
Galen sudah tiba di rumah, setelah menyelesaikan urusannya dengan seorang klien.
Baru saja membuka pintu depan, aroma soto ayam bumbu kuning langsung menguar dan menusuk-nusuk indera penciuman Galen.
Siapa yang memasak?
Emily?
Atau mungkin Papi Bian?
Galen langsung menuju ke arah dapur, saat pria itu mendapati Emily yang sedang memasak bersama Papi Bian, dan mereka berdua terlihat akrab.
Tidak!
Sangat akrab.
Atau mungkin terlaku akrab?
Yang jelas Galen kurang suka dengan pemandangan ini, karena seharusnya yang mengajari Emily memasak itu dirinya dan bukan Papi Bian.
Kenapa Papi tidak mengajari Mommy saja atau Ghea?
Dasar!
"Eheem!" Galen berdehem dan langsung membuat Emily serta Papi Bian menoleh ke arahnya.
"Hai, Sayang! Sudah pulang?" Sapa Emily seraya tersenyum manis ke arah Galen.
Sedangkan Papi Bian hanya menoleh sekilas pada sang putra sebelum kembali berkutat dengan bahan-bahan di depannya.
"Sedang memasank apa?" Tanya Galen sedikit ketus pada Emily.
"Soto ayam. Diajarin sama Papi. Cobain, deh, Yang!" Emily mengambil sendok untuk mengambil sedikit kuah soto dan meminta Galen mencicipinya.
Wajah istri Galen itu terlihat sumringah. Sepertinya senang sekali diajari masak oleh Papi Bian.
"Enak, kan?" Tanya Emily lagi meminta komentar dari Galen.
"Iya, enak. Padahal aku juga bisa ngajarin kamu kalau cuma masak soto begini," jawab Galen masih ketus.
"Bisa membuat menangis," Celetuk Papi Bian yang sepertinya sedang menyindir Galen.
Ck!
Galen berdecak sebal.
"Kamu lanjutkan sesuai petunjuk Papi tadi, ya, Em! Goreng kentangnya sampai kering!" Pesan Papi Bian mengulangi sekali lagi apa -apa yang perlu dikerjakan olrh Emily.
"Siap, Papi! Emily udah paham, kok!" Jawab Emily sambil tetap tersenyum.
__ADS_1
"Papi mau mandi, trus ke kafe," pamit Papi Bian seraya meleoas celemeknya, lalu menyampirkannya di pundak Galen.
"Temani saja Emily dan jangan komentar macam-macam!" Papi Bian menuding ke arah Galen.
"Dan jangan mengganggunya memasak. Karena kalau ada yang gagal, berarti tersangkanya-" papi Bian menuding ke arah dada Galen.
"Kok Galen? Yang masak Emily dan Papi. Giliran nggak enak nyalahin Galen! Dasar aneh!" Gerutu Galen pada Papi Bian yang sudah berlalu keluar dari dapur.
Galen menghampiri Emily yang sdang menggoreng kentang.
"Aduh!" Pekik Emily seraya meringis saat tangannya tak senagja terciprat minyak panas dari wajan.
"Hati-hati, Sayang! Kamu kok ceroboh, sih!" Gaken menarik tanga Emily dan denagn cepat menaruhnya di bawah kran lalu mengalirkan air dingin pada tangan Emily yang tadi terciprat minyak panas.
"Yang kentangnya! Nanti gosong, hancur deh soto aku," Emily menunjuk ke arah kompor dan Galen segera menggantikan Emily menggoreng kentang, sekalian tahu temoe dan perkedel yang akan menjadi pekengkap soto siang ini.
"Ini sampai kapan dikasih air begini, Sayang?" Tanya Emily mearsa tak paham.
"Sampai tidak terasa panas lagi! Biar nggak menggelembung!" Jawab Galen sedikit menjelaskan pada Emily.
Segera Emily mematikan kran air karena tangannya sudah terasa baik-baik saja. Wanita itu menghampiri Galen yang sedang mengangkat tempe dari penggorengan.
"Masukin tahunya!" Titah Galen pada Emily.
Segera Emily memasukkan tahu yang sudah di bumbui dan suara nyaring seperti ledakan langsung membuat Emily melompat mundur.
Tangan Galen terlihat cekatan sekali, membuat Emily merasa iri.
"Aku cuci piring aja!" Gumam Emily yang memilih untuk mencuci piring dan peralatan masak bekas dipakai tadi dan membiarkan Galen berkutat di depan kompor, menyelesaikan bahan-bahan untuk pelengkap soto ayam.
"Tadi ketemuan sama siapa?" Tanya Emily merasa kepo.
Posisi Galen dan Emily saling membelakangi saat ini. Galen yang berkutat dengan kompor, dan Emily yag berkutat dengan wadah kotor serta kran air.
"Klien. Kan aku sudah bilang," jawab Galen seraya membalik tahu di wajan, dan meneriksa sekai lagi kuah soto yang berada di samping wajan.
"Intan?" Tebak Emily yang bibirnya sudah mencibir-cibir.
"Bukan! Kliennya cowok, kok!" Jawab Galen cepat membantah tuduhan Emily.
"Lagian, kenapa bawa-bawa Intan? Intan kan udah nggak nerbitin karyanya di perusahaan kita," sambung Galen lagi menjelaskan pada Emily.
"Orang cuma nanya, kok! Dan memastikan!" Ujar Emily sok diplomatis.
"Bilang aja cemburu!" Galen mentowel bokong Emily yang berada di belakangnya.
"Galen!" Pekik Emily mencipratkan air ke arah Galen.
"Yang! Jangan jorok, deh!" Gerutu Galen yang segera mengeringkan tangannya yang terkena air bekas cucian piring yang dicipratkan oleh Emily.
__ADS_1
"Kamu yang mulai juga!" Emily malah ganti mengusapkan air ke wajah Galen.
"Emily!" Gertak Galen galak.
Pria itu meraih tisu dengan cepat dan menyeka air di wajahnya. Sementara Emily lanjut mencuci piring tanpa raut berdosa.
Galen yang sudah sudah selesai menggoreng bahan pelengkap untuk soto segera mematikan kompor. Bersamaan dengan Emily yang juga sudah selesai mencuci perkakas masak.
"Capek!" Keluh Emily seraya mengusap keringat di dahinya e0denagn punggung tangan.
"Ck! Pakai tisu kenapa, sih, Em!" Galen meraih tisu dan segera menyeka keringat di punggung tangan Emily serta di dahi istrinya tersebut.
"Kan aku udah bilang, kalau membersihkan sesuatu itu, biasakan pakai tisu!" Nasehat Galen sekalo lagi yang langsung menbuat Emily merengut.
"Iya, iya! Dasar OCD!" Cibir Emily pada Galen.
"Sudah matang sotonya, Em?" Pertanyaan dari Mom Mia yang baru masuk ke area dapur menyela perdebatan Galen dan Emily.
"Sudah, Mom. Tinggal di tata di meja saja," jawab Emily seraya garuk-garuk kepala.
"Em! Berhenti garuk-garuk kepala!" Galen menyentak tangan Emily dengan cepat.
Emily yang iseng malah menggaruk kepala Galen memakai tangannya sekarang.
"Apa, sih!" Galen mendelik ke arah Emily.
"Nggak ada! Kamu ganteng kalau lagi ngambek!" Rayu Emily sedikit berbisik.
"Dasar!" Galen mencolek hidung Emily dengan gemas dan melangkah keluar dari dapur.
Sedangkan Emily segera membantu Mom Mia membawa makanan ke atas meja makan dan menyusunnya dengan rapi.
"Emily boleh ke rumah Bunda sore nanti, Mom?" Tanya Emily berbasa-basi sdkaligus meminta izin.
"Boleh! Sudah kangen sama Bunda, ya?" Jawab Mom Mia seraya tersenyum.
Emily hanya tersenyum dan sedikit meringis.
Makan siang sudah siap, dan semua keluarga Biantara sudah berkumpul di meja makan untuk menikmati makan siang dengan soto buatan Emily dan Papi Bian yang rasanya tidak hambar kali ini.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.
__ADS_1