Jodoh Emily

Jodoh Emily
LIMA JAM


__ADS_3

"Galen, sudah!" Mohon Emily saat untuk kesekian kalinya, Galen kembali menumpahkan cairan hangat di rahimnya.


Dasar gila!


Ini bahkan sudah hampir pukul dua pagi, dan mereka berdua sudah memulai pergulatan ini sejak pukul sembilan malam tadi.


Galen gila!


"Iya, sudah! Itu yang terakhir," ucap Galen seraya bangkit berdiri dengan miliknya yang masih tegak menantang.


Ya ampun!


Habis minum apa memangnya Galen tadi?


Menghajar Emily selama lima jam dan masih kokoh begitu.


"Bersihkan dulu tubuhmu sebelum tidur, Sayang?" Bisik Galen seraya mengecup kening Emily.


"Aku mau pingsan! Aku tidak bisa bangun!"


"Kakiku terasa kram sekarang!" Rengek Emily yang sudah terkulai pasrah di atas tempat tidur.


Bentuk kasur Galen juga sudah acak-acakan bak kapal pecah. Selimut yang jatuh ke lantai. Sprei yang tersibak di beberapa bagian. Dan bantal serta guling yang sudah bertebaran di seantero kamar.


"Dasar manja!" Galen mencolek hidung Emily, sebelum membopong tubuh istrinya itu untuk masuk ke dalam kamar mandi.


Galen benar-benar hanya membersihkan tubuh Emily di dalam kamar mandi dan tak mencumbunya lagi, sekalipun Galen masih menginginkannya.


Tapi melihat Emily yang sudah sangat kepayahan, Galen merasa tak sampai hati.


Besok saja Galen melanjutkan cumbuannya pada Emily.


Tak butuh waktu lama, dan Galen sudah keluar dari dalam kamar mandi bersama Emily yang kini ia gendong di punggungnya.


Galen menurunkan Emily perlahan di atas tempat tidur.


"Piyama aku masih di koper," Emily menunjuk ke arah kopernya di sudut kamar.


"Tidak usah pakai piyama!" Jawab Galen yang kini membuka lemari besarnya, dan mengambil satu kemeja miliknya.


"Apa maksudnya ini?" Emily mengernyit bingung saat Galen malah memakaikan kemejanya ke tubuh Emily.


Tanpa dalaman tanpa apapun.


"Kemarin siapa yang bilang ingin memakai kemejaku?" Goda Galen mengerling nakal ke arah Emily.


"Galen!" Emily menyilangkan kedua lengannya di depan dada karena malu.


Meskipun kemeja Galen terasa longgar di tubuh Emily tapi tetap saja, lekuk tubuh Emily masih terlihat sangat jelas.


Belum lagi bagian dada Emily yang sangat menonjol karena Emily yang tak mengenakan bra.


"Ayo tidur!" Galen membuka handuknya dan kini hanya mengenakan underwear.


Serius!


Pria ini hanya akan mengenakan underwear-nya saat tidur?


"Kamu nggak pakai baju?" Tanya Emily bingung.


"Bajuku kamu pakai begitu!" Galen malah menggoda Emily.


"Ish!" Emily memukul-mukul dada Galen karena kesal.


"Meluk kamu udah anget. Jadi tidak usah lagi memakai baju," ucap Galen seraya menarik Emily ke dalam dekapannya.


"Biar besok juga bisa sekalian serangan fajar!" Imbuh Galen lagi yang sudah membelitkan kakinya untuk menjepit kaki Emily.


Duh!


Emily benar-benar tak bisa berkutik sekarang.


"Apaan serangan fajar?" Tanya Emily yang bibirnya langsung dibungkam oleh Galen.

__ADS_1


"Sudah diam, dan tidur!" Titah Galen yang semakin mendekap erat tubuh Emily bak sebuah guling.


Untung badannya Galen wangi. Jadi meskipun pria itu tak memakai baju, Emily tetap betah berlama-lama mencium aroma tubuh Galen yang wangi dan khas Galen.


****


Emily yang masih mengantuk, mengerjap-ngerjapkan matanya saat mendengar suara dengkuran yang sangat dekat dengannya.


Seingat Emily, yang suka tidur mendengkur di rumah adalah Ayah Satria, itupun kalau ayahnya Emily itu sedang kelelahan.


Tapi bukankah Emily sedang berada di rumah Mom Mia sekarang?


Mungkinlah itu suara dengkuran dari Papi Bian?


Tapi kenapa keras sekali dan bisa terdengar sampai ke kamar Galen?


Galen?


Emily tidur di kamar Galen sejak semalam.


Emily kan sudah sah menjadi istri Galen kemarin. Jadi suara dengkuran itu....


Emily mendongakkan kepalanya saat kemudian Emily sadar kalau dirinya ternyata tidur terjepit ketiak Galen.


Emily mengendusnya.


Untung wangi!


Kalau asem Emily bisa-bisa pingsan dan muntah-muntah.


Tapi kenapa Galen mendengkur keras sekali?


Ish!


Emily kira Galen ini se-perfect-perfectnya manusia yang tak punya kebiasaan buruk.


Eh, ternyata tidurnya juga nggak perfect dan mendengkur.


Emily terkikik sendiri dan lanjut menyandarkan kepalanya di dada Galen yang putih dan kekar berotot.


"Galen!" Tiba-tiba terdengar ketukan dari luar pintu kamar dan suara Mom Mia yang memanggil nama Galen.


"Galen, buka pintu dulu! Mom mengantar sarapan untuk Emily!" Mom Mia mengetuk sekali lagi.


Emily bergegas bangun dan hendak membuka pintu. Namun Galen dengan cepat menarik tubuh Emily agar kembali ke pelukannya.


"Jangan kemana-mana, Sayang!" Gumam Galen yang matanya masih terpejam.


"Ish! Itu Mom ketuk pintu, Galen!" Emily menggelitiki Galen agar suaminya itu melepaskan dekapannya.


Galen sedikit meronta karena kegelian dan langsung melepaskan dekapannya pada Emily.


"Nanti kesini lagi!" Pesan Galen yang hanya dijawab Emily dengan sebuah decakan.


Emily sudah hampir menbuka pintu saat wanita itu sadar tentang bagian bawah tubuhnya yang tak tertutupi apapun.


Ya ampun!


Emily buru-buru meraih handuk yang tersampir di kepala ranjang dan membalutkannya ke bagian bawah tubuhnya, lalu membuka pintu kamar.


"Pagi, Mom!" Sapa Emily seraya meringis.


Tadi Emily sempat melirik ke arah jam di atas nakas dan memang sekarang sudah pukul setengah delapan pagi.


"Baru bangun? Mom bawain kamu sarapan," Mom Mia mengangsurkan nampan berisi dua piring sarapan untuk Emily dan Galen.


"Maaf, Emily kesiangan, Mom!" Ucap Emily merasa sungkan pada mama mertuanya tersebut.


Baru sehari jadi menantu udah kesiangan!


"Tidak apa! Pasti lelah habis resepsi kemarin, kan?" Mom Mia terkekeh kecil.


"Nanti kamu makan sarapannya di kamar saja bersama Galen. Kalau butuh apa-apa bisa langsung ambil sendiri. Tidak usah sungkan!" Lanjut Mom Mia lagi yang begitu hangat dan ramah pada Emily.

__ADS_1


"Iya, Mom! Terima kasih banyak."


Emily langsung membawa nampan berisi makanan masuk ke dalam kamar, dan Mom Mia menutup pintu kamar Galen.


"Kunci pintunya lagi, Sayang!" Titah Galen yang kini sudah berganti posisi menjadi tengkurap.


Emily segera meletakkan nampan berisi sarapan di atas meja kecil yang ada di kamar Galen lalu mengunci pintu kamar.


"Sarapan dulu, Galen!" Emily menyibak selimut yang menutupi tubuh Galen.


"Sayang!" Galen sudah menarik tubuh Emily dan kini istrinya tersebut sudah terduduk di tepi tempat tidur.


"Mulai sekarang panggilnya sayang!" Ulang Galen sekali lagi yang sudah memindahkan kepalanya ke pangkuan Emily.


"Sarapan dulu, Sayang!" Emily mengulangi kalimatnya.


"Sarapan yang ini boleh?" Galen menangkup dada Emily yang hanya tertutupi kemeja tipis Galen.


Emily bahkan lupa kalau ia tak memaki bra sejak tadi. Berarti pas tadi Emily bicara dengan Mom Mia, dada Emily juga tercetak jelas.


Eh, tapi kemejanya kan longgar.


Jadi mungkin tak terlalu nampak.


Toh Emily dan Mom Mia sama-sama wanita. Jadi kenapa harus malu?


"Nggak boleh!" Emily menyingkirkan tangan Galen, namun si pemilik tangan keras kepala sekali dan tetap menangkup dada Emily serta bermain-main dengan ujungnya.


Padahal matanya masih merem, tapi tangannya udah bisa menjelajah kemana-mana.


Benar-benar meresahkan!


"Sebentar saja!" Tangan nakal Galen sudah menyusup melalui bagian bawah kemeja yang dikenakan Emily dan terang saja hal itu membuat Emily jadi menggelinjang.


"Galen!" Pekik Emily saat Galen semakin kuat merem*s dadanya.


Dasar gila!


"Ini pakai handuk maksudnya apa, sih?" Galen membuka handuk yang dikenakan oleh Emily untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.


"Iya, kan tadi harus menemui Mom. Malu kalau cuma pakai kemeja doang!" Cebik Emily yang entah bagaimana ceritanya tubuhnya sudan telentang di atas ranjang yang seperti kapal pecah.


"Udah bangun lagi!" Galen menuntun tangan Emily ke arah miliknya yang masih bersembunyi dibalik underwear.


"Ish! Tadi malam udah beronde-ronde, masa masih belum capek?" Emily masih merengut.


"Lha ini masih bangun dan minta dimasukin lagi," tangan Galen ganti meraba milik Emily yang juga masih tertutupi underwear.


"Udah, Galen!" Emily memohon.


"Satu kali lagi!" Rayu Galen seraya tersenyum nakal.


Emily tetap merengut


"Kamu cantik, deh!" Rayu Galen seraya mencolek bibir Emily, lalu mengecupnya.


Dan secara ajaib, Emily juga membalas kecupan Galen yang lembut.


Saat Gaen berhenti, Emily malah menarik kepala suaminya itu dan menyuruhnya untuk tak berhenti.


"Satu ronde saja, lalu kita mandi dan sarapan!" Bisik Emily di sela-sela ciumannya bersama Galen.


"Baiklah, Sayang!"


Ternyata Emily sama mesumnya dengan Galen!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.


__ADS_2