Berapa banyak sampah yang kau simpan, Em? Kamu jadi cewek kenapa jorok sekali?" Galen meraih tas Emily dengan kasar dan membalik tas tersebut hingga isinya berhamburan.
Baiklah, ini sudah kedua kalinya!
Ketiga kalinya, Pak Gak Selera Maho ini bakalan Emily hadiahi bogem mentah atau pentungan Ayah Satria.
"Ini apa, Em?" Pak Galen menunjuk dengan pena sapu tangan Emily yang tempo hari Emily pakai mengelap airmata, dan lupa Emily keluarkan dari tas.
Ya ampun!
Kalau bunda tahu pasti juga bakal mengomel.
"Itu sapu tangan, Pak! Masa nggak liat bentuknya kotak begitu! Memangnya Bapak pikir itu apa?" Jawab Emily bersungut-sungut.
Sejorok-joroknya Emily nggak mungkin juga Emily menyimpan underwear di dalam tas, kecuali roti jepang bungkus putih pas Emily sedang datang bulan kemarin.
Lagian masa iya underwear Emily bentuknya kotak segiempat!
Ini manajer maho lama-lama menyebalkan!
"Ini kedua kalinya Bapak itu secara tidak sopan mengacak-acak tas saya! Saya akan membuat laporan jika Bapak melakukannya lagi!" Ancam Emily kembali bersungut pada Galen.
Sepertinya Emily emang tidak punya rasa takut pada atasannya ini.
"Kamu siapa memangnya berani melaporkan saya?" Balas Galen ikut bersungut-sungut.
"Saya Emily Aditya! Putrinya Ayah Satria Aditya, kepala keamanan di Kyler Realty!" Jawab Emily pamer.
"Songong!" gumam Galen sedikit menahan tawanya.
"Cepat bereskan isi tasmu itu, dan ikut aku ke bagian marketing!" Perintah Galen selanjunya dengan nada galak dan tegas.
Dasar maho menyebalkan!
.
.
.
Aku terlalu fokus ke Valeria.
Emily kok jadi hilang arah, ya😧
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.
__ADS_1